Chapter 24 of 70

Bab 24 — Keputusan Tanpa Nama

1.4k words

Pagi itu, Ignis menemukan Caelan sedang membandingkan dua lembar dokumen di dekat jendela ruang arsip. Cahaya matahari menyinari tumpukan buku di atas mejanya. Di antara semua catatan yang berserakan, terdapat salinan struktur administrasi kekaisaran dari beberapa dekade sebelumnya. Ignis meletakkan secangkir teh di meja, lalu menarik kursi. “Apa yang kau temukan?” Caelan tidak langsung menjawab. Dia menunjuk sebuah baris dalam dokumen. “Keputusan pembebasan tugas Marcell Veyron seharusnya memiliki nomor persetujuan. Namun, nomor yang tercantum di sini tidak cocok dengan daftar keputusan pada tahun yang sama.” “Apakah nomor itu pernah digunakan?” “Itulah masalahnya. Nomor tersebut memang terdaftar, tetapi digunakan untuk keputusan yang berbeda.” Ignis mengernyit. “Jadi, ada dua keputusan dengan nomor yang sama?” “Tidak sesederhana itu. Dalam salinan daftar keputusan, nomor tersebut merujuk pada pengadaan peralatan untuk garnisun wilayah barat. Namun, dalam catatan kepegawaian Marcell, nomor yang sama digunakan untuk membebaskannya dari kewajiban administratif.” Caelan menggeser kedua lembar dokumen agar Ignis dapat melihatnya berdampingan. “Setidaknya salah satu catatan ini keliru. Pertanyaannya, yang mana?” Ignis memeriksa tanggal pada kedua dokumen. Pengadaan peralatan tercatat berlangsung pada bulan ketiga. Sementara pembebasan tugas Marcell tercatat pada bulan kelima. Jaraknya cukup jauh untuk membuat kesalahan penyalinan mungkin terjadi. Akan tetapi, ada sesuatu yang lebih mengganggunya. “Apakah ada buku pencatatan asli?” “Seharusnya ada di kantor administrasi pusat. Tetapi kita tidak memiliki izin untuk memeriksanya secara langsung.” Ignis mengetukkan jarinya ke meja. Mereka memiliki petunjuk, tetapi belum memiliki bukti yang dapat membedakan kesalahan biasa dari tindakan yang disengaja. Dalam kehidupan pertamanya, dia pernah membuat keputusan berdasarkan informasi yang tampaknya lengkap. Keputusan itu berakhir dengan hilangnya orang-orang yang seharusnya bisa dia selamatkan. Dia tidak berniat mengulanginya. “Kita cari jalur pencatatan dokumen tersebut,” katanya. “Jika nomor keputusan itu salah salin, pasti ada catatan lain yang menggunakan nomor aslinya.” Caelan tersenyum tipis. “Itulah yang ingin kulakukan sejak tadi.” “Kenapa belum kau lakukan?” “Karena aku sedang menunggu teh yang kau bawa.” Ignis menatapnya datar. Caelan tertawa sebelum kembali memeriksa dokumen. --- Menjelang tengah hari, mereka memperoleh akses ke indeks keputusan administratif yang disimpan di bagian arsip umum. Buku itu jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan. Punggungnya diperkuat dengan logam, sementara setiap halaman memuat puluhan nomor keputusan dan keterangan singkat. Caelan membuka bagian yang sesuai dengan tahun pengiriman benda bersegel. Mereka menelusuri daftar berdasarkan nomor, tanggal, dan jabatan pejabat yang bertanggung jawab. Hasilnya tidak sesuai dugaan. Nomor keputusan yang tercantum dalam catatan Marcell memang berkaitan dengan pengadaan peralatan garnisun. Namun, pada halaman berikutnya, terdapat catatan tambahan yang menyatakan bahwa dokumen pengadaan tersebut pernah mengalami perubahan klasifikasi. Lampiran dipisahkan untuk pemeriksaan administratif. Tidak ada keterangan mengenai isi lampiran. Tidak ada nama petugas yang memisahkannya. Dan tidak ada nomor registrasi baru yang tercatat. Ignis membaca kalimat itu dua kali. “Lampiran apa yang dipisahkan?” Caelan membalik halaman berikutnya. “Tidak dijelaskan.” “Apakah dokumen pengadaan biasanya memiliki lampiran?” “Tentu. Daftar barang, biaya, persetujuan, dan terkadang nama penerima.” Ignis memandangnya. “Kalau lampirannya berisi daftar penerima, pemisahan itu bisa menjelaskan mengapa beberapa catatan pengiriman tidak lengkap.” “Bisa,” jawab Caelan. “Tetapi kita belum tahu apakah lampiran tersebut benar-benar berkaitan dengan benda bersegel.” Mereka terdiam sejenak. Petunjuk baru itu memberikan kemungkinan lain. Dokumen yang tampaknya tidak berhubungan dengan ekspedisi utara mungkin pernah memuat informasi yang dibutuhkan untuk melacak pemindahan benda tersebut. Namun, mereka tidak dapat memastikan hubungan itu hanya berdasarkan kesamaan nomor keputusan. Caelan mencatat nomor halaman dan referensi dokumen tersebut. “Aku akan meminta pemeriksaan silang terhadap daftar lampiran yang dipisahkan pada periode itu.” “Apakah permintaannya akan disetujui?” “Jika aku menuliskan alasannya dengan benar, kemungkinan besar. Kita tidak meminta akses ke dokumen rahasia. Kita hanya meminta pencocokan nomor registrasi.” Ignis mengangguk. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, penyelidikan mereka memiliki langkah yang jelas dan dapat ditempuh melalui prosedur resmi. Namun, sebelum mereka meninggalkan ruang indeks, Caelan menemukan satu catatan lagi di bagian bawah halaman. Catatan itu ditulis dengan tinta yang lebih pucat daripada tulisan lainnya. Pengalihan tanggung jawab disetujui melalui kewenangan khusus. Tidak ada nama pejabat. Tidak ada tanda tangan. Hanya sebuah cap berbentuk lingkaran yang sebagian tepinya telah rusak. Caelan mendekatkan dokumen itu ke cahaya. “Cap ini bukan cap bagian pengiriman.” “Bagian mana yang menggunakannya?” “Aku belum tahu. Lambangnya terlalu aus untuk dikenali dari salinan ini.” Ignis menatap lingkaran tersebut. Bentuknya tidak sama dengan lambang dua sayap yang pernah dia temukan dalam arsip keluarga. Dia memastikan hal itu sebelum mengalihkan pandangan. Tidak setiap lingkaran memiliki arti yang sama. Tidak setiap lambang rusak merupakan petunjuk menuju rahasia kuno. Dia tidak akan menghubungkan keduanya tanpa alasan. “Catat nomor halamannya,” katanya. “Kita cari dokumen lain yang menggunakan cap serupa.” Caelan menuliskannya. “Sepertinya daftar pekerjaan kita semakin panjang.” “Setidaknya sekarang kita tahu apa yang harus dicari.” “Dan apa yang belum kita ketahui.” Ignis tersenyum tipis. “Itu juga kemajuan.” --- Sore harinya, Ignis kembali ke kediaman Pendragon. Dia melewati halaman latihan dan melihat beberapa kesatria muda sedang berlatih dengan pedang kayu. Suara benturan senjata terdengar berulang kali, diselingi teguran keras dari instruktur mereka. Untuk sesaat, dia berhenti. Tubuhnya yang berusia delapan tahun masih memiliki banyak keterbatasan. Bahkan ketika pikirannya mampu memahami teknik tingkat lanjut, otot dan refleksnya belum dapat mengikuti. Dia harus bersabar. Masa lalu mungkin memberinya pengetahuan, tetapi pengetahuan tidak serta-merta mengubah tubuhnya menjadi senjata yang sempurna. Ignis melanjutkan langkah menuju perpustakaan keluarga. Dia ingin memeriksa kembali catatan lama tentang struktur administrasi Solvaris. Jika lambang pada cap tersebut masih digunakan pada masa awal kekaisaran, mungkin ada salinan yang tersimpan di antara dokumen sejarah. Namun, sebelum dia sempat membuka buku pertama, Mira muncul membawa sepiring makanan kecil. “Tuan muda, Anda belum makan sejak siang.” Ignis memandang piring itu. “Aku sudah makan.” “Sepotong roti tidak bisa dianggap makan siang.” “Kalau begitu, aku akan makan sekarang.” Mira meletakkan piring di meja, lalu memperhatikan tumpukan buku di hadapannya. “Apakah Anda sedang mencari sesuatu lagi?” “Catatan lama.” “Apakah catatan lama itu sulit ditemukan?” “Kadang-kadang.” Mira berpikir sejenak sebelum berkata, “Kalau begitu, mungkin Anda perlu bertanya kepada orang yang pernah melihatnya, bukan hanya mencari di rak.” Ignis mengangkat kepala. Saran itu sederhana, bahkan terdengar jelas setelah diucapkan. Namun, selama beberapa hari terakhir, dia terlalu berfokus pada dokumen hingga lupa bahwa orang-orang yang pernah bekerja di perpustakaan atau kantor keluarga mungkin mengingat sesuatu yang tidak pernah ditulis. “Benar juga,” gumamnya. Mira tersenyum puas. “Kalau begitu, makanlah dulu. Setelah itu, Anda bisa mencari orang yang tepat.” Ignis menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. Untuk sesaat, dia merasa beruntung memiliki seseorang yang berani mengingatkannya pada hal-hal sederhana. --- Malam itu, alam kutukan kembali menyambutnya dengan keheningan. Gerbang hitam berdiri di hadapannya. Sembilan garis di permukaannya tampak redup, sementara kabut berputar perlahan di antara pilar-pilar. Ignis mengamati gerbang sebelum berbicara. “Aku menemukan keputusan yang tidak memiliki penanggung jawab.” Suara dari balik gerbang menjawab setelah beberapa saat. “Keputusan tetap memiliki akibat.” “Aku ingin tahu siapa yang membuatnya.” “Apakah nama akan mengubah akibatnya?” Ignis mengerutkan kening. “Nama dapat menunjukkan siapa yang bertanggung jawab.” “Dan dapat pula menjadi tempat seseorang menyembunyikan dirinya.” Sembilan garis itu berkilau. Di permukaan gerbang muncul bayangan samar sebuah meja administrasi. Tumpukan dokumen memenuhi permukaannya, sementara beberapa tangan memindahkan lembaran dari satu tumpukan ke tumpukan lainnya. Satu dokumen diletakkan di tengah. Sebuah cap lingkaran turun di atasnya. Ketika tangan itu terangkat, bagian yang seharusnya memuat nama penanggung jawab tampak kosong. Bayangan tersebut lenyap. Ignis maju selangkah. “Siapa yang menghapus nama itu?” Suara itu terdengar lebih jauh daripada sebelumnya. “Pertanyaan yang salah.” Kabut bergerak mengitari kakinya. “Carilah alasan mengapa keputusan itu masih berlaku meski tidak seorang pun mengaku membuatnya.” Gerbang bergetar pelan. Kemudian semuanya kembali gelap. Ignis terbangun di kamarnya dengan napas teratur, tetapi pikirannya langsung tertuju pada dokumen yang mereka temukan. Dia tidak akan memperlakukan bayangan dalam alam kutukan sebagai bukti. Namun, pertanyaan yang muncul di sana layak dipikirkan. Mengapa keputusan itu masih tercatat berlaku? Siapa yang mendapatkan keuntungan dari pengalihan tanggung jawab tersebut? Dan apakah orang-orang yang terlibat mengetahui apa yang sebenarnya sedang mereka pindahkan? Ignis memandang cahaya bulan di balik jendela. Besok, dia akan meminta Caelan menelusuri catatan penggunaan cap lingkaran itu. Pada saat yang sama, dia ingin mencari orang-orang yang pernah bekerja di perpustakaan dan administrasi keluarga pada masa ketika dokumen tersebut dibuat. Mungkin jawabannya tidak hanya tersimpan di dalam arsip. Mungkin ada seseorang yang masih mengingat apa yang sengaja tidak dicatat. Bersambung — Bab 25: Saksi yang Masih Mengingat

End of Chapter 24

Chapter 24: Bab 24 — Keputusan Tanpa Nama - PENDRAGON: The Heir Bound to Hell | Novel AI Studio