Chapter 2 of 70

Bab 2 — Kutukan yang Tidak Pernah Pergi

2.1k words

PENDRAGON: THE HEIR BOUND TO HELL Hal pertama yang dilakukan Ignis Pendragon setelah menyadari dirinya kembali ke masa lalu adalah memeriksa kalender. Hal kedua adalah mencari cermin. Dan hal ketiga— “...Sial.” Ia menatap kedua tangannya yang kecil. “Aku benar-benar berusia delapan tahun.” Tidak ada penjelasan lain yang masuk akal. Kamar ini sama persis dengan ingatannya. Rak buku di dekat jendela masih menyimpan koleksi dongeng masa kecilnya. Pedang kayu yang pernah ia gunakan untuk berlatih tergeletak di bawah meja. Bahkan retakan kecil pada kaki kursi di sudut ruangan masih ada. Semuanya cocok dengan ingatan yang telah terkubur selama dua puluh tujuh tahun. Ignis mengambil kalender meja. Tanggalnya menunjukkan awal musim semi, tahun ketika ia berusia delapan tahun. Ia mengingat tahun ini dengan jelas. Bukan karena sesuatu yang istimewa terjadi, melainkan karena inilah masa ketika hidupnya masih terasa normal. Sebelum kutukan itu benar-benar menunjukkan taringnya. Sebelum ia memahami bahwa bakat luar biasa yang dibanggakan keluarganya ternyata bisa menjadi alasan kehancurannya. Ignis meletakkan kalender. “Kalau ingatanku benar, aku masih punya waktu.” Ia menghitung dalam kepala. Dalam kehidupan pertamanya, tanda kutukan mulai muncul ketika ia masih kecil. Awalnya hanya mimpi buruk dan rasa sakit yang datang sesekali. Seiring bertambahnya usia, penderitaan itu menjadi semakin jelas, sampai tidur berubah menjadi sesuatu yang ia takuti. Namun, kali ini ia tidak akan menunggu tanpa melakukan apa-apa. Ia memiliki pengetahuan tentang rune, energi naga, monster, senjata, dan berbagai teknik yang baru ia pelajari setelah bertahun-tahun bertarung. Ia tahu banyak hal yang belum diketahui oleh dirinya yang berusia delapan tahun. Sayangnya, ia juga mengetahui satu kenyataan yang tidak menyenangkan. Pengetahuan tidak membuat tubuh seorang anak menjadi tubuh orang dewasa. Ia boleh mengingat bagaimana cara mengayunkan sabit untuk membelah sisik monster, tetapi ototnya belum mampu menghasilkan tenaga yang sama. Ia boleh memahami rune tingkat tinggi, tetapi cadangan mananya belum cukup untuk mengaktifkan sebagian besar rumus yang ia ketahui. Jika ia memaksakan diri, hasilnya bukan kekuatan. Melainkan cedera. “Baiklah,” gumamnya. “Kali ini kita mulai dari dasar.” Ignis berjalan menuju meja dan mengambil sebuah buku catatan kosong. Ia menulis tiga hal. Pertama: memahami kutukan. Kedua: meningkatkan kemampuan tubuh dan kendali mana. Ketiga: mencari tahu kebenaran tentang leluhur Pendragon. Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan satu baris lagi. Keempat: jangan mati sebelum waktunya. Ignis memandangi daftar itu. “Sepertinya aku punya banyak pekerjaan.” Tok. Tok. Tok. Ketukan terdengar dari pintu. “Tuan Muda Ignis? Anda sudah bangun?” Suara seorang perempuan muda. Ingatan Ignis langsung mengenali pemiliknya. “Masuk.” Pintu terbuka, memperlihatkan seorang perempuan berambut cokelat gelap yang diikat rapi di belakang kepala. Usianya sekitar dua puluh empat tahun. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna gelap dengan celemek putih, dan membawa nampan berisi sarapan. Namanya Mira Valen. Dalam kehidupan pertamanya, Mira telah bekerja di kediaman Pendragon sejak Ignis masih kecil. Ia bukan seorang petarung hebat ataupun penyihir berbakat. Namun, ia memiliki ketelitian yang luar biasa dan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar orang lain. Ignis mengingatnya sebagai salah satu orang yang selalu memperlakukannya dengan tulus. Ia juga mengingat bahwa, bertahun-tahun kemudian, Mira meninggalkan kediaman utama setelah menolak perintah seorang bangsawan yang menyalahgunakan kekuasaannya. Ignis tidak pernah mengetahui bagaimana kehidupannya setelah itu. Dan ia tidak berniat membiarkan ingatannya tentang perempuan itu berakhir sebagai sekadar kenangan. “Selamat pagi, Tuan Muda.” Mira meletakkan nampan di atas meja. “Anda terlihat lebih pucat daripada biasanya. Apakah semalam Anda kembali mengalami mimpi buruk?” Ignis terdiam sesaat. Pertanyaan sederhana itu terasa jauh lebih berat daripada seharusnya. Dalam kehidupan pertamanya, ia akan menjawab bahwa dirinya baik-baik saja. Ia akan menyembunyikan rasa sakitnya karena tidak ingin dianggap lemah. Namun, kali ini ia ingin memahami kutukannya sejak awal. “Aku bermimpi,” jawabnya. Mira menghela napas kecil. “Mimpi yang menakutkan?” “Kurang lebih.” “Kalau begitu, Anda harus makan dengan baik. Mimpi buruk tidak akan menjadi lebih ramah hanya karena Anda melewatkan sarapan.” Ignis menatapnya. Lalu tanpa sadar, ia tertawa pelan. Mira mengangkat alis. “Apakah ada yang lucu, Tuan Muda?” “Tidak. Aku hanya merindukan seseorang yang mengatakan hal seperti itu.” Perempuan itu tampak kebingungan. Ignis segera mengalihkan pandangan ke nampan sarapan. “Tidak apa-apa. Terima kasih, Mira.” Mira menatapnya selama beberapa detik sebelum tersenyum tipis. “Kalau Anda membutuhkan sesuatu, panggil saya.” Setelah perempuan itu meninggalkan kamar, Ignis duduk di depan meja. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. Ada sesuatu yang menyakitkan dari kesempatan kedua ini. Ia kembali bertemu dengan orang-orang yang telah lama ia tinggalkan, tetapi mereka tidak memiliki ingatan tentang kehidupan yang telah ia jalani. Bagi mereka, ia hanyalah anak delapan tahun. Bagi dirinya sendiri, mereka adalah bagian dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar selesai. Ignis menggenggam sendoknya. “Aku tidak akan menganggap kalian sebagai kenangan lagi.” Ia mulai makan. Dan untuk pertama kalinya setelah kematian di dasar The Worldscar, sarapannya terasa hangat. --- Menjelang siang, Ignis meninggalkan kamarnya. Kediaman utama House Pendragon berdiri di atas bukit yang menghadap lembah hijau. Bangunan itu memiliki dinding batu putih, jendela tinggi, dan atap gelap yang dihiasi lambang naga perak. Taman luas membentang di antara sayap bangunan, dipenuhi bunga musim semi dan pohon-pohon yang mulai menumbuhkan daun baru. Dari balkon lantai dua, Ignis bisa melihat para pelayan berjalan melewati halaman, para penjaga berlatih di lapangan, dan kereta keluarga yang baru saja tiba dari jalan utama. Dunia ini masih indah. Sangat indah. Ia pernah melihat kota-kota terbakar dan desa-desa berubah menjadi kuburan. Ia pernah berjalan melewati medan perang yang begitu sunyi hingga suara langkahnya sendiri terdengar seperti penghinaan terhadap mereka yang telah mati. Karena itu, pemandangan sederhana ini terasa asing. Seolah dunia sedang memberinya kesempatan untuk melihat segala sesuatu sebelum semuanya berubah. Ignis mengalihkan pandangan ke lapangan latihan. Di sana, beberapa anggota keluarga Pendragon berlatih menggunakan pedang, rapier, dan tombak. Gerakan mereka cepat dan agresif, mengutamakan serangan beruntun serta kemampuan menekan lawan sebelum lawan sempat membalas. Itulah tradisi tempur keluarga Pendragon. Cepat. Tegas. Tanpa memberi musuh waktu untuk bernapas. Ignis pernah mempelajari gaya itu sebelum mengembangkan tekniknya sendiri. Ia juga ingat bahwa dalam kehidupan pertamanya, dirinya sering dianggap aneh karena lebih tertarik pada senjata yang jarang digunakan bangsawan seusianya. Sabit besar. Senjata yang membutuhkan keseimbangan, jangkauan, dan kendali yang berbeda dari pedang biasa. Ia belum memilikinya sekarang. Belum memiliki Crimson Requiem, belum menciptakan Shadowborne Mantle, dan belum merancang satu pun dari sembilan teknik yang kelak menjadi ciri khasnya. Semua itu masih berada jauh di masa depan. Namun, untuk saat ini, ia hanya perlu mengamati. Ignis menyandarkan kedua tangan pada pagar balkon. “Kalau aku ingin menghindari akhir yang sama, aku tidak boleh hanya mengulang apa yang kulakukan sebelumnya.” Pengetahuan tentang masa depan memang memberinya keuntungan. Tetapi ia juga mengetahui betapa mudahnya satu perubahan kecil mengubah rangkaian peristiwa. Satu orang yang diselamatkan. Satu keputusan yang berbeda. Satu rahasia yang terbongkar terlalu cepat. Dan masa depan yang ia kenal bisa lenyap. “Mulai sekarang,” bisiknya, “aku harus memperlakukan masa depan sebagai kemungkinan, bukan kepastian.” Sebuah suara terdengar dari belakangnya. “Sejak kapan Tuan Muda tertarik memperhatikan latihan orang lain?” Ignis menoleh. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di dekat pintu balkon. Rambut hitamnya dipotong pendek, dengan beberapa helai abu-abu di pelipis. Ia mengenakan pakaian latihan sederhana dan membawa sebilah pedang kayu di satu tangan. Namanya Garrick Thorne. Mantan ksatria lapangan yang kini bertanggung jawab mengawasi latihan dasar para anak muda di kediaman Pendragon. Dalam kehidupan pertama, Ignis mengenalnya sebagai instruktur keras yang tidak pernah memuji seseorang tanpa alasan. Garrick mendekat dan berdiri di sampingnya. “Biasanya, anak seusiamu lebih tertarik bermain daripada menonton latihan.” “Mungkin saya mulai bosan bermain.” “Jawaban yang berbahaya.” Garrick menyipitkan mata. “Anak yang mengatakan dirinya bosan bermain biasanya sedang merencanakan sesuatu.” Ignis hampir tersenyum. Pria ini tidak berubah sama sekali. “Kalau saya ingin berlatih, apakah Anda akan mengizinkan saya?” Garrick menoleh penuh perhatian. “Berlatih apa?” “Dasar-dasar pedang.” “Kenapa pedang?” Ignis sudah memperkirakan pertanyaan itu. “Karena saya ingin menjadi lebih kuat.” Garrick tidak langsung menjawab. Ia mengamati anak di hadapannya, seolah mencoba mencari tahu apakah perkataan itu muncul dari keinginan sesaat atau sesuatu yang lebih dalam. “Keinginan menjadi kuat bukan hal yang buruk,” katanya akhirnya. “Tapi banyak anak bangsawan ingin menjadi kuat karena mereka menyukai gagasan bahwa orang lain akan takut kepada mereka.” “Saya tidak ingin orang lain takut kepada saya.” “Lalu apa yang kau inginkan?” Ignis terdiam. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, jawaban yang sebenarnya terlalu rumit untuk diucapkan kepada seorang anak. Ia ingin mengetahui siapa yang mengubah leluhurnya. Ia ingin memahami alasan kutukan itu ada. Ia ingin menemukan makhluk yang mengawasinya dari balik kegelapan. Dan ia ingin memastikan bahwa ketika tiba waktunya menghadapi The Worldscar sekali lagi, ia tidak akan berjalan ke sana tanpa mengetahui apa yang menunggunya. “Aku tidak ingin menjadi seseorang yang tidak mampu melindungi apa yang penting baginya,” jawab Ignis. Untuk pertama kalinya, Garrick tidak segera membalas. Kemudian ia mengangguk. “Besok pagi. Lapangan latihan. Datang sebelum matahari terbit.” Ignis sedikit terkejut. “Sesederhana itu?” “Tidak.” Garrick menyerahkan pedang kayu yang dibawanya. “Itu hanya berarti kau mendapat kesempatan untuk membuktikan bahwa kau sungguh-sungguh.” Ignis menerima pedang tersebut. Bobotnya terasa ringan. Terlalu ringan dibandingkan sabit yang pernah ia gunakan selama bertahun-tahun. Tetapi ketika jemarinya menutup gagang kayu itu, ia merasakan sesuatu yang tidak ia rasakan sejak lama. Awal dari sebuah perjalanan. “Baik, Guru Garrick.” “Jangan panggil aku guru dulu. Kau bahkan belum bisa berdiri dengan benar.” Garrick berbalik dan berjalan pergi. Ignis menatap pedang kayu di tangannya. Ia tidak berniat menjadi pendekar pedang. Namun, kekuatan dimulai dari dasar. Jika ia ingin membangun tubuh yang mampu menahan kekuatan kutukannya kelak, ia harus memulainya dengan benar. Tidak ada jalan pintas. Setidaknya, tidak untuk tubuh berusia delapan tahun. --- Malam tiba. Ignis telah menyelesaikan makan malam, membaca beberapa catatan dasar tentang mana, dan menghabiskan waktu untuk memeriksa kondisi tubuhnya. Hasilnya tidak menggembirakan. Aliran mana dalam tubuhnya masih lemah. Kendali yang ia miliki dari kehidupan sebelumnya tidak dapat digunakan sepenuhnya karena saluran mananya belum berkembang. Bahkan ketika ia mencoba menggerakkan mana dengan pola sederhana, konsentrasinya cepat terkuras. Ia menutup buku catatannya. “Kalau begini terus, aku bahkan tidak bisa mengaktifkan rune dasar dengan stabil.” Ia menatap kedua tangannya. Tubuh ini bukan sekadar versi kecil dari dirinya yang berusia tiga puluh lima tahun. Tubuh ini memiliki batas yang harus ia pelajari kembali. Ia tidak bisa memaksa dirinya melampaui batas itu hanya karena ia mengetahui apa yang seharusnya dilakukan. Ignis mengembuskan napas. “Besok kita mulai dari latihan fisik.” Ia mematikan lampu. Kamar perlahan menjadi gelap, menyisakan cahaya bulan yang menembus celah tirai. Ignis berbaring di ranjang. Ia tahu apa yang akan terjadi. Selama tiga puluh lima tahun, tidur telah menjadi pintu menuju penderitaan yang tidak pernah ia pahami. Dalam kehidupan pertamanya, ia pernah mencoba tidak tidur selama berhari-hari. Ia pernah menggunakan ramuan untuk menjaga kesadarannya, bahkan mengikat tangannya sendiri agar tidak terlelap. Semua usaha itu hanya memperburuk keadaan. Pada akhirnya, tubuhnya selalu menyerah. Dan setiap kali ia tidur, kutukan itu menemukannya. Ignis menatap langit-langit. “Kalau kau masih ada di sana,” bisiknya, “kali ini aku akan mengamatimu.” Ia tidak mencoba melawan rasa kantuk. Ia justru menyambutnya dengan kesadaran penuh, mengatur napas, dan mengamati setiap perubahan dalam aliran mananya. Beberapa menit berlalu. Kelopak matanya semakin berat. Lalu— Denyut pertama. Simbol di dadanya menyala samar di balik pakaian tidur. Denyut kedua. Suhu kamar turun begitu cepat hingga embun tipis muncul di permukaan kaca jendela. Denyut ketiga. Semua suara menghilang. Ignis langsung membuka mata. Terlambat. Bayangan di bawah ranjang memanjang, merambat ke dinding, lalu menyelimuti seluruh kamar seperti tinta yang tumpah ke dalam air. Ia mencoba menggerakkan tangannya. Tubuhnya tidak merespons. Bukan karena ototnya lemah. Melainkan karena sesuatu sedang menarik kesadarannya keluar dari tubuhnya. “Jadi, kau datang lagi.” Ignis berusaha mempertahankan kesadarannya. Dalam kehidupan pertama, momen ini selalu diikuti rasa sakit yang tidak dapat dijelaskan. Namun, kali ini ia memaksa dirinya untuk mengamati prosesnya. Ia merasakan aliran energi yang melilit jiwanya. Bukan mana biasa. Bukan pula energi naga yang pernah ia gunakan dalam pertempuran. Energi itu terasa jauh lebih tua, dengan pola yang berubah setiap kali ia mencoba memahaminya. Seolah kutukan tersebut bukan sekadar belenggu. Seolah ia memiliki struktur yang sengaja dirancang untuk melakukan sesuatu. Pemandangan kamar mulai memudar. Ignis menggertakkan gigi. “Tidak akan kubiarkan kau menarikku tanpa meninggalkan petunjuk.” Ia memusatkan perhatian pada aliran energi yang membungkus kesadarannya. Untuk sesaat, ia melihat sesuatu. Sebuah simbol. Lingkaran hitam yang dikelilingi sembilan garis menyerupai tanduk. Simbol itu hanya muncul sekejap, tetapi Ignis sempat mengingat bentuknya. Lalu rasa sakit menghantam. Seluruh kesadarannya seperti ditarik melewati lorong tanpa ujung. Ia tidak dapat bernapas, tidak dapat bergerak, dan tidak dapat membedakan apakah dirinya sedang jatuh atau tenggelam. Namun, di tengah penderitaan itu, ia mendengar suara. Bukan suara yang sama dengan yang terdengar di First Dawn Temple. Suara ini lebih dekat. Lebih rendah. Dan anehnya, terdengar seperti sedang berbicara kepada seseorang yang telah lama dikenalnya. Jadi, kau kembali. Ignis membeku di dalam kegelapan. Suara itu melanjutkan. Kali ini, berapa lama kau akan bertahan, pewaris kecil? Kegelapan menelannya sepenuhnya. Dan untuk pertama kalinya sejak regresinya, Ignis merasakan sesuatu yang lebih mengerikan daripada rasa sakit. Kutukan itu tidak sekadar mengenal darahnya. Sesuatu di balik kutukan itu mengenali dirinya. Bersambung — Bab 3: Suara dari Balik Neraka

End of Chapter 2

Chapter 2: Bab 2 — Kutukan yang Tidak Pernah Pergi - PENDRAGON: The Heir Bound to Hell | Novel AI Studio