Chapter 30 of 70

Bab 30 — Nama yang Mengetahui Kematian

1.3k words

Kereta keluarga Pendragon tiba menjelang tengah malam. Hujan telah berhenti, tetapi awan masih menutupi bulan. Dua kesatria yang mengawal perjalanan turun lebih dahulu untuk melaporkan kejadian di Biara Velmora. Harlan harus dibawa menuju ruang penyembuhan karena tulang rusuknya retak, sementara Darius mengalami luka cukup dalam pada lengan kirinya. Ignis sendiri berjalan dengan bantuan tongkat kecil. Dia membenci setiap langkah yang membuatnya pincang. Namun, rasa sakit itu bukan masalah terbesarnya. Sepanjang perjalanan pulang, satu kalimat terus berputar di kepalanya. Bagaimana mungkin makhluk itu mengetahui bahwa aku telah kembali? Dia belum pernah menceritakan regresinya kepada siapa pun. Bahkan keluarganya hanya melihat perubahan sikap seorang anak yang mendadak menjadi jauh lebih serius daripada usianya. Tidak ada bukti bahwa seseorang mengetahui kematiannya di kehidupan pertama. Setidaknya, belum ada. “Ignis.” Suara Darius membuyarkan lamunannya. “Kau harus menemui tabib sebelum melakukan hal lain.” “Aku akan menemuinya.” “Dan jangan mencoba pergi ke perpustakaan malam ini.” Ignis menatapnya. “Aku tidak pernah mengatakan ingin ke perpustakaan.” “Itulah yang membuatku khawatir.” Darius berjalan pergi sambil menggelengkan kepala. Ignis hampir tersenyum. Hampir. Ketika dia tiba di kediaman utama, Mira Valen sudah menunggu di aula. Wajah pelayan itu langsung berubah begitu melihat perban di tangan dan paha Ignis. “Tuan Muda!” Mira bergegas menghampirinya. “Apa yang terjadi? Kenapa Anda terluka seperti ini?” “Perjalanan yang sedikit tidak menyenangkan.” “Sedikit tidak menyenangkan?” Mira menatapnya seolah ingin menjewer telinganya. “Anda pergi dengan dua kesatria dan kembali dengan luka di sekujur tubuh!” “Dua kesatria itu juga terluka.” “Itu sama sekali tidak membuat saya lebih tenang!” Ignis membiarkan Mira membawanya ke ruang penyembuhan. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Velmora, dia tidak membantah ketika tabib memeriksa lukanya. Tubuhnya memang membutuhkan istirahat. Dan dia harus mengakui bahwa memaksakan mana sebesar itu melalui tubuh berusia delapan tahun adalah keputusan yang hampir bodoh. Hampir. Kalau dia tidak melakukannya, mereka mungkin tidak akan keluar dari ruangan bawah tanah itu. Setelah perawatan selesai, Ignis kembali ke kamarnya. Dia baru saja hendak berbaring ketika Mira mengetuk pintu. “Tuan Muda, ada sesuatu untuk Anda.” Sebuah amplop hitam diletakkan di atas meja. Tidak ada lambang pengirim. Tidak ada nama penerima di bagian depan. Hanya sebuah segel lilin berwarna abu-abu, dengan gambar lingkaran yang dikelilingi sembilan garis. Ignis langsung berdiri. Rasa dingin menjalar di sepanjang tulang punggungnya. “Siapa yang mengantarnya?” “Seorang kurir. Dia mengatakan surat itu harus diberikan langsung kepada Anda.” “Dari mana dia datang?” “Dia tidak menyebutkan asalnya. Ketika saya meminta identitasnya, dia sudah pergi.” Ignis menatap amplop tersebut. “Apakah ada yang menyentuhnya selain kau?” Mira menggeleng. “Tidak, Tuan Muda.” “Bagus. Kau boleh pergi.” Mira tampak ingin bertanya lebih banyak, tetapi akhirnya membungkuk dan meninggalkan ruangan. Ignis mengunci pintu. Dia tidak langsung membuka surat itu. Pertama-tama, dia memeriksa segelnya, permukaan amplop, dan bagian belakangnya. Tidak ada bekas mantra yang bisa dikenali dengan mudah. Tidak ada benang jebakan atau bubuk aneh. Namun, itu tidak membuktikan surat tersebut aman. Ignis menggunakan ujung pisau kecil untuk memecahkan segel. Di dalamnya hanya terdapat selembar kertas. Satu kalimat tertulis dengan tinta hitam. “Kematian pertamamu bukan akhir yang kami rencanakan.” Ruangan mendadak terasa lebih sempit. Ignis membaca kalimat itu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Tangannya mengepal begitu kuat hingga kertas tersebut berkerut. Mereka tahu. Seseorang mengetahui bahwa dia pernah mati. Bukan sekadar mengetahui bahwa dirinya mengalami perubahan aneh. Bukan sekadar menduga bahwa dia menyimpan rahasia. Mereka mengetahui kematiannya. Dan kata kami menunjukkan bahwa pengirim pesan itu mungkin tidak bekerja sendirian. Ignis memejamkan mata, memaksa pikirannya tetap tenang. Jangan bereaksi sebelum memahami situasinya. Itulah aturan yang menyelamatkannya berkali-kali dalam kehidupan pertama. Dia memeriksa kertas tersebut di bawah cahaya lampu. Tidak ada tulisan lain yang tersembunyi di antara seratnya. Tidak ada tanda tangan, tidak ada tanggal, tidak ada petunjuk tentang lokasi pengirim. Namun ketika membalik kertas itu, Ignis menemukan bekas tekanan pena. Seseorang telah menulis sesuatu pada lembar lain yang diletakkan di atasnya. Ignis mengambil pensil arang dan mengarsir permukaan kertas dengan hati-hati. Perlahan, beberapa huruf muncul. E—17. Di bawahnya terdapat dua kata yang nyaris tidak terbaca. JANGAN BUKA. Ignis terdiam. Kotak E-17. Kotak yang sebelumnya hanya muncul sebagai entri katalog tidak lengkap di arsip keluarga. Dia telah menghabiskan waktu mencari catatan pemindahannya, tetapi belum mengetahui isi sebenarnya atau lokasi penyimpanannya. Sekarang seseorang mengirimkan pesan tentang kematiannya, lalu meninggalkan petunjuk menuju kotak tersebut. Apakah itu undangan? Peringatan? Atau jebakan? Ignis meletakkan kertas di atas meja. “Jadi, kalian ingin aku mencarinya.” Tidak ada jawaban. Dia menatap segel lilin yang telah pecah. Sembilan garis di sekeliling lingkaran itu tampak sama dengan simbol pada pilar Velmora. Namun, ketika dia mendekatkan segel ke lampu, dia menyadari perbedaan kecil. Satu garis tidak menyentuh lingkaran. Garis itu terputus di tengah. Sama seperti lambang yang dilihatnya di alam kutukan. Ignis menarik napas perlahan. Apakah ini berasal dari pihak yang sama? Dia tidak punya bukti. Dan dia tidak akan membuat kesimpulan hanya karena dua simbol terlihat serupa. Tiba-tiba, rasa dingin muncul di dadanya. Lampu di atas meja bergetar. Bayangan di sudut kamar memanjang, meskipun tidak ada sesuatu yang menghalangi cahaya. Ignis segera berdiri dan meraih belati di samping tempat tidur. “Siapa di sana?” Bayangan itu tidak menjawab. Namun, untuk sesaat, Ignis melihat sesuatu di dalamnya. Dua titik pucat. Seperti mata yang mengawasinya dari balik tirai hitam. Kemudian suara terdengar di dalam kepalanya. “Jangan ikuti petunjuk itu.” Ignis menegang. Suara tersebut berasal dari alam kutukannya. “Bukan karena kotak itu menyimpan sesuatu yang berbahaya...” Bayangan di sudut kamar bergerak. “Melainkan karena seseorang ingin kau membukanya.” Tekanan di dadanya menghilang seketika. Lampu kembali stabil. Sudut kamar hanya berisi bayangan biasa. Ignis tetap berdiri dengan belati terangkat selama beberapa detik sebelum akhirnya menurunkannya. Dua peringatan. Satu dari pengirim pesan yang mengetahui kematiannya. Satu lagi dari suara di alam kutukan. Keduanya mengarah pada benda yang sama. Kotak E-17. Ignis duduk kembali di depan meja. Dia tidak akan langsung membuka kotak tersebut. Tidak sebelum mengetahui siapa yang mengirim pesan dan bagaimana mereka mengetahui rahasianya. Namun, dia juga tidak akan membiarkan petunjuk itu menghilang. Dia mengambil selembar kertas baru dan menulis tiga hal. Pertama: temukan lokasi asli E-17. Kedua: cari tahu siapa yang memiliki akses ke informasi tentang kematiannya. Ketiga: jangan percaya kepada siapa pun yang mengaku mengetahui kebenaran. Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan satu kalimat lagi. Termasuk suara dari balik kutukan. Ignis menatap tulisan terakhir itu cukup lama. Dia tidak tahu siapa atau apa yang berbicara kepadanya selama tidur. Suara itu telah memberinya peringatan, tetapi juga menyembunyikan begitu banyak hal. Jika dia ingin mengetahui kebenaran, dia tidak boleh mengganti satu misteri dengan kepercayaan buta kepada misteri lainnya. Di luar jendela, lonceng kediaman berbunyi satu kali. Seseorang berjalan melewati lorong di luar kamarnya. Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu. Ignis meraih belatinya lagi. Ketukan terdengar. Tiga kali. “Tuan Muda?” suara Caelan terdengar dari balik pintu. “Maaf mengganggu. Saya baru menerima kabar dari arsip pusat.” Ignis tidak langsung membuka pintu. “Apa kabarnya?” Ada jeda singkat. “Petugas arsip menemukan catatan mengenai kotak E-17. Lokasinya sudah dipindahkan.” Ignis menahan napas. “Ke mana?” Suara Caelan terdengar lebih pelan. “Ke ruang penyimpanan pribadi keluarga kekaisaran.” Keheningan menyelimuti kamar. Ignis memandang amplop hitam di atas meja. Seseorang telah mengetahui kematiannya. Seseorang telah memperingatkannya agar tidak membuka E-17. Dan sekarang, kotak yang selama ini mereka cari ternyata berada di bawah perlindungan keluarga kekaisaran. Ignis memasukkan surat itu ke dalam laci, lalu menguncinya. “Caelan.” “Ya, Tuan Muda?” “Jangan ceritakan informasi itu kepada siapa pun dulu.” “Apakah ada masalah?” Ignis menatap segel hitam yang tersisa di atas meja. “Kurasa,” katanya pelan, “kita baru saja menemukan masalah yang jauh lebih besar daripada arsip yang hilang.” Bersambung. Teaser Bab 31 — Di Bawah Lambang Kekaisaran Kotak E-17 berada di ruang penyimpanan pribadi keluarga kekaisaran, tempat yang tidak bisa dimasuki sembarang bangsawan. Ignis harus menemukan cara untuk mendekatinya tanpa mengungkap rahasia regresinya. Namun, sebelum dia sempat menyusun rencana, sebuah undangan resmi dari ibu kota tiba di kediaman Pendragon—ditujukan langsung kepada pewaris kecil yang seharusnya tidak menarik perhatian siapa pun.

End of Chapter 30