Chapter 20 of 70
Bab 20 — Tangan yang Menerima
1.3k words
Pagi itu, Caelan Voss datang membawa kabar yang tidak sepenuhnya menyenangkan.
Ignis sedang duduk di ruang baca kecil, berpura-pura mempelajari buku sejarah yang terbuka di hadapannya. Di balik halaman yang sama selama hampir sepuluh menit, pikirannya justru sibuk memikirkan surat perintah ekspedisi utara.
“Dokumen penerimaan yang kita cari belum ditemukan,” kata Caelan tanpa basa-basi.
Ignis mengangkat pandangan.
“Belum ditemukan, atau memang tidak ada?”
“Itulah masalahnya. Katalog menyebutkan bahwa surat penerimaan pernah dibuat, tetapi nomor dokumennya tidak mengarah ke berkas yang bisa diperiksa.”
Caelan meletakkan selembar kertas di atas meja.
“Aku menemukan catatan silang. Nomor registrasi itu terhubung dengan seorang pejabat administrasi wilayah utara bernama Edric Halvern.”
Ignis mengamati nama tersebut.
“Apakah dia yang menerima benda itu?”
“Belum tentu. Catatan hanya menyebutkan bahwa dia bertanggung jawab mengurus pengiriman barang temuan dari wilayah tersebut. Kita belum tahu apakah dia melihat benda itu secara langsung.”
“Lalu apa yang terjadi kepadanya?”
Caelan terdiam sejenak.
“Catatan pekerjaannya berakhir pada tahun yang sama dengan ekspedisi.”
Ignis menutup bukunya.
“Dia meninggal?”
“Aku tidak menemukan catatan kematian.”
“Pensiun?”
“Tidak ada catatan pensiun.”
“Pindah tugas?”
“Tidak ada catatan pemindahan.”
Ignis menatapnya beberapa detik.
“Sepertinya administrasi kerajaan memiliki bakat khusus untuk kehilangan orang.”
Caelan mengusap pangkal hidungnya.
“Jangan membuatku menyesali keputusanku membawamu ke sini.”
“Aku hanya menyampaikan pengamatan.”
“Pengamatanmu tidak membantu.”
Meskipun begitu, Caelan tidak menyuruhnya pergi.
Ia membuka buku catatannya dan menjelaskan bahwa nama Edric masih muncul dalam daftar pembayaran selama beberapa bulan setelah ekspedisi. Setelah itu, semua rujukan terhadapnya berhenti.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada dokumen penutup.
Hanya sebuah nama yang perlahan menghilang dari catatan resmi.
Ignis mengenali pola tersebut.
Dalam kehidupan pertamanya, ia telah membaca banyak laporan sejarah yang tampak lengkap sampai seseorang membandingkannya dengan sumber lain. Beberapa kesalahan hanyalah kesalahan. Beberapa berasal dari dokumen yang rusak.
Namun, tiga nama yang berubah dalam catatan ekspedisi, sebuah lampiran yang hilang, dan seorang pejabat yang tidak memiliki catatan akhir mulai membentuk rangkaian pertanyaan yang sulit diabaikan.
Tetapi ia tidak boleh menganggap semuanya saling berkaitan hanya karena terjadi pada masa yang berdekatan.
“Bagaimana cara menemukan tempat tugas terakhirnya?” tanya Ignis.
“Aku akan memeriksa daftar pembayaran dan penempatan pegawai. Kalau beruntung, kita bisa menemukan alamat kantor atau wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.”
“Kalau tidak beruntung?”
“Kita akan mencari cara lain.”
Ignis tersenyum tipis.
“Kau memang suka jawaban itu.”
“Karena jawaban itu biasanya benar.”
---
Penyelidikan mereka tertunda sampai siang.
Caelan membutuhkan izin untuk memeriksa catatan administrasi yang lebih tua, sedangkan Ignis harus menghadiri pelajaran bersama Garrick. Ia tidak bisa terus-menerus berkeliaran di perpustakaan tanpa menimbulkan kecurigaan.
Garrick sudah menunggunya di halaman latihan ketika Ignis tiba.
“Kau terlambat tiga menit.”
“Maaf, aku sedang membaca.”
“Buku tidak akan lari.”
“Justru itu sebabnya aku berani meninggalkannya.”
Garrick mengangkat alis.
Ignis segera mengambil pedang kayunya.
Latihan hari itu berfokus pada pertahanan. Garrick berulang kali menyerang dari sudut berbeda, memaksa Ignis menyesuaikan posisi kakinya. Setiap kali Ignis mencoba mengandalkan ingatan tentang teknik tingkat tinggi, tubuh kecilnya gagal mengikuti perhitungan tersebut.
Pada percobaan ketujuh, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk.
Garrick mengulurkan tangan.
“Berdiri.”
Ignis menerima bantuannya.
“Aku tahu apa yang seharusnya kulakukan,” katanya sambil membersihkan debu dari bajunya.
“Mengetahui dan mampu melakukannya adalah dua hal berbeda.”
“Aku mulai menyadarinya.”
“Bagus. Sekarang berhenti memikirkan bagaimana caranya menang dalam satu gerakan. Pelajari bagaimana caranya tidak kalah.”
Kalimat itu membuat Ignis terdiam.
Dalam kehidupan pertamanya, ia terlalu sering bertahan dengan cara memaksa dirinya melewati batas. Kutukan telah mengajarinya bahwa rasa sakit bisa ditahan. Pengalaman telah mengajarinya bahwa pengorbanan terkadang diperlukan.
Tetapi ia juga tahu berapa mahal harga dari kebiasaan itu.
Kali ini, ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Ignis mengangkat pedangnya.
“Sekali lagi.”
Garrick mengangguk.
Latihan berlanjut sampai matahari mulai condong ke barat.
---
Menjelang sore, Caelan akhirnya memperoleh izin untuk memeriksa daftar penempatan pegawai.
Ia memanggil Ignis ke ruang baca dan membentangkan beberapa salinan catatan di atas meja.
“Aku menemukan sesuatu.”
Ignis mendekat.
“Edric Halvern tercatat bertugas di kantor pengiriman wilayah utara sebelum ekspedisi. Setelah pengiriman objek bersegel, ia dipindahkan ke sebuah pos administrasi kecil di luar ibu kota kerajaan.”
“Nama posnya?”
“Ravenport.”
Ignis menyimpan nama itu dalam ingatan.
Caelan menunjuk catatan berikutnya.
“Namun, ada kejanggalan. Penempatannya dicatat berlaku selama enam bulan. Setelah itu, namanya tidak muncul lagi dalam daftar pembayaran.”
“Dan tidak ada catatan pemindahan?”
“Tidak ada.”
“Bagaimana dengan orang yang menggantikannya?”
Caelan mengeluarkan lembar lain.
“Seorang pegawai bernama Marlowe mengambil alih tugasnya. Tetapi dokumen pengangkatan Marlowe bertanggal dua minggu sebelum penempatan Edric secara resmi berakhir.”
Ignis menyipitkan mata.
“Itu bisa berarti pergantian tugas lebih awal.”
“Benar. Bisa juga ada kesalahan pencatatan. Kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa sesuatu terjadi kepadanya.”
Caelan tampak tidak puas dengan ketidakpastian itu, tetapi ia tetap menulis kedua kemungkinan tersebut di buku catatannya.
Ignis menghargai sikap tersebut.
“Apakah Ravenport masih ada?”
“Setahuku, pos itu sudah tidak digunakan. Namun, wilayahnya masih dihuni penduduk.”
“Kalau begitu, mungkin ada catatan lokal.”
“Mungkin,” jawab Caelan. “Tetapi kita tidak bisa begitu saja pergi ke sana. Kau masih anak berusia delapan tahun, dan aku bukan pengawal yang bisa membawamu melintasi wilayah kerajaan tanpa izin.”
Ignis menghela napas.
Ia sudah memperkirakan jawaban itu.
“Aku tidak mengatakan kita harus pergi sekarang.”
“Bagus.”
“Kita bisa meminta salinan laporan wilayah.”
Caelan berhenti menulis.
Kemudian ia menatap Ignis dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Itu... sebenarnya ide yang masuk akal.”
“Aku senang akhirnya kita sepakat.”
“Jangan merusaknya dengan kesombongan.”
Caelan menyusun dokumen-dokumen tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam map.
Sebelum mereka berpisah, ia menambahkan satu hal.
“Ada kemungkinan laporan Ravenport tidak pernah sampai ke arsip pusat. Kalau begitu, kita perlu mencari orang yang pernah bekerja bersama Edric.”
Ignis mengangguk.
Tangan yang menerima benda itu mungkin bukan tangan terakhir yang menyentuhnya.
Tetapi sekarang, mereka memiliki nama, jabatan, dan tempat terakhir yang diketahui.
Untuk pertama kalinya, penyelidikan mereka tidak hanya berputar di sekitar lambang dan kalimat misterius. Mereka mulai menelusuri kehidupan orang-orang yang pernah berada di dekat kejadian tersebut.
Dan manusia meninggalkan jejak yang berbeda dari benda.
Mereka memiliki keluarga, rekan kerja, kebiasaan, serta keputusan yang mungkin masih diingat seseorang meskipun dokumennya telah hilang.
---
Malam tiba.
Ignis tertidur, lalu kembali berdiri di hadapan sembilan pilar dalam dunia kutukannya.
Kali ini, tidak ada gerbang yang terbuka.
Tidak ada tulisan baru di lantai.
Hanya keheningan yang terasa lebih berat daripada biasanya.
“Edric Halvern,” ucap Ignis.
Nama itu menggema di antara pilar-pilar.
“Apakah dia mengetahui sesuatu tentang perjanjian itu?”
Kegelapan di seberang ruangan bergerak seperti permukaan air yang disentuh angin.
“Orang yang menerima sebuah rahasia belum tentu memahami isinya.”
“Apakah dia masih hidup?”
Tidak ada jawaban.
Ignis mengepalkan tangan.
“Setidaknya berikan aku sesuatu yang bisa digunakan.”
Suara itu akhirnya terdengar.
“Jejak bukanlah tujuan.”
“Kalau begitu, apa tujuannya?”
“Mengetahui mengapa seseorang memilih untuk menyimpan sesuatu.”
Pilar kesembilan bergetar.
Untuk sesaat, Ignis melihat bayangan sebuah ruangan sempit. Sebuah meja kayu, lemari besi, dan sosok yang berdiri membelakanginya. Di tangan sosok itu terdapat benda kecil berwarna hitam.
Lalu penglihatan itu lenyap.
Ignis terhuyung, menahan rasa sakit yang merambat dari dadanya.
Ketika ia kembali mengangkat kepala, sembilan pilar telah menjadi sunyi.
Ia terbangun di kamarnya dengan napas berat.
Beberapa saat kemudian, ia mengambil buku catatan dan menulis kalimat yang baru didengarnya.
Mengetahui mengapa seseorang memilih untuk menyimpan sesuatu.
Ia berhenti, lalu menambahkan nama Edric Halvern di bawahnya.
Mungkin pejabat itu tidak pernah mengetahui arti benda bersegel yang diterimanya.
Mungkin ia mengetahui sesuatu, tetapi menganggapnya tidak penting.
Atau mungkin ia memahami cukup banyak untuk memutuskan bahwa benda tersebut tidak boleh diserahkan kepada orang berikutnya.
Ignis menutup buku catatannya.
Besok, ia akan melanjutkan penyelidikan bersama Caelan.
Untuk sekarang, ia memiliki satu petunjuk baru dan tiga kemungkinan yang belum bisa dibuktikan.
Ia tidak akan memilih salah satunya hanya karena paling sesuai dengan harapannya.
Kali ini, ia akan membiarkan kebenaran datang melalui jejak yang benar-benar bisa ia temukan.
Bersambung.
Bab 21 — Jejak di Ravenport: Permintaan salinan laporan wilayah membuka sebuah masalah baru. Nama Edric Halvern ternyata tidak hanya menghilang dari catatan administrasi, tetapi juga tidak tercantum dalam daftar pegawai yang pernah bertugas di Ravenport.