Pagi belum sepenuhnya tiba ketika Ignis memasuki ruang arsip.
Udara masih dingin. Beberapa lentera kristal di sepanjang lorong bahkan belum dinyalakan, membuat bayangan rak-rak buku memanjang di atas lantai batu.
Caelan sudah berada di tempatnya.
Di hadapannya terdapat tiga buku registrasi, dua map berdebu, dan selembar kertas yang dipenuhi tulisan kecil.
“Kau datang lebih awal,” katanya tanpa mengangkat kepala.
“Aku ingin tahu siapa yang menunda penerimaan benda itu.”
“Dan aku ingin tahu mengapa seorang anak berusia delapan tahun lebih bersemangat memeriksa catatan pegawai daripada bermain di halaman rumahnya.”
“Kalau kau menemukan jawabannya, beri tahu aku.”
Caelan terkekeh pendek.
“Sayangnya, aku belum menemukan dokumen yang menjelaskan keganjilan itu.”
Ignis menarik kursi dan duduk di seberang meja. Di kehidupan pertamanya, dia pernah menghabiskan waktu berhari-hari menyusuri jejak musuh melalui medan perang, reruntuhan, dan laporan intelijen. Dibandingkan semua itu, ruang arsip terasa aman.
Namun, justru keamanan itulah yang membuatnya harus berhati-hati.
Di sini, sebuah kesalahan kecil bisa mengirim mereka mengejar orang yang salah selama berminggu-minggu.
Caelan mendorong selembar kertas ke arahnya.
“Aku sudah mencocokkan kode petugas dengan daftar pegawai administrasi pusat. Ada tiga orang yang pernah menggunakan pola kode serupa pada periode tersebut, tetapi hanya satu yang tercatat bertugas di bagian pengiriman benda temuan.”
Ignis membaca nama yang tertulis di bagian atas.
Marcell Veyron.
“Siapa dia?”
“Petugas administrasi tingkat menengah. Bukan bangsawan, bukan pula peneliti. Tugasnya memastikan benda-benda yang dikirim dari wilayah ekspedisi tercatat sebelum diserahkan kepada bagian pemeriksaan.”
“Apakah dia masih bekerja di sana?”
Caelan menggeleng.
“Tidak ada catatan yang menunjukkan dia masih bertugas setelah tahun itu.”
Ignis mengangkat pandangan.
“Dia menghilang?”
“Jangan terburu-buru. Tidak tercatat bekerja lagi bukan berarti menghilang.”
Caelan membuka buku kedua.
“Menurut catatan kepegawaian, Marcell mengajukan cuti panjang beberapa bulan setelah pengiriman tersebut. Namun, salinan dokumen yang menjelaskan alasannya tidak tersedia. Setelah itu, namanya tidak muncul lagi dalam daftar pegawai.”
“Bagaimana dengan catatan pensiunnya?”
“Tidak ada.”
“Pemindahan tugas?”
“Juga tidak ada.”
Ignis mengetuk pelan permukaan meja dengan ujung jarinya.
Marcell Veyron merupakan orang pertama yang mereka temukan yang memiliki hubungan administratif langsung dengan pengiriman benda bersegel tersebut. Akan tetapi, ketiadaan catatan tentang dirinya masih belum membuktikan bahwa dia terlibat dalam penyembunyian benda itu.
Bisa saja dia sakit.
Bisa saja dia mengundurkan diri tanpa mengikuti prosedur.
Atau mungkin dokumennya hanya tersimpan di bagian lain.
“Apakah dia memiliki keluarga?” tanya Ignis.
Caelan mengangguk.
“Dalam formulir kepegawaiannya, dia mencantumkan seorang istri dan seorang anak perempuan. Namun, tidak ada informasi terbaru tentang mereka.”
“Alamat terakhir?”
“Distrik selatan ibu kota. Di dekat kawasan pengrajin dan gudang dagang.”
Ignis mengingat nama distrik itu.
Dalam kehidupan pertamanya, kawasan tersebut pernah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang membawa barang dari berbagai wilayah kekaisaran. Bukan tempat yang aneh bagi seorang pegawai pengiriman untuk tinggal.
“Bisakah kita mengirim permintaan informasi ke sana?”
“Bisa, tetapi membutuhkan waktu. Dan aku tidak bisa meminta arsip pusat membuka seluruh catatan pribadi seseorang hanya karena sebuah kode pengiriman yang mencurigakan.”
“Kalau begitu, kita mulai dari dokumen yang memang berhak kita periksa.”
Caelan tersenyum kecil.
“Kau belajar lebih cepat daripada kebanyakan orang.”
Ignis tidak menanggapi pujian itu. Perhatiannya tertuju pada tanggal cuti Marcell.
Tanggal tersebut hanya berselang beberapa bulan dari pengiriman benda bersegel.
Terlalu dekat untuk diabaikan, tetapi belum cukup untuk dijadikan bukti.
---
Menjelang siang, mereka memperoleh izin untuk memeriksa buku registrasi lama yang mencatat perubahan status pegawai.
Prosesnya lambat. Petugas yang menjaga ruang administrasi beberapa kali meminta mereka menjelaskan alasan pemeriksaan. Caelan menjawab dengan tenang, menunjukkan surat izin dan menjelaskan bahwa mereka sedang mencocokkan ketidaksesuaian dokumen pengiriman lama.
Ignis membiarkan Caelan berbicara.
Dia tahu bahwa penampilan seorang anak kecil yang terlalu banyak bertanya dapat membuat orang dewasa kehilangan kesabaran. Lebih baik membiarkan Caelan menjadi wajah resmi penyelidikan mereka.
Akhirnya, sebuah buku besar dibawa ke meja.
Caelan membukanya berdasarkan tahun dan bulan.
“Ini dia.”
Di samping nama Marcell Veyron, terdapat catatan singkat tentang cuti panjangnya. Namun, di kolom status, seseorang telah menambahkan tulisan lain dengan tinta berbeda.
Dibebaskan dari kewajiban administratif atas persetujuan atasan.
Tidak ada tanggal yang jelas.
Tidak ada nama atasan.
Tidak ada tanda tangan yang dapat dicocokkan dengan daftar pejabat pada periode tersebut.
Ignis mengerutkan kening.
“Apakah frasa seperti ini lazim digunakan?”
“Dalam keadaan tertentu, ya. Biasanya ketika seorang pegawai dialihkan ke tugas khusus atau dibebaskan sementara dari tanggung jawabnya.”
“Namun, harus ada surat keputusan.”
“Benar.”
Caelan memeriksa bagian belakang halaman. Tidak ada lampiran yang disertakan.
Mereka menemukan satu lagi ruang kosong.
Tetapi kali ini, ruang kosong itu muncul dalam catatan kepegawaian, bukan hanya catatan pengiriman.
Ignis menatap tulisan tersebut lebih lama.
Ada kemungkinan Marcell dipindahkan ke tugas lain yang tidak tercatat dalam buku umum. Jika demikian, mungkin dia bukan orang yang menyembunyikan benda bersegel. Bisa jadi dia justru diminta mengurusnya oleh seseorang yang memiliki wewenang lebih tinggi.
“Caelan, apakah kita bisa mengetahui siapa atasannya saat itu?”
“Aku sedang mencarinya.”
Caelan membalik halaman sebelumnya dan menemukan daftar struktur administrasi. Marcell berada di bawah seorang pejabat bernama Odran Pell, kepala bagian penerimaan benda temuan.
Namun, nama Odran hanya muncul dalam daftar jabatan selama dua tahun.
Setelah itu, posisi kepala bagian tersebut diisi oleh orang lain.
“Apakah dia juga menghilang?” tanya Ignis.
“Tidak. Catatan ini menyatakan bahwa Odran dipindahkan ke kantor administrasi wilayah barat.”
“Apakah ada surat pemindahannya?”
Caelan memeriksa indeks.
“Ada nomor dokumen. Tapi suratnya tidak berada di sini.”
Ignis hampir tertawa karena frustrasi.
Setiap kali mereka menemukan satu nama, muncul nama lain. Setiap kali mereka menemukan satu catatan, mereka menemukan pula dokumen yang tidak tersedia.
Namun, untuk pertama kalinya, mereka mulai melihat struktur yang mungkin menghubungkan semua ini.
Marcell menangani penerimaan.
Odran mengawasi bagian tersebut.
Seseorang menunda penerimaan benda bersegel.
Kemudian Marcell mengambil cuti panjang dan tidak lagi muncul dalam daftar pegawai.
Apakah semua itu kebetulan?
Ignis belum bisa memutuskan.
“Kita perlu mencari surat pemindahan Odran,” katanya. “Kalau dia masih tercatat di kantor wilayah barat, kita bisa memeriksa apakah ada arsip yang dibawanya.”
Caelan menutup buku.
“Aku akan mengajukan permintaan resmi. Tetapi jangan berharap semuanya selesai dalam sehari.”
“Aku tidak berharap demikian.”
“Kau terlihat seperti orang yang selalu berharap segala sesuatu bisa selesai lebih cepat.”
“Itu karena biasanya ada alasan mengapa sesuatu dibuat sulit.”
Caelan memandangnya beberapa saat, lalu menghela napas.
“Kadang-kadang, Ignis, sesuatu memang sulit karena orang-orang yang mengurusnya tidak terlalu pandai menyimpan dokumen.”
Untuk sesaat, Ignis tidak bisa membantah.
Kemungkinan itu tetap ada.
Dan justru karena itu, dia tidak boleh menganggap setiap kekacauan administrasi sebagai konspirasi.
---
Malam kembali menyelimuti kediaman Pendragon.
Ignis duduk di tepi ranjangnya, memikirkan nama-nama yang dia temukan hari itu.
Marcell Veyron.
Odran Pell.
Sebuah benda bersegel yang penerimaannya ditunda.
Sebuah catatan cuti tanpa alasan yang jelas.
Dia tidak memiliki cukup bukti untuk menyimpulkan apa pun.
Namun, penyelidikan itu memberinya satu pelajaran penting: rahasia tidak selalu dijaga oleh orang yang mengetahui seluruh kebenaran. Terkadang, rahasia bertahan karena setiap orang hanya mengetahui sebagian kecil darinya.
Marcell mungkin mengetahui siapa yang meminta penundaan.
Odran mungkin mengetahui ke mana benda itu dikirim.
Dan orang yang memberi perintah mungkin bahkan tidak pernah menyentuh benda tersebut.
Ignis merebahkan tubuhnya.
Ketika kesadarannya tenggelam, kamar itu lenyap.
Dia kembali berdiri di hadapan gerbang hitam dengan sembilan garis. Kabut bergerak perlahan di antara pilar-pilar, tetapi kali ini sebuah suara terdengar bahkan sebelum dia sempat berbicara.
“Kau menemukan nama.”
Ignis menatap gerbang.
“Marcell Veyron. Apakah dia orang yang kucari?”
Tidak ada jawaban langsung.
“Nama adalah pintu.”
Sembilan garis di gerbang berkilau redup.
“Namun, pintu tidak selalu menunjukkan siapa yang berada di baliknya.”
Ignis mengepalkan tangan.
“Kalau begitu, apa yang harus kucari?”
Di permukaan gerbang, muncul bayangan samar sebuah meja. Di atasnya terdapat beberapa lembar kertas, sementara satu tangan meletakkan segel hitam di antara dokumen-dokumen tersebut.
Sosok pemilik tangan itu tidak terlihat.
“Carilah keputusan yang tidak memiliki penanggung jawab.”
Bayangan itu menghilang.
Suara tersebut terdengar sekali lagi.
“Orang yang menghilang belum tentu membawa rahasia.”
Kabut hitam mulai menebal.
“Dan orang yang tetap tinggal belum tentu tidak menyembunyikannya.”
Ignis terbangun ketika fajar mulai menyentuh jendela.
Dia tidak mengetahui apakah suara itu benar-benar membimbingnya atau hanya mempermainkan pikirannya. Dia tidak akan menjadikan ucapan dari alam kutukan sebagai bukti.
Namun, satu hal menjadi semakin jelas.
Mereka tidak boleh hanya mencari Marcell Veyron.
Mereka harus menemukan siapa yang berwenang menyetujui penundaan itu—dan mengapa tidak ada seorang pun yang tercatat bertanggung jawab.
Pagi nanti, Ignis akan meminta Caelan menelusuri struktur administrasi lama sampai ke pejabat yang menandatangani keputusan-keputusan tersebut.
Sebab mungkin saja orang yang paling penting dalam penyelidikan ini bukanlah orang yang menghilang.
Melainkan orang yang memastikan namanya tidak pernah muncul.
Bersambung — Bab 24: Keputusan Tanpa Nama