Chapter 25 of 70

Bab 25 — Saksi yang Masih Mengingat

1.4k words

Hujan turun ketika kereta keluarga Pendragon meninggalkan gerbang kediaman. Di balik jendela, Ignis memperhatikan bangunan-bangunan kota yang perlahan tertutup kabut. Delapan tahun. Itulah usia tubuhnya sekarang. Meskipun pikirannya menyimpan pengalaman puluhan tahun, kedua tangannya masih terlalu kecil untuk menggenggam pedang orang dewasa dengan nyaman. Menyebalkan. “Tujuan kita bukan kantor arsip?” tanyanya. Caelan Voss, yang duduk di seberangnya, membetulkan kacamata. “Bukan. Aku menerima balasan dari seseorang yang pernah bekerja di bagian pengiriman pusat. Namanya Orven Hale. Dia sudah pensiun hampir dua puluh tahun lalu.” “Dan dia mengingat sesuatu tentang objek bersegel itu?” “Dia tidak mengatakannya secara langsung.” Caelan mengeluarkan secarik surat. “Pesannya hanya berbunyi: Ada catatan yang tidak pernah sampai ke meja yang seharusnya menerimanya. Jika kalian benar-benar ingin tahu, datanglah sebelum seseorang menghapus jejak terakhirnya.” Ignis menatap tulisan tersebut. “Dia tahu seseorang sedang mencari catatan itu.” “Itulah yang membuatku khawatir.” Kereta berbelok menuju distrik tua Ravenport. Di sana, rumah-rumah batu berdiri rapat di sepanjang jalan sempit. Beberapa bengkel telah tutup, sementara air hujan mengalir melalui selokan yang dipenuhi dedaunan. Orven tinggal di sebuah rumah dua lantai di dekat bekas gudang pengiriman. Ketika mereka tiba, pintunya sudah terbuka. Seorang lelaki tua berdiri di ambang pintu. Rambutnya putih, punggungnya sedikit membungkuk, tetapi matanya masih tajam. “Kalian terlambat,” katanya. Caelan mengerutkan kening. “Kami datang sesuai waktu yang tertulis dalam surat.” “Bukan kalian.” Orven melirik jalan di belakang mereka. “Orang yang lain.” Ignis langsung mengangkat pandangan. “Siapa yang datang sebelum kami?” Orven tidak menjawab. Dia segera menarik mereka masuk dan mengunci pintu. “Aku tidak tahu siapa mereka. Tiga orang. Mereka menanyakan dokumen pengiriman dari ekspedisi utara. Ketika kukatakan aku tidak menyimpan apa pun, salah satu dari mereka mengancam akan membakar rumah ini.” Caelan menjadi pucat. “Kenapa Anda tidak melapor kepada penjaga kota?” “Karena salah satu dari mereka mengenakan lambang penjaga kota.” Keheningan menyelimuti ruangan. Ignis merasakan sesuatu yang dingin menjalar di sepanjang tulang punggungnya. Ini bukan lagi sekadar kesalahan pencatatan. Seseorang bersedia mengancam seorang pensiunan hanya untuk memastikan dokumen lama tetap tersembunyi. Orven berjalan menuju meja, lalu mengeluarkan sebuah buku kecil yang sampulnya sudah rusak. “Dua puluh tahun lalu, aku bertugas memeriksa pengiriman dari kantor pusat. Aku ingat objek itu. Bukan karena bentuknya, melainkan karena prosedurnya.” Dia membuka halaman yang ditandai seutas benang. “Barang-barang dari ekspedisi utara tiba dalam peti kayu. Ada dua belas peti yang tercatat, tetapi satu di antaranya tidak memiliki nomor penerimaan. Aku mempertanyakannya kepada atasan. Jawabannya sederhana: peti itu tidak pernah melewati pemeriksaan resmi.” “Lalu ke mana peti itu dibawa?” tanya Ignis. “Gudang pengalihan di sisi timur Ravenport. Setelah itu, aku tidak tahu.” “Nama penerimanya?” Orven menggeleng. “Tidak ada nama. Hanya cap berbentuk lingkaran hitam.” Jantung Ignis berdetak lebih keras. Lingkaran hitam. Sembilan garis menyerupai tanduk. Simbol yang pernah dilihatnya dalam kegelapan setiap kali kutukan menarik jiwanya ke alam neraka. Namun sebelum dia sempat bertanya lebih jauh— KRAAAASH! Jendela di belakang mereka meledak. Sebuah benda hitam menghantam dinding, diikuti tiga sosok bertopeng yang menerobos masuk. Salah satunya mengangkat tangan. Lingkaran sihir berwarna biru menyala di telapak tangannya. “Buku itu,” katanya dingin. “Serahkan, lalu kalian boleh pergi.” Caelan mundur sambil melindungi Orven. “Kalian penjaga kota?” “Pertanyaan yang tidak perlu dijawab.” Sosok pertama menerjang. Ignis bergerak lebih dahulu. “Caelan! Bawa Orven ke belakang!” Dia meraih belati pendek yang tergantung di dekat meja—senjata pajangan milik Orven—dan menyambut serangan lawan dengan menangkis dari samping. Benturan itu membuat pergelangan tangannya nyaris terkilir. Berat sekali! Lawan itu bukan petarung amatir. Gerakannya ringkas, tidak membuang tenaga, dan setiap serangan diarahkan ke bagian tubuh yang mematikan. Ignis melompat mundur ketika bilah lawan menyambar perutnya. Ujung senjata itu merobek kain bajunya. Dia membalas dengan tusukan ke arah lengan, tetapi lawannya memutar pergelangan tangan dan menepis belati tersebut. “Anak kecil membawa senjata?” Orang bertopeng itu tertawa pendek. “Kau bahkan belum pantas mati di tanganku.” Ignis tidak menjawab. Dia sedang memperhatikan kaki lawannya. Kaki kiri sedikit tertinggal setiap kali lelaki itu mengubah arah. Bekas cedera? Atau kebiasaan yang tidak pernah diperbaiki? Tidak penting. Yang penting, ada celah. Ignis mundur menuju meja kayu, sengaja membiarkan lawannya mengejar. Ketika lelaki itu mengayunkan pedangnya, Ignis menendang bangku kecil ke arah lututnya. Bangku itu menghantam tulang kering. Hanya sesaat. Namun sesaat sudah cukup. Ignis menyelip ke bawah ayunan pedang dan menggores lengan lawannya dengan belati. Bukan luka dalam, tetapi cukup untuk membuat genggaman lelaki itu melemah. “Bocah sialan!” Sebuah tendangan menghantam dada Ignis. Tubuh kecilnya terlempar menabrak lemari. Napasnya terputus. Rasa sakit menjalar dari rusuk hingga punggung, sementara belati terlepas dari tangannya. Dia mencoba bangkit, tetapi tubuhnya tidak segera menurut. Tubuh ini... masih terlalu lemah. Dua puluh tujuh tahun pengalaman bertarung tidak mengubah kenyataan bahwa ototnya baru berkembang selama delapan tahun. Lawan itu mengangkat pedang. “Matilah.” Ignis melihat sebuah lentera minyak di atas lemari yang miring akibat benturan tadi. Dia meraih gagangnya dan melemparkannya. Lawan tersebut menghindar. Lentera pecah di lantai, menyebarkan minyak ke atas papan kayu. Api menyala ketika sumbu yang masih membara menyentuh genangan itu. Lelaki bertopeng mundur sepersekian detik. Ignis memanfaatkan kesempatan untuk menyelinap ke balik meja, meraih kembali belatinya, lalu berlari ke arah lorong. “Jangan biarkan bocah itu keluar!” Dari sisi lain ruangan, Caelan menghantamkan kursi ke salah satu penyerang. Orven, meski sudah tua, berhasil menarik sebuah tuas yang membuat rak penyimpanan roboh dan menutup sebagian jalan. “Lewat sini!” teriak Caelan. Ignis berlari menuju pintu samping. Namun sosok ketiga sudah menunggunya di luar. Lelaki itu mengangkat kedua tangan. Sihir biru membentuk tiga tombak cahaya di udara. Ignis berhenti mendadak. Tombak pertama melesat. Dia menjatuhkan diri ke samping. Ujung cahaya menghantam dinding, meledakkan batu dan serpihan kayu. Tombak kedua menyusul, menggores paha Ignis sebelum menancap di tanah. Tombak ketiga diarahkan tepat ke dadanya. Tidak ada waktu untuk menghindar sepenuhnya. Ignis memutar tubuh, menggunakan sisa momentum untuk berguling di balik tong kayu. Ledakan menghancurkan tong itu, menyebarkan serpihan ke segala arah. Telinganya berdenging. Lelaki bertopeng berjalan mendekat. “Sudah cukup bermain-main.” Ignis menggenggam belati dengan kedua tangan. Dia tahu peluangnya untuk menang hampir tidak ada. Namun dia juga melihat sesuatu di belakang lawannya. Tali penahan tumpukan peti. Sebuah ide terbentuk. Ignis melemparkan belatinya ke wajah lawan. Lelaki itu refleks menepisnya. Pada saat yang sama, Ignis meraih tali tersebut dan menarik sekuat tenaga. Tumpukan peti bergeser. Bukan runtuh sepenuhnya—hanya cukup untuk menjatuhkan dua peti besar ke jalur lawan. Lelaki bertopeng melompat mundur, tetapi kakinya terjepit di antara peti dan dinding. Ignis segera mengambil belatinya kembali. Dia tidak menyerang kepala atau dada. Sebaliknya, dia menancapkan ujung belati ke sela pelindung lutut lawan, lalu memutar gagangnya. Lelaki itu menjerit dan jatuh berlutut. Ignis mundur dengan napas terengah-engah. Dia menangkap lawannya bukan karena lebih kuat, melainkan karena memahami ruangan itu lebih cepat. Sayangnya, dua penyerang lainnya sudah keluar dari rumah. Yang pertama membawa buku kecil Orven. Yang kedua mengangkat tangan, membentuk lingkaran sihir untuk menutupi pelarian mereka. Caelan muncul dari pintu samping bersama Orven, wajahnya dipenuhi jelaga. “IGNIS!” Sebuah ledakan mengguncang lorong. Dinding gudang runtuh, menutup jalan menuju para penyerang. Debu memenuhi udara. Ketika akhirnya mereda, ketiga sosok itu sudah menghilang—bersama buku kecil tersebut. Ignis berdiri terpaku, darah menetes dari pahanya. Mereka kehilangan bukti. Namun Orven tiba-tiba meraih lengannya. “Tunggu,” kata lelaki tua itu dengan napas tersengal. “Mereka mengambil buku yang salah.” Dia membuka telapak tangannya. Di sana terdapat selembar kertas tipis yang telah dilipat berkali-kali. “Aku menyimpan salinan catatan pengalihan. Aku tahu suatu hari seseorang akan datang untuk menghapus semuanya.” Caelan menerimanya dengan tangan gemetar. Pada kertas itu terdapat gambar peti, sebuah cap lingkaran hitam, dan satu baris tulisan yang nyaris pudar. PENGALIHAN KHUSUS — TUJUAN: BIARA VELMORA. Di bawahnya tertulis satu tanggal. Tanggal yang sama dengan hari ketika ekspedisi utara dinyatakan kembali ke ibu kota. Ignis menatap tulisan tersebut. Biara Velmora tidak tercatat dalam daftar penerima pengiriman resmi. Tempat itu bahkan sudah ditutup lebih dari satu abad lalu. “Kenapa mereka menginginkan catatan ini?” bisik Caelan. Ignis mengusap darah dari sudut bibirnya. “Karena kita mulai mendekati sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.” Jauh di dalam dadanya, rasa dingin itu kembali muncul. Bukan suara. Bukan penglihatan. Hanya sensasi samar, seperti sesuatu yang tertidur jauh di balik pintu sedang menyadari keberadaan mereka. Ignis mengepalkan tangan. Kali ini, dia tidak akan kembali hanya dengan pertanyaan. Dia akan mencari Biara Velmora. Dan jika seseorang kembali menghalangi jalannya— Dia akan memastikan bahwa mereka menyesali keputusan itu. Bersambung. Teaser Bab 26 — Biara yang Dihapus dari Peta Sebuah biara yang telah ditutup selama lebih dari seratus tahun. Sebuah pengiriman yang tidak pernah tercatat. Dan seseorang yang bersedia membunuh demi menjaga rahasianya. Untuk pertama kalinya, Ignis akan meninggalkan jejak arsip dan mendekati tempat yang mungkin menyimpan jawaban—beserta sesuatu yang seharusnya tidak pernah ditemukan.

End of Chapter 25