Chapter 27 of 70
Bab 27 — Penjaga Sembilan Tanda
1.4k words
Gerbang batu Biara Velmora terbuka perlahan.
Tidak ada tangan yang mendorongnya. Tidak ada rantai yang berderit. Kedua daun pintu itu bergerak seolah bangunan tua tersebut masih mengingat siapa yang berhak memasuki tempatnya.
Ignis berdiri di hadapan ambang gelap.
Di belakangnya, Darius Fen mengangkat pedang. Harlan mengencangkan tali perisainya, sementara Caelan Voss memandang ukiran dua sayap di atas gerbang dengan wajah pucat.
“Tidak ada yang masuk sendirian,” kata Darius. “Apa pun yang barusan berbicara kepadamu, kita belum tahu apakah makhluk itu berniat membantu atau membunuh kita.”
Ignis tidak membantah.
Suara yang hanya terdengar di kepalanya itu masih bergema.
Darah yang membawa sembilan tanda.
Dia pernah mendengar suara serupa di alam kutukannya. Namun, suara dari balik gerbang neraka biasanya terasa jauh, seperti gema dari sesuatu yang tidak lagi memiliki tempat di dunia.
Suara monster tadi berbeda.
Suara itu berada di sini.
Di dunia nyata.
“Kalau kita mundur sekarang,” ujar Ignis, “kita mungkin kehilangan satu-satunya petunjuk yang menghubungkan pengiriman peti bersegel dengan simbol itu.”
“Dan kalau kita maju, kita mungkin kehilangan nyawa,” balas Darius.
“Karena itu kita maju bersama.”
Darius menatapnya cukup lama, lalu menghela napas.
“Kadang-kadang aku lupa bahwa kau baru berusia delapan tahun.”
“Aku justru berharap orang-orang lebih sering mengingatnya.”
Caelan menoleh. “Kenapa?”
“Karena kalau mereka mengingatnya, mereka mungkin akan berhenti mengharapkan aku menyelesaikan semuanya.”
Untuk sesaat, tidak ada yang menjawab.
Kemudian mereka memasuki biara.
---
Aula utama dipenuhi patung-patung tanpa kepala.
Pilar hitam berdiri dalam dua barisan, menyangga langit-langit yang retak. Di lantai terdapat mosaik raksasa berbentuk lingkaran, dengan sembilan garis memancar dari pusatnya. Dua sayap terukir pada setiap sisi lingkaran itu.
Ignis langsung mengenali pola tersebut.
Bentuknya sama dengan lambang yang muncul di gerbang alam kutukannya.
Namun, ada satu perbedaan.
Di sini, lingkarannya utuh.
Di alam kutukan, lingkaran itu selalu tampak retak.
“Lambang ini tidak menyerupai simbol keagamaan mana pun yang kukenal,” gumam Caelan. “Kalau biara ini memang tempat ibadah, identitas pendirinya pasti sengaja dihapus.”
“Bukan cuma identitasnya,” kata Ignis.
Dia menunjuk mosaik di lantai.
Di antara garis-garis yang memancar dari lingkaran, terdapat bekas pahatan yang telah dirusak dengan benda tajam. Seseorang pernah mengikis tulisan yang mengelilingi lambang tersebut.
Mereka tidak menghapus seluruhnya.
Satu kata masih terbaca.
PACTUM.
Caelan berlutut untuk memeriksanya.
“Perjanjian.”
Sebelum dia sempat mengatakan lebih banyak, lantai bergetar.
Satu demi satu, sembilan garis pada mosaik menyala merah gelap.
Darius segera mendorong Caelan menjauh.
“SEMUA MUNDUR!”
Terlambat.
Pilar-pilar hitam mengeluarkan suara retakan. Debu berjatuhan dari langit-langit. Dari balik dinding terdengar bunyi sesuatu menyeret logam di atas batu.
Kemudian, bagian tengah aula terbelah.
Sebuah tangan raksasa mencengkeram tepi lantai.
Jari-jarinya panjang, dilapisi tulang hitam. Cakar yang muncul dari ujungnya menancap ke batu, lalu menarik tubuh pemiliknya naik ke permukaan.
Makhluk itu jauh lebih besar daripada serigala tanpa mata yang mereka hadapi di luar.
Tubuhnya setinggi hampir tiga meter ketika berdiri tegak. Pelindung tulang menutupi dada dan bahunya, membentuk lapisan seperti zirah alami. Sembilan tonjolan menyerupai tanduk tumbuh dari punggungnya, masing-masing dibalut cahaya merah yang berdenyut mengikuti detak jantungnya.
Wajahnya tidak memiliki mata.
Sebagai gantinya, terdapat sebuah lingkaran hitam di tengah tengkorak, dikelilingi sembilan garis tipis.
Darius mengangkat pedang.
“Formasi pertahanan!”
Makhluk itu menoleh kepadanya.
Lalu menghilang.
“APA—”
Benturan keras menghantam perisai Harlan.
Kesatria itu terlempar menabrak pilar. Batu pecah ketika punggungnya menghantam permukaan, dan tubuhnya jatuh ke lantai tanpa bergerak selama beberapa detik.
Darius menyerang dengan tebasan mendatar.
Bilahnya mengenai bahu makhluk tersebut, tetapi terpental dengan percikan api.
Makhluk itu membalas menggunakan siku.
Darius sempat mengangkat kedua lengan untuk bertahan. Tetap saja, tubuhnya terlempar beberapa meter.
Ignis menyipitkan mata.
Bukan teleportasi.
Dia memperhatikan serpihan debu yang masih bergerak di belakang makhluk itu.
Percepatan mendadak. Ia memampatkan mana di sekitar tubuhnya, kemudian melepaskannya sebagai dorongan.
Jika benar, makhluk itu harus menyiapkan energi sebelum melakukan gerakan tersebut.
Tetapi berapa lama jedanya?
Ignis belum sempat menemukan jawabannya ketika monster itu berbalik ke arahnya.
Caelan berdiri tepat di antara mereka.
“JANGAN MENDEKAT!”
Dia mengangkat sebuah tongkat pendek yang dibawanya untuk mengukur aliran mana. Cahaya biru muncul di ujungnya, membentuk penghalang tipis.
Makhluk itu menghantamnya.
KRAAAASH!
Penghalang tersebut pecah seperti kaca.
Caelan terlempar ke samping, jatuh dengan bahu menghantam lantai.
Monster itu mengangkat cakarnya.
Ignis bergerak tanpa berpikir.
Dia menerjang ke depan, menarik kerah Caelan, lalu menjatuhkan tubuhnya bersama-sama ketika cakar monster menghantam lantai.
Batu meledak.
Serpihan tajam melesat melewati kepala mereka.
“Bisa berdiri?” tanya Ignis.
Caelan meringis. “Aku rasa begitu.”
“Bagus. Karena aku tidak bisa menggendongmu.”
“Penghiburan yang luar biasa.”
Ignis menariknya ke balik pilar.
Di aula utama, Darius kembali bangkit. Darah mengalir dari pelipisnya, tetapi dia masih menggenggam pedang.
“Makhluk itu bergerak terlalu cepat! Kita harus keluar!”
“Kalau kita berlari lurus menuju pintu, ia akan mengejar kita,” jawab Ignis. “Kita harus memaksanya menggunakan serangan itu di tempat yang tidak menguntungkannya.”
Darius menatapnya tidak percaya.
“Kau ingin melawan makhluk sebesar itu dengan tubuhmu?”
“Tidak. Aku ingin membuatnya melawan bangunan ini.”
Ignis menunjuk pilar-pilar yang retak.
“Ser Darius, pancing dia melewati barisan pilar. Ser Harlan, kalau masih bisa bergerak, hancurkan penyangga di sisi timur. Jangan menyerang tubuhnya. Kita akan membuatnya kehilangan ruang untuk berlari.”
Darius tidak langsung menjawab.
Kemudian dia mengertakkan gigi dan berdiri tegak.
“Baik. Tapi kalau rencanamu gagal, aku akan memarahimu bahkan setelah kita mati.”
“Pastikan Anda masih hidup untuk melakukannya.”
Darius berlari keluar dari balik pilar dan mengayunkan pedangnya ke arah monster.
“KE SINI, DASAR BINATANG!”
Makhluk itu meraung dan menerjang.
Darius menghindar pada saat terakhir. Monster tersebut menghantam pilar pertama, tetapi tidak berhenti. Ia memampatkan mana di sekitar tubuhnya sekali lagi dan melesat menuju sasaran berikutnya.
Ignis menghitung dalam hati.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ada jeda singkat setiap kali cahaya merah pada sembilan tanduknya meredup.
Itulah saatnya.
“HARLAN! SEKARANG!”
Harlan, yang ternyata masih mampu berdiri, menghantam penyangga yang sudah retak dengan sisi perisainya. Batu pecah, dan bagian langit-langit di sisi timur ambruk.
Monster itu kehilangan jalur untuk berbelok.
Namun, ia terlalu cepat untuk berhenti.
Tubuh raksasanya menghantam pilar berikutnya.
DUUUUM!
Pilar itu retak dari pangkal hingga puncak.
Ignis merasakan gelombang mana menyapu aula. Tekanan itu membuat dadanya sesak dan penglihatannya berkunang-kunang.
Aliran mana monster tersebut jauh lebih besar daripada miliknya.
Tetapi untuk pertama kalinya, makhluk itu kehilangan keseimbangan.
Darius segera menyerang persendian lututnya. Harlan menabrakkan perisai ke sisi tubuhnya.
Monster itu jatuh dengan satu kaki menekuk.
“IGNIS!” teriak Darius.
Ignis sudah bergerak.
Dia mengalirkan mana ke kedua tangannya. Panas menyengat telapak tangannya, sementara garis-garis merah tipis menjalar di bawah kulit.
Dia belum menguasai teknik ini sepenuhnya.
Bahkan sekarang, dia tidak yakin tubuhnya mampu menahannya.
Namun, celah di pertahanan monster itu tidak akan bertahan lama.
Ignis mengangkat tangan kanannya.
“Ignis Dragonis: Ember Fall!”
Semburan api merah gelap melesat dari telapak tangannya.
Bukan badai api yang mampu membakar seluruh aula. Tubuh Ignis belum sanggup menghasilkan kekuatan seperti itu.
Api tersebut terkonsentrasi menjadi satu hantaman pendek, diarahkan tepat ke celah antara zirah tulang dan bahu monster.
BOOOOM!
Ledakan mengguncang aula.
Monster itu meraung, dan cahaya merah pada tanduk-tanduknya padam sesaat. Zirah tulangnya retak. Bau hangus memenuhi udara.
Ignis terhuyung.
Rasa sakit membakar lengannya hingga ke bahu. Lututnya hampir menyerah, dan darah mengalir dari hidungnya.
Jadi begini akibatnya jika aku memaksakan aliran mana sebesar itu melalui tubuh anak-anak.
Dia tidak boleh mengulanginya sembarangan.
Namun serangannya berhasil.
Monster itu jatuh ke satu lutut.
Darius mengangkat pedang, bersiap memberikan serangan terakhir.
“Jangan!” teriak Ignis.
Kesatria itu menghentikan ayunannya.
Makhluk tersebut tidak mencoba bangkit.
Sebaliknya, ia menundukkan kepala.
Cahaya pada sembilan tanduknya berubah dari merah menjadi putih pucat.
Suara yang sama kembali terdengar di pikiran Ignis.
“Kau menggunakan api yang belum menjadi milikmu.”
Ignis membeku.
“Namun darah itu tidak berbohong.”
Monster tersebut mengangkat wajah tanpa mata ke arahnya.
“Pewaris Pendragon.”
Udara mendadak terasa dingin.
“Tunjukkan kepadaku... apakah kau datang untuk mengulang dosa leluhurmu, atau mengakhirinya?”
Sebelum Ignis sempat menjawab, seluruh mosaik di lantai menyala.
Sembilan garis merah menyatu dengan lingkaran di pusat aula. Dinding di belakang monster bergeser, membuka sebuah lorong menurun yang sebelumnya tersembunyi.
Dari dalam lorong itu terdengar bunyi rantai.
Satu kali.
Lalu sekali lagi.
Ignis menatap kegelapan yang terbuka di hadapannya.
Dia telah menemukan penjaga yang mengenali darahnya.
Tetapi penjaga itu tidak menyebutnya penyelamat.
Ia menyebutnya pewaris yang mungkin mengulang dosa leluhurnya.
Dan di bawah biara ini, sesuatu masih terikat dengan rantai.
Bersambung.
Teaser Bab 28 — Rantai di Bawah Biara
Lorong tersembunyi membawa Ignis dan kelompoknya menuju ruang bawah tanah yang tidak tercatat dalam sejarah Velmora. Di sana, mereka akan menemukan bukti bahwa biara tersebut bukan sekadar tempat ibadah yang dilupakan—melainkan tempat yang dibangun untuk menjaga sesuatu agar tidak pernah keluar. Dan suara dari balik rantai itu mengenal nama yang bahkan sejarah telah hapus.