Chapter 21 of 70

Bab 21 — Jejak di Ravenport

1.4k words

Surat balasan dari kantor administrasi wilayah tiba tiga hari kemudian. Caelan Voss membacanya dua kali sebelum meletakkannya di atas meja. Ekspresinya tidak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan, tetapi Ignis, yang telah mengenalnya selama beberapa waktu, mulai memahami bahwa wajah tenang sang arsiparis justru sering muncul ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya. “Bagaimana?” tanya Ignis. Caelan mendorong surat itu ke hadapannya. “Permintaan kita diterima. Mereka mengirimkan salinan daftar pegawai dan laporan administrasi yang masih tersimpan.” Ignis membaca surat tersebut. “Lalu?” “Nama Edric Halvern tidak ditemukan dalam daftar pegawai Ravenport.” Ignis mengangkat alis. “Padahal catatan pusat menyebutkan dia dipindahkan ke sana?” “Benar.” “Apakah mereka memeriksa catatan dari tahun yang sama?” “Sudah. Aku juga meminta mereka memeriksa dua tahun sebelum dan sesudahnya.” Ignis meletakkan surat itu kembali. Untuk sesaat, keduanya terdiam. Mereka memiliki dua catatan yang saling bertentangan. Arsip pusat menyatakan Edric dipindahkan ke Ravenport, sedangkan catatan Ravenport tidak mengenali namanya. Namun, pertentangan itu belum membuktikan adanya konspirasi. Bisa saja surat pemindahan tidak pernah dikirim. Bisa saja Edric ditugaskan sementara tanpa dimasukkan ke daftar pegawai setempat. Atau bisa saja catatan Ravenport tidak lengkap. Masalahnya, mereka belum mengetahui kemungkinan mana yang benar. “Apakah ada nama orang yang menggantikannya?” tanya Ignis. Caelan mengangguk dan membuka lembar kedua. “Marlowe tercatat dalam administrasi pusat, tetapi namanya juga tidak ditemukan di Ravenport. Setidaknya, bukan dengan ejaan yang sama.” “Bukan dengan ejaan yang sama?” “Dalam sebuah laporan lama, ada nama Marlowe tanpa nama keluarga. Tidak ada informasi yang cukup untuk memastikan apakah itu orang yang sama.” Ignis menyandarkan punggungnya pada kursi. “Jadi, dua orang tercatat di pusat, tetapi tidak bisa dipastikan pernah bekerja di tempat tujuan mereka.” “Jangan merangkum masalahku dengan cara yang membuatnya terdengar lebih buruk.” “Apakah rangkumanku salah?” Caelan menatapnya. “Sayangnya, tidak sepenuhnya.” Ignis tersenyum kecil. Caelan kemudian mengeluarkan salinan laporan lain. Dokumen itu bukan daftar pegawai, melainkan catatan penerimaan barang dari wilayah utara. Sebagian besar isinya membosankan: perkakas pertanian, bahan bangunan, persediaan makanan, dan barang-barang yang dikirim ke gudang kerajaan. Namun, di bagian bawah halaman, terdapat sebuah entri pendek. Penerimaan sementara: satu objek bersegel, dikirim untuk pemeriksaan lanjutan. Identitas pengirim belum terverifikasi. Tidak ada tanggal yang lengkap. Tidak ada deskripsi objek. Hanya sebuah nomor administrasi yang sebagian tintanya telah memudar. Ignis mendekat. “Nomornya berbeda dari nomor registrasi yang kita temukan sebelumnya.” “Benar,” kata Caelan. “Namun, formatnya sesuai dengan sistem pencatatan wilayah utara pada masa itu.” “Bisakah nomor ini ditelusuri?” “Aku sedang mencobanya.” Caelan membalik lembar berikutnya. Di sana terdapat catatan kecil yang ditambahkan oleh petugas lain beberapa tahun kemudian. Berkas pendukung tidak ditemukan. Lihat daftar pengiriman lama. Ignis membaca kalimat itu sekali lagi. Daftar pengiriman lama. Petunjuk baru, sekaligus kemungkinan jalan buntu lainnya. --- Mereka menghabiskan sebagian besar pagi untuk membandingkan dokumen yang tersedia. Caelan bekerja dengan teliti, mencocokkan format nomor, tanggal, serta nama pejabat yang bertanggung jawab. Ignis membantunya membaca catatan yang ditulis dengan gaya lama, meskipun ia harus menahan diri agar tidak memperlihatkan bahwa beberapa istilah tersebut sudah dikenalnya dari kehidupan pertama. Pada akhirnya, mereka menemukan satu kesamaan. Semua dokumen yang berkaitan dengan objek bersegel menunjuk pada sebuah kantor pengiriman di wilayah utara. Nama kantor itu masih tercatat dalam arsip pusat. Kantor Pengiriman Valdren. Kantor tersebut bertugas menerima barang temuan, laporan penjelajah, dan benda-benda yang dianggap memiliki nilai sejarah atau potensi bahaya. Setelah diperiksa, barang tertentu akan dikirim ke pusat administrasi untuk ditangani oleh pihak yang lebih berwenang. “Kalau begitu, Edric mungkin bekerja di sini sebelum dipindahkan,” kata Ignis. “Mungkin,” jawab Caelan. “Atau dia hanya menjadi pejabat yang bertanggung jawab atas salah satu pengiriman.” “Bisakah kita mendapatkan catatan kantornya?” “Jika masih ada, catatan itu mungkin disimpan oleh administrasi wilayah atau keluarga mantan pegawainya.” Ignis mengamati nama kantor tersebut. Ia teringat suara yang didengarnya dalam dunia kutukan. Cari tangan yang menerima. Bukan hanya tangan yang menemukan. Kantor Pengiriman Valdren bisa menjadi tempat mereka menemukan identitas orang yang pertama kali menerima benda itu. Namun, untuk mencapainya, mereka memerlukan izin perjalanan dan alasan yang masuk akal. Ignis masih berusia delapan tahun. Ia tidak bisa pergi ke wilayah utara hanya karena sebuah catatan lama membuatnya penasaran. “Aku akan meminta izin kepada ayahku untuk melakukan penelitian lanjutan,” katanya. Caelan menghentikan penanya. “Kau ingin meminta izin pergi ke wilayah utara?” “Tidak. Setidaknya, belum.” “Syukurlah.” “Aku ingin meminta izin memeriksa arsip pusat yang menyimpan daftar pengiriman lama.” Caelan berpikir sejenak. “Itu lebih masuk akal. Tetapi kau harus menjelaskan alasan penelitianmu tanpa menyebutkan benda yang kita temukan di Ruang Arsip Timur sebagai sesuatu yang sudah terbukti berkaitan dengan objek bersegel.” “Aku mengerti.” “Dan jangan membuat cerita yang terlalu rumit.” Ignis mengangguk dengan wajah serius. “Aku akan membuatnya sederhana.” Caelan tampak sedikit lega. Lalu Ignis menambahkan, “Aku hanya akan mengatakan bahwa aku ingin mengetahui mengapa tiga nama dalam daftar ekspedisi berbeda dari catatan awal.” Caelan menutup mata sesaat. “Entah mengapa, aku merindukan masa ketika tugas terberatku hanyalah menyusun buku.” --- Pada sore harinya, Ignis menemui Alistair Pendragon di ruang kerjanya. Ayahnya sedang memeriksa beberapa laporan wilayah ketika Ignis masuk. Alistair mengangkat wajah, lalu memberi isyarat agar putranya mendekat. “Ada yang kau butuhkan?” “Aku ingin meminta izin memeriksa arsip pusat.” Alistair meletakkan dokumennya. “Untuk apa?” Ignis telah mempersiapkan jawaban itu. “Aku menemukan beberapa catatan lama yang tidak cocok satu sama lain. Daftar anggota ekspedisi utara memiliki perbedaan nama, dan aku ingin mengetahui apakah perbedaan itu berasal dari kesalahan pencatatan atau perubahan administrasi.” Alistair memperhatikan putranya cukup lama. “Kau masih memikirkan catatan yang ditemukan bersama Caelan?” “Ya.” “Apakah kau menemukan sesuatu yang membuktikan bahwa perbedaan tersebut disengaja?” “Belum.” Jawaban itu membuat Alistair mengangguk kecil. “Bagus. Jangan memutuskan seseorang bersalah hanya karena catatannya tidak lengkap.” Ignis terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi mengingatkannya pada banyak hal yang telah ia simpulkan terlalu cepat dalam kehidupan pertamanya. Alistair melanjutkan, “Aku bisa mengirim permintaan resmi kepada pengelola arsip pusat. Namun, pemeriksaan dokumen lama membutuhkan waktu. Kau tidak boleh mengganggu tugas mereka hanya karena ingin mendapatkan jawaban segera.” “Aku mengerti, Ayah.” “Dan satu lagi.” Ignis menunggu. “Jangan lupa bahwa kau masih harus berlatih. Aku mendengar laporan Garrick bahwa kemampuan bertahanmu mulai membaik, tetapi kau masih terlalu sering kehilangan keseimbangan.” Ignis hampir menghela napas. Bahkan penyelidikan sejarah pun tidak bisa menyelamatkannya dari jadwal latihan. “Baik, Ayah.” Alistair tersenyum tipis. “Kalau begitu, pergilah. Aku akan mengurus suratnya.” Ignis membungkuk sebelum meninggalkan ruangan. Setidaknya, satu langkah berikutnya kini terbuka tanpa harus melanggar aturan keluarga. --- Malam itu, kutukan kembali membawanya ke dunia yang tidak mengenal matahari. Sembilan pilar berdiri di kejauhan. Permukaan gerbang batu tampak lebih gelap daripada biasanya. Ignis berjalan mendekat. “Apakah Kantor Pengiriman Valdren adalah tempat benda itu pertama kali diterima?” Keheningan menyambutnya. Ia tidak berharap mendapat jawaban langsung, tetapi tetap mencoba. “Apakah Edric Halvern pernah melihatnya?” Tidak ada suara. Ignis mendecakkan lidah. “Kau selalu memberiku pertanyaan baru, tetapi tidak pernah menjawab pertanyaanku.” Kegelapan di balik gerbang beriak. “Tidak semua pintu dapat dibuka dengan nama.” Ignis menatap permukaan batu. “Lalu dengan apa?” “Dengan alasan mengapa pintu itu ditutup.” Sebuah garis tipis muncul di gerbang, membentuk lengkungan yang belum sempurna. Di bawahnya, dua bentuk menyerupai sayap terlihat sesaat sebelum kembali memudar. Ignis mengamati lambang tersebut. “Apakah ini berhubungan dengan perjanjian itu?” Suara itu tidak menjawab. Sebaliknya, ia berkata, “Jangan mengira setiap orang yang hilang telah diambil.” Ignis terdiam. Kalimat itu berbeda dari peringatan-peringatan sebelumnya. Jangan mengira setiap orang yang hilang telah diambil. Apakah Edric pergi atas kemauannya sendiri? Apakah ia meninggalkan tugasnya karena suatu alasan? Atau apakah suara itu sedang membicarakan seseorang yang sama sekali berbeda? Ignis tidak bisa memastikan. Sebelum ia sempat mengajukan pertanyaan lain, rasa sakit menusuk dadanya. Sembilan pilar bergetar, dan gerbang batu perlahan menjauh seolah ditarik ke dalam jurang. Ia terbangun di kamarnya. Napasnya berat, tetapi rasa sakit itu segera mereda. Ignis mengambil buku catatan yang selalu disimpannya di dekat tempat tidur. Ia menuliskan dua hal. Kantor Pengiriman Valdren. Jangan mengira setiap orang yang hilang telah diambil. Setelah itu, ia menutup buku tersebut. Besok, ia akan melanjutkan penyelidikan bersama Caelan. Mereka akan mencari daftar pengiriman lama dan mencoba memastikan siapa yang pertama kali menerima objek bersegel. Namun, untuk pertama kalinya, Ignis mempertimbangkan kemungkinan yang sebelumnya tidak ia pikirkan. Bagaimana jika hilangnya seseorang bukanlah bukti bahwa orang itu dibungkam? Bagaimana jika seseorang justru memilih menghilang karena mengetahui sesuatu yang tidak ingin ia bawa ke dalam kehidupan orang lain? Ia belum memiliki jawaban. Dan ia tidak akan membiarkan satu kalimat misterius mengubah dugaan menjadi kebenaran. Bersambung. Bab 22 — Daftar Pengiriman Lama: Permintaan resmi Alistair membuka akses menuju catatan pengiriman yang lebih tua. Di antara nomor-nomor yang hampir tidak terbaca, Caelan menemukan sebuah tanda yang menghubungkan objek bersegel dengan dokumen yang seharusnya tidak pernah masuk ke arsip keluarga Pendragon.

End of Chapter 21