Chapter 17 of 70

Bab 17 — Ruang Arsip yang Terkunci

1.7k words

Kunci itu ternyata lebih tua daripada yang Ignis bayangkan. Bentuknya panjang, terbuat dari besi kehitaman dengan kepala berbentuk daun naga. Permukaannya dipenuhi goresan kecil, sementara bagian giginya tampak telah beberapa kali diperbaiki. Caelan memegangnya di depan pintu batu yang terletak di ujung lorong bawah tanah. “Ruang Arsip Timur,” katanya. “Setidaknya, itulah nama yang tercatat dalam inventaris terakhir.” Ignis memandangi pintu tersebut. Tidak ada lambang dua sayap. Tidak ada sembilan garis. Hanya lambang keluarga Pendragon yang terukir di tengah permukaan batu: seekor naga dengan sayap terbentang, mengelilingi pedang yang mengarah ke bawah. Lambang yang selama berabad-abad digunakan oleh keluarga yang membanggakan diri sebagai pembasmi naga. Ironis, pikir Ignis, mengingat apa yang telah dilihatnya dalam penglihatan di First Dawn Temple. Leluhurnya pernah menjadi Dragon Tamer. Seseorang yang menjalin hubungan dengan naga, bukan memburunya. Namun, ia belum mengetahui bagaimana perubahan itu terjadi. Penglihatan yang diterimanya hanya menunjukkan sebagian kecil dari peristiwa yang telah mengubah sejarah keluarganya. Ia tidak akan menganggap satu penglihatan sebagai penjelasan lengkap. “Apakah ruangan ini benar-benar tidak pernah dibuka?” tanyanya. “Pernah. Tetapi catatan pembukaan terakhir sudah lebih dari dua puluh tahun lalu.” Caelan memasukkan kunci ke lubangnya. “Menurut laporan, beberapa dokumen dipindahkan ke arsip utama. Sisanya dibiarkan di sini.” “Kenapa?” “Kerusakan pada langit-langit. Mereka berencana memperbaikinya, tetapi proyeknya ditunda.” Ignis memiringkan kepala. “Selama dua puluh tahun?” “Anggaran keluarga tidak selalu digunakan untuk hal-hal yang paling masuk akal.” Kunci berputar dengan bunyi berderit. Pintu terbuka perlahan. Udara dingin keluar dari celahnya, membawa aroma debu, kertas tua, dan batu lembap. Caelan mengangkat lentera, menerangi ruangan panjang yang dipenuhi rak kayu. Beberapa rak masih berdiri tegak. Yang lainnya miring, dengan tumpukan dokumen berserakan di lantai. Tidak ada jebakan ajaib yang menyambut mereka. Tidak ada suara misterius yang memanggil nama Ignis. Hanya ruangan tua yang sudah lama diabaikan. Entah mengapa, justru keadaan itulah yang membuat Ignis sedikit lega. “Jangan menyentuh apa pun sebelum aku memeriksanya,” kata Caelan. Ignis mengangguk. “Aku akan berusaha.” “Bukan berusaha. Lakukan.” “Baik, Kepala Arsip.” “Aku benar-benar mulai menyesali keputusan mengizinkanmu ikut.” Ignis tersenyum kecil dan mengikuti Caelan masuk. --- Mereka memulai pencarian dari rak yang berisi catatan ekspedisi. Caelan memeriksa nomor inventaris, sementara Ignis membaca judul-judul yang masih dapat dikenali. Sebagian besar dokumen berkaitan dengan perdagangan, pengiriman perlengkapan, dan perjalanan para kesatria keluarga. Setelah hampir setengah jam, mereka belum menemukan Perjanjian di Bawah Langit Purba. Sebaliknya, Caelan menemukan masalah lain. “Rak ini seharusnya menyimpan empat puluh dua dokumen.” Ia menghitung ulang daftar inventaris. “Yang ada hanya tiga puluh sembilan.” Ignis menoleh. “Apakah ada catatan pemindahan?” “Tidak.” “Dokumennya mungkin dipindahkan tanpa diperbarui?” “Itu kemungkinan pertama yang akan kuperiksa.” Caelan tidak terdengar panik. Ia mencatat nomor-nomor yang hilang dan melanjutkan pemeriksaan rak sebelah. Ignis memperhatikan sikapnya. Inilah perbedaan antara mereka. Caelan melihat ketidaksesuaian sebagai masalah administrasi yang harus diselesaikan melalui prosedur. Ignis melihatnya sebagai kemungkinan petunjuk yang mungkin berkaitan dengan misteri lebih besar. Keduanya belum tentu salah. Dan justru karena itu, Ignis memilih mengikuti cara kerja Caelan. Mereka tidak akan menemukan kebenaran dengan menganggap setiap kekurangan sebagai bukti konspirasi. Pencarian berlanjut sampai lentera kedua dinyalakan. Lalu Ignis menemukan sebuah buku tipis terselip di antara dua kotak kayu. Sampulnya tidak memiliki judul. Sudut-sudutnya rusak, dan benang yang menjilid halaman hampir putus. Ia tidak langsung mengambilnya. “Caelan.” Sang arsiparis datang mendekat. “Jangan bilang kau menemukan sesuatu yang tidak ada dalam daftar lagi.” “Sepertinya begitu.” Caelan memeriksa buku itu dari beberapa sisi sebelum mengangkatnya dengan hati-hati. “Tidak ada nomor inventaris.” “Apakah itu berarti buku ini tidak pernah dicatat?” “Belum tentu. Nomornya mungkin terhapus, atau buku ini merupakan bagian dari dokumen lain.” Caelan membuka sampulnya. Halaman pertama kosong. Halaman kedua juga kosong. Namun, pada halaman ketiga terdapat sebuah kalimat pendek yang ditulis dengan tinta kecokelatan. Catatan ini bukan bagian dari kronik resmi. Caelan mengernyit. “Menarik.” Ignis menahan napas. Di bawah kalimat tersebut terdapat beberapa baris tulisan yang sebagian besar telah memudar. Mereka hanya dapat membaca potongan-potongan kalimat. ...ketika perjanjian pertama dibuat... ...dua pihak berdiri di hadapan saksi... ...nama yang tidak boleh diwariskan... Lalu satu baris yang masih cukup jelas: Jika satu pihak dilupakan, pihak lainnya akan menanggung akibatnya. Ignis merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Kalimat itu mengingatkannya pada bayangan dua sosok di alam kutukan. Satu mengulurkan tangan. Satu mundur. Apakah keduanya merupakan pihak dalam perjanjian yang sama? Mungkin. Namun, tulisan tersebut tidak menyebut naga, Pendragon, atau lambang dua sayap. Hubungan itu masih berupa dugaan. “Apakah kau mengenali tulisan ini?” tanya Ignis. Caelan mengamati bentuk hurufnya. “Tidak. Gaya tulisannya sudah lama, tetapi sulit menentukan periodenya dari beberapa baris saja.” “Bisakah kau memeriksa sisanya?” “Bisa. Tetapi tidak di sini. Kita harus memindahkannya ke meja pemeriksaan, memastikan halaman-halamannya tidak rapuh, lalu mencatat kondisinya sebelum mencoba membaca seluruh isi.” Ignis mengangguk. Ia ingin segera mengetahui apa yang tertulis di halaman berikutnya, tetapi ia tahu bahwa satu gerakan ceroboh dapat merusak satu-satunya salinan yang mereka temukan. Mereka membungkus buku itu dengan kain pelindung yang dibawa Caelan. Ketika Caelan hendak menutupnya, sesuatu terlepas dari sela-sela halaman. Sebuah potongan kertas kecil jatuh ke lantai. Ignis membungkuk untuk melihatnya, tetapi tidak menyentuhnya. Caelan mengangkat potongan itu dengan pinset. Di atasnya terdapat lambang sederhana: dua lengkungan yang menghadap ke arah berlawanan, dilingkari garis tipis yang terputus di bagian bawah. Lambang dua sayap. Untuk beberapa detik, tidak satu pun dari mereka berbicara. Caelan mengamati gambar tersebut dengan serius. “Aku pernah melihat bentuk yang mirip.” “Di mana?” “Pada salinan inventaris yang kau tunjukkan kepadaku. Tetapi gambar ini lebih jelas.” Ignis menatap potongan kertas itu. Ada satu perbedaan yang segera menarik perhatiannya. Pada lambang dalam alam kutukan, kedua lengkungan tampak saling mendekat. Pada gambar di hadapannya, keduanya justru mengarah menjauh. Perbedaannya kecil, tetapi cukup untuk membuatnya bertanya-tanya apakah mereka benar-benar melihat lambang yang sama. Atau dua versi dari sebuah simbol yang maknanya telah berubah. “Jangan menyimpulkan apa pun dulu,” kata Caelan, seolah membaca pikirannya. “Kita perlu mengetahui kapan gambar ini dibuat.” Ignis mengangguk. “Setuju.” Namun, sebelum Caelan sempat memasukkan potongan kertas itu ke dalam wadah pelindung, terdengar bunyi keras dari bagian belakang ruangan. KRAK! Sebuah rak tua bergeser. Debu jatuh dari langit-langit. Caelan segera menutupi buku yang mereka temukan, sementara Ignis mundur dari rak di dekatnya. Beberapa detik kemudian, semuanya kembali diam. Mereka menunggu. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada pintu yang terbuka. Tidak ada orang lain di ruangan itu. Caelan mengangkat lentera dan memeriksa bagian belakang rak. “Kayunya sudah lapuk,” katanya setelah beberapa saat. “Mungkin penyangganya bergeser.” Ignis memperhatikan lantai. Di bawah rak yang bergeser terdapat sebuah celah sempit di antara dua batu. Tidak cukup besar untuk menyembunyikan seseorang, tetapi cukup untuk menjatuhkan benda kecil ke ruang di bawahnya. Ia berlutut dan mengarahkan cahaya lentera ke celah tersebut. Ada sesuatu di dalam. Sebuah keping logam berbentuk persegi panjang. Permukaannya hitam, hampir tanpa pantulan cahaya. Ignis tidak mengambilnya. Ia hanya mengamati ukiran pada sisi yang terlihat. Sembilan garis kecil. Disusun mengelilingi sebuah lingkaran. Darahnya terasa dingin. Lambang itu terlalu mirip dengan tanda yang berulang kali muncul di alam kutukannya. “Caelan,” panggilnya pelan. Sang arsiparis mendekat, lalu menyorotkan lentera ke celah tersebut. Ekspresinya berubah serius. “Aku tidak tahu benda apa itu.” “Apakah benda itu tercatat dalam inventaris?” “Tidak ada cara untuk mengetahuinya sebelum kita memeriksa ruang di bawah lantai.” Caelan berjongkok, tetapi tidak mencoba meraih keping logam tersebut. “Kita tidak akan membongkar batu ini sendiri. Aku akan melaporkannya kepada kepala rumah tangga dan meminta pemeriksaan yang tepat.” Ignis ingin membantah. Benda itu mungkin berkaitan langsung dengan kutukannya. Ia ingin mengetahui apa yang ada di balik celah tersebut, siapa yang menyimpan keping logam itu, dan mengapa simbol sembilan garis muncul di tempat yang sama dengan lambang dua sayap. Namun, ia menahan diri. Mereka sudah menemukan buku tanpa judul, potongan lambang, dan benda yang tidak tercatat. Memaksa lebih jauh tanpa persiapan hanya akan mengubah penyelidikan menjadi tindakan ceroboh. “Baik,” katanya akhirnya. Caelan tampak sedikit terkejut, seolah mengira Ignis akan bersikeras. “Bagus. Sekarang kita keluar sebelum rak lain memutuskan untuk bergerak.” Mereka meninggalkan ruangan dengan membawa buku dan potongan kertas dalam wadah pelindung. Pintu batu ditutup kembali, lalu dikunci. Sebelum pergi, Ignis menoleh sekali lagi. Ia tidak tahu apa yang tersembunyi di bawah lantai. Ia juga belum mengetahui apakah benda itu sengaja disembunyikan atau sekadar terlupakan ketika ruangan ditutup bertahun-tahun lalu. Tetapi sekarang, ia memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada dugaan. Sebuah benda nyata yang bisa diperiksa. --- Malamnya, alam kutukan menyambutnya dengan kesunyian. Ignis berdiri di depan sembilan pilar, tetapi kali ini ia tidak mencoba mendekati pilar perak-putih. Ia mengamati gerbang. Kata MEMORIA masih terukir di permukaannya. Kemudian ia melihat perubahan kecil di bawah tulisan itu. Sebuah garis baru muncul, membentuk sudut yang menyerupai salah satu ujung lambang dua sayap. Ignis melangkah mendekat. Sebelum ia sempat memeriksanya lebih jauh, suara yang sudah dikenalnya terdengar dari kegelapan. “Kau telah menemukan tempat penyimpanan.” Ignis membeku. Suara itu tidak bertanya. Ia menyatakan sesuatu yang seolah telah diketahuinya sejak awal. “Tempat penyimpanan apa?” tanya Ignis. Tidak ada jawaban langsung. Lalu suara itu berkata, “Benda-benda yang tidak lagi diingat oleh pemiliknya.” Ignis mengepalkan tangan. “Apakah benda yang kutemukan di dunia nyata berkaitan dengan tempat ini?” Hening. “Jawab aku.” Kali ini, suara itu terdengar sedikit lebih dekat. “Jika kau ingin mengetahui apa yang disimpan, pewaris kecil, carilah alasan mengapa pintunya dikunci.” Kegelapan bergetar. Sembilan pilar berdiri tanpa perubahan. Ignis hendak mengajukan pertanyaan berikutnya ketika ia merasakan tarikan kuat di dadanya. Ia terbangun dengan napas tersengal. Cahaya bulan menyentuh lantai kamarnya. Telapak tangan kirinya terasa dingin, tetapi tidak ada tanda baru di kulitnya. Ignis duduk diam selama beberapa saat, lalu mengambil buku catatannya. Ia menuliskan empat hal. Buku tanpa judul. Lambang dua sayap. Keping logam dengan sembilan garis. Tempat penyimpanan. Ia menatap daftar itu. Untuk pertama kalinya, petunjuk dari dunia nyata dan alam kutukan tampak mendekati satu sama lain. Namun, belum ada bukti bahwa keduanya berasal dari sumber yang sama. Dan sebelum ia mengetahui alasan sebuah ruangan dikunci, ia harus memahami siapa yang menguncinya—serta apa yang sebenarnya ingin mereka simpan. Bersambung. Bab 18 — Kepingan di Bawah Lantai: Pemeriksaan ruang arsip membawa Ignis pada benda yang tidak tercantum dalam satu pun inventaris. Ketika asal-usulnya mulai diselidiki, sebuah keputusan keluarga membuat pencarian itu jauh lebih rumit daripada yang ia perkirakan.

End of Chapter 17