Chapter 35 of 70
Bab 35 — Tanda di Kamar Sang Pewaris
1.7k words
Ignis terbangun sebelum fajar.
Bukan karena mimpi buruk.
Bukan pula karena rasa sakit yang biasanya menyambutnya setiap kali kesadarannya kembali dari alam kutukan.
Kali ini, dia terbangun karena mendengar suara ketukan.
Tiga kali.
Pelan. Teratur.
Dari arah jendela kamarnya.
Ignis membuka mata, lalu tetap berbaring tanpa bergerak.
Tubuhnya masih berusia delapan tahun. Luka-luka dari kejadian di Ravenport dan perjalanan ke Biara Velmora belum sepenuhnya pulih. Bahkan sekadar bangun terlalu cepat bisa membuat rusuknya terasa nyeri.
Namun, ingatannya tidak dimiliki seorang anak delapan tahun.
Dia tahu bahwa tidak ada orang waras yang mengetuk jendela kamar di lantai dua sebelum matahari terbit.
Terlebih lagi, jendelanya terkunci dari dalam.
Ketukan itu terdengar sekali lagi.
Ignis perlahan meraih bel kecil di samping ranjang dan membunyikannya.
Tidak ada jawaban dari luar.
Dia menunggu beberapa detik, lalu duduk dengan hati-hati. Tangan kirinya meraih tongkat latihan kayu yang disandarkan di dekat ranjang.
Ketika kakinya menyentuh lantai, pandangannya sempat berkunang-kunang.
Sial.
Tubuh ini benar-benar menyebalkan.
Ignis menahan napas sampai rasa pusingnya mereda. Setelah itu, dia mendekati jendela, tetapi tidak langsung membuka tirai.
Dia mengamati pantulan kaca.
Tidak ada bayangan manusia di luar.
Namun, di permukaan jendela terdapat sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Sebuah lingkaran hitam, kira-kira sebesar telapak tangan, tergambar pada kaca dari sisi dalam.
Sembilan garis tipis memanjang dari lingkaran itu.
Simbol yang sama.
Ignis membeku.
Dia yakin simbol itu belum ada ketika dirinya tidur.
Bukan hanya karena dia memeriksa jendela sebelum beristirahat. Tirai yang kini tersibak sedikit juga masih terikat rapi, tanpa tanda seseorang menyentuhnya.
Ignis mendekatkan wajah.
Tidak ada tinta yang menetes. Tidak ada goresan pada kaca. Simbol itu tampak seolah-olah berada di balik permukaan, jauh di dalam materialnya.
Lalu satu garis bergerak.
Sangat kecil.
Seolah-olah sesuatu di balik kaca sedang bernapas.
Ignis segera mundur.
“Jangan sentuh.”
Suara itu muncul dari dalam kepalanya.
Suara yang pernah memperingatkannya di bawah Biara Velmora.
Suara dari alam kutukan.
Ignis mencengkeram tongkat kayunya.
“Kau tahu apa ini?”
“Tidak sepenuhnya.”
Jawaban itu membuat Ignis semakin waspada.
Makhluk atau suara yang selama ini memberinya peringatan jarang mengaku tidak tahu.
“Lalu kenapa menyuruhku menjauh?”
“Karena tanda itu bukan sedang mencoba masuk.”
Hening sejenak.
“Dia sedang memastikan bahwa kau masih berada di tempat yang sama.”
Ignis merasakan hawa dingin merayapi tengkuknya.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Simbol pada kaca mendadak padam.
Lingkaran hitam itu lenyap, meninggalkan permukaan jendela yang bersih seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun, sebelum Ignis sempat memeriksanya, pintu kamarnya terbuka.
Mira masuk dengan wajah cemas.
“Tuan Muda! Saya mendengar bel—”
Dia berhenti ketika melihat Ignis berdiri di dekat jendela dengan tongkat latihan di tangannya.
“Apakah sesuatu terjadi?”
Ignis menatapnya beberapa saat.
“Tidak ada yang masuk ke kamarku malam ini, kan?”
Mira tampak bingung.
“Tidak, Tuan Muda. Saya berjaga di luar sampai tengah malam. Setelah itu, pelayan malam mengambil alih.”
“Siapa yang bertugas setelahmu?”
“Lysa. Dia sudah bekerja di kediaman ini selama tiga tahun.”
Ignis mengangguk pelan.
“Panggil Garrick begitu dia bangun. Dan jangan ceritakan soal jendela ini kepada siapa pun sebelum aku berbicara dengan Ayah.”
Mira memandang jendela, kemudian kembali menatap Ignis.
Dia tidak bertanya lebih jauh.
“Baik, Tuan Muda.”
Ketika Mira pergi, Ignis meletakkan tongkatnya di meja.
Ada sesuatu yang mengganggunya lebih daripada simbol itu sendiri.
Pesan terakhir di alam kutukan pernah menyebutkan bahwa seseorang telah menemukannya.
Sekarang, tanda tersebut muncul di kamarnya.
Musuh mereka bukan sekadar mengetahui bahwa Ignis sedang menyelidiki segel kuno.
Mungkin mereka tahu kapan dia tidur.
Dan mungkin mereka bisa menjangkaunya tanpa melewati satu pun penjaga.
---
Satu jam kemudian, ruang kerja Alistair dipenuhi orang.
Garrick berdiri di dekat perapian, sementara Caelan memeriksa laporan tentang Rumah Peristirahatan Veyr. Alistair sendiri tampak sangat tidak senang ketika Ignis menjelaskan apa yang terjadi di kamarnya.
“Mulai malam ini, penjagaan kediaman akan digandakan,” putusnya. “Tidak ada orang yang masuk atau keluar tanpa pemeriksaan.”
“Kalau simbol itu memang bisa muncul tanpa seseorang memasuki kamar, penjagaan tambahan belum tentu menyelesaikan masalah,” kata Caelan.
“Setidaknya kita bisa memastikan tidak ada penyusup biasa.”
Garrick mengangguk setuju.
“Dan saya akan memeriksa semua pelayan yang bertugas malam tadi.”
Ignis duduk di kursi dengan kedua tangan terlipat.
“Jangan langsung menganggap pelayan kita terlibat.”
Garrick menoleh.
“Aku tidak akan menuduh siapa pun tanpa bukti.”
“Bagus. Kalau pelakunya memang menyusup dari luar, mereka mungkin sengaja membuat kita saling mencurigai.”
Alistair memandang putranya cukup lama.
“Kau bicara seolah-olah sudah menghadapi orang seperti ini berkali-kali.”
Ignis tidak menjawab.
Dalam kehidupan pertamanya, dia memang sudah menghadapi terlalu banyak orang yang menyembunyikan niat di balik wajah ramah. Tetapi mengatakan hal itu kepada ayahnya akan menimbulkan pertanyaan yang belum bisa dia jawab.
Untungnya, Caelan mengalihkan pembicaraan.
“Saya menerima pesan dari Garrick. Edmon masih hidup, tetapi belum sadar. Tabib di pos terdekat sedang merawatnya. Mereka akan membawanya ke kediaman jika kondisinya memungkinkan.”
“Bagaimana dengan peti itu?” tanya Alistair.
“Ruang bawah tanah runtuh sebagian. Garrick belum bisa memastikan apa yang tersisa di dalamnya. Namun, dia berhasil membawa keluar sebuah kunci hitam dengan sembilan garis.”
Caelan meletakkan sketsa benda itu di meja.
Ignis langsung mengenalinya.
Bentuk kepalanya berbeda dari simbol pada jendela, tetapi jumlah garisnya sama.
Sembilan.
“Bawa kunci itu ke sini ketika Garrick kembali,” kata Ignis. “Jangan mencoba membukanya sebelum kita tahu apa fungsinya.”
Caelan mengangguk.
Namun, sebelum percakapan berlanjut, seorang penjaga mengetuk pintu.
“Lord Alistair. Ada seorang utusan di gerbang depan.”
“Dari siapa?”
“Dia tidak membawa lambang keluarga atau kekaisaran. Katanya, pesan itu hanya boleh diserahkan kepada Tuan Muda Ignis.”
Semua orang di ruangan langsung terdiam.
Alistair berdiri.
“Bawa dia ke ruang penerimaan. Periksa tubuh dan barang bawaannya terlebih dahulu.”
“Sudah dilakukan, Lord. Utusan itu tidak membawa senjata.”
“Kalau begitu, bawa pesannya ke sini. Tidak perlu membawa orangnya masuk.”
Penjaga itu pergi.
Beberapa menit kemudian, sebuah amplop kecil diletakkan di atas meja.
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada segel lilin.
Hanya satu simbol yang digambar di bagian depan: dua lengkungan menyerupai sayap, mengapit sebuah lingkaran yang terbelah.
Caelan menahan napas.
“Lambang dua sayap.”
Ignis memandang amplop tersebut.
Lambang yang sudah berulang kali muncul dalam penyelidikan mereka.
Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Di bawah lambang itu tertulis sebuah kalimat pendek.
JANGAN BAWA KUNCI ITU KE VEYR.
Alistair mengerutkan kening.
“Pengirimnya tahu tentang kunci tersebut.”
“Dan tahu rencana kita,” tambah Garrick.
Ignis membalik amplop dengan hati-hati. Tidak ada tulisan lain.
“Siapa utusannya?”
Penjaga yang masih berdiri di pintu menjawab, “Seorang pemuda. Katanya dia hanya dibayar untuk mengantarkan surat. Dia tidak tahu siapa yang memberikannya.”
“Di mana dia sekarang?”
“Menunggu di gerbang.”
Ignis berdiri.
“Aku ingin menemuinya.”
“Tidak,” kata Alistair tegas.
“Ayah—”
“Kita baru saja menemukan tanda di kamarmu, lalu menerima pesan dari seseorang yang mengetahui penyelidikan kita. Kau tidak akan mendekati orang asing hanya karena rasa ingin tahu.”
Ignis terdiam sesaat.
Alistair benar.
Dan justru karena itu, Ignis tidak akan memaksa.
“Kalau begitu, tanyai dia dari jarak aman. Cari tahu di mana dia menerima amplop itu, siapa yang membayarnya, dan apakah dia melihat sesuatu yang mencurigakan.”
Garrick memberi isyarat kepada penjaga untuk melaksanakan perintah tersebut.
Tak lama kemudian, mereka mendapat jawaban.
Utusan itu menerima amplop dari seorang perempuan berjubah abu-abu di sebuah persimpangan jalan. Perempuan itu tidak menyebutkan nama, tetapi memberinya sekeping koin perak dan menyuruhnya mengantarkan surat ke kediaman Pendragon.
Tidak ada ciri wajah yang bisa diingatnya.
Namun, sebelum pergi, perempuan itu mengucapkan satu kalimat.
“Jika mereka bertanya tentang Veyr, katakan bahwa orang mati tidak membutuhkan penerima.”
Caelan perlahan menurunkan kertas catatannya.
“Kalimat itu tidak masuk akal.”
“Tidak,” jawab Ignis. “Kalimat itu sengaja dibuat agar kita memikirkan Edric Halvern.”
Dia menatap peta utara yang terbentang di meja.
Edric menghilang dari catatan. Pengiriman rahasia dialihkan ke Veyr. Edmon menyatakan bahwa penerima sebenarnya sudah mati sebelum barang tiba.
Sekarang seseorang memperingatkan mereka agar tidak membawa kunci ke sana.
Terlalu banyak petunjuk yang mengarah ke satu tempat.
Dan terlalu banyak orang yang berusaha menghalangi mereka.
Ignis menarik napas panjang.
“Justru karena itu, kita harus pergi.”
Alistair menatapnya tajam.
“Kau tidak akan ikut.”
Ignis mengangkat wajah.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, dia tidak mencoba membantah.
“Baik.”
Jawaban itu membuat semua orang di ruangan sedikit terkejut.
Ignis melanjutkan, “Aku akan tetap di kediaman. Garrick bisa memimpin perjalanan. Tetapi ada satu syarat.”
“Apa?” tanya Alistair.
“Jangan membawa kunci itu ke Veyr.”
Caelan memandangnya dengan bingung.
“Bukankah kita perlu membawanya untuk memeriksa tempat itu?”
“Justru karena seseorang secara khusus melarangnya.”
Ignis menunjuk peta.
“Kalau mereka ingin kita meninggalkan kunci, berarti kunci itu penting bagi mereka. Kita akan menyimpan kunci asli di tempat aman dan membawa tiruan dengan bentuk yang sama. Jika mereka menunggu di Veyr, biarkan mereka mengira kita mengikuti petunjuk mereka.”
Garrick tersenyum tipis.
“Umpan.”
“Umpan yang bisa kita kendalikan,” jawab Ignis. “Dan kali ini, kita yang menentukan kapan perangkapnya ditutup.”
Alistair masih tampak ragu, tetapi akhirnya dia mengangguk.
Mereka akan berangkat setelah Edmon cukup kuat untuk dipindahkan dan tiruan kunci selesai dibuat.
Untuk sementara, rencana itu tampak masuk akal.
Sampai malam berikutnya tiba.
---
Ignis kembali ke kamarnya menjelang tengah malam.
Jendela telah diperiksa. Kunci pintu diganti. Dua penjaga ditempatkan tepat di luar, sementara Garrick memastikan tidak ada lorong tersembunyi yang terhubung ke kamar tersebut.
Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk bisa masuk.
Ignis memeriksa jendela sekali lagi.
Bersih.
Dia mematikan lampu, berbaring, lalu menutup mata.
Namun, sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam, suara yang sama kembali terdengar di kepalanya.
“Dia tidak menginginkan kuncinya.”
Ignis membuka mata.
“Lalu apa yang dia inginkan?”
Suara itu terdiam cukup lama.
“Kau.”
Darah Ignis terasa membeku.
Di luar jendela, sebuah bayangan melintas di antara pepohonan.
Dan tepat di atas meja, tanpa suara, muncul sebuah benda kecil berwarna hitam.
Sebuah kunci.
Bukan kunci dengan sembilan garis yang ditemukan Garrick.
Melainkan kunci dengan dua sayap terukir pada kepalanya.
Di bawahnya tergeletak secarik kertas.
PENERIMA TERAKHIR TELAH MENUNGGUMU SEJAK SEBELUM KAU DILAHIRKAN.
Ignis menatap tulisan itu lama sekali.
Kemudian dia tersenyum tipis, meskipun tidak ada sedikit pun kegembiraan di matanya.
“Baiklah,” bisiknya. “Kalau kau ingin bermain, mari kita lihat siapa yang lebih dulu kehilangan kendali.”
Bersambung.
Teaser Bab 36 — Kunci Dua Sayap
Sebuah kunci muncul di kamar Ignis tanpa melewati penjagaan. Pesan yang menyertainya menyebut penerima terakhir telah menunggu bahkan sebelum Ignis dilahirkan. Ketika Caelan memeriksa kunci itu, dia menemukan sesuatu yang mustahil: lambangnya cocok dengan perjanjian kuno, tetapi pola pada lubang kuncinya menyerupai sembilan garis yang seharusnya hanya ada pada segel di bawah Biara Velmora.