Chapter 34 of 70

Bab 34 — Penerima Terakhir

1.9k words

Sir Edmon Rusk menghilang sebelum matahari mencapai puncaknya. Pencarian di sekitar kediaman Pendragon tidak menghasilkan apa-apa. Gerbang timur memang sempat dibuka untuk kereta pemasok, tetapi tidak ada penjaga yang melihat seorang kesatria terluka melewatinya. Seolah-olah Edmon lenyap begitu saja. Alistair berdiri di ruang kerjanya, membaca laporan pencarian dengan wajah muram. “Dia mengenal setiap lorong dan jalur penjagaan di kediaman ini,” katanya. “Jika dia benar-benar ingin menghilang, kita tidak akan menemukannya hanya dengan mengirim kesatria berkeliling.” “Kalau dia melarikan diri karena bersalah, dia akan mencari tempat aman,” ujar Garrick. “Kalau dia melarikan diri karena diburu, dia akan mencari seseorang yang bisa melindunginya.” Ignis duduk di kursi dengan kaki yang masih dibalut perban. “Atau dia akan menuju tempat yang sama sekali tidak kita duga.” Caelan meletakkan tiga lembar peta di atas meja. “Saya menemukan catatan lama yang mungkin berhubungan dengan rumah peristirahatan di utara. Dua belas tahun lalu, sebuah pengiriman dari kantor administrasi wilayah dialihkan ke bangunan bernama Rumah Peristirahatan Veyr.” “Veyr?” Alistair mengulang nama itu. “Nama wilayah kecil di perbatasan utara. Bangunannya tercatat sebagai milik pemerintah, tetapi pengelolaannya diserahkan kepada seorang pejabat bernama Edric Halvern.” Ignis langsung mengangkat kepala. Edric Halvern. Nama yang sudah mereka temukan ketika menelusuri pengiriman rahasia di Ravenport. Orang yang bertanggung jawab atas pengalihan barang, tetapi tidak memiliki catatan kematian, pensiun, maupun pemindahan tugas yang jelas. “Apakah ada catatan bahwa dia menerima pengiriman tersebut?” tanya Ignis. “Tidak secara langsung. Hanya ada nomor keputusan dan tanda tangan petugas pengantar. Nama penerima akhir tidak tercantum.” “Lalu kenapa kau menghubungkannya dengan rumah itu?” Caelan menunjuk bagian bawah dokumen. “Karena pada daftar inventaris tahun berikutnya, Rumah Peristirahatan Veyr dinyatakan ditutup akibat kerusakan struktur. Anehnya, laporan perbaikannya tidak pernah dibuat.” Garrick mengerutkan kening. “Bangunan ditutup, tetapi tidak ada laporan kerusakan?” “Benar.” Ignis memandangi peta. Edric Halvern. Rumah Peristirahatan Veyr. Pengiriman tanpa penerima yang jelas. Semua itu mungkin berkaitan. Tetapi pesan yang ditemukan pada Edmon menyebut penerima terakhir seolah-olah orang tersebut sudah mati. Jika mereka menuju Veyr, mereka mungkin menemukan bukti pengiriman. Namun, jika Edmon masih hidup dan sedang diburu, mengejarnya bisa menjadi satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkannya. Ignis mengangkat pandangan. “Kita bagi tugas.” Alistair langsung menggeleng. “Tidak.” “Aku bahkan belum menjelaskan rencananya.” “Aku sudah bisa menebaknya.” Ignis menghela napas kecil. “Ayah, kita tidak bisa membiarkan semua petunjuk menghilang hanya karena kita takut salah mengambil keputusan.” “Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat berbahaya setelah hampir terbunuh dua kali dalam beberapa hari.” “Kalau begitu, biarkan Garrick memimpin kelompok ke Veyr. Aku akan tetap di kediaman dan membantu Caelan memeriksa catatan.” Garrick menoleh kepadanya, tampak curiga. Alistair pun demikian. Ignis menahan ekspresi datarnya. Dia memang ingin pergi ke Veyr. Namun, dia tahu bahwa memaksa ayahnya hanya akan membuat semua orang semakin berhati-hati terhadapnya. Untuk saat ini, dia harus membiarkan orang lain bergerak. Akhirnya, Alistair menyetujui rencana itu. Garrick berangkat menjelang sore bersama empat kesatria. Mereka membawa surat kewenangan keluarga Pendragon untuk memeriksa bangunan pemerintah yang sudah tidak digunakan. Ignis tetap tinggal. Setidaknya, itulah yang mereka kira. --- Dua jam setelah rombongan Garrick berangkat, seorang pelayan mengantarkan nampan berisi teh ke ruang kerja Caelan. Di atas nampan terdapat dua cangkir, teko kecil, dan sepiring biskuit. “Dari siapa?” tanya Caelan tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen. “Dari dapur utama, Tuan.” Caelan mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. Ignis yang duduk di dekat jendela memperhatikan pelayan itu pergi. Ada sesuatu yang mengganggunya. Bukan wajah pelayan tersebut. Dia memang pernah melihat pria itu di koridor. Namun, nampan yang dibawanya memiliki dua cangkir, padahal Caelan sudah memesan teh untuk dirinya sendiri sejak satu jam lalu. Ignis berdiri. “Caelan, jangan minum.” Caelan mengangkat kepala. “Apa?” Ignis mendekati meja dan memeriksa salah satu cangkir tanpa menyentuhnya. Aroma teh itu normal. Tetapi di sisi dalam cangkir kedua, ada lapisan tipis seperti minyak yang tidak seharusnya berada di sana. “Panggil penjaga.” Caelan langsung bangkit dan membuka pintu. Lorong kosong. Pelayan tadi sudah tidak terlihat. Dua kesatria bergegas datang. Mereka memeriksa dapur dan ruang pelayanan, tetapi tidak menemukan orang yang mengantarkan teh tersebut. Kemudian terdengar teriakan dari tangga belakang. Seorang pelayan muda ditemukan tergeletak di lantai. Dia masih hidup, tetapi tidak sadarkan diri. Di sampingnya tergeletak pakaian pelayan lain. Orang yang membawa teh tadi menyamar. Caelan memandang nampan dengan wajah pucat. “Dia ingin meracuni kita?” “Belum tentu,” jawab Ignis. “Kalau tujuannya membunuh, dia bisa saja menaruh sesuatu dalam kedua cangkir. Bisa jadi dia ingin membuat kita tidak sadar, atau sekadar mengalihkan perhatian.” Ignis memeriksa meja. Dokumen yang sebelumnya tersusun rapi kini bergeser. Salah satu lembar catatan pengiriman hilang. Lembar yang memuat nama Edric Halvern dan lokasi Rumah Peristirahatan Veyr. Ignis memejamkan mata sesaat. Mereka baru saja membiarkan musuh mengambil petunjuk paling penting di kediaman sendiri. “Berapa orang yang mengetahui kita sedang memeriksa dokumen ini?” tanyanya. Caelan menghitung dengan cepat. “Lord Alistair, saya, Anda, dua petugas arsip, dan para penjaga yang berjaga di luar ruangan.” “Pelayan yang mengantarkan teh?” “Dia seharusnya tidak mengetahui isi dokumen.” “Berarti ada orang yang mengawasi kita, atau seseorang membocorkan informasi.” Caelan menatap cangkir teh. “Ini bukan lagi soal dokumen yang hilang.” Ignis mengangguk. “Benar. Mereka tahu kita sedang mendekati penerima terakhir.” --- Malam tiba ketika rombongan Garrick mencapai Rumah Peristirahatan Veyr. Bangunan itu berdiri di tengah hutan pinus, jauh dari jalan utama. Dinding batu luarnya retak, atap bagian barat runtuh, dan tumbuhan liar menutupi tangga depan. Tidak ada tanda bahwa seseorang pernah merawat tempat tersebut selama bertahun-tahun. Garrick turun dari kudanya. “Dua orang berjaga di luar. Sisanya ikut denganku.” Mereka memasuki bangunan dengan senjata terhunus. Di dalam, udara berbau debu dan kayu lapuk. Sebagian perabot masih berada di tempatnya, tetapi beberapa lemari telah dikosongkan. Di dinding aula terdapat bekas bingkai lukisan yang sudah dilepas. Salah seorang kesatria menemukan pintu menuju ruang bawah tanah. “Kapten, ada jejak baru.” Garrick berjongkok. Jejak sepatu itu menembus debu, menuju anak tangga yang gelap. “Edmon?” Tidak ada jawaban. Garrick memberi isyarat agar mereka turun dengan hati-hati. Di bawah, mereka menemukan ruangan kecil berisi rak-rak kosong. Di ujung ruangan terdapat meja besi dan sebuah kursi yang terikat pada lantai. Darah mengering di permukaan meja. Salah satu kesatria menelan ludah. “Tempat penyiksaan?” “Belum tentu,” jawab Garrick. “Jangan membuat kesimpulan sebelum kita menemukan sesuatu.” Dia memeriksa dinding. Di balik lemari yang terguling, terdapat sebuah pintu sempit. Kuncinya sudah rusak dari dalam. Garrick mendorongnya. Pintu itu terbuka dengan suara berderit. Di dalamnya terdapat ruangan yang jauh lebih kecil. Hanya ada sebuah peti kayu, beberapa lembar kertas hangus, dan seorang pria terbaring di lantai. Garrick segera berlutut di sampingnya. Pria itu masih bernapas. Wajahnya pucat, pakaiannya berlumuran darah, dan tangan kanannya menggenggam sebuah benda logam kecil. “Edmon?” Mata pria itu terbuka perlahan. “Jangan...” Suaranya hampir tidak terdengar. “Jangan bawa... benda itu... kembali.” Garrick melihat benda yang digenggamnya. Sebuah kunci hitam dengan sembilan garis pada kepalanya. “Di mana penerima terakhir?” tanya Garrick. Edmon berusaha menjawab, tetapi batuknya berubah menjadi darah. “Dia... tidak pernah menerima... pengiriman itu.” Garrick menegang. “Apa maksudmu?” Edmon mencengkeram pergelangan tangannya. “Orang yang tercatat sebagai penerima... sudah mati sebelum barangnya tiba.” Matanya bergerak ke arah peti kayu. “Yang menerima sebenarnya... bukan manusia.” Tubuh Edmon mendadak menegang. Dari lorong belakang terdengar suara gesekan logam. Garrick berdiri dan mengangkat pedangnya. Sesuatu sedang bergerak di balik pintu. Bukan langkah kaki. Bunyi itu menyerupai rantai yang diseret di atas batu. Lalu sebuah suara terdengar dari kegelapan. “Serahkan kuncinya.” Garrick mengambil posisi bertahan di depan Edmon. “Siapa kau?” Sosok tinggi muncul di ujung lorong. Tubuhnya tertutup jubah kelabu, dan wajahnya tersembunyi di balik topeng logam tanpa mulut. Di tangan kanannya terdapat rantai panjang yang ujungnya terhubung ke bilah melengkung. Garrick tidak menunggu. Dia menerjang dengan tebasan diagonal. Sosok bertopeng memutar rantainya. Bilah melengkung menghantam pedang Garrick dari samping, mengubah arah tebasan dan membuat lengan Garrick bergetar hebat. Benturan kedua datang dari bawah. Garrick mundur satu langkah untuk menghindari bilah yang menyapu lututnya. Sosok itu menyerang lagi, kali ini dengan menarik rantai hingga bilahnya berputar mengitari pilar batu. Garrick menyadari bahwa dia tidak bisa sekadar bertukar serangan. Lawan tersebut mengendalikan jarak melalui rantainya. Dia memancing sosok itu menyerang ke arah meja besi, lalu bergeser ke samping pada saat terakhir. Bilah melengkung menghantam meja dan tersangkut sesaat. Garrick memanfaatkan kesempatan itu untuk memukul rantai dengan gagang pedangnya. Logam berdering keras. Rantai terlepas dari meja. Namun, sosok bertopeng justru menggunakan tarikan rantai untuk meluncurkan dirinya ke depan. Bahunya menghantam dada Garrick dan membuat kesatria itu terlempar ke dinding. “Kapten!” Dua kesatria mencoba membantu, tetapi sosok itu mengayunkan rantainya rendah. Mereka terpaksa melompat mundur agar kaki mereka tidak tersapu. Garrick bangkit dengan napas berat. Dia lebih kuat daripada lawannya dalam pertarungan jarak dekat, tetapi ruangan sempit dan senjata rantai membuat setiap gerakannya berbahaya. Dia menatap peti kayu di belakang sosok tersebut. Lalu dia mengerti. Lawan itu tidak sedang berusaha membunuh mereka semua. Dia menjaga peti. Garrick menyerang lagi, memaksa sosok itu mundur ke arah pilar. Pada saat yang sama, seorang kesatria berlari menuju Edmon. “Bawa dia keluar!” Sosok bertopeng memutar tubuh dan melemparkan rantainya. Garrick menyambut serangan itu dengan menancapkan pedangnya ke sela lantai batu. Rantai melilit bilahnya, menahannya selama satu detik. Satu detik yang cukup. Kesatria itu berhasil mengangkat Edmon. Namun, sosok bertopeng menggeram dari balik topengnya. Dia menarik rantai dengan seluruh tenaga. Pedang Garrick tercabut dari tangannya dan terlempar ke dinding. Sebelum lawan itu dapat melanjutkan serangan, salah satu kesatria menghantamkan perisai ke sisinya. Benturan itu tidak menjatuhkannya, tetapi memaksanya kehilangan keseimbangan. “Keluar!” teriak Garrick. Mereka mundur bersama-sama. Sosok bertopeng tidak mengejar sampai ke tangga. Dia hanya berdiri di ambang pintu, rantainya berderak di lantai. “Benda itu bukan milik kalian,” katanya. Garrick mengangkat pedang yang berhasil diambil kembali. “Kalau begitu, datang dan ambil sendiri.” Sosok tersebut tidak bergerak. Kemudian dia menoleh ke peti kayu. “Sudah terlambat.” Terdengar bunyi retakan dari dalam peti. Cahaya hitam menyusup melalui celah-celah kayunya. Garrick langsung menarik para kesatria menuju tangga. Satu detik kemudian, seluruh ruangan bawah tanah berguncang. Debu dan pecahan batu berhamburan dari langit-langit. Mereka berhasil mencapai halaman tepat sebelum sebagian tangga runtuh. Dari dalam bangunan terdengar suara dentuman kedua. Lalu sunyi. Garrick memandang pintu masuk yang kini dipenuhi puing. Edmon masih hidup, tetapi kondisinya kritis. Dan kunci hitam dengan sembilan garis itu masih berada dalam genggaman tangannya. --- Di kediaman Pendragon, Ignis menerima laporan singkat dari seorang kesatria yang dikirim Garrick. Ketika membaca bahwa Edmon ditemukan di Rumah Peristirahatan Veyr dan menyebut penerima terakhir bukan manusia, Ignis terdiam cukup lama. Dia memandangi kunci hitam yang tergambar dalam sketsa kasar pada laporan. Sembilan garis. Sama seperti simbol pada segel surat, cakram logam, dan pilar di Velmora. Namun, sekarang ada satu perbedaan penting. Untuk pertama kalinya, mereka memiliki benda nyata yang mungkin bisa membuka sesuatu. Ignis menutup laporan itu. “Caelan.” “Ya?” “Siapkan perjalanan ke utara.” Caelan menatapnya dengan khawatir. “Lord Alistair tidak akan mengizinkan Anda pergi setelah semua yang terjadi.” Ignis berdiri perlahan. “Kalau begitu, aku akan meminta izin.” “Dan kalau beliau menolak?” Ignis menatap jendela yang menghadap ke utara. “Kalau Edmon benar, kita tidak sedang mencari seseorang yang menyimpan dokumen.” Dia mengepalkan tangan. “Kita sedang mencari sesuatu yang seharusnya tidak pernah menerima kiriman itu.” Bersambung. Teaser Bab 35 — Penerima yang Bukan Manusia Edmon berhasil ditemukan, tetapi rahasianya menimbulkan pertanyaan yang jauh lebih mengerikan. Apa yang sebenarnya disimpan di Rumah Peristirahatan Veyr, dan mengapa peti di ruang bawah tanah memancarkan energi yang sama dengan segel kuno? Ignis bersiap menuju utara, tanpa menyadari bahwa seseorang telah meninggalkan tanda baru di kamarnya—tanda yang tidak ada ketika dia berangkat tidur.

End of Chapter 34