Chapter 26 of 70

Bab 26 — Biara yang Dihapus dari Peta

1.5k words

Luka di paha Ignis belum sepenuhnya mengering ketika kereta keluarga Pendragon meninggalkan Ravenport. Dia duduk di dekat jendela, mengenakan celana panjang gelap yang menutupi perban di kakinya. Di pangkuannya terbentang salinan catatan pengalihan dari Orven Hale. PENGALIHAN KHUSUS — TUJUAN: BIARA VELMORA. Satu baris. Satu nama. Dan lebih dari seratus tahun kebisuan. “Kalau aku boleh bertanya,” ujar Caelan Voss dari kursi seberang, “kenapa kau terlihat senang?” Ignis mengangkat wajah. “Aku tidak senang.” “Kau tersenyum.” “Wajahku memang begini.” Caelan memandangnya selama beberapa detik, lalu menghela napas. “Aku mulai khawatir kau terlalu sering membaca buku-buku tua.” Ignis kembali menatap jendela. Kalau kau tahu apa yang pernah kulihat selama tiga puluh lima tahun hidupku, Caelan, kau akan menganggap buku tua sebagai hiburan paling sehat di dunia. Biara Velmora terletak di utara Ravenport, melewati jalan pegunungan yang sudah lama ditinggalkan. Menurut peta resmi, wilayah itu hanya terdiri dari hutan tua dan tebing berbatu. Tidak ada bangunan keagamaan, tidak ada permukiman, bahkan tidak ada jalur dagang yang masih aktif. Namun salinan catatan Orven menyebutkan bahwa peti bersegel dikirim ke sana pada hari ekspedisi utara kembali. Artinya, seseorang pernah menggunakan tempat itu. Dan seseorang kemudian memastikan dunia melupakannya. Mereka tidak pergi tanpa pengawalan. Alistair Pendragon menugaskan dua kesatria untuk menemani perjalanan mereka sampai kaki pegunungan. Setelah itu, kelompok kecil tersebut akan memeriksa jalur dengan berjalan kaki. Kesatria bernama Darius Fen memimpin rombongan. Tubuhnya tinggi, rambutnya cokelat gelap, dan bekas luka melintang di dagunya. Rekannya, Ser Harlan, membawa perisai besar dan pedang panjang. “Tidak ada yang berpencar,” kata Darius saat mereka memasuki hutan. “Kita mencari bangunan, memeriksa keadaan, lalu kembali. Tidak ada yang masuk ke reruntuhan sebelum aku memastikan tempat itu aman.” Ignis mengangguk patuh. Dia tidak berniat membuat dua kesatria dewasa menganggapnya anak bangsawan manja yang ingin bermain penjelajah. Meski begitu, semakin jauh mereka berjalan, semakin tidak nyaman perasaannya. Burung-burung tidak berkicau. Jejak binatang berhenti di batas hutan bagian dalam. Bahkan angin terasa aneh, seolah pepohonan di sekitar mereka menelan suara. Lalu mereka menemukan batu pertama. Sebuah pilar pendek tertutup lumut, berdiri di antara akar-akar pohon. Di permukaannya terukir simbol yang hampir terkikis waktu. Dua sayap. Di bawahnya terdapat lingkaran dengan sembilan garis mengarah ke luar. Ignis berhenti. Darahnya terasa membeku. Simbol itu bukan sekadar mirip dengan lambang yang ditemukan di arsip. Ukiran tersebut memiliki detail yang sama dengan tanda di gerbang alam kutukannya. “Pilar penanda?” tanya Harlan. Darius memeriksa permukaannya. “Mungkin batas wilayah biara.” Ignis berjongkok dan mengamati tanah di sekitarnya. Ada bekas roda. Sangat samar, tetapi masih terlihat di antara lumut dan tanah basah. “Ser Darius,” katanya, “tempat ini mungkin tidak benar-benar ditinggalkan.” Kesatria itu menoleh. “Kenapa?” “Lihat tanahnya. Ada sesuatu yang melintas setelah hujan terakhir. Roda kecil, mungkin kereta pengangkut.” Darius memeriksa jejak tersebut. Ekspresinya berubah serius. “Semua tetap waspada.” Mereka melanjutkan perjalanan sampai pepohonan mendadak menipis. Di hadapan mereka berdiri reruntuhan Biara Velmora. Bangunannya lebih besar daripada yang Ignis bayangkan. Dinding batu hitam menjulang di antara pohon-pohon, sebagian ambruk, sebagian lagi masih berdiri dengan menara patah yang mengarah ke langit. Patung-patung tanpa kepala berjejer di halaman. Akar pohon menembus lantai, sementara tanaman merambat menutupi jendela-jendela tinggi. Tidak ada lambang kerajaan. Tidak ada tanda agama. Hanya dua sayap yang terukir di atas gerbang utama. Namun ada sesuatu yang lebih mengganggu Ignis. Di tengah halaman berdiri tiga batu nisan. Bukan batu nisan kuno. Permukaannya masih bersih. Harlan menghunus pedangnya. “Kita tidak sendirian.” Sebuah suara rendah terdengar dari atas tembok. “Benar.” Sosok hitam melompat turun. Tubuhnya menyerupai serigala, tetapi jauh lebih besar daripada binatang biasa. Bulu hitam menutupi punggungnya, sementara tulang putih menyembul di sepanjang bahu dan tulang rusuk. Empat kakinya memiliki cakar panjang yang menggores batu ketika mendarat. Yang paling mengerikan adalah wajahnya. Tidak ada mata. Hanya dua lubang gelap, dengan cahaya merah redup berdenyut jauh di dalam tengkoraknya. Darius langsung mengangkat pedang. “Makhluk terkutuk!” Binatang itu membuka mulut. Rahangnya terbelah terlalu lebar, memperlihatkan deretan gigi yang tidak seragam. Lalu ia meraung. Suara itu membuat jendela-jendela yang tersisa bergetar. Dua makhluk lain muncul dari reruntuhan. Salah satunya merayap di dinding seperti laba-laba, sementara yang lain memiliki tubuh kurus dengan tulang belakang mencuat menyerupai duri. Caelan mundur setapak. “Makhluk apa itu?” Ignis mengenal pola keberadaan mereka. Bukan spesies yang pernah dia temui di hutan biasa. Ini adalah monster yang telah lama hidup di lingkungan dengan aliran mana terdistorsi. Dia tidak mengetahui nama mereka, tetapi satu hal jelas: mereka bukan penjaga biasa. Makhluk pertama menerjang. “Bentuk pertahanan!” teriak Darius. Harlan menahan serangan dengan perisainya. DUAAANG! Tubuh kesatria itu terseret beberapa langkah. Batu di bawah sepatunya retak. Darius menyerang dari samping, mengayunkan pedang ke kaki monster tersebut. Bilahnya mengenai sasaran, tetapi hanya meninggalkan luka dangkal. Monster itu memutar tubuh dan menyapu dengan cakarnya. Darius mengangkat pedang untuk menahan benturan. Percikan api meledak ketika cakar dan baja bertabrakan. “Dagingnya diperkuat mana!” teriaknya. “Bidik persendiannya!” Ignis memperhatikan pertarungan itu dengan cepat. Makhluk tersebut bukan sekadar kuat. Ia juga bereaksi terhadap arah mana yang dilepaskan lawan. Setiap kali Darius memperkuat pedangnya dengan mana, monster itu menggeser tubuhnya untuk melindungi bagian yang diserang. Ia membaca aliran mana, bukan hanya gerakan. Itu berarti serangan yang terlalu jelas akan sulit menembus pertahanannya. “Ser Harlan!” seru Ignis. “Jangan bertahan di tempat yang sama! Pancing dia ke pilar!” Harlan sempat menoleh, jelas tidak menyangka menerima instruksi dari seorang anak. Namun ketika cakarnya menghantam perisai sekali lagi, dia mengubah posisi. Dia mundur menuju pilar batu yang telah mereka lewati. Monster itu mengejar. Harlan menghindar pada detik terakhir. Cakar raksasa menghantam pilar. KRAAAK! Batu retak dari atas sampai bawah. Pilar itu runtuh menimpa kaki depan makhluk tersebut. Monster itu meraung, kehilangan keseimbangan. “Sekarang!” teriak Ignis. Darius bergerak maju dan menusukkan pedangnya ke persendian kaki yang terbuka. Bilahnya menembus. Monster itu menghantam tanah dengan keras. Tetapi pertarungan belum berakhir. Makhluk kedua melesat dari dinding, langsung menuju Caelan. Ignis melihat bayangan bergerak sebelum orang lain sempat bereaksi. “Caelan, merunduk!” Caelan menjatuhkan tubuh. Makhluk itu melintas di atas kepalanya dan menabrak sebuah patung batu. Pecahan patung berhamburan ke udara. Ignis berlari ke arah bangunan samping, menarik perhatian monster tersebut dengan melemparkan batu ke dinding. Suara benturan menggema. Makhluk itu memutar kepala. Lalu mengejarnya. Bagus. Sekarang, jangan sampai aku benar-benar tertangkap. Ignis berlari melewati lorong sempit di antara dua bangunan. Kakinya masih sakit, napasnya cepat memburu. Dia tidak mungkin menang dalam pertarungan langsung. Di depan, lorong berakhir pada tangga batu yang sebagian runtuh. Ignis berhenti mendadak, berbalik, lalu menunggu. Monster itu menerjang dengan cakar terbuka. Pada saat terakhir, Ignis menjatuhkan diri ke sisi tangga. Makhluk tersebut kehilangan pijakan dan meluncur menuruni anak tangga yang patah. Tubuhnya menghantam lantai bawah dengan suara keras. Ignis segera bangkit, tetapi lututnya bergetar. Luka di pahanya kembali terbuka. Dia menggertakkan gigi. “Kalau aku terus begini, aku akan mati sebelum menemukan apa pun.” Monster itu mulai berdiri kembali. Ignis mengangkat tangan. Mana merah gelap berdenyut di antara jari-jarinya, tipis dan tidak stabil. Dia belum mampu mengeluarkan kekuatan besar. Tubuhnya terlalu kecil, dan aliran mana yang melewati pembuluhnya terasa seperti bara panas. Namun dia tidak membutuhkan serangan besar. Dia membutuhkan satu serangan tepat. Ignis mengarahkan mana ke tanah di bawah kaki monster, mengganggu keseimbangan aliran yang menopang tubuhnya. Makhluk itu tersentak. Hanya sesaat. Ignis melompat ke samping ketika cakar menyambar. Dia meraih pecahan batu tajam dan menghantamkannya ke luka pada persendian kaki yang sudah terluka akibat jatuh. KRAK! Monster itu meraung dan roboh kembali. Ignis mundur, napasnya memburu. Dia tidak menang dengan kekuatan. Dia menang dengan membuat lawannya jatuh, membaca kelemahannya, lalu menyerang bagian yang sama dua kali. Ketika Darius akhirnya tiba, monster tersebut sudah tidak mampu berdiri. Kesatria itu menatap Ignis, lalu makhluk yang terkapar. “Kau melakukan ini?” “Dia terpeleset.” Darius menatap tangga batu yang runtuh. “Benar. Tentu saja.” Sebelum mereka sempat melanjutkan, raungan lain mengguncang halaman. Makhluk ketiga telah berdiri di depan gerbang utama. Berbeda dari dua lainnya, tubuhnya jauh lebih besar. Tulang-tulang di punggungnya membentuk semacam mahkota, dan setiap langkahnya meninggalkan retakan tipis pada batu. Cahaya merah di rongga matanya menyala semakin terang. Harlan mengangkat perisainya, tetapi Darius menahan lengannya. “Jangan menyerang dulu.” Makhluk itu tidak menerjang. Ia menatap Ignis. Lalu menundukkan kepalanya sedikit. Sebuah suara terdengar langsung di dalam pikiran Ignis—serak, dalam, dan jauh lebih tua daripada tubuh monster itu. “Darah yang membawa sembilan tanda...” Ignis membeku. “Akhirnya, seorang pewaris datang kembali.” Udara di halaman berubah berat. Caelan tidak mendengar suara itu. Darius dan Harlan pun tidak bereaksi seolah ada yang berbicara. Hanya Ignis yang mendengarnya. Monster itu mengangkat kepalanya dan melangkah mundur, membuka jalan menuju gerbang biara. “Masuklah, pewaris kecil.” “Tetapi jangan berharap semua yang tidur di dalam sana akan membiarkanmu keluar.” Di balik gerbang, kegelapan bergerak. Bukan bayangan pepohonan. Sesuatu di dalam biara baru saja terbangun. Ignis menatap pintu batu itu lama sekali. Dia telah menemukan tempat yang dicari selama berminggu-minggu. Namun untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, dia merasa bahwa bukan dirinya yang sedang memburu rahasia. Melainkan rahasia itulah yang sejak awal menunggu kedatangannya. Bersambung. Teaser Bab 27 — Penjaga Sembilan Tanda Biara Velmora ternyata tidak sepenuhnya kosong. Di balik gerbangnya, Ignis akan menemukan jejak yang menghubungkan reruntuhan tersebut dengan kutukan Pendragon—dan penjaga yang mengenali darahnya, meski Ignis sendiri belum memahami alasannya.

End of Chapter 26