Chapter 18 of 70

Bab 18 — Kepingan di Bawah Lantai

1.6k words

Pagi itu, kediaman utama keluarga Pendragon menerima kabar yang tidak biasa. Ruang Arsip Timur ditutup sementara atas perintah kepala rumah tangga. Dua penjaga ditempatkan di lorong bawah tanah, sementara seorang ahli artefak dari ibu kota dipanggil untuk memeriksa benda yang ditemukan di bawah lantai. Bagi kebanyakan penghuni kediaman, hal itu hanyalah urusan lama yang akhirnya mendapat perhatian. Bagi Ignis, itu berarti satu hal. Kepingan logam tersebut kini bukan lagi sesuatu yang bisa ia selidiki sesuka hati. “Jangan memasang wajah seperti baru kehilangan warisan keluarga.” Ignis menoleh. Garrick Thorne berdiri di belakangnya, membawa dua pedang kayu untuk latihan pagi. “Aku tidak memasang wajah seperti itu.” “Benar. Kau hanya menatap lorong terlarang selama hampir lima menit.” Ignis mengalihkan pandangan. “Aku sedang mengagumi arsitekturnya.” “Arsitektur?” “Batu-batunya cukup bagus.” Garrick menatap dinding batu yang tidak memiliki hiasan apa pun. “Kalau suatu hari kau menjadi bangsawan yang menghabiskan uang keluarga untuk memperbaiki dinding seperti itu, aku akan mengundurkan diri.” Ignis hampir tertawa. Namun, pikirannya masih tertuju pada benda di bawah lantai. Kepingan itu memiliki sembilan garis yang mengelilingi lingkaran. Polanya menyerupai tanda yang muncul dalam alam kutukannya. Kemiripan tersebut terlalu spesifik untuk diabaikan, tetapi belum cukup untuk membuktikan bahwa keduanya berhubungan. Ia harus bersabar. Sekali lagi. “Latihan dimulai sekarang,” kata Garrick. “Dan kali ini, aku ingin seluruh perhatianmu berada di arena.” Ignis mengambil pedang kayunya. “Baik.” “Tanpa memikirkan arsip.” “Baik.” “Tanpa memikirkan benda misterius.” “Baik.” “Dan tanpa membuat alasan aneh tentang arsitektur.” Ignis menghela napas. “Baik, Guru.” Garrick mengangguk puas. Setidaknya, untuk sepuluh menit pertama, latihan berlangsung sebagaimana mestinya. --- Menjelang siang, Ignis dipanggil ke ruang kerja ayahnya. Lord Alistair Pendragon duduk di balik meja kayu gelap, mengenakan pakaian bangsawan berwarna hitam dengan sulaman perak sederhana. Di sampingnya berdiri seorang pria berambut kelabu yang membawa kotak perkakas kecil. Ignis mengenali pria itu sebagai kepala rumah tangga keluarga. “Duduklah, Ignis,” ujar ayahnya. Ignis duduk dengan punggung tegak. “Aku mendengar kau berada di Ruang Arsip Timur kemarin bersama Caelan.” “Benar, Ayah.” “Apa yang kalian temukan?” Pertanyaan itu disampaikan dengan tenang. Tidak ada nada tuduhan, tetapi Ignis mengetahui bahwa jawaban yang ia berikan akan diperhatikan dengan saksama. “Kami menemukan sebuah buku tanpa judul dan catatan bergambar lambang yang tidak kukenal. Ketika sedang memeriksa rak, kami melihat sebuah keping logam di bawah lantai.” “Apakah kau menyentuhnya?” “Tidak.” Alistair mengamati putranya selama beberapa saat. “Bagus. Benda-benda yang ditemukan di ruang penyimpanan lama tidak boleh diperlakukan sembarangan.” Ignis menunduk. “Aku mengerti.” Ayahnya melanjutkan, “Ahli artefak akan memeriksanya. Sampai pemeriksaan selesai, kau dan Caelan tidak diperbolehkan memasuki ruangan itu.” “Baik, Ayah.” “Jika kau ingin mempelajari sejarah keluarga, gunakan arsip yang sudah mendapat izin untuk dibuka. Rasa ingin tahu adalah hal yang baik, tetapi kau harus belajar membedakan antara mencari pengetahuan dan mengambil risiko yang tidak perlu.” Ignis menerima teguran itu tanpa membantah. Dalam kehidupan pertamanya, ia mungkin akan menganggap larangan tersebut sebagai penghalang. Sekarang, ia memahami bahwa ayahnya memiliki alasan yang masuk akal. Kepingan logam itu mungkin artefak berbahaya. Ia belum mengetahui cara kerjanya, dan tidak ada gunanya mempertaruhkan keselamatan orang lain hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu. “Aku akan mematuhi perintah Ayah.” Alistair mengangguk. “Bagus. Kau boleh kembali.” Ignis berdiri, membungkuk, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum ia keluar, ayahnya memanggilnya sekali lagi. “Ignis.” Ia menoleh. “Jangan merasa bahwa kau harus memahami segala sesuatu seorang diri.” Kalimat itu membuat Ignis terdiam. Alistair tidak menjelaskan lebih jauh. Ia hanya kembali memeriksa dokumen di atas mejanya. Ignis keluar tanpa menjawab. Untuk alasan yang tidak ia pahami sepenuhnya, perkataan itu terasa lebih berat daripada larangan memasuki ruang arsip. Mungkin karena selama tiga puluh lima tahun dalam kehidupan pertamanya, ia telah terbiasa memikul setiap pertanyaan sendirian. Ia tidak tahu bagaimana rasanya mempercayakan sebagian beban itu kepada orang lain. Namun, kali ini ia akan mencoba. --- Caelan menemuinya di perpustakaan setelah makan siang. “Aku sudah menduga kau akan dipanggil.” Ignis duduk di dekat jendela, membaca buku sejarah tentang pendirian Solvaris. “Apakah kau juga ditegur?” “Tidak. Aku hanya diminta membuat laporan lengkap mengenai apa yang kita temukan.” Caelan meletakkan beberapa lembar catatan di meja. “Dan aku harus mengakui bahwa keputusan menutup ruang arsip cukup masuk akal. Kita tidak tahu kondisi benda tersebut.” Ignis menutup bukunya. “Apakah ahli artefak itu sudah tiba?” “Belum. Perjalanannya dari ibu kota membutuhkan waktu.” “Berapa lama?” “Beberapa hari, mungkin.” Ignis mengangguk pelan. Ia harus mencari sesuatu yang bisa dikerjakan selama menunggu. “Bagaimana dengan buku tanpa judul?” “Sudah disimpan di tempat yang aman. Aku membuat salinan dari bagian yang masih terbaca sebelum menyerahkannya untuk pemeriksaan.” “Bisakah aku melihat salinannya?” “Tentu.” Caelan mengeluarkan selembar perkamen. Di sana tertulis ulang beberapa kalimat yang ditemukan dalam buku tersebut. Catatan ini bukan bagian dari kronik resmi. Ketika perjanjian pertama dibuat, dua pihak berdiri di hadapan saksi. Nama yang tidak boleh diwariskan. Dan kalimat terakhir yang telah mereka baca sebelumnya: Jika satu pihak dilupakan, pihak lainnya akan menanggung akibatnya. Ignis mempelajarinya dengan saksama. “Apakah kau memperhatikan sesuatu?” tanya Caelan. “Kalimat kedua menyebutkan saksi. Berarti ada kemungkinan perjanjian tersebut disaksikan oleh pihak ketiga.” “Benar. Tetapi kita tidak tahu apakah saksi itu seseorang, sebuah kelompok, atau bahkan istilah simbolis.” Ignis mengangguk. “Dan kalimat terakhir tidak menjelaskan akibat seperti apa yang dimaksud.” “Bisa berupa hukuman, kehilangan kekuasaan, atau sekadar kewajiban yang tidak lagi dipenuhi.” Mereka terdiam sejenak. Caelan lalu menunjuk baris mengenai nama yang tidak boleh diwariskan. “Bagian ini yang paling aneh bagiku. Dalam tradisi bangsawan, nama keluarga justru diwariskan untuk menjaga kesinambungan garis keturunan.” “Namun, nama pribadi bisa disembunyikan.” “Benar. Begitu pula gelar, gelar kehormatan, atau nama yang hanya digunakan dalam ritual tertentu.” Ignis kembali menatap perkamen. Ia teringat leluhurnya, Dragon Tamer yang namanya tidak pernah ia ketahui. Apakah nama itu termasuk nama yang tidak boleh diwariskan? Apakah perjanjian tersebut memiliki hubungan dengan leluhurnya? Atau ia hanya mencoba menghubungkan dua hal yang kebetulan memiliki kemiripan? Ia tidak memiliki jawaban. “Caelan, apakah ada catatan mengenai gelar atau nama yang sengaja dihilangkan dari silsilah Pendragon?” Caelan mengernyit. “Ada beberapa bagian silsilah yang tidak lengkap. Tetapi itu bisa disebabkan oleh hilangnya dokumen selama perang, pernikahan antarkeluarga, atau perubahan sistem pencatatan.” “Apakah ada nama yang dihapus?” “Aku tidak bisa memastikannya. Aku harus membandingkan beberapa versi silsilah terlebih dahulu.” Ignis tersenyum tipis. “Kalau begitu, kita punya pekerjaan baru.” Caelan menatapnya. “Kita?” Ignis mengangkat bahu. “Aku tidak bisa membiarkanmu menikmati semua kesulitan seorang diri.” Caelan menghela napas panjang. “Entah bagaimana, aku merasa kalimat itu seharusnya terdengar lebih baik.” --- Malamnya, Ignis kembali memasuki alam kutukan. Ia langsung menyadari bahwa suasananya berbeda. Kegelapan masih sama. Sembilan pilar masih berdiri di kejauhan. Namun, gerbang batu yang biasanya tertutup kini terbuka sedikit. Tidak cukup lebar untuk dilewati seseorang. Hanya sebuah celah sempit yang memperlihatkan kegelapan lebih pekat di baliknya. Ignis tidak mendekat. Ia berdiri di tempat dan menunggu, mengamati perubahan itu dengan hati-hati. Beberapa saat kemudian, terdengar suara dari balik gerbang. “Kau telah menyerahkan benda itu kepada orang lain.” Ignis mengerutkan kening. “Benda yang mana?” “Kepingan yang ditemukan di bawah lantai.” Darah Ignis terasa dingin. Suara itu mengetahui apa yang terjadi di dunia nyata. Namun, ia belum tahu apakah suara tersebut benar-benar melihat peristiwa itu atau sekadar mengetahui keberadaan benda yang sama. “Apakah kau menginginkan benda itu?” tanyanya. Tidak ada jawaban. Ignis melanjutkan, “Jika benda tersebut berbahaya, aku tidak akan mengambilnya sebelum mengetahui cara kerjanya.” Celah pada gerbang tidak berubah. Kemudian suara itu berkata, “Kau mulai memahami batasmu.” Ignis mengepalkan tangan. “Aku tidak membutuhkan pujian. Aku membutuhkan jawaban.” Hening. Lalu suara itu menjawab, “Jawaban yang kau cari tidak tersimpan dalam kepingan logam.” Ignis menahan napas. “Lalu di mana?” “Pada sesuatu yang telah hilang bersamanya.” Sebelum Ignis dapat mengajukan pertanyaan lain, gerbang itu menutup. Suara benturan menggema di seluruh alam kegelapan. Ignis mundur satu langkah. Ia tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan sesuatu yang telah hilang bersama kepingan logam tersebut. Bisa jadi sebuah dokumen, bagian dari artefak, atau sesuatu yang sama sekali berbeda. Namun, satu hal menjadi jelas. Kepingan logam itu bukan jawaban akhir. Jika suara tersebut mengatakan yang sebenarnya, benda itu hanyalah sisa dari sesuatu yang lebih besar. Ignis menatap gerbang yang kini tertutup rapat. “Baiklah,” gumamnya. “Aku tidak akan mengejar benda itu.” Ia berbalik menuju sembilan pilar. “Tapi aku akan menemukan apa yang hilang bersamanya.” --- Keesokan paginya, Caelan menerima kabar dari kepala rumah tangga. Ahli artefak yang mereka tunggu telah mengirimkan pesan bahwa ia akan tiba dua hari lagi. Pemeriksaan kepingan logam dijadwalkan setelah itu. Namun, ada satu tambahan dalam surat tersebut. Ahli artefak itu meminta agar semua catatan lama mengenai penemuan benda tersebut disiapkan sebelum kedatangannya. Caelan segera memeriksa kembali dokumen yang telah mereka temukan. Lalu ia melihat sebuah detail yang sebelumnya terlewat. Pada bagian belakang salinan inventaris ekspedisi utara, terdapat nomor referensi yang sangat kecil. Nomor itu mengarah pada dokumen lain. Dokumen yang tidak tercantum dalam katalog perpustakaan keluarga. Caelan menuliskan nomor tersebut di buku catatannya. Di sampingnya, ia menambahkan satu kalimat. Cari catatan pemindahan sebelum ekspedisi utara. Sementara itu, di kamarnya, Ignis sedang menyiapkan dirinya untuk latihan pagi. Ia belum mengetahui penemuan baru Caelan. Ia juga belum mengetahui apakah kepingan logam itu benar-benar berkaitan dengan kutukannya. Namun, untuk pertama kalinya sejak regresi, ia merasa tidak harus berlari lebih cepat daripada semua orang. Ia hanya perlu memastikan bahwa setiap langkah membawanya lebih dekat pada kebenaran. Dan bahwa kali ini, ketika jawaban akhirnya ditemukan, ia tidak akan kehilangan dirinya sendiri demi mengejarnya. Bersambung. Bab 19 — Sebelum Ekspedisi Utara: Nomor referensi yang tersembunyi membawa Caelan pada catatan dari masa sebelum ekspedisi berlangsung. Sementara itu, Ignis mulai menyadari bahwa beberapa jawaban mungkin tidak berada di dalam artefak, melainkan pada orang-orang yang pernah memilikinya.

End of Chapter 18