Chapter 19 of 70

Bab 19 — Sebelum Ekspedisi Utara

1.7k words

Caelan Voss tidak menyukai angka yang tidak memiliki penjelasan. Baginya, sebuah angka dalam katalog bukan sekadar deretan simbol. Angka itu menunjukkan tempat sebuah dokumen seharusnya berada, siapa yang pernah memeriksanya, dan bagaimana dokumen tersebut terhubung dengan catatan lain. Karena itu, nomor referensi yang ditemukan pada salinan inventaris ekspedisi utara telah mengganggu pikirannya sejak pagi. Nomor itu tidak cocok dengan sistem katalog keluarga Pendragon yang digunakan sekarang. Namun, ketika ia memeriksanya menggunakan sistem pencatatan lama, ia menemukan sebuah entri yang membuatnya berhenti membalik halaman. Persiapan Ekspedisi Utara — Daftar Barang dan Surat Perintah. Tanggalnya tercatat tiga bulan sebelum ekspedisi berangkat. Caelan segera mengambil buku catatan, lalu menuliskan nomor referensi tersebut. “Kalau dokumen ini masih ada, seharusnya tersimpan di bagian administrasi lama,” gumamnya. “Apakah kau sedang berbicara dengan angka lagi?” Suara itu membuat Caelan menoleh. Ignis berdiri di pintu perpustakaan, membawa dua buku yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang masih kecil. “Angka setidaknya tidak mengajukan pertanyaan yang tidak perlu,” jawab Caelan. “Kalau begitu, aku akan mencoba menjadi lebih mirip angka.” “Mulailah dengan tidak menggangguku selama lima menit.” Ignis meletakkan buku-bukunya di meja. “Boleh. Tapi setelah lima menit, aku akan mengganggumu lagi.” Caelan menghela napas panjang. Entah mengapa, ia mulai memahami mengapa para pengajar keluarga Pendragon sering terlihat kelelahan setelah menghabiskan waktu bersama anak itu. Namun, ia tetap menggeser buku catatannya agar Ignis dapat melihat. “Aku menemukan nomor referensi untuk dokumen yang dibuat sebelum ekspedisi utara.” Perhatian Ignis langsung berubah. “Bukan catatan setelah ekspedisi?” “Benar. Dokumen persiapan.” “Berarti kita mungkin bisa mengetahui apa yang sebenarnya mereka cari sebelum berangkat.” “Jika dokumennya masih lengkap.” Ignis mempelajari nomor yang ditulis Caelan. “Dan jika tidak ada perubahan lain di dalamnya.” Caelan menatapnya. “Kau mulai terdengar seperti arsiparis.” “Aku menganggapnya pujian.” “Jangan terlalu cepat.” --- Mereka memperoleh izin untuk memeriksa bagian administrasi lama pada siang hari. Berbeda dari Ruang Arsip Timur, ruangan ini tidak berada di bawah tanah. Letaknya di sayap barat kediaman, di balik kantor lama yang kini digunakan untuk menyimpan perlengkapan administrasi yang jarang dipakai. Di dalamnya terdapat lemari kayu, kotak dokumen, serta beberapa rak yang dipenuhi map berlabel tahun. Caelan memeriksa daftar penyimpanan terlebih dahulu. “Menurut katalog, dokumen persiapan ekspedisi seharusnya berada di lemari ketiga.” Ia membuka lemari itu dan mulai mencari. Ignis berdiri di sampingnya, membaca label pada setiap kotak. Mereka menemukan catatan anggaran, daftar perlengkapan, surat mengenai persediaan makanan, dan beberapa laporan mengenai kondisi jalan menuju utara. Namun, dokumen yang mereka cari tidak ada. Caelan memeriksa katalog sekali lagi. “Seharusnya ada di sini.” “Apakah mungkin dipindahkan?” “Mungkin. Tetapi tidak ada catatan pemindahan.” Ignis tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan bagian bawah lemari. Debu menumpuk di sepanjang tepi kayu, kecuali pada sebuah kotak tipis yang tampak lebih bersih daripada kotak lainnya. “Caelan.” “Hm?” “Apakah kotak itu termasuk dalam daftar?” Caelan mengikuti arah pandangannya. Kotak tersebut tidak memiliki label tahun. Hanya ada nomor kecil yang ditulis dengan tinta hitam di sisi kanan. Sang arsiparis mengambil katalog, lalu memeriksa nomor itu. “Tidak tercatat.” “Lagi?” “Jangan terdengar terlalu senang.” Caelan mengangkat kotak tersebut ke atas meja. Ia memeriksa bagian luarnya untuk memastikan tidak ada kerusakan sebelum membuka penutupnya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar perkamen yang diikat dengan pita kusam. Tidak ada benda ajaib. Tidak ada lambang aneh yang bersinar. Hanya dokumen-dokumen lama yang mungkin telah diletakkan di sana oleh seseorang yang lupa mencatat pemindahannya. Caelan membuka ikatannya. Lembar pertama berisi daftar perlengkapan ekspedisi. Lembar kedua memuat nama-nama anggota rombongan. Lembar ketiga adalah surat perintah yang telah kehilangan sebagian tepinya. Ignis membaca bagian yang masih utuh. ...atas persetujuan Dewan Penjelajah, rombongan akan melakukan pemeriksaan terhadap reruntuhan yang ditemukan di wilayah utara... Ia berhenti pada kalimat berikutnya. Tujuan utama bukan penggalian harta, melainkan pengamanan benda yang ditemukan oleh penduduk setempat. Ignis mengangkat wajah. “Benda yang ditemukan penduduk setempat?” Caelan membaca kalimat tersebut dengan lebih teliti. “Sepertinya begitu. Berarti ekspedisi itu mungkin tidak berangkat untuk mencari reruntuhan sejak awal.” Mereka melanjutkan membaca. Bagian berikutnya menyebutkan bahwa sebuah benda telah diserahkan kepada pejabat wilayah oleh sekelompok penjelajah yang tidak disebutkan namanya. Benda itu kemudian dikirim ke pusat administrasi untuk diperiksa. Tidak ada keterangan mengenai bentuknya. Tidak ada nama penemu. Hanya sebuah istilah yang digunakan untuk menggolongkannya. Objek bersegel. Ignis menatap dua kata tersebut. “Kepingan logam di bawah lantai itu mungkin bagian dari benda yang sama.” “Mungkin,” jawab Caelan. “Tetapi kita belum memiliki bukti bahwa objek dalam surat ini adalah kepingan yang kita temukan.” “Bisakah kita mencari catatan penerimaannya?” “Nomor registrasinya tercantum di sini.” Caelan mencatat nomor itu, lalu memeriksa lembar berikutnya. Namun, surat tersebut tidak menjelaskan apa yang terjadi setelah objek bersegel tiba di pusat administrasi. Catatan berakhir di sana. Sekali lagi, mereka mendekati jawaban hanya untuk menemukan bagian kosong di tengahnya. --- Ada sesuatu yang berbeda pada daftar anggota ekspedisi. Ignis menyadarinya ketika Caelan membentangkan surat perintah di samping dua versi inventaris yang mereka periksa sebelumnya. Daftar awal mencantumkan dua belas nama. Daftar setelah ekspedisi juga mencantumkan dua belas nama. Tetapi surat perintah ini hanya menyebutkan sembilan anggota. Tiga nama yang tidak tercantum pada daftar awal justru muncul di surat perintah, sedangkan tiga nama yang kemudian menghilang baru ditambahkan dalam dokumen setelah ekspedisi selesai. Caelan memeriksa tanggalnya dengan saksama. “Ini aneh.” Ignis mengangguk. “Surat perintah dibuat sebelum keberangkatan. Daftar awal dibuat mendekati hari keberangkatan. Lalu daftar setelah ekspedisi mencatat dua belas orang lagi.” “Artinya, ada tiga orang yang mungkin bergabung di antara waktu pembuatan surat dan keberangkatan.” “Atau ada perubahan lain yang tidak dicatat.” Caelan mengangguk pelan. “Benar. Kita tidak bisa menyebutnya penghapusan nama sebelum mengetahui siapa yang benar-benar ikut.” Ignis menyukai jawaban itu. Bukan karena jawabannya memberi kepastian, melainkan karena Caelan tidak membiarkan dugaan berubah menjadi fakta hanya karena pola dokumennya terlihat mencurigakan. Mereka membutuhkan daftar perjalanan, laporan harian, atau catatan saksi. Tanpa itu, nama-nama tersebut hanyalah bagian dari sebuah teka-teki. “Bisakah kita mencari catatan dari pejabat wilayah yang mengirim objek itu?” tanya Ignis. Caelan menunjuk nomor registrasi pada surat perintah. “Nomor ini seharusnya mengarah ke surat penerimaan awal. Aku akan mengajukan permintaan pemeriksaan.” “Dan jika suratnya tidak ada?” “Kalau begitu, kita mencari sumber lainnya.” Ignis mengangguk. Ia tidak menyukai penantian, tetapi kali ini ia mulai memahami manfaatnya. Ia tidak perlu mengetahui semuanya hari ini. Ia hanya perlu memastikan bahwa besok ia memiliki satu pertanyaan yang lebih tepat daripada hari ini. --- Sore harinya, Ignis berlatih di halaman belakang bersama Garrick. Ia memegang pedang kayu dengan kedua tangan, sementara Garrick berdiri di hadapannya. “Serang.” Ignis maju dan mengayunkan pedangnya. Garrick menangkis dengan mudah. “Lagi.” Ignis mencoba dari sisi berbeda. Serangannya kembali ditahan. “Lagi.” Kali ini, Ignis mengubah langkahnya di tengah gerakan, mencoba memanfaatkan celah yang muncul ketika Garrick memindahkan berat badan. Namun, Garrick sudah mengantisipasinya. Pedang kayu menyentuh bahu Ignis. “Satu poin.” Ignis mundur sambil mengatur napas. “Apakah kau selalu membaca gerakanku?” “Tidak.” “Rasanya seperti itu.” “Karena kau selalu berpikir tiga langkah lebih jauh, tetapi lupa memeriksa langkah pertamamu.” Garrick menurunkan pedangnya. “Teknik yang rumit tidak akan menyelamatkanmu jika dasar gerakanmu buruk. Kau harus tahu kapan menyerang, kapan bertahan, dan kapan berhenti.” Ignis menatap pedangnya. Ia teringat semua catatan yang telah dibacanya. Setiap dokumen memberinya kemungkinan baru, tetapi tidak satu pun memberi jawaban lengkap. Mungkin pencariannya juga membutuhkan prinsip yang sama. Ia harus mengetahui kapan melanjutkan dan kapan berhenti sebelum dugaan menguasai penilaiannya. “Sekali lagi,” katanya. Garrick mengangkat pedangnya. Kali ini, Ignis tidak mencoba merencanakan tiga gerakan sekaligus. Ia memperhatikan posisi kaki Garrick, jarak di antara mereka, dan arah pedang lawannya. Ketika kesempatan muncul, Ignis menyerang dengan gerakan sederhana. Pedang mereka beradu. Untuk pertama kalinya dalam latihan itu, Garrick harus menggeser kaki belakangnya untuk mempertahankan keseimbangan. Bukan kemenangan. Tetapi kemajuan. “Lebih baik,” kata Garrick. Ignis tersenyum. “Sepertinya aku mulai memahami pelajarannya.” “Jangan terlalu bangga. Kau masih kalah.” “Setidaknya aku kalah dengan lebih terhormat.” Garrick mendengus. “Kalau kau terus berbicara, aku akan memastikan kau kalah lebih cepat.” Ignis segera mengangkat pedangnya kembali. --- Malam itu, kutukan membawanya ke tempat yang sama. Sembilan pilar. Gerbang batu. Kegelapan tanpa ujung. Namun, kali ini Ignis tidak langsung mencari tulisan MEMORIA. Ia berdiri di tengah ruang, memikirkan objek bersegel yang disebut dalam surat perintah. “Apakah benda yang kutemukan merupakan bagian dari objek bersegel?” tanyanya. Tidak ada jawaban. Ia menunggu. Kemudian suara itu muncul dari balik gerbang. “Benda yang tersisa tidak selalu merupakan benda yang dicari.” Ignis mengerutkan kening. “Jadi, bukan benda yang sama?” “Aku tidak mengatakan demikian.” Ignis menghela napas. “Kalau kau sengaja menjawab seperti ini untuk membuatku kesal, ketahuilah bahwa kau berhasil.” Tidak ada respons. Ia hampir menganggap percakapan itu berakhir ketika suara tersebut kembali terdengar. “Cari tangan yang menerima. Bukan hanya tangan yang menemukan.” Ignis terdiam. Tangan yang menerima. Pejabat wilayah yang menerima benda dari para penjelajah? Petugas pusat administrasi yang menerima kiriman? Atau seseorang yang memindahkan kepingan logam ke ruang arsip? Kalimat itu membuka kemungkinan baru, tetapi tidak menentukan jawaban. “Siapa yang menerima benda tersebut?” Kegelapan bergetar pelan. “Nama yang kau cari belum tentu nama yang tercatat.” Gerbang menutup dengan bunyi berat. Ignis terbangun beberapa saat kemudian, napasnya sedikit memburu. Ia duduk di tepi ranjang dan segera mencatat dua kalimat yang masih diingatnya. Cari tangan yang menerima. Nama yang kau cari belum tentu nama yang tercatat. Ia menatap tulisan tersebut cukup lama. Mungkin ia harus berhenti berfokus pada benda itu sendiri. Jika objek bersegel benar-benar dikirim dari wilayah utara, seseorang pasti menerimanya. Seseorang memeriksanya, memindahkannya, atau memutuskan ke mana benda tersebut harus dibawa. Dan setiap keputusan seharusnya meninggalkan jejak. Kecuali jika catatan itu tidak pernah dibuat, rusak, atau belum ditemukan. Ignis menutup buku catatannya. Untuk saat ini, ia akan menunggu hasil pemeriksaan Caelan. Namun, ia tidak akan melupakan satu hal. Kebenaran tentang masa lalu mungkin tidak hanya tersembunyi di balik simbol dan benda kuno. Terkadang, kebenaran bersembunyi dalam keputusan kecil seseorang yang namanya bahkan tidak pernah dianggap penting oleh sejarah. Bersambung. Bab 20 — Tangan yang Menerima: Penyelidikan terhadap nomor registrasi membawa Caelan pada nama seorang pejabat yang telah lama menghilang dari catatan keluarga. Namun, sebelum mereka dapat menelusuri jejaknya, Ignis harus menghadapi perubahan kecil yang mulai muncul dalam kehidupan sehari-harinya.

End of Chapter 19