Chapter 33 of 70

Bab 33 — Mereka yang Memburu Segel

1.7k words

Ketika rombongan kembali ke kediaman Pendragon, matahari telah naik di atas menara-menara putih. Namun, suasana kediaman sama sekali tidak terasa seperti pagi biasa. Gerbang timur dijaga dua kali lebih ketat. Para pelayan diminta tetap berada di bangunan utama, sementara setiap orang yang datang dan pergi harus mencatat nama serta tujuan mereka. Pecahan cakram hitam dari peti besi telah dipindahkan ke ruang pengamanan, di bawah pengawasan Alistair dan dua kesatria senior. Ignis langsung menuju ruang kerja ayahnya. Kain hitam bersulam dua sayap diletakkan di atas meja. Alistair memeriksanya dengan ekspresi serius. “Lambang ini,” katanya, “pernah muncul dalam laporan ekspedisi utara yang diperiksa Caelan.” Caelan mengangguk. “Benar. Namun, bentuknya tidak sepenuhnya sama dengan lambang yang ditemukan di Velmora. Pada catatan lama, kedua sayap digambarkan mengarah ke luar, sedangkan lambang ini memiliki garis tambahan di bagian tengah.” “Artinya?” tanya Garrick. “Bisa berarti variasi lambang, bisa pula berarti dua organisasi berbeda yang memakai simbol serupa.” Ignis menyandarkan kedua tangan pada tepi meja. “Jangan menyimpulkan mereka satu kelompok hanya karena menggunakan dua sayap. Kita perlu bukti yang menghubungkan mereka.” Caelan mengangguk setuju. Alistair menatap putranya sejenak. “Kau mengatakan hal itu seolah-olah pernah menghadapi persoalan seperti ini berkali-kali.” Ignis mengangkat bahu kecil. “Aku hanya tidak ingin kita mengejar orang yang salah.” Jawaban itu cukup masuk akal bagi seorang anak cerdas. Setidaknya, untuk saat ini. Garrick meletakkan sebuah kantong kain di atas meja. “Kami menemukan ini di dekat tempat penyerang bertopeng menghilang.” Dia mengeluarkan benda kecil berbentuk tabung. Salah satu ujungnya patah, memperlihatkan serat logam tipis di bagian dalam. “Potongan alat komunikasi?” tanya Caelan. “Tidak. Saya pernah melihat perlengkapan semacam ini pada kesatria pengintai. Tabungnya bisa menyimpan pesan kecil atau penanda untuk anggota kelompok lain.” Ignis mengamati benda tersebut. “Apakah masih berfungsi?” “Belum saya uji.” “Jangan aktifkan sebelum kita tahu mekanismenya.” Garrick mengangguk. Pintu ruang kerja terbuka. Seorang kesatria masuk dan membungkuk. “Lord Pendragon, pemeriksaan barang bawaan utusan kekaisaran telah selesai. Tidak ditemukan senjata atau artefak lain. Namun, ada satu hal yang perlu Anda ketahui.” Alistair memberi isyarat agar dia melanjutkan. “Petugas penerimaan mencatat bahwa peti besi yang dibawa utusan memiliki berat sekitar enam kilogram ketika tiba. Setelah serangan, peti tersebut hanya berbobot kurang dari dua kilogram.” Caelan langsung berdiri. “Pecahan cakramnya tidak mungkin menjelaskan selisih sebesar itu.” “Benar,” jawab kesatria itu. “Kami juga menemukan goresan berbentuk persegi di dasar peti. Sepertinya pernah ada benda lain di dalamnya.” Ignis menatap peti yang kini berada di atas meja samping. Jadi, mereka tidak hanya mengirim cakram. Sesuatu yang lebih berat pernah disimpan di sana, lalu diambil sebelum peti tiba di kediaman Pendragon—atau dikeluarkan ketika artefak itu diaktifkan. “Apakah peti tersebut diperiksa sebelum dibawa masuk?” tanya Ignis. “Tidak secara menyeluruh. Utusan menunjukkan dokumen resmi, sehingga petugas hanya memeriksa segel luar.” Alistair mengerutkan kening. “Siapa yang menerima peti itu di gerbang?” “Kapten pengawal, Sir Edmon Rusk.” Nama itu membuat Caelan terdiam. Ignis menyadarinya. “Kau mengenalnya?” Caelan ragu sejenak sebelum menjawab. “Saya pernah melihat namanya dalam dokumen lama. Dia bertugas di bagian pengiriman sebelum dipindahkan menjadi pengawal kediaman.” “Dokumen yang mana?” “Catatan pemindahan barang dari kantor administrasi wilayah. Saya tidak ingat semua rinciannya.” Ignis tidak menyukai jawaban itu. Bukan karena Caelan terlihat berbohong, melainkan karena nama tersebut muncul tepat ketika mereka sedang mencari orang yang terlibat dalam pengiriman rahasia. “Aku ingin berbicara dengannya,” kata Ignis. Alistair menggeleng. “Tidak sendirian.” “Aku tidak berniat pergi tanpa pengawalan.” “Bagus. Garrick akan ikut.” Mereka menemukan Sir Edmon di halaman latihan, sedang memeriksa daftar penjagaan bersama dua bawahannya. Edmon adalah pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan tubuh tegap dan rambut yang mulai memutih. Dia memiliki bekas luka panjang di punggung tangan kanan, tetapi gerakannya masih menunjukkan disiplin seorang kesatria berpengalaman. Ketika Alistair datang, Edmon segera memberi hormat. “Lord Pendragon. Ada yang bisa saya bantu?” “Kami ingin menanyakan peti besi yang diterima pagi ini.” “Apakah ada masalah dengan peti itu?” “Ya.” Edmon mendengarkan laporan singkat tentang serangan tersebut. Wajahnya tidak banyak berubah, tetapi jari-jarinya mengencang di sekitar papan catatan. Ignis memperhatikan gerakan itu. “Sir Edmon,” katanya, “apakah Anda pernah melihat lambang ini?” Dia menunjukkan kain hitam bersulam dua sayap. Edmon menatapnya. Hanya sesaat. Namun, sesaat itu cukup. “Aku pernah melihat banyak lambang selama bertugas,” jawab Edmon. “Saya tidak bisa memastikan.” “Di mana Anda melihatnya?” “Saya tidak ingat.” Ignis memiringkan kepala. “Kalau begitu, bagaimana Anda tahu pernah melihatnya?” Edmon terdiam. Garrick melirik Ignis, tetapi tidak menyela. “Apa maksud Anda, Tuan Muda?” “Ketika aku bertanya apakah kau mengenali lambang itu, kau mengatakan pernah melihatnya. Setelah itu, kau bilang tidak bisa memastikan. Aku hanya ingin tahu bagian mana yang kau ingat.” Edmon menatap anak itu lebih lama. Kemudian dia menghela napas. “Sekitar dua belas tahun lalu, saya pernah bertugas mengawal pengiriman dokumen ke sebuah rumah peristirahatan di wilayah utara. Salah satu peti membawa lambang yang mirip dengan itu.” “Rumah peristirahatan apa?” “Saya tidak ingat namanya.” “Siapa yang mengirim peti itu?” “Perintahnya berasal dari kantor administrasi.” “Nama pejabatnya?” Edmon menggeleng. “Saya menerima perintah tertulis. Tidak ada nama pejabat yang tercantum.” Ignis menahan keinginan untuk terus mendesaknya. Ingatan dua belas tahun lalu memang bisa memudar. Dan Edmon mungkin benar-benar tidak mengetahui siapa yang mengeluarkan perintah. Tetapi ada satu pertanyaan yang belum dijawab. “Kenapa Anda tidak melaporkan bahwa pernah melihat lambang itu ketika kami mulai menyelidiki E-17?” Wajah Edmon berubah. Bukan marah. Lebih mirip seseorang yang baru menyadari bahwa dirinya telah melewatkan sesuatu yang penting. “Karena saya tidak menganggapnya berkaitan,” katanya pelan. “Lambang itu hanya terlihat pada peti selama beberapa detik. Saya bahkan tidak yakin ingatan saya benar.” Ignis mengamati matanya. Tidak ada cukup bukti untuk menuduhnya. Namun, sebelum dia sempat bertanya lebih lanjut, seorang pelayan berlari melintasi halaman. “Sir Edmon! Ada pesan untuk Anda!” Pelayan itu menyerahkan secarik kertas kecil. Edmon menerimanya dengan wajah bingung. Begitu membaca isinya, darah seolah-olah menghilang dari wajahnya. “Apa isinya?” tanya Alistair. Edmon tidak menjawab. Dia meremas kertas tersebut terlalu cepat, tetapi Ignis telah melihat satu bagian kalimat yang tertulis di atasnya. ANAK ITU TIDAK BOLEH MENEMUKAN PENERIMA TERAKHIR. Garrick langsung mencabut pedangnya. “Edmon, serahkan kertas itu.” “Aku tidak tahu siapa yang mengirimkannya.” “Kalau begitu, tidak ada alasan untuk menyembunyikannya.” Edmon memandang kertas di tangannya. Selama beberapa detik, dia tampak mempertimbangkan sesuatu. Lalu dia melemparkannya ke tanah. “Aku tidak pernah menerima perintah untuk menyakiti Tuan Muda Ignis.” “Tidak ada yang menuduh Anda melakukannya,” kata Alistair dingin. Edmon menutup mata sejenak. “Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya tidak terlibat dalam serangan itu.” “Kalau begitu, bantu kami menemukan siapa yang mengirim pesan ini.” Edmon mengangguk, tetapi sebelum dia bisa berbicara, sebuah bunyi nyaring terdengar dari menara timur. Lonceng bahaya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Seorang kesatria berlari memasuki halaman. “Lord Pendragon! Ada penyusup di gudang perlengkapan!” Garrick segera berlari menuju gudang, diikuti Alistair dan dua kesatria. Ignis ikut bergerak, meskipun rasa sakit di kakinya kembali muncul. Ketika mereka tiba, pintu gudang sudah terbuka. Seorang penjaga terbaring di lantai, masih bernapas, tetapi tidak sadarkan diri. Beberapa peti telah dibongkar, dan perlengkapan yang tersimpan di dalamnya berserakan. Tidak ada barang berharga yang hilang. Tidak ada senjata yang dibawa kabur. Hanya satu benda yang lenyap. Tabung logam yang ditemukan Garrick di hutan. Ignis menoleh tajam. “Kita meninggalkannya di ruang pengamanan.” Caelan yang baru tiba mengangguk dengan wajah tegang. “Saya menyimpannya dalam kotak terkunci. Hanya tiga orang yang mengetahui lokasinya.” “Siapa saja?” “Saya, Lord Alistair, dan Sir Edmon.” Semua orang terdiam. Garrick segera menoleh ke belakang. Edmon tidak ada di sana. Seorang kesatria diperintahkan memeriksa halaman latihan. Yang lain menutup semua pintu keluar. Namun, Ignis sudah melihat sesuatu di lantai gudang. Jejak lumpur. Jejak itu berawal dari pintu belakang, melintasi lantai, lalu berakhir di dekat rak tempat tabung logam disimpan. Di sampingnya tergeletak sebuah kancing perak dengan lambang matahari bermahkota. Lambang kekaisaran. Ignis mengambilnya menggunakan kain. “Apakah semua seragam utusan kekaisaran menggunakan kancing seperti ini?” tanyanya. Caelan mengamati benda tersebut. “Ya, tetapi bentuknya berbeda menurut jabatan. Kancing ini digunakan oleh petugas pengiriman tingkat menengah.” “Bukan milik Marcus?” “Bukan. Kancing pada seragamnya berlapis emas.” Ignis menatap pintu belakang gudang. Penyusup itu mungkin memakai seragam palsu. Atau seseorang dari jaringan pengiriman kekaisaran memang terlibat. Dua kemungkinan yang berbeda, dengan konsekuensi yang sama berbahayanya. “Cari Edmon,” perintah Alistair. “Hidup atau mati, kita harus menemukannya.” Ignis menggeleng pelan. “Jangan menyebarkan perintah itu dengan kata-kata tersebut.” Alistair menoleh. “Kenapa?” “Kalau Edmon memang melarikan diri, dia mungkin satu-satunya orang yang bisa memberi tahu kita siapa penerima terakhir. Jika orang-orang di balik ini mendengar kita ingin menangkapnya hidup atau mati, mereka bisa membunuhnya sebelum kita menemukannya.” Alistair terdiam sesaat, lalu mengubah perintah kepada para kesatria. Ignis kembali memandang kancing perak di tangannya. Mereka telah kehilangan satu-satunya benda yang mungkin mengungkap mekanisme komunikasi kelompok penyerang. Sir Edmon menghilang setelah menerima pesan ancaman. Dan seseorang di dalam kediaman mengetahui lokasi penyimpanan benda itu. Semua petunjuk mengarah pada jaringan yang sama. Tetapi belum ada yang membuktikan bahwa Edmon adalah pengkhianat. Ignis mengepalkan tangan. Di kehidupan pertamanya, dia pernah melihat bagaimana tuduhan yang terlalu cepat menghancurkan orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah. Dia tidak akan mengulanginya. “Caelan,” katanya, “aku ingin semua catatan pengiriman dari dua belas tahun lalu yang berhubungan dengan rumah peristirahatan di utara.” Caelan mengangguk. “Dan kali ini,” lanjut Ignis, “jangan hanya mencari nama orang yang mengirim barang.” Dia menatap lambang dua sayap pada kain hitam. “Cari nama orang yang menerimanya.” Jauh di luar kediaman Pendragon, di sebuah jalan sempit yang mengarah ke gerbang timur, seorang pria berjubah gelap berjalan tertatih. Sir Edmon Rusk menekan luka di sisi perutnya. Di tangannya terdapat selembar kertas yang telah ternoda darah. Sebelum berbelok ke sebuah gang, dia menoleh ke belakang. Tidak ada seorang pun. Namun, dia tahu dirinya sedang diburu. Edmon membuka kertas itu sekali lagi. Di bagian bawah pesan yang sama, terdapat satu kalimat tambahan yang belum sempat dibaca Ignis. JIKA ANAK ITU MENEMUKAN PENERIMA TERAKHIR, BIARKAN DIA MENEMUKAN MAYATNYA. Edmon meremas kertas tersebut. “Maafkan aku, Tuan Muda,” bisiknya. Lalu dia menghilang di antara bayangan kota. Bersambung. Teaser Bab 34 — Penerima Terakhir Sir Edmon menghilang, tabung logam jatuh ke tangan pihak yang tidak diketahui, dan sebuah pesan mengisyaratkan bahwa penerima terakhir pengiriman lama mungkin sudah mati. Ignis harus memutuskan apakah akan mengikuti jejak Edmon atau menelusuri rumah peristirahatan di utara. Namun, keduanya mungkin membawa mereka menuju tempat yang sama—dan seseorang sudah menunggu di sana.

End of Chapter 33