Chapter 28 of 70

Bab 28 — Rantai di Bawah Biara

1.4k words

Suara rantai kembali bergema dari lorong bawah tanah. Dentang. Jeda panjang. Dentang. Seolah sesuatu di kedalaman sana sedang bergerak, tetapi setiap gerakannya ditahan oleh belenggu yang tidak terlihat. Ignis berdiri di depan pintu masuk yang baru terbuka. Lengan kanannya masih terasa terbakar setelah menggunakan Ignis Dragonis: Ember Fall. Jari-jarinya bergetar setiap kali mencoba mengepalkannya. Dia membenci kelemahan itu. Bukan karena rasa sakitnya, melainkan karena tubuhnya terus mengingatkan bahwa pengetahuan dari kehidupan sebelumnya tidak bisa menggantikan kekuatan fisik yang belum dia miliki. “Luka di tanganmu perlu diperiksa,” kata Caelan. “Nanti.” “Kalau tanganmu tidak bisa digerakkan, kau tidak akan bisa melakukan apa pun.” “Kalau kita menunggu sampai semua luka sembuh, sesuatu di bawah sana mungkin sudah berubah.” Caelan menatapnya tajam. “Kau benar-benar anak paling menyebalkan yang pernah kutemui.” “Terima kasih.” “Itu bukan pujian.” “Aku tetap menerimanya.” Darius menyela sebelum percakapan itu berlanjut. “Kita turun bersama. Harlan di depan bersamaku. Caelan di tengah. Ignis tetap di antara kami.” Ignis tidak keberatan. Untuk sekali ini, dia memang membutuhkan perlindungan. Mereka menuruni tangga batu yang berputar mengelilingi poros besar. Dindingnya dipenuhi ukiran yang tidak menyerupai bahasa mana pun yang dikenal Caelan. Beberapa simbol berbentuk sayap, sementara yang lain menyerupai lingkaran yang dibelah sembilan garis. Semakin dalam mereka turun, semakin kuat tekanan mana yang terasa. Bukan seperti mana milik monster di aula. Ini lebih tua. Lebih berat. Dan anehnya, terasa seolah mengenali Ignis. Ketika mereka mencapai dasar tangga, sebuah ruangan luas terbentang di hadapan mereka. Sembilan pilar hitam berdiri membentuk lingkaran. Rantai-rantai tebal membentang dari setiap pilar menuju pusat ruangan, tempat sebuah peti batu melayang beberapa jengkal di atas lantai. Tidak ada api. Tidak ada lentera. Namun seluruh ruangan diterangi cahaya pucat yang muncul dari ukiran pada lantai. Caelan berhenti bernapas sejenak. “Tempat ini... seharusnya tidak mungkin ada.” “Kenapa?” tanya Darius. “Karena fondasi bangunan di atas tidak cukup besar untuk menampung ruangan sebesar ini.” Ignis mengamati langit-langit. Caelan benar. Ruangan tersebut jauh lebih luas daripada yang seharusnya bisa ditampung oleh biara. Ruang yang melanggar ukuran bangunan. Entah karena sihir ruang, konstruksi yang tidak tercatat, atau sesuatu yang bahkan belum mereka pahami. Ignis tidak mau menebak sebelum menemukan bukti. Dia melangkah mendekati lingkaran luar. Tiba-tiba, rantai di pilar ketiga bergerak. KLANG! Darius mengangkat pedangnya. “Jangan mendekat!” Ignis berhenti. Di permukaan peti batu, sebuah tulisan perlahan muncul. DARAH MEMBUKA PINTU. INGATAN MENENTUKAN APA YANG DIBANGUNKAN. Caelan membacanya dua kali. “Ini bukan tulisan peringatan biasa.” “Memangnya apa bedanya?” tanya Harlan. “Peringatan biasa menjelaskan bahaya. Tulisan ini memberikan syarat.” Ignis menatap peti itu. Darah membuka pintu. Apakah itu alasan penjaga di atas mengenalinya? Apakah darah Pendragon memiliki hubungan dengan tempat ini? Dia mengulurkan tangan, lalu berhenti sebelum menyentuh ukiran. Suara dari alam kutukannya terlintas dalam ingatan. Jangan sentuh apa yang belum mengenali dirimu. Peringatan itu tidak pernah menjelaskan alasannya. Dan Ignis tidak berniat mengabaikannya hanya karena rasa ingin tahu. “Caelan, periksa ukiran di lantai. Jangan menyentuh rantai atau peti. Darius, perhatikan setiap perubahan di sekitar kita.” “Sejak kapan kau memberi perintah kepada para kesatria?” gumam Harlan. “Sejak mereka hampir mati karena menyerang monster yang membaca aliran mana,” jawab Caelan datar. Harlan terdiam. Ignis mengabaikan mereka dan mengamati sembilan pilar. Setiap pilar memiliki simbol berbeda di pangkalnya. Delapan di antaranya tertutup lapisan hitam seperti kerak. Pilar kesembilan memiliki bekas retakan, dan di bawahnya terdapat serpihan logam yang sama jenisnya dengan benda yang ditemukan di arsip keluarga. Sembilan garis mengelilingi lingkaran. Bukan sekadar lambang. Mungkin sebuah mekanisme. Namun sebelum Ignis dapat memeriksanya lebih jauh, suara berat bergema dari dalam peti. “Siapa... yang datang?” Darius langsung maju, menghalangi Ignis. “Identifikasikan dirimu!” Tidak ada jawaban. Rantai-rantai mulai menegang. Cahaya pucat di lantai meredup, kemudian menyala kembali dengan warna merah gelap. Peti batu itu bergetar. Sebuah retakan muncul pada permukaannya. “Menjauh!” teriak Ignis. Terlambat. Salah satu rantai terlepas dari pilar dan menyapu ruangan. Darius mendorong Harlan ke samping. Rantai itu menghantam perisainya, meremukkan logam hingga melengkung. Harlan terlempar dan berguling di lantai. Rantai kedua menyerang dari arah berlawanan. Ignis menjatuhkan diri, merasakan udara terbelah hanya beberapa sentimeter di atas kepalanya. Benturan berikutnya menghancurkan bagian tangga yang baru saja mereka lewati. Jalan keluar tertutup puing-puing. Caelan menatap reruntuhan itu dengan wajah pucat. “Kita terjebak!” Dari dalam peti, sesuatu mulai bangkit. Bukan tubuh utuh. Sepasang lengan hitam muncul dari celah batu, diselimuti lapisan yang menyerupai tulang terbakar. Jari-jarinya mencengkeram tepi peti, dan tekanan mana yang keluar darinya membuat dada Ignis sesak. Rantai-rantai lain menegang, berusaha menarik makhluk itu kembali ke dalam. Makhluk tersebut mengangkat kepala. Wajahnya tertutup topeng tanpa mulut. Di bagian dahinya terdapat simbol dua sayap, sementara sembilan garis hitam menjalar ke lehernya. Ignis merasakan rasa dingin yang sama seperti ketika kutukannya aktif. Namun kali ini, rasa dingin itu disertai sesuatu yang lain. Ketakutan. Bukan ketakutan milik tubuh anak berusia delapan tahun. Ketakutan yang jauh lebih tua, berasal dari ingatan yang tidak sepenuhnya dia pahami. Makhluk itu menoleh ke arahnya. “Pendragon...” Suaranya terdengar seperti batu yang digesekkan satu sama lain. “Darahmu kembali.” Ignis menggertakkan gigi. “Apa kau mengenal leluhurku?” Makhluk itu tertawa. Suara tawanya membuat pilar-pilar bergetar. “Mengenal?” Rantai-rantai menegang lagi. “Aku mengingat jeritan mereka.” Tiba-tiba, makhluk itu menarik kedua lengannya. KRAAAAAK! Satu rantai putus. Tekanan mana meledak ke seluruh ruangan. Darius mengangkat pedang, tetapi tubuhnya langsung terdorong mundur. Harlan tidak mampu bangkit. Caelan berpegangan pada pilar, berusaha menahan tubuhnya agar tidak terseret. Ignis merasakan darah mengalir dari hidungnya. Makhluk itu belum sepenuhnya bebas. Tetapi jika satu rantai lagi putus, mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk menahannya. Ignis menatap sembilan pilar. Satu rantai putus. Delapan tersisa. Pada pangkal pilar ketiga, simbolnya telah berubah. Garis yang semula gelap kini menyala merah. Rantai itu bukan cuma membelenggu tubuhnya. Setiap pilar mungkin menyalurkan sebagian kekuatan untuk mempertahankan segel. Dia mengamati aliran mana yang menjalar dari lantai menuju rantai. Polanya menyerupai jaringan yang pernah dia lihat di alam kutukannya, tetapi ada perbedaan penting. Salah satu jalurnya mengalir berlawanan arah. Dari makhluk itu menuju pilar. Bukan dari pilar menuju makhluk itu. Ignis menyipitkan mata. Apakah segel ini juga mengambil sesuatu darinya? Atau justru menyerap kekuatan yang dilepaskan saat dia melawan? Dia belum memiliki jawaban. Namun ada satu hal yang bisa dia coba. “Darius!” teriak Ignis. “Jangan menyerang makhluknya! Lindungi pilar yang masih utuh!” “APA?” “Kalau kita menghancurkan rantainya tanpa memahami mekanismenya, kita mungkin justru membebaskannya!” Darius melirik makhluk yang terus menarik belenggu. “Lalu apa yang harus kita lakukan?” Ignis menatap pilar ketiga yang menyala merah. “Beri aku waktu.” Dia berlari menuju pilar itu. Rantai menyapu lantai di belakangnya, menghancurkan batu dan menghamburkan serpihan. Ignis melompat melewati retakan, tetapi tubuhnya terlalu lambat untuk menghindari semuanya. Sebuah serpihan menghantam bahunya. Dia terjatuh, berguling, lalu memaksa dirinya bangkit. Tangannya menyentuh pangkal pilar. Rasa dingin menjalar ke seluruh lengannya. Seketika, dunia di sekitarnya lenyap. Ignis melihat sebuah ruangan lain. Ruangan yang sama, tetapi masih utuh. Seseorang berdiri di hadapan peti batu. Sosok itu mengenakan zirah gelap dengan lambang dua sayap di dadanya. Di belakangnya, beberapa orang mengangkat senjata, sementara suara pertempuran mengguncang tempat tersebut. Sosok berzirah mengangkat tangannya. “Segel ini bukan penjara untuk selamanya,” katanya. Suara itu terdengar samar. “Ini adalah waktu yang kita beli.” Penglihatan itu pecah. Ignis kembali ke ruang bawah tanah dengan napas tersengal. Makhluk dalam peti telah memutus rantai kedua. Tujuh tersisa. Dan sekarang, pilar ketiga mengeluarkan cahaya putih. Bukan merah. Ignis menatap tangannya. Sebuah garis perak muncul di telapak tangannya, membentuk bagian dari lambang dua sayap yang pernah muncul saat dia tidur. Makhluk bertopeng mendadak berhenti bergerak. Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar seperti seseorang yang benar-benar terkejut. “Tidak...” Kepalanya berputar perlahan ke arah Ignis. “Bagaimana mungkin...?” Rantai-rantai yang tersisa bergetar hebat. “Segel itu seharusnya tidak mengenalimu.” Ignis tidak tahu apa yang baru saja dilakukannya. Dia bahkan tidak yakin apakah dia telah membantu atau memperburuk keadaan. Namun satu hal menjadi jelas. Peti batu ini bukan sekadar tempat menyimpan monster. Ia terhubung dengan sesuatu di dalam darah Pendragon—sesuatu yang bahkan makhluk terbelenggu itu tidak mengerti. Kemudian, dari balik topengnya, makhluk itu mengucapkan satu kalimat terakhir. “Jika kau benar-benar pewaris yang dicari segel ini...” Satu lagi rantai mulai retak. “...maka seseorang telah membuat kesalahan besar dengan membiarkanmu hidup.” Bersambung. Teaser Bab 29 — Rantai yang Mulai Putus Segel Velmora bereaksi terhadap darah Ignis, tetapi bukan seperti yang diperkirakan siapa pun. Ketika rantai ketiga mulai retak, Ignis harus memilih antara mempertahankan segel yang tidak dipahaminya atau mempertaruhkan nyawa untuk mencari tahu siapa yang sebenarnya dikurung di bawah biara. Dan untuk pertama kalinya, kekuatan kutukannya mungkin menjadi satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan mereka—atau menghancurkan semuanya.

End of Chapter 28

Chapter 28: Bab 28 — Rantai di Bawah Biara - PENDRAGON: The Heir Bound to Hell | Novel AI Studio