Chapter 1 of 70

Bab 1 — Kematian Sang Pewaris

1.8k words

PENDRAGON: THE HEIR BOUND TO HELL Di dasar jurang terdalam di dunia, seorang pria berlutut di antara reruntuhan. Hujan abu turun dari langit yang tak pernah memperlihatkan matahari. Tebing-tebing hitam menjulang seperti taring raksasa, sementara retakan di tanah memancarkan cahaya merah redup. Udara dipenuhi bau darah, batu terbakar, dan sisa-sisa energi yang cukup kuat untuk membuat penyihir biasa kehilangan akal. Pria itu berusia tiga puluh lima tahun. Rambut putih keperakannya telah kusut dan ternoda darah. Wajahnya masih menyimpan ketampanan khas bangsawan, tetapi garis-garis kelelahan tampak jelas di sekitar matanya. Tubuhnya dipenuhi luka, beberapa begitu dalam hingga darah terus merembes melewati pakaian hitamnya. Di tangan kanannya, sebuah sabit besar tertancap di tanah untuk menopang tubuhnya. Ignis Pendragon mengangkat kepala. Di hadapannya terbaring makhluk raksasa dengan sembilan tanduk yang menjulang seperti menara patah. Sisiknya yang hitam perlahan kehilangan cahaya, dan setiap tarikan napas terakhirnya membuat tanah bergetar. Bahemod. Bencana yang konon mampu menelan sebuah benua. Makhluk yang telah menjadi mimpi buruk bagi para penjelajah selama berabad-abad itu akhirnya tumbang. Ignis menatap bangkainya dalam diam. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak ia memasuki The Worldscar pada usia dua puluh lima tahun. Sepuluh tahun melawan monster, menembus reruntuhan peradaban kuno, dan mempertaruhkan nyawanya demi satu tujuan. Menemukan cara untuk mematahkan kutukannya. Ia telah kehilangan rekan seperjalanan. Menghabiskan harta yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Berkali-kali nyaris mati di tempat yang bahkan tidak berani dipetakan oleh kerajaan mana pun. Namun, ia terus berjalan. Sebab setiap kali ia tidur, neraka menunggunya. Kutukan yang diwariskan kepada seorang jenius terpilih dari keluarga Pendragon setiap seratus tahun sekali telah menjadikan hidupnya sebuah siklus penderitaan. Setiap malam, jiwanya seolah diseret ke alam yang tak dikenal. Di sana, ia mengalami siksaan yang tak mampu dijelaskan oleh bahasa manusia. Dan setiap kali terbangun, ia memperoleh kekuatan baru. Seolah ada sesuatu yang sedang mengasahnya. Seolah penderitaannya bukan hukuman, melainkan proses untuk mempersiapkannya menghadapi sesuatu. Ignis mengepalkan tangan. “Apa sebenarnya yang kalian inginkan dariku?” Tak ada jawaban. Hanya angin dingin yang berembus melewati reruntuhan. Ia sudah mengajukan pertanyaan itu ribuan kali. Kepada para sarjana, penyihir, pendeta, bahkan makhluk-makhluk kuno yang ditemuinya di kedalaman jurang. Tak satu pun mampu memberinya jawaban. Satu-satunya harapan yang tersisa berada di balik bangunan kuno di ujung jalan berbatu. First Dawn Temple. Kuil yang konon mampu menyembuhkan penyakit paling langka, mematahkan kutukan paling mengerikan, dan mengungkap kebenaran yang telah hilang ditelan waktu. Ignis menarik napas panjang, lalu memaksa tubuhnya berdiri. “Kalau kau tidak bisa menyembuhkanku...” gumamnya, menatap bangunan itu, “setidaknya beri aku jawaban.” Ia mulai melangkah. Setiap langkah terasa seperti memaksa tubuh yang telah mati untuk bergerak kembali. Darah menetes dari ujung jarinya, sementara sabitnya meninggalkan goresan panjang di tanah. Namun, ia tidak berhenti. Ia sudah terlalu jauh untuk menyerah. Dan jika hari ini benar-benar menjadi hari terakhirnya, ia tidak ingin mati tanpa mengetahui alasan dirinya harus menderita sepanjang hidup. --- Pintu First Dawn Temple terbuka ketika Ignis mendekat. Tak ada penjaga. Tak ada mekanisme yang terlihat. Hanya dua daun pintu putih raksasa yang bergerak perlahan, seolah telah menunggunya sejak zaman yang terlupakan. Di baliknya terbentang aula luas dengan pilar-pilar putih menjulang tinggi. Cahaya keemasan menyelimuti lantai, memantulkan ukiran naga yang melingkari lambang matahari di setiap dinding. Ignis berhenti. Ia telah melihat banyak peninggalan kuno selama sepuluh tahun terakhir, tetapi bangunan ini terasa berbeda. Bukan karena kekuatan sihirnya. Melainkan karena sesuatu dalam dirinya mengenali tempat itu. Denyut halus muncul di dadanya. Kutukannya. Untuk pertama kalinya, kutukan itu tidak terasa seperti api yang membakar jiwanya. Ia justru berdenyut mengikuti irama cahaya di dalam kuil. Ignis mengerutkan kening. “Apa hubungan tempat ini dengan kutukanku?” Ia berjalan menuju altar batu di tengah aula. Permukaannya dipenuhi simbol yang tak pernah ia temukan dalam catatan sejarah mana pun. Beberapa menyerupai aksara naga, sementara yang lain tampak seperti goresan yang dibuat oleh sesuatu yang tidak berasal dari dunia manusia. Ignis meletakkan telapak tangannya di atas altar. “Aku Ignis Pendragon,” ucapnya. “Aku datang untuk mematahkan kutukan yang mengikat jiwaku.” Cahaya keemasan meledak dari altar. Simbol-simbol di dinding menyala serentak. Getaran mengguncang aula, dan udara di sekelilingnya mendadak terasa berat. Lalu sebuah suara terdengar di dalam pikirannya. Pewaris darah yang menyimpang... akhirnya kau tiba. Ignis segera mengangkat kepalanya. “Siapa yang berbicara?” Tidak ada jawaban. Sebaliknya, cahaya menyelimuti seluruh pandangannya. Dalam sekejap, aula itu lenyap. --- Ignis berdiri di tengah padang rumput yang luas. Langit biru terbentang tanpa awan. Sungai jernih berkelok di antara pepohonan, sementara bunga-bunga liar bermekaran di bawah sinar matahari. Jauh di atasnya, naga-naga terbang melintasi langit, sayap mereka berkilauan seperti permata. Pemandangan itu begitu indah hingga terasa mustahil. Tidak ada rantai. Tidak ada jeritan. Tidak ada manusia yang mengangkat senjata untuk memburu naga. Di tempat itu, mereka hidup berdampingan. Ignis berbalik ketika mendengar suara langkah. Seorang pria mengenakan zirah perak berdiri beberapa meter darinya. Rambutnya berwarna putih, dan di dadanya terukir lambang naga milik House Pendragon. Ignis mengenali lambang tersebut. Ia pernah melihatnya dalam arsip keluarga, di antara catatan sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pria itu adalah leluhurnya. Sosok yang dikenal dunia sebagai Sang Pembantai Naga. Namun, pemandangan berikutnya membuat Ignis kehilangan kata-kata. Sang leluhur mengulurkan tangan kepada seekor naga raksasa. Makhluk itu menundukkan kepalanya, membiarkan pria tersebut menyentuh dahinya dengan penuh keakraban. Mereka tidak tampak seperti musuh. Mereka tampak seperti sahabat. “Tidak mungkin...” bisik Ignis. Sejarah menyatakan bahwa leluhurnya telah memimpin pembantaian naga terbesar dalam sejarah Eryndor. Namanya diagungkan sebagai pahlawan yang membebaskan umat manusia dari ancaman makhluk bersisik. Namun, tidak ada satu pun catatan yang menyebutkan pemandangan ini. Tidak ada satu pun yang menyebutkan bahwa sebelum menjadi pembantai, leluhurnya mungkin pernah menjadi seseorang yang melindungi naga. Pemandangan itu mendadak berubah. Langit biru menghitam. Petir menyambar dari balik awan merah, dan tanah bergetar ketika sang leluhur terjatuh dengan tubuh berlumuran darah. Naga di hadapannya meraung, berusaha mendekat. Sesuatu bergerak di dekat luka sang leluhur. Bayangan hitam yang bentuknya terus berubah. Bukan asap. Bukan api. Sesuatu yang seolah memiliki kehendaknya sendiri. Bayangan itu menyusup ke dalam tubuh sang leluhur. Pria itu menjerit. Ignis melangkah maju, tetapi tubuhnya tidak dapat bergerak. Ia hanya bisa menyaksikan ketika sang leluhur bangkit kembali. Tatapan pria itu berubah. Kehangatan yang sebelumnya terpancar dari matanya menghilang, digantikan kebencian yang begitu pekat hingga terasa nyata bahkan dari kejauhan. Ketika naga yang menjadi rekannya mendekat, sang leluhur justru mengangkat senjata. Lalu menyerang. Pemandangan berikutnya datang seperti pecahan mimpi. Kota-kota terbakar. Naga-naga jatuh dari langit. Perjanjian kuno terkoyak. Dan di tengah kehancuran, seorang naga raksasa menatap sang leluhur dengan mata yang dipenuhi kesedihan. Ignis tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Namun, satu hal menjadi semakin jelas. Sejarah yang ia kenal tidak menceritakan seluruh kebenaran. Kemudian, semuanya berhenti. Di balik langit merah, sepasang mata terbuka. Besar. Tua. Mengerikan. Tatapan itu mengarah tepat kepada Ignis. Dalam sekejap, kutukan di dalam tubuhnya bergejolak. Rasa sakit yang telah menemaninya selama tiga puluh lima tahun kembali mencengkeram setiap sarafnya. Suara itu terdengar sekali lagi. Kebenaran telah dikubur. Darahmu mewarisi dosa yang bukan miliknya. Dan neraka... belum selesai denganmu. “Apa maksudmu?!” Ignis berusaha menerjang bayangan itu. “Siapa yang mengutuk keluargaku?! Apa yang terjadi pada leluhurku?!” Langit retak. Dunia runtuh menjadi serpihan cahaya. Dan sebelum Ignis sempat memperoleh satu jawaban pun, kegelapan menelannya. --- “—Tuan Muda?” Suara seorang perempuan terdengar samar. “Tuanku, apakah Anda baik-baik saja?” Ignis membuka mata. Napasnya tersengal. Tangannya langsung meraih dadanya, mencari luka yang seharusnya masih ada. Namun, ia tidak merasakan apa pun selain detak jantung yang cepat. Tidak ada darah. Tidak ada reruntuhan. Tidak ada altar kuno. Ia terbaring di sebuah ranjang besar dengan seprai putih. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela, menyinari kamar luas yang dihiasi ukiran naga dan perabotan kayu berwarna gading. Aroma bunga memenuhi udara. Dari luar jendela terdengar kicauan burung, suara langkah para pelayan, dan gemericik air mancur di taman. Dunia terasa begitu damai. Terlalu damai. Ignis menatap langit-langit kamar. Ia mengenali tempat ini. Kediaman utama House Pendragon. Kamar yang pernah menjadi miliknya sebelum ia meninggalkan rumah untuk memulai perjalanan menuju The Worldscar. Perlahan, ia mengangkat kedua tangannya. Kecil. Jari-jarinya ramping, tanpa bekas luka atau kapalan akibat bertahun-tahun menggenggam senjata. Ia terdiam. Kemudian, dengan gerakan kaku, ia turun dari ranjang dan berlari menuju cermin besar di dekat lemari. Pantulan yang menyambutnya membuat seluruh tubuhnya membeku. Rambut putih keperakan. Mata merah dengan pupil vertikal menyerupai naga. Wajah seorang anak yang belum melewati penderitaan panjang, belum kehilangan rekan-rekannya, dan belum menghabiskan sepuluh tahun hidupnya di jurang paling berbahaya di dunia. Wajahnya sendiri. Namun, jauh lebih muda. “...Tidak mungkin.” Ia mengangkat tangan dan menyentuh pipinya. Pantulan itu melakukan hal yang sama. Ignis menelan ludah. Ia tahu wajah ini. Ia tahu tubuh ini. Dan ia tahu persis berapa usianya ketika pertama kali melihat dunia dari balik mata tersebut. Delapan tahun. “Aku... kembali?” Pikirannya dipenuhi pertanyaan. Apakah ia telah mati di kuil? Apakah penglihatan tentang leluhurnya benar-benar terjadi? Apakah semua itu hanyalah ilusi yang muncul ketika jiwanya berada di ambang kehancuran? Ia belum memiliki jawaban. Namun, sebelum sempat berpikir lebih jauh, rasa sakit menusuk dadanya. Ignis tersentak. Di bawah pakaiannya, sebuah simbol samar menyala sesaat. Polanya sama dengan tanda yang selalu muncul ketika kutukannya mulai menarik jiwanya menuju neraka. Ia mengenalinya. Ia telah melihatnya selama tiga puluh lima tahun. Simbol itu berdenyut sekali. Kemudian menghilang. Ignis berdiri terpaku di depan cermin. Kesempatan kedua ini bukan berarti ia telah terbebas. Kutukannya masih ada. Neraka masih menunggunya. Dan rahasia yang ia lihat di dalam First Dawn Temple tetap belum terpecahkan. Ia menutup mata, menarik napas panjang, lalu membukanya kembali. Kali ini, tidak ada kepanikan di wajahnya. Hanya ketenangan yang perlahan menggantikan keterkejutan. Ia telah hidup selama tiga puluh lima tahun. Ia telah menghadapi monster yang mampu menghancurkan benteng, bertahan dari penderitaan yang melampaui batas manusia, dan menyaksikan kematian lebih banyak orang daripada yang ingin ia ingat. Tubuhnya kini kembali menjadi tubuh seorang anak. Tetapi ingatannya tetap milik pria yang telah melewati semua itu. Ignis mengepalkan tangan kecilnya. “Baiklah.” Suaranya pelan, tetapi tegas. “Kalau aku benar-benar diberi kesempatan kedua... kali ini aku tidak akan membiarkan semuanya berakhir dengan cara yang sama.” Ia menatap pantulannya sendiri. “Aku akan mencari tahu siapa yang berada di balik kutukan ini.” Ia teringat bayangan hitam yang memasuki tubuh leluhurnya. “Aku akan menemukan kebenaran tentang sejarah naga.” Dan terakhir, ia teringat sepasang mata yang mengawasinya dari balik langit merah. Tatapan yang membuat kutukannya bergejolak seolah mengenali pemiliknya. “Dan apa pun yang menungguku di ujung jalan itu...” Ignis menarik napas. “...aku akan menghadapinya.” Di luar jendela, matahari pagi menyinari taman kediaman Pendragon. Bunga-bunga bermekaran di sepanjang jalan setapak, dan bendera keluarga berkibar lembut di bawah langit biru. Eryndor tetap indah. Kerajaan-kerajaannya masih berdiri. Dunia belum mengetahui kebohongan yang tersembunyi di dalam sejarahnya. Dan Ignis Pendragon, pewaris yang pernah mati di dasar jurang, baru saja memulai kehidupannya yang kedua. Namun, ketika ia kembali ke masa lalu, takdir tidak kembali ke titik awal. Sebab sesuatu dari neraka telah mengingatnya. Dan kali ini, sesuatu itu mungkin mengetahui bahwa Ignis sedang berusaha mengubah masa depan. Bersambung — Bab 2: Kutukan yang Tidak Pernah Pergi

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter