Chapter 22 of 70

Bab 22 — Daftar Pengiriman Lama

1.3k words

Pagi itu, Ignis kembali duduk di ruang arsip pribadi milik Caelan. Di atas meja terbentang tiga lembar dokumen yang tampak tidak memiliki hubungan satu sama lain. Satu merupakan salinan laporan ekspedisi utara. Satu lagi adalah catatan pemindahan benda-benda temuan. Sementara lembar terakhir berisi daftar pengiriman dari kantor administrasi pusat yang sebagian tintanya telah memudar. Bagi orang biasa, ketiganya mungkin hanya tumpukan kertas tua. Bagi Ignis, ketiganya adalah potongan dari sebuah kebohongan yang belum diketahui bentuk aslinya. “Jadi, Edric Halvern benar-benar tercatat pernah bertanggung jawab atas pengiriman benda itu?” tanya Ignis. Caelan mengangguk sambil membetulkan kacamatanya. “Namanya tercantum dalam catatan administrasi. Namun, kita belum menemukan bukti bahwa dia sendiri yang menerima benda tersebut. Ada perbedaan antara orang yang tercatat bertanggung jawab dan orang yang benar-benar memegangnya.” Ignis menyandarkan punggung ke kursi. Delapan tahun. Tubuhnya masih terlalu kecil untuk dianggap serius oleh sebagian besar pejabat, tetapi setidaknya Caelan tidak memperlakukannya seperti anak yang sekadar ingin bermain dengan dokumen kuno. “Kalau begitu, kita tidak perlu langsung mencari Edric,” ujar Ignis. “Kita perlu mengetahui siapa yang mengirim benda itu, siapa yang menerimanya, dan apakah ada catatan yang sengaja dipisahkan dari laporan utama.” Caelan menatapnya sejenak. “Kau semakin terdengar seperti seorang penyelidik berpengalaman.” “Bukankah itu pujian?” “Entahlah. Anak seusiamu seharusnya lebih tertarik pada permainan atau latihan pedang.” “Latihan pedang tidak bisa menjelaskan kenapa tiga nama menghilang dari sebuah daftar.” Caelan terdiam, lalu tertawa kecil. “Sayangnya, aku tidak bisa membantah itu.” Ignis ikut tersenyum tipis. Di dalam hati, dia berharap Caelan tidak pernah mengetahui betapa banyak pengalaman yang sebenarnya telah dia bawa dari kehidupan sebelumnya. --- Mereka memulai pemeriksaan dari catatan pengiriman yang paling tua. Sebagian besar dokumen berisi urusan biasa: peralatan ekspedisi, persediaan obat, hasil penelitian mineral, hingga benda-benda yang dikirim ke akademi kekaisaran. Nama penerima dan pengirim biasanya ditulis lengkap, disertai nomor segel serta tanda tangan pejabat yang bertanggung jawab. Namun, pada satu halaman, pola itu berubah. Sebuah pengiriman tercatat menggunakan kode administratif tanpa nama penerima yang jelas. Objek bersegel — pemindahan untuk pemeriksaan lanjutan. Di bawahnya terdapat tanggal, nomor registrasi, serta tanda tangan yang sebagian tertutup noda tinta. Tidak ada uraian mengenai bentuk benda tersebut. Tidak ada nama ahli yang memeriksanya. Bahkan tujuan akhirnya hanya tertulis sebagai fasilitas penyimpanan khusus. Ignis mendekatkan wajahnya ke dokumen. “Nomor registrasinya berbeda dari yang ada di laporan ekspedisi.” “Benar.” Caelan menunjuk dua angka yang tercantum di sudut halaman. “Laporan ekspedisi menggunakan nomor temuan. Dokumen ini menggunakan nomor pemindahan. Seharusnya ada dokumen perantara yang menghubungkan keduanya.” “Seharusnya?” “Dalam administrasi yang benar, selalu ada catatan untuk setiap perubahan tanggung jawab.” Ignis memahami maksudnya. Kalau dokumen perantara itu memang pernah ada, seseorang mungkin lupa menyimpannya. Namun, kemungkinan lain juga terbuka: dokumen tersebut dipindahkan, disembunyikan, atau sengaja dihilangkan. Dia tidak boleh langsung memilih kemungkinan yang paling mencurigakan. Dalam kehidupan pertamanya, Ignis telah melihat bagaimana kecurigaan tanpa bukti dapat menjerumuskan seseorang ke keputusan yang salah. “Apakah kode registrasi ini pernah digunakan lagi?” tanyanya. Caelan mengambil buku indeks pengiriman. “Sebentar.” Lembaran demi lembaran dibalik. Beberapa menit berlalu sebelum Caelan menemukan kode yang sama dalam daftar tahun berikutnya. Namun, kali ini kode tersebut merujuk pada sebuah kotak penyimpanan yang sudah tidak aktif. Nama ruang penyimpanannya masih tercatat, tetapi kolom pemindahan terakhir kosong. Caelan mengerutkan kening. “Ini aneh.” “Apa?” “Catatan ini menyatakan bahwa kotak tersebut telah dipindahkan dari fasilitas penyimpanan lama. Namun, tidak ada keterangan mengenai lokasi barunya.” Ignis merasakan ketegangan kecil menjalar di dadanya. Kotak E-17. Dokumen ekspedisi yang hilang. Nama-nama yang berubah. Kini, sebuah pengiriman tanpa penerima yang jelas. Belum ada bukti bahwa semuanya berhubungan. Akan tetapi, semakin banyak catatan yang mereka periksa, semakin sering mereka menemukan ruang kosong pada bagian yang seharusnya paling penting. “Apakah kita bisa meminta akses ke fasilitas itu?” tanya Ignis. “Tidak tanpa izin resmi. Terlebih lagi, beberapa fasilitas lama sekarang berada di bawah administrasi kekaisaran.” “Kalau begitu, kita cari catatan tentang orang yang bertanggung jawab atas pemindahannya.” Caelan mengangguk, tetapi sebelum dia sempat menjawab, seseorang mengetuk pintu. Seorang petugas arsip masuk membawa map tipis. “Tuan Caelan, ini dokumen tambahan dari bagian registrasi pusat yang Anda minta kemarin.” Caelan menerimanya dengan sedikit terkejut. “Cepat sekali.” “Dokumen tersebut termasuk daftar pengiriman yang telah diduplikasi untuk keperluan administrasi. Hanya saja, sebagian lampirannya tidak ditemukan.” Setelah petugas itu pergi, Caelan membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat salinan daftar pengiriman lama dengan beberapa baris yang berbeda dari dokumen sebelumnya. Ignis segera memperhatikan salah satunya. Nomor registrasinya sama. Tanggalnya sama. Namun, pada kolom keterangan, terdapat satu kalimat yang tidak ada dalam salinan pertama. Penerimaan ditunda atas permintaan pihak pemeriksa. Tidak ada nama pihak pemeriksa. Tidak ada tanggal penyelesaian. Dan tidak ada tanda tangan yang menyatakan bahwa benda itu pernah diterima secara resmi. “Berarti benda itu mungkin tidak pernah sampai ke tempat tujuan,” kata Ignis. “Mungkin,” jawab Caelan. “Atau benda itu sampai, tetapi proses penerimaannya tidak dicatat dalam dokumen yang kita miliki.” Ignis menatap kalimat tersebut cukup lama. Dia tidak menemukan jawaban. Dia justru menemukan kemungkinan baru yang harus diuji. Jika benda itu tidak pernah sampai, siapa yang mengambilnya sebelum pengiriman selesai? Jika benda itu sampai, mengapa catatan penerimaannya tidak tersedia? Dan jika seseorang sengaja menghilangkan dokumen tersebut, apa yang membuat sebuah benda temuan ekspedisi layak mendapatkan perlakuan seperti itu? “Caelan.” “Ya?” “Bisakah kita mengetahui siapa yang mengajukan penundaan itu?” Caelan memeriksa bagian bawah dokumen. “Ada kode petugas, tetapi aku belum mengenalinya. Kita harus mencocokkannya dengan daftar pegawai pada tahun yang sama.” Ignis mengangguk. “Kalau begitu, itu langkah berikutnya.” Caelan menutup map dengan hati-hati. “Kau tahu, Ignis, terkadang aku merasa kita sedang menggali sesuatu yang jauh lebih besar daripada urusan arsip biasa.” Ignis tidak langsung menjawab. Dia juga merasakan hal yang sama. Namun, dia tidak akan membiarkan perasaan itu menggantikan bukti. “Kalau memang besar, kita harus lebih teliti,” katanya akhirnya. Caelan tersenyum tipis. “Jawaban yang masuk akal.” --- Malam harinya, Ignis kembali terlelap. Dan seperti malam-malam sebelumnya, dunia di sekelilingnya lenyap. Dia berdiri di hadapan gerbang hitam di alam kutukan. Sembilan garis pada permukaannya berkilau redup, sementara kabut gelap bergerak di antara pilar-pilar yang menjulang. Kali ini, tidak ada makhluk tanpa mata yang muncul. Tidak ada serangan. Hanya keheningan yang terasa seolah sedang menunggu sesuatu. Ignis mendekati gerbang, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya. “Aku menemukan catatan pengiriman,” katanya. “Namun, catatan itu tidak menjelaskan ke mana benda tersebut dibawa.” Dari balik gerbang, terdengar suara yang telah dikenalnya. “Catatan menunjukkan jalan yang diakui.” Ignis mengangkat pandangan. “Dan jalan yang tidak diakui?” Keheningan menyelimuti tempat itu sesaat. “Tidak semua yang berpindah meninggalkan jejak.” Sembilan garis pada gerbang menyala satu demi satu. Kemudian, jauh di balik permukaannya, muncul bayangan samar sebuah ruangan sempit. Rak-rak hitam memenuhi dindingnya. Di tengah ruangan berdiri sebuah meja, dan di atas meja itu terdapat benda yang bentuknya tidak dapat Ignis kenali. Sebelum dia bisa melihat lebih jelas, bayangan tersebut menghilang. “Siapa yang menyimpan benda itu?” desak Ignis. Suara itu tidak menjawab pertanyaannya. “Carilah tangan yang menunda penerimaan.” Gerbang bergetar pelan. “Karena terkadang, pewaris kecil, seseorang tidak perlu mencuri sebuah rahasia.” Kabut hitam merayap ke arah kaki Ignis. “Dia hanya perlu memastikan rahasia itu tidak pernah tercatat telah tiba.” Ignis terbangun dengan napas tertahan. Cahaya bulan menyusup melalui tirai kamarnya. Telapak tangannya terasa dingin, tetapi tidak ada tanda baru yang muncul di sana. Dia duduk di tepi ranjang, memikirkan dokumen yang baru saja diperiksanya. Seseorang telah menunda penerimaan sebuah benda bersegel. Apakah itu tindakan administratif biasa? Ataukah seseorang sedang berusaha memastikan benda tersebut tidak pernah ditemukan kembali? Ignis belum tahu. Namun, untuk pertama kalinya, dia memiliki petunjuk yang dapat diuji di dunia nyata. Besok, dia akan meminta Caelan memeriksa kode petugas yang tercantum pada daftar pengiriman itu. Sebab jika catatan penerimaan tidak dapat dipercaya, maka identitas orang yang menghalanginya mungkin menjadi satu-satunya jejak yang tersisa. Bersambung — Bab 23: Petugas yang Menghilang

End of Chapter 22