Chapter 32 of 70

Bab 32 — Barang yang Salah

1.8k words

“Jangan biarkan siapa pun meninggalkan kediaman.” Perintah Alistair membuat seluruh aula bergerak. Para kesatria menutup gerbang utama, mengamankan lorong, dan memeriksa setiap ruangan yang mungkin digunakan untuk menyelinap masuk. Petugas medis segera dipanggil untuk menangani kurir yang ditemukan di halaman belakang. Sementara itu, Marcus Aurelian berdiri di ruang tamu dengan wajah pucat. “Saya bersumpah, Lord Pendragon. Peti itu diserahkan kepada saya dalam keadaan terkunci. Saya tidak mengetahui apa pun tentang cakram tersebut.” Alistair menatapnya tajam. “Kalau begitu, Anda tidak keberatan jika kami memeriksa seluruh barang bawaan Anda?” “Silakan.” Garrick dan dua kesatria membawa Marcus ke ruangan terpisah. Bukan sebagai tahanan resmi, tetapi tidak seorang pun akan mengizinkannya berjalan bebas sebelum situasi jelas. Ignis memperhatikan semuanya dari dekat pintu. Dia tidak menganggap Marcus bersalah. Pria itu terlihat benar-benar terkejut ketika cakram tersebut menyerang. Namun, kepanikan seseorang tidak cukup untuk membuktikan bahwa dia tidak terlibat. Jangan menuduh orang yang salah hanya karena dia berada di tempat kejadian. Itulah kesalahan yang pernah dia buat dalam kehidupan pertamanya. Seseorang bisa menjadi pelaku, korban, atau keduanya sekaligus. “Tuan Muda.” Caelan menghampirinya sambil membawa kotak kayu kecil. “Kami mengumpulkan pecahan cakram itu. Saya tidak menemukan tanda sihir yang biasa digunakan untuk mengaktifkan artefak.” Ignis menoleh. “Lalu bagaimana benda itu bergerak?” “Itulah masalahnya. Saya belum tahu.” “Apakah kau menemukan mekanisme di dalamnya?” Caelan menggeleng. “Tidak ada roda gigi, pegas, atau bagian mekanis yang terlihat. Permukaan dalamnya seperti logam yang terbakar sampai menghitam.” Ignis menatap kotak tersebut tanpa menyentuhnya. “Jangan mencoba menyatukan pecahannya.” “Saya tidak berniat melakukannya.” “Dan jangan menggunakan mana untuk memeriksanya.” Caelan mengangkat alis. “Kenapa?” “Karena benda itu baru saja mengeluarkan sembilan benang yang hampir mencekik seseorang. Kita belum tahu apakah pecahannya masih aktif.” Caelan terdiam, lalu menutup kotak itu lebih rapat. “Poin yang bagus.” Ignis mengalihkan perhatian ke halaman belakang. Kurir yang ditemukan di sana akhirnya sadar. Namanya Roderic Pell, seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun dengan pakaian perjalanan berwarna cokelat. Dia mengaku bekerja untuk perusahaan pengiriman independen yang melayani beberapa kota di wilayah Solvaris. Menurut keterangannya, dia menerima bayaran untuk mengantarkan sebuah surat ke kediaman Pendragon. Namun, dia tidak pernah sampai ke gerbang. “Saya sedang melewati jalan di sebelah timur,” katanya dengan suara serak. “Seseorang memanggil saya dari balik pepohonan. Saya pikir dia hendak meminta bantuan.” “Apa yang terjadi setelah itu?” tanya Alistair. Roderic menelan ludah. “Saya melihat kilatan cahaya. Setelah itu, saya tidak ingat apa-apa.” “Apakah Anda melihat wajah orang itu?” “Tidak. Dia mengenakan jubah gelap.” Ignis berdiri di samping tempat tidur. “Apakah dia menggunakan senjata?” Roderic berpikir sejenak. “Sepertinya tidak. Tetapi ketika saya mendekatinya, udara terasa sangat dingin.” Rasa dingin. Ignis langsung teringat sensasi yang muncul sebelum suara dari alam kutukannya memperingatkan tentang E-17. Namun, dia tidak langsung menghubungkan keduanya. Dingin bisa berasal dari banyak hal. “Apakah ada bau aneh?” lanjut Ignis. “Logam terbakar, tanah basah, atau sesuatu seperti asap?” Roderic menatap anak itu dengan bingung. “Ada bau logam terbakar.” Ignis terdiam. Garrick yang berdiri di dekat pintu segera meliriknya. “Apakah itu penting?” “Mungkin.” Ignis berbalik kepada ayahnya. “Aku ingin melihat tempat dia ditemukan.” Alistair menghela napas. “Kau baru saja terluka di Velmora.” “Aku tahu.” “Dan kau hampir terkena serangan dari artefak yang tidak kita kenali.” “Aku juga tahu.” “Kalau begitu, kenapa kau masih ingin pergi?” Ignis terdiam sesaat. Karena jika dia membiarkan orang lain mengendalikan arah penyelidikan, dia mungkin akan kehilangan kesempatan untuk memahami hubungan antara peti, cakram, dan pesan yang dikirimkan kepadanya. Namun, dia tidak bisa mengatakan itu. “Aku tidak ingin kita mengejar petunjuk yang sengaja ditinggalkan untuk menyesatkan kita.” Alistair mengamatinya. “Jelaskan.” “Surat itu mengatakan kita menerima benda yang salah. Bisa jadi seseorang ingin kita mencari benda lain. Kalau kita langsung mengikuti petunjuknya, kita mungkin justru melakukan apa yang mereka inginkan.” Caelan mengangguk perlahan. “Benar. Kita seharusnya memastikan terlebih dahulu apakah kurir itu benar-benar diserang karena surat tersebut atau karena alasan lain.” Alistair akhirnya mengizinkan pemeriksaan lokasi, dengan syarat Garrick ikut mendampingi Ignis. Mereka berangkat melalui gerbang timur. Jalan itu membelah taman luar sebelum berlanjut menuju hutan kecil yang berbatasan dengan tanah keluarga Pendragon. Beberapa kesatria sudah memasang tali pembatas di sekitar tempat Roderic ditemukan. Ignis berjalan perlahan. Dia tidak mencari jejak kaki biasa. Dia mencari sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan sekitar. Tanahnya lembap akibat hujan semalam. Jejak sepatu seharusnya terlihat jelas, tetapi sebagian permukaan jalan justru tampak seperti pernah disapu. Seseorang telah berusaha menghapus jejak. Ignis berjongkok di dekat semak. Di antara daun basah, dia menemukan serpihan kecil berwarna keperakan. Bentuknya menyerupai sisik tipis. Garrick menghunus pedangnya. “Jangan sentuh.” Ignis mengangguk. “Aku tidak akan.” Dia memperhatikan benda itu dari jarak dekat. Permukaannya dipenuhi guratan halus, dan salah satu ujungnya menghitam seperti bekas terbakar. “Apakah itu bagian dari zirah?” tanya Garrick. “Mungkin. Atau bagian dari perlengkapan lain.” Ignis berdiri dan mengamati pepohonan. Ada sesuatu yang terasa salah. Burung-burung tidak terdengar. Bahkan serangga pun seolah-olah menghilang dari sekitar mereka. “Garrick.” “Ya?” “Suruh para kesatria mundur dari jalan.” Garrick langsung menoleh. “Kenapa?” Ignis tidak sempat menjawab. Sebuah anak panah melesat dari balik pepohonan. Garrick bergerak cepat, menangkisnya dengan pedang. Anak panah itu menghantam bilah baja dan terpental ke tanah. “PENYERANG!” Tiga sosok berjubah muncul di antara batang-batang pohon. Yang pertama membawa busur pendek. Yang kedua memegang dua pisau melengkung. Sosok ketiga berdiri lebih jauh, mengenakan topeng putih polos. Mereka tidak berteriak. Tidak mengancam. Mereka langsung menyerang. Pemanah melepaskan dua anak panah berturut-turut. Garrick menangkis yang pertama, lalu menarik Ignis ke samping untuk menghindari yang kedua. Sosok bersenjata pisau menerjang dari sisi kanan. Garrick menyambutnya dengan tebasan mendatar. Penyerang itu mundur, memutar tubuh, lalu mengarahkan pisau ke celah di bawah lengan Garrick. Bentrokan baja terdengar keras. Garrick memang lebih kuat, tetapi lawannya tidak bertarung seperti bandit biasa. Dia menyerang sendi, mengincar titik lemah zirah, dan mundur sebelum serangan balasan tiba. Ignis segera memahami situasinya. Mereka bukan datang untuk merampok. Mereka datang dengan target tertentu. Dan target itu mungkin bukan dirinya. “Garrick! Jangan biarkan mereka mendekati serpihan perak!” Garrick melirik benda di dekat semak. Satu detik saja sudah cukup. Penyerang bertopeng bergerak. Dia tidak menuju Ignis. Dia melesat ke arah serpihan perak. Ignis menyambar ranting tebal dari tanah dan melemparkannya ke wajah penyerang tersebut. Ranting itu tidak melukai, tetapi cukup mengganggu pandangannya. Garrick memanfaatkan kesempatan itu untuk memaksanya mundur. “Bagus, Tuan Muda!” “Belum selesai!” Pemanah telah berpindah posisi. Kali ini dia membidik Garrick dari sudut yang terlindung pepohonan. Ignis melihat garis tembaknya. “Garrick, merunduk!” Garrick menjatuhkan tubuhnya tepat saat anak panah melintas di atas kepala. Ignis mengambil segenggam tanah basah dan melemparkannya ke arah pemanah. Tindakan itu tidak mungkin mencederai lawan, tetapi membuatnya refleks memalingkan wajah. Salah satu kesatria Pendragon yang ikut dalam pemeriksaan menerjang dari samping, memaksa pemanah menjatuhkan busurnya. Pertarungan berlangsung cepat. Garrick berhasil melukai lengan pengguna pisau, sementara dua kesatria lain mengepung pemanah. Namun, sosok bertopeng putih belum mengeluarkan senjata. Dia hanya memperhatikan mereka. Lalu, tanpa peringatan, dia mengangkat tangan. Sebuah kilatan hitam muncul di bawah kakinya. Ignis merasakan tekanan mana yang tidak wajar. “MENJAUH!” Garrick langsung melompat mundur sambil menarik Ignis. Tanah di sekitar penyerang bertopeng meledak. Bukan ledakan api, melainkan semburan kegelapan yang memecahkan tanah dan melemparkan batu-batu kecil ke segala arah. Ketika debu mereda, sosok itu sudah berada beberapa meter lebih jauh. Dia mengangkat kepala dan menatap Ignis melalui lubang sempit pada topengnya. Untuk sesaat, Ignis merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Bukan rasa takut. Lebih seperti sensasi ketika seseorang memanggil namanya dari ruangan yang seharusnya kosong. Sosok itu berbicara untuk pertama kalinya. “Pewaris kecil.” Garrick langsung mengangkat pedang. “Siapa kau?” Orang bertopeng tidak menjawab. Dia hanya menatap Ignis. “Seharusnya kau tetap berada di bawah biara itu.” Jantung Ignis berdegup keras. Jadi, mereka mengetahui Velmora. Atau setidaknya, seseorang telah melaporkan apa yang terjadi di sana. “Siapa yang mengirimmu?” tanya Ignis. Sosok itu memiringkan kepala. “Pertanyaan yang salah.” Dia mengangkat tangan lagi. Kali ini, Garrick tidak menunggu. Dia menerjang dengan pedang terangkat, memaksa penyerang bertopeng menangkis serangannya dengan bilah hitam yang muncul dari lengan bajunya. Benturan pertama memercikkan cahaya. Benturan kedua membuat Garrick terdorong mundur. Benturan ketiga meretakkan tanah di bawah kaki mereka. Ignis menyadari sesuatu yang mengkhawatirkan. Penyerang itu tidak sedang berusaha mengalahkan Garrick. Dia hanya menahan kesatria tersebut agar tidak mendekat. Sementara itu, dua penyerang lainnya bergerak menuju serpihan perak. “JANGAN BIARKAN MEREKA MENGAMBILNYA!” Salah satu kesatria berhasil menghadang mereka, tetapi pengguna pisau melemparkan bom asap kecil ke tanah. Asap kelabu menelan jalan. Terdengar benturan senjata, langkah kaki, dan teriakan singkat. Ignis menutup mulut dengan lengan bajunya dan merunduk. Dia tidak mencoba mengejar lawan dalam kabut yang menghalangi pandangan. Sebaliknya, dia meraih batu sebesar kepalan tangan dan melemparkannya ke arah bunyi langkah yang menjauh. Batu itu mengenai sesuatu. Seseorang mengumpat. Ignis mendengar suara logam jatuh. Ketika asap mulai menipis, para penyerang sudah mundur menuju hutan. Garrick hendak mengejar, tetapi Ignis menahannya. “Jangan!” “Mereka akan lolos!” “Kalau kita mengejar tanpa mengetahui jumlah mereka, kita bisa masuk ke perangkap!” Garrick mengertakkan gigi, tetapi akhirnya menurunkan pedangnya. Sosok bertopeng putih berdiri di antara pepohonan untuk terakhir kalinya. Dia menatap Ignis, lalu mengucapkan kalimat yang membuat darah Ignis terasa dingin. “Benda yang salah sudah berada di tangan kalian.” Dia menghilang ke balik kabut. “Jangan buka yang berikutnya.” Beberapa detik kemudian, hutan kembali sunyi. Garrick mengumpat pelan. “Siapa sebenarnya mereka?” Ignis tidak menjawab. Dia berlutut di dekat serpihan perak. Benda itu masih berada di tempatnya, tetapi kini terdapat bekas goresan baru di tanah, membentuk garis pendek yang mengarah ke timur. Di ujung garis itu, terselip secarik kain hitam. Ignis mengambilnya dengan hati-hati menggunakan ujung ranting. Pada kain tersebut terdapat sulaman kecil berupa dua sayap yang saling membelakangi. Di bawahnya, hanya ada satu kata. VELMORA. Ignis menatap lambang itu lama. Dia telah menemukan jejak yang menghubungkan serangan ini dengan biara. Namun, dia belum mengetahui siapa yang mengendalikan para penyerang, apa yang sebenarnya mereka cari, atau mengapa mereka menyebutnya pewaris kecil. Satu hal kini jelas. Peti yang salah bukan kecelakaan biasa. Seseorang telah mengirim benda itu ke kediaman Pendragon, dan pihak lain bersedia menyerang untuk mengambil sesuatu yang bahkan belum mereka pahami. Ignis menggenggam kain tersebut. “Garrick.” “Ya, Tuan Muda?” “Bawa semua orang kembali ke kediaman. Jangan kirim laporan melalui kurir biasa.” Garrick menatapnya. “Kau mencurigai seseorang di dalam keluarga?” “Aku mencurigai semua jalur yang belum kita periksa.” Ignis memandang hutan yang kembali sunyi. “Dan mulai sekarang, kita tidak hanya mencari kotak E-17.” Dia menoleh ke arah kediaman Pendragon. “Kita mencari orang yang takut kita menemukan isinya.” Bersambung. Teaser Bab 33 — Mereka yang Memburu Segel Serangan di hutan mengungkap lambang dua sayap yang kembali muncul setelah kejadian di Velmora. Ignis mulai menyadari bahwa beberapa pihak sedang memburu benda yang sama, tetapi memiliki tujuan berbeda. Saat pemeriksaan terhadap peti besi menghasilkan petunjuk baru, salah satu orang yang berada di kediaman Pendragon ternyata menyembunyikan sesuatu yang tidak pernah tercatat dalam laporan pengiriman.

End of Chapter 32