Chapter 29 of 70
Bab 29 — Rantai yang Mulai Putus
1.6k words
KRAAAANG!
Rantai ketiga retak.
Suara logam yang pecah mengguncang ruang bawah tanah Biara Velmora. Sembilan pilar bergetar bersamaan, sementara cahaya merah menjalar melalui ukiran di lantai seperti pembuluh darah yang dipenuhi api.
Ignis segera menarik tangannya dari pilar.
Garis perak di telapak tangannya masih menyala.
“Apa yang kau lakukan tadi?” teriak Darius dari balik pilar kedua.
“Kalau aku tahu, aku pasti sudah memberitahumu!”
Jawaban itu terdengar menyebalkan, bahkan bagi dirinya sendiri.
Namun Ignis tidak punya waktu untuk menjelaskan. Makhluk bertopeng di dalam peti kembali meronta. Dua rantai lain menegang sampai hampir putus, dan setiap tarikan membuat retakan menyebar di sepanjang lantai.
Caelan merangkak menjauhi pusat ruangan sambil memegangi bahunya.
“Kalau semua rantai itu putus, apa yang terjadi?”
Ignis menatap makhluk yang terbelenggu.
“Pilihan paling buruk adalah kita baru saja membebaskan sesuatu yang tidak bisa kita kalahkan.”
“Dan pilihan terbaik?”
“Kita belum mati.”
“Penjelasanmu semakin tidak membantu!”
Ignis mengabaikannya.
Dia mengamati sembilan pilar. Tiga simbol kini menyala: dua merah, satu putih. Rantai yang terhubung dengan pilar ketiga tampak berbeda. Cahaya putih dari pilar itu tidak mengalir menuju peti, melainkan bergerak melawan arus, menahan sesuatu yang berusaha keluar.
Jadi, pilar ini bukan cuma mengikat. Mereka mengatur aliran kekuatan.
Tetapi kenapa darahnya mengubah salah satu pilar?
Dan mengapa makhluk itu tampak lebih takut pada cahaya putih daripada pada senjata mereka?
“Darius!” Ignis berteriak. “Bisakah kau mencapai pilar di sebelah kananmu?”
Kesatria itu melihat ke arah yang ditunjuk.
Sebuah rantai berayun di antara mereka, menghantam lantai dan menyebarkan serpihan batu.
“Kalau kau punya rencana yang lebih baik daripada menyuruhku berlari ke arah rantai raksasa, katakan sekarang!”
“Pilar itu memiliki ukiran merah di pangkalnya. Aku ingin tahu apakah alirannya berubah jika kita mengganggu permukaannya!”
Darius mengumpat pelan.
Lalu dia berlari.
Ketika rantai menyapu ke arahnya, Darius menancapkan pedangnya ke celah lantai dan menggunakan gagangnya sebagai tumpuan untuk melompat ke samping. Ujung rantai menghantam dinding, menghancurkan sebagian batu.
Dia mendarat dengan satu lutut, bangkit, lalu mengayunkan pedangnya ke pangkal pilar.
TING!
Bilahnya terpental.
Tidak ada retakan.
Sebaliknya, sebuah gelombang mana meledak dari pilar dan melemparkan Darius ke belakang.
“DARIUS!” seru Harlan.
Kesatria itu menghantam lantai, tetapi segera berguling sebelum rantai berikutnya menyapu tempatnya jatuh.
Ignis mengertakkan gigi.
Serangan fisik tidak berguna. Mungkin karena pilar itu bukan benda biasa.
Dia memandang garis perak di telapak tangannya.
Ada sesuatu yang meresponsnya.
Bukan seluruh segel. Hanya satu bagian.
Jika dia menyentuh pilar lain, mungkin dia bisa mengubah aliran yang sama. Namun, dia juga bisa memutus mekanisme yang membuat ruangan itu tetap berdiri.
Pilihan itu terlalu berbahaya untuk dilakukan tanpa pemahaman.
Kemudian makhluk bertopeng itu tertawa.
“Lihatlah dirimu, pewaris kecil.”
Suaranya menggema di kepala Ignis.
“Kau berdiri di hadapan sesuatu yang bahkan leluhurmu takutkan, tetapi kau masih berusaha memahami cara kerjanya.”
Ignis menatapnya tajam.
“Kalau kau tahu cara menghentikan ini, katakan!”
“Kenapa aku harus membantumu?”
“Karena kalau kau bebas, kau mungkin akan membunuh kami semua.”
“Dan jika aku memang menginginkannya?”
Rantai keempat putus.
DUUUUM!
Gelombang tekanan menghantam seluruh ruangan. Caelan terlempar ke samping, sementara Harlan jatuh berlutut. Cahaya merah memenuhi celah-celah pada peti batu.
Makhluk itu mengangkat kepalanya.
“Tidak ada seorang pun yang akan keluar dari sini.”
Ignis merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya.
Dingin.
Dalam.
Sangat mirip dengan sensasi saat kutukannya menarik jiwanya ke alam neraka.
Namun kali ini, rasa itu tidak datang ketika dia tidur.
Ia muncul saat dia masih sadar.
Jangan bilang kutukan ini mulai aktif di dunia nyata.
Ignis mengepalkan tangannya.
Garis perak itu menyala semakin terang.
Sesaat kemudian, suara yang dikenalnya terdengar dari kedalaman pikirannya.
“Jangan percaya kepada yang terbelenggu.”
Ignis membeku.
Suara dari alam kutukan.
“Belenggu bukan bukti bahwa sesuatu itu jahat.”
Sebuah jeda.
“Dan kebebasan bukan bukti bahwa sesuatu itu benar.”
Lalu suara itu menghilang.
Ignis menahan napas.
Itu bukan jawaban. Itu bahkan bukan petunjuk yang bisa langsung digunakannya.
Namun satu hal jelas: dia tidak boleh memutus rantai hanya karena ingin menghentikan suara yang mengancam mereka.
Dia harus mengetahui apa yang sedang ditahan oleh segel itu.
“Caelan!” Ignis berteriak. “Lihat ukiran di lantai! Apakah ada pola yang berbeda antara pilar putih dan pilar merah?”
Caelan memaksa dirinya berdiri. Dengan satu tangan memegangi bahu, dia mengamati lantai dari balik pilar.
“Ada! Garis yang menuju pilar putih tidak berakhir di peti!”
“Ke mana arahnya?”
Caelan mengikuti ukiran dengan pandangan.
“Ke... pusat lingkaran. Tapi bukan pusat peti. Ada lingkaran kedua di bawahnya!”
Ignis memandang lantai.
Sebuah pola samar terlihat di antara sembilan garis utama. Lingkaran kedua itu tersembunyi di bawah lapisan debu dan batu yang retak.
Dan tepat di tempat kedua lingkaran berpotongan, terdapat simbol dua sayap.
Bukan cuma segel untuk menahan makhluk itu.
Ada mekanisme lain di bawahnya.
Ignis mengingat kalimat yang dilihatnya pada peti.
Darah membuka pintu. Ingatan menentukan apa yang dibangunkan.
Mungkin darah Pendragon dapat mengaktifkan mekanisme tersebut. Namun, ingatan apa yang dimaksud?
Dia tidak tahu.
Dan dia tidak punya waktu untuk mencari jawabannya dengan tenang.
Rantai kelima mulai meregang.
“Darius!” teriak Ignis. “Aku butuh kau melindungi pilar putih! Jangan biarkan rantainya terkena serangan!”
“Dan kau akan melakukan apa?”
Ignis melihat peti batu yang semakin terbuka.
“Aku akan mencoba menstabilkan segelnya.”
Darius menatapnya seperti baru saja mendengar ide paling gila di dunia.
“Kau bahkan tidak tahu cara kerjanya!”
“Benar!”
“Lalu kenapa kau yakin bisa melakukannya?”
Ignis terdiam sepersekian detik.
“Karena kalau aku tidak mencoba, kita semua akan mati!”
Tidak ada waktu untuk berdebat.
Ignis berlari menuju pilar putih.
Rantai menyambar dari kiri. Dia menjatuhkan diri, meluncur di atas lantai yang dipenuhi serpihan, lalu bangkit dengan susah payah. Rasa sakit di paha dan lengannya hampir membuatnya kehilangan keseimbangan.
Makhluk itu menarik belenggunya sekali lagi.
KLANG!
Darius menerjang, mengangkat perisai yang dipinjamnya dari Harlan untuk menahan rantai yang melesat ke arah pilar putih.
Benturan itu membuatnya terlempar ke belakang.
Namun pilar tersebut tetap berdiri.
“SEKARANG, IGNIS!”
Ignis menempelkan telapak tangannya pada simbol di pangkal pilar.
Dingin menyengat kulitnya.
Dia menutup mata dan berusaha merasakan aliran mana di dalam batu.
Pada awalnya, yang dia rasakan hanyalah tekanan besar. Kemudian, perlahan, dia menemukan jalur-jalur tipis yang saling bertautan. Sebagian mengalir menuju peti, sebagian kembali ke lantai, dan satu jalur kecil mengarah ke telapak tangannya.
Dia tidak mencoba mengendalikan seluruh jaringan itu.
Itu mustahil.
Sebaliknya, dia mengikuti jalur kecil tersebut dan mengalirkan sedikit mana ke dalamnya.
Cahaya putih berdenyut.
Rantai yang terhubung dengan pilar itu menegang.
Makhluk bertopeng meraung.
“BERHENTI!”
Ignis membuka mata.
Untuk pertama kalinya, makhluk itu terdengar benar-benar marah.
Bukan karena rantainya akan putus.
Melainkan karena sesuatu di dalam segel mulai bekerja kembali.
Cahaya putih merambat dari pilar menuju pusat ruangan, membentuk garis yang melintasi lantai. Lingkaran kedua muncul sepenuhnya, dan simbol dua sayap di tengahnya menyala.
Rantai-rantai yang tersisa berhenti bergerak.
Satu detik.
Dua detik.
Ignis hampir mengira mereka berhasil.
Kemudian peti batu itu retak lebih lebar.
Dari celahnya, sebuah tangan hitam mencengkeram tepi peti.
Makhluk bertopeng menarik dirinya lebih tinggi.
“Akhirnya,” bisiknya.
Cahaya putih langsung meredup.
“Setelah sekian lama... segel itu akhirnya mengenali darahmu.”
Ignis merasakan telapak tangannya terbakar.
Garis perak di kulitnya berubah menjadi lambang dua sayap yang hampir utuh.
Makhluk itu menatapnya.
“Sekarang aku tahu kenapa kau bisa kembali.”
Dunia seolah berhenti.
Ignis tidak bergerak.
Kembali.
Bukan sekadar datang ke biara.
Bukan sekadar kembali ke masa lalu.
Makhluk itu menggunakan kata yang sama untuk sesuatu yang tidak pernah diceritakan Ignis kepada siapa pun.
Sesuatu yang seharusnya mustahil diketahui orang lain.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Ignis.
Makhluk itu tidak menjawab.
Sebaliknya, ia menoleh ke arah pilar kesembilan.
Sebuah retakan baru muncul di permukaannya.
Kemudian, dari balik topengnya, terdengar suara yang nyaris menyerupai bisikan.
“Dia sudah menemukanmu.”
Ignis membeku.
“Siapa?”
Pilar kesembilan pecah.
KRAAAAAASH!
Cahaya hitam meledak dari dalamnya, memadamkan seluruh cahaya putih di ruangan.
Semua rantai terlepas sesaat, lalu kembali menegang dengan bunyi mengerikan. Peti batu turun perlahan, seolah ada sesuatu yang akhirnya memutuskan untuk berhenti melawan.
Di tengah kegelapan, Ignis mendengar satu suara terakhir.
Bukan dari makhluk bertopeng.
Bukan dari alam kutukannya.
Suara itu datang dari tempat yang jauh lebih dalam.
“Pewaris kecil...”
Suara tersebut terdengar tenang.
Hampir lembut.
Dan justru karena itulah, Ignis merasa darahnya membeku.
“Kita akan segera bertemu.”
Cahaya kembali menyala.
Peti batu itu tertutup.
Makhluk bertopeng lenyap dari pandangan, seolah tidak pernah berada di sana. Sembilan pilar kembali diam, meski satu di antaranya kini telah hancur.
Darius berlutut sambil terengah-engah. Harlan masih terbaring, dan Caelan menatap simbol yang perlahan menghilang di lantai.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.
Ignis menatap telapak tangannya.
Garis perak itu telah lenyap.
Namun dia tahu apa yang didengarnya.
Seseorang mengetahui bahwa dia telah kembali dari kematian.
Dan seseorang itu sedang menunggunya.
Ignis mengepalkan tangan, mengabaikan rasa sakit yang menjalar dari bahunya.
“Caelan.”
“Ya?”
“Catat semua yang terjadi di sini. Jangan hilangkan satu detail pun.”
Caelan mengangguk perlahan.
“Lalu setelah itu?”
Ignis menatap peti batu yang kini tertutup rapat.
“Kita pulang.”
Darius mengerutkan kening. “Hanya itu?”
“Untuk sekarang.”
Ignis berbalik menuju tangga yang tertutup puing.
Dia tidak akan membiarkan rasa penasaran mendorongnya masuk ke perangkap berikutnya tanpa persiapan.
Namun sebelum meninggalkan ruangan, dia menoleh sekali lagi.
Pada permukaan peti batu, sebuah tulisan baru muncul.
Hanya sesaat.
Cukup lama untuk dibacanya.
PACTUM SANGUINIS.
Perjanjian darah.
Lalu tulisan itu menghilang.
Ignis melangkah pergi tanpa mengatakan apa pun.
Dia telah datang ke Velmora untuk mencari jawaban tentang sebuah pengiriman yang dihapus dari catatan sejarah.
Dia meninggalkan tempat itu dengan pertanyaan yang jauh lebih berbahaya.
Siapa yang mengetahui kematiannya?
Dan jika orang itu masih hidup...
Sejak kapan ia menunggu Ignis kembali?
Bersambung.
Teaser Bab 30 — Nama yang Mengetahui Kematian
Kembali ke kediaman Pendragon, Ignis berusaha menyembunyikan apa yang terjadi di Velmora. Namun sebuah pesan tanpa pengirim telah tiba sebelum rombongan mereka pulang. Pesan itu hanya berisi satu kalimat—kalimat yang seharusnya tidak mungkin diketahui siapa pun: “Kematian pertamamu bukan akhir yang kami rencanakan.”