Chapter 31 of 70

Bab 31 — Di Bawah Lambang Kekaisaran

1.6k words

Pagi belum sepenuhnya tiba ketika lonceng kediaman Pendragon berbunyi. Ignis sudah terjaga sejak satu jam sebelumnya. Dia duduk di tepi tempat tidur, mengenakan kemeja latihan hitam, sementara perban masih membungkus sebagian tubuhnya. Rasa nyeri dari pertarungan di Biara Velmora belum hilang. Setiap kali dia menggerakkan lengan terlalu jauh, luka di bahunya mengingatkannya bahwa tubuhnya bukan lagi tubuh pria berusia tiga puluh lima tahun. Tubuh ini baru berusia delapan tahun. Dan dia harus berhenti bertindak seolah-olah tubuh tersebut mampu menanggung semua yang pernah bisa dilakukannya dahulu. Ketukan terdengar dari pintu. “Tuan Muda,” panggil Mira. “Kepala pelayan meminta Anda datang ke aula. Ada utusan kekaisaran.” Ignis mengangkat wajah. Cepat sekali. Dia menyelipkan belati kecil ke balik pakaian, lalu berjalan keluar dengan langkah hati-hati. Di aula utama, suasana terasa lebih tegang daripada biasanya. Ayahnya, Lord Alistair Pendragon, berdiri di depan perapian. Di sampingnya terdapat Garrick Thorne, sementara Caelan Voss memegang sebuah tabung dokumen bersegel emas. Di hadapan mereka berdiri tiga orang berpakaian seragam putih dan biru tua. Lambang matahari bermahkota menghiasi dada mereka. Lambang Kekaisaran Solvaris. Pria di tengah melangkah maju saat Ignis memasuki aula. Usianya sekitar empat puluh tahun, dengan rambut cokelat yang disisir rapi dan bekas luka tipis di dagu. “Pewaris Ignis Pendragon?” “Benar.” Pria itu mengamati Ignis sesaat, seolah-olah sedang membandingkan anak di hadapannya dengan informasi yang telah diterimanya. “Saya Marcus Aurelian, utusan resmi dari istana kekaisaran. Saya membawa titah dari Yang Mulia Kaisar.” Dia mengangkat tabung dokumen. “Atas nama keluarga kekaisaran Aureth, pewaris Ignis Pendragon diundang menghadiri pertemuan khusus di ibu kota Aurelis.” Alistair menyipitkan mata. “Pertemuan khusus untuk seorang anak berusia delapan tahun?” Marcus tidak tampak tersinggung. “Undangan ini ditujukan secara pribadi kepada Tuan Muda Ignis. Alasan lengkapnya tidak tercantum dalam dokumen yang diberikan kepada saya.” “Siapa yang mengajukan permintaan tersebut?” “Perintah ini dikeluarkan melalui Kantor Segel Kekaisaran.” Jawaban yang sangat rapi. Dan sangat tidak membantu. Ignis memperhatikan tabung dokumen di tangan Marcus. Segel emasnya asli, tetapi ada sesuatu yang mengganggunya. Bukan bentuk lambangnya. Bukan pula jenis lilinnya. Melainkan kondisi segel tersebut. Permukaan lilin di sisi kanan memiliki goresan tipis, seolah-olah seseorang pernah memecahkannya sebelum memanaskannya kembali. Ignis tidak langsung mengatakan apa pun. Dia menoleh kepada ayahnya. “Apakah aku harus berangkat sekarang?” Alistair menatapnya cukup lama sebelum menjawab. “Tidak sebelum kita memeriksa keabsahan titah ini.” Marcus mengangguk, seolah sudah memperkirakan jawaban tersebut. “Tentu. Keluarga Pendragon dipersilakan mengirim konfirmasi melalui jalur resmi. Namun, saya harus menyampaikan bahwa keberangkatan dalam tiga hari akan sangat dihargai.” “Dihargai oleh siapa?” tanya Ignis. Untuk pertama kalinya, senyum tipis Marcus menghilang. “Pihak yang menunggu Anda di Aurelis.” Keheningan jatuh di aula. Ignis menatapnya tanpa berkedip. Kalimat itu bukan jawaban seorang utusan yang hanya menyampaikan dokumen. Marcus mungkin tidak mengetahui keseluruhan perkara. Namun, dia tahu lebih banyak daripada yang tercantum dalam titah. Atau dia sengaja ingin membuat Ignis berpikir demikian. Setelah dokumen diserahkan dan utusan dipersilakan beristirahat, Alistair segera membawa Ignis, Garrick, dan Caelan ke ruang kerjanya. Pintu ditutup. “Apa pendapatmu?” tanya Alistair. Garrick menyilangkan tangan. “Ini mencurigakan. Saya tidak suka ada pihak yang meminta anak seusianya datang ke ibu kota tanpa alasan jelas.” “Setidaknya kita bisa menolak,” kata Caelan. “Menolak undangan langsung dari keluarga kekaisaran juga memiliki konsekuensi,” balas Alistair. Ignis berdiri di dekat meja, memperhatikan dokumen yang kini terbuka di hadapan mereka. “Segelnya pernah dibuka.” Semua mata tertuju kepadanya. Marcus tidak meninggalkan tabung itu dalam keadaan terbuka. Namun, setelah diperiksa lebih dekat, retakan kecil pada lilin memang terlihat. Caelan mengambil kaca pembesar dari laci. “Benar. Ada bekas pemanasan ulang.” “Apakah itu berarti titahnya palsu?” tanya Garrick. “Belum tentu,” jawab Caelan. “Seseorang bisa saja memeriksa isinya sebelum mengirimkannya. Tetapi prosedur itu seharusnya tercatat.” Alistair mengetukkan jarinya ke meja. “Kita akan menghubungi istana melalui jalur diplomatik. Sampai ada konfirmasi, Ignis tidak akan pergi ke mana pun.” Ignis tidak membantah. Dia justru sedang memikirkan hal lain. Kotak E-17 berada di ruang penyimpanan pribadi keluarga kekaisaran. Sekarang, sebuah undangan datang dari istana yang sama, ditujukan langsung kepadanya. Kedua peristiwa itu mungkin tidak berhubungan. Namun, mengabaikan kemungkinan tersebut akan menjadi kesalahan. “Ayah,” katanya, “bolehkah aku melihat daftar barang yang dibawa utusan itu?” Alistair mengangkat alis. “Untuk apa?” “Aku ingin tahu apakah dia membawa sesuatu selain dokumen.” Ayahnya tampak hendak menolak, tetapi akhirnya mengangguk kepada Caelan. Caelan memeriksa catatan penerimaan barang milik para utusan. Sebagian besar berisi pakaian, perlengkapan perjalanan, dan dokumen resmi. Namun, ada satu baris yang tidak cocok. Satu peti besi kecil. Disimpan terpisah. Tidak diperiksa oleh petugas penerimaan. Tidak ada keterangan isi. Tidak ada nama pemilik. Hanya cap pengiriman dari Aurelis. Ignis merasakan ketegangan di tengkuknya. “Di mana peti itu sekarang?” “Di ruang tamu timur,” jawab Caelan. Mereka tidak membuang waktu. Garrick berjalan paling depan, sementara Alistair meminta dua kesatria berjaga di kedua ujung lorong. Ketika mereka tiba, Marcus sedang berdiri di dekat jendela, berbicara dengan salah satu pengawalnya. Peti besi kecil itu terletak di atas meja. Begitu melihat mereka, Marcus menghentikan percakapan. “Ada masalah, Lord Pendragon?” “Kami sedang memeriksa barang yang masuk ke kediaman kami,” jawab Alistair. “Silakan. Tidak ada yang perlu disembunyikan.” Pernyataan itu terlalu cepat. Garrick memeriksa peti tersebut tanpa menyentuh kuncinya. Tidak ada lambang keluarga kekaisaran pada permukaan besi. Hanya goresan panjang di salah satu sisi, seperti bekas sesuatu yang diseret dengan paksa. Ignis mendekat. Dia tidak melihat peti itu sebagai peti biasa. Dia melihatnya sebagai benda yang mungkin telah melewati banyak tangan sebelum sampai di sini. “Siapa yang menguncinya?” tanyanya. “Peti itu sudah terkunci ketika diserahkan kepada saya,” jawab Marcus. “Siapa yang menyerahkannya?” Marcus terdiam sejenak. “Petugas pengiriman istana.” “Namanya?” “Saya tidak diberi nama.” Ignis menatapnya. “Jadi, Anda menerima barang tanpa mengetahui pengirimnya, membawa barang itu ke rumah kami, lalu mengirimkan undangan yang segelnya pernah dibuka?” Wajah Marcus mengeras. “Saya menjalankan perintah resmi, Tuan Muda.” “Aku tidak mengatakan Anda berbohong.” Ignis mengalihkan pandangan ke peti. “Aku hanya ingin tahu siapa yang menggunakan Anda.” Udara di ruangan seakan membeku. Salah satu pengawal Marcus bergerak setengah langkah, tetapi utusan itu segera mengangkat tangan, menghentikannya. Untuk beberapa detik, tak seorang pun berbicara. Lalu terdengar bunyi kecil dari dalam peti. Klik. Garrick langsung mencabut pedangnya. Alistair menarik Ignis ke belakang tubuhnya. Bunyi kedua menyusul. Klik. Klik. Kunci peti berputar dengan sendirinya. “Jangan buka!” seru Caelan. Terlambat. Tutup peti terangkat beberapa sentimeter, lalu semburan asap hitam menyembur keluar. Garrick menghantam sisi peti dengan pedangnya, menjatuhkannya dari meja sebelum asap menyebar lebih jauh. Benda itu menghantam lantai. Dari celah tutupnya, sesuatu melesat keluar. Bukan monster besar. Hanya sebuah cakram logam sebesar telapak tangan, berputar cepat menuju jendela. Ignis melihat garis-garis merah di permukaannya. Sembilan garis. “Jangan biarkan benda itu keluar!” Garrick bergerak lebih dahulu, tetapi cakram itu mengubah arah di udara, menghindari tebasannya. Ignis mengambil vas kecil dari meja dan melemparkannya ke arah jendela. Vas itu pecah tepat ketika cakram berbelok. Pecahan keramik memaksa benda tersebut mengubah lintasan sekali lagi. Cukup lama untuk membuat Garrick menyapu pedangnya dari samping. KLANG! Cakram terhantam ke lantai. Namun, benda itu tidak berhenti. Ia bergetar, mengeluarkan bunyi nyaring, lalu melepaskan sembilan benang hitam yang merayap di atas lantai seperti akar hidup. Salah satunya melilit pergelangan kaki seorang pengawal. Pria itu terjatuh sambil berteriak. “Potong benangnya!” seru Ignis. Garrick menebas lilitan tersebut. Pedangnya memercikkan bunga api ketika mengenai serat hitam, tetapi benang itu akhirnya putus. Ignis meraih kursi dan menghantamkan kaki kayunya ke cakram. Sekali. Dua kali. Pada pukulan ketiga, cakram itu retak. Sembilan benang hitam langsung mengerut, seolah-olah ditarik menuju pusatnya. Asap yang memenuhi ruangan tersedot kembali ke dalam retakan. Lalu semuanya berhenti. Keheningan menyusul, hanya dipecahkan oleh napas berat para penghuni ruangan. Ignis menatap cakram yang telah pecah. Dia mengenali pola pada permukaannya. Bukan karena pernah melihat benda yang sama. Melainkan karena garis-garis itu identik dengan simbol pada pilar di bawah Biara Velmora. Marcus tampak pucat. “Demi Matahari Agung... apa itu?” Ignis tidak menjawab. Dia berjongkok, mengamati pecahan cakram tanpa menyentuhnya. Di bagian tengah, terdapat ukiran kecil yang baru terlihat setelah lapisan hitamnya terkelupas. E-17. Caelan menarik napas tajam. “Tidak mungkin.” Alistair menoleh kepadanya. “Kau mengenali tanda itu?” Caelan mengangguk perlahan. “Itu kode inventaris yang muncul dalam catatan lama. Kode yang selama ini kita cari.” Ignis menatap pecahan logam tersebut. Kotak E-17 seharusnya berada di ruang penyimpanan pribadi keluarga kekaisaran. Namun, sesuatu yang membawa kode yang sama baru saja dikirim ke kediaman Pendragon—melalui undangan resmi yang keasliannya belum dapat dipastikan. Apakah peti itu sengaja dikirim untuk menyerang mereka? Atau cakram tersebut merupakan sesuatu yang seharusnya tetap terkunci? Dua kemungkinan itu sama-sama buruk. Ignis berdiri perlahan. “Jangan sentuh pecahan lainnya. Tutup ruangan ini, dan jangan biarkan siapa pun keluar sebelum kita mengetahui siapa saja yang sudah melihat benda tersebut.” Alistair menatap putranya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Untuk sesaat, dia tidak melihat seorang anak berusia delapan tahun. Dia melihat seseorang yang terbiasa menghadapi bahaya. Seseorang yang tahu bahwa serangan pertama terkadang hanya bertujuan mengalihkan perhatian. Dan jika Ignis benar, serangan sesungguhnya mungkin belum dimulai. Dari balik pintu, terdengar tiga ketukan. Seorang kesatria masuk dengan wajah tegang. “Lord Pendragon, kami menemukan sesuatu di halaman belakang.” “Apa?” “Seorang kurir tergeletak di dekat gerbang timur. Dia masih hidup, tetapi tidak sadarkan diri.” Ignis menoleh tajam. “Apakah dia membawa sesuatu?” Kesatria itu mengangguk. “Sebuah surat.” Dia menyerahkannya kepada Alistair. Tidak ada lambang pengirim. Tidak ada segel. Hanya satu kalimat yang ditulis dengan tinta merah gelap. “Kalian telah menerima benda yang salah.” Ignis menatap tulisan itu. Lalu, untuk pertama kalinya pagi itu, dia tersenyum tipis tanpa sedikit pun kegembiraan. “Kalau begitu,” gumamnya, “seseorang baru saja memberi kita alasan untuk mencari benda yang benar.” Bersambung. Teaser Bab 32 — Barang yang Salah Kediaman Pendragon dikunci setelah serangan misterius itu. Utusan kekaisaran bersumpah bahwa dia tidak mengetahui isi peti, sementara kurir yang ditemukan di halaman belakang membawa jejak yang mengarah ke jaringan pengiriman rahasia. Ignis harus menemukan siapa yang menukar barang tersebut—sebelum pihak yang menginginkan E-17 datang mengambilnya sendiri.

End of Chapter 31