Chapter 16 of 70

Bab 16 — Nama dalam Daftar yang Berbeda

1.5k words

Pagi belum sepenuhnya tiba ketika Caelan Voss menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. Ia sudah menghabiskan hampir dua jam membandingkan salinan inventaris ekspedisi utara dengan catatan keluarga yang tersimpan di perpustakaan Pendragon. Awalnya, ia mengira ketidaksesuaian tiga nama hanyalah kesalahan penyalinan. Itu bukan hal yang aneh. Dokumen tua sering rusak. Nama seseorang bisa tertukar karena tulisan yang sulit dibaca. Bahkan seorang penyalin yang teliti pun dapat melewatkan satu baris ketika harus menyalin ratusan halaman. Namun, kali ini masalahnya berbeda. Ketiga nama itu tidak sekadar hilang dari daftar berikutnya. Mereka digantikan oleh tiga nama lain. Caelan meletakkan kedua dokumen berdampingan, lalu memeriksanya sekali lagi. Catatan pertama mencantumkan dua belas anggota ekspedisi. Catatan kedua juga mencantumkan dua belas anggota. Tetapi tiga orang dari daftar pertama tidak ada di daftar kedua, sementara tiga nama baru muncul tanpa penjelasan mengenai kapan mereka bergabung. Jumlahnya tetap sama. Tanggal keberangkatan tetap sama. Tujuan ekspedisi tetap sama. Bahkan tanda tangan pejabat yang mengesahkan laporan itu tampak identik. Caelan menyandarkan punggungnya pada kursi. “Ini bukan kesalahan penyalinan biasa.” Ia segera mengambil buku catatan dan menuliskan nomor kedua dokumen tersebut. Kemudian ia menambahkan satu pertanyaan besar di bawahnya. Siapa yang mengesahkan perubahan ini? Jawabannya tidak ditemukan pada halaman yang tersedia. Dan Caelan, yang selama ini menganggap pekerjaannya hanya berkutat pada debu, tinta, dan rak-rak tua, mulai merasa bahwa sebuah dokumen dapat menyimpan masalah yang jauh lebih berbahaya daripada pedang. --- Ignis tiba di perpustakaan beberapa saat kemudian. Ia langsung menyadari bahwa Caelan tidak sedang berada dalam suasana hati yang biasanya. “Apakah bukunya menggigitmu?” tanyanya. Caelan tidak mengangkat wajah. “Kalau buku bisa menggigit, aku akan memilih pekerjaan lain.” “Menjadi apa?” “Penjual roti.” Ignis mengangguk serius. “Pilihan yang bijaksana. Roti lebih jarang menyimpan rahasia kuno.” Kali ini, Caelan tertawa pendek. Namun, tawanya segera berhenti ketika ia mendorong kedua dokumen ke arah Ignis. “Aku menemukan sesuatu.” Ignis membaca keduanya dengan saksama. Ia mengenali nama-nama yang telah dilihatnya kemarin, termasuk tiga orang yang disebutkan dalam laporan mengenai gangguan ingatan. Nama mereka tidak lagi muncul pada daftar kedua. Sebagai gantinya, ada tiga orang yang sama sekali tidak disebutkan dalam catatan awal. “Apakah kau sudah memeriksa tanggalnya?” tanya Ignis. “Sudah. Tidak ada perubahan.” “Tanda tangan?” “Cocok.” “Nomor registrasi?” “Sama.” Ignis mengetuk pelan permukaan meja. “Kalau begitu, ada beberapa kemungkinan. Salah satu daftar dibuat berdasarkan sumber yang keliru, seseorang mengubah catatan setelah ekspedisi selesai, atau ada dokumen perantara yang belum kita temukan.” Caelan menatapnya. “Kau menyimpulkan itu hanya dari dua lembar kertas?” “Aku menyimpulkan bahwa kita belum punya cukup bukti untuk memilih salah satu kemungkinan.” Jawaban itu membuat Caelan terdiam sejenak. Lalu ia mengangguk. “Benar. Aku hampir melupakan bagian terpenting dari pekerjaanku.” “Bagian apa?” “Tidak membuat kesimpulan sebelum bukti ditemukan.” Ignis tersenyum tipis. Ia tidak mengatakan bahwa dirinya sendiri pernah melakukan kesalahan tersebut berkali-kali. Dalam kehidupan pertamanya, ia sering memburu jawaban dengan keyakinan bahwa semakin cepat ia menemukan sesuatu, semakin dekat ia dengan kebenaran. Sekarang ia tahu bahwa jawaban yang ditemukan terlalu cepat terkadang hanya merupakan bentuk lain dari kebohongan. “Apakah kita bisa mencari dokumen perantaranya?” tanyanya. Caelan menggeleng. “Tidak di sini. Dokumen pemindahan dan pengesahan ekspedisi seharusnya berada di arsip kekaisaran. Aku bisa mengajukan permintaan pemeriksaan, tetapi prosesnya mungkin memakan waktu.” “Berapa lama?” “Beberapa minggu. Mungkin lebih.” Ignis menahan napas. Ia telah hidup selama tiga puluh lima tahun dalam kehidupan sebelumnya. Ia bisa menunggu beberapa minggu. Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri. “Kalau begitu, ajukan permintaannya.” Caelan mengangkat alis. “Kau tidak keberatan menunggu?” “Aku lebih keberatan membuang waktu dengan menebak-nebak.” Caelan tersenyum kecil. “Untuk anak berusia delapan tahun, kau memiliki kesabaran yang mengganggu.” “Aku sedang berusaha memperbaikinya.” --- Namun, mereka tidak perlu menunggu berminggu-minggu untuk menemukan petunjuk berikutnya. Menjelang siang, Caelan membuka sebuah katalog tambahan yang sebelumnya terselip di antara dua jilid buku silsilah. Katalog itu mencatat dokumen-dokumen yang pernah dipinjam atau dipindahkan dari perpustakaan keluarga selama beberapa generasi. Ia membalik halaman dengan hati-hati. Kemudian berhenti. “Ini menarik.” Ignis mendekat. Pada halaman tersebut tercantum catatan peminjaman sebuah buku berjudul Perjanjian di Bawah Langit Purba. Buku itu telah dipindahkan ke ruang arsip keluarga lebih dari seratus tahun lalu. Di bawah judulnya terdapat catatan kecil mengenai salah satu bagian buku yang pernah diperiksa oleh seorang anggota keluarga Pendragon. Lampiran Ketujuh — Kesaksian Dua Pihak. Ignis merasakan tengkuknya menegang. Ia mengenali judul itu dari catatan yang pernah ditemukan sebelumnya. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Di samping entri tersebut, seseorang telah menambahkan sebuah catatan dengan tinta yang lebih gelap. Bagian ini tidak tersedia dalam salinan utama. Caelan mengerutkan kening. “Lampiran ketujuh seharusnya tercantum dalam daftar isi buku itu.” “Apakah kau pernah melihatnya?” “Tidak. Aku bahkan tidak ingat pernah melihat buku ini secara langsung. Catatan katalog menyebutkan bahwa buku tersebut pernah dipindahkan ke ruang arsip lama, tetapi lokasi terakhirnya tidak jelas.” Ignis memandangi tulisan itu. Lampiran ketujuh. Kesaksian dua pihak. Dua sayap. Perjanjian kuno. Semua petunjuk itu mungkin saling berhubungan, tetapi ia belum mengetahui bagaimana. “Bisakah kita mencari buku aslinya?” Caelan menutup katalog. “Kita bisa mencoba. Namun, ruang arsip lama sudah lama tidak digunakan. Banyak dokumen di sana belum diperiksa sejak pergantian kepala arsip terakhir.” “Kalau begitu, kita harus meminta izin.” “Benar.” Caelan menatap Ignis dengan serius. “Dan kali ini, kau tidak akan masuk ke sana sendirian.” Ignis mengangkat kedua tangan. “Aku belum mengatakan ingin masuk sendirian.” “Wajahmu sudah mengatakan semuanya.” Untuk sesaat, Ignis hampir membantah. Kemudian ia menyadari bahwa Caelan mungkin benar. Ia terlalu terbiasa bergerak sendiri. Dalam kehidupan pertamanya, kebiasaan itu sering menyelamatkannya, tetapi juga membuatnya menanggung terlalu banyak hal seorang diri. Kali ini, ia tidak harus mengulangi semuanya. “Baiklah,” katanya. “Kita masuk bersama setelah mendapat izin.” Caelan tampak puas. “Bagus. Sekarang, tolong jangan menyentuh katalog lain sebelum aku selesai memeriksa nomor arsipnya.” Ignis mundur selangkah. “Baik, Kepala Arsip.” “Aku bukan kepala arsip.” “Belum.” Caelan memejamkan mata, seolah sedang memohon kesabaran kepada seluruh leluhur keluarga Pendragon. --- Sore harinya, Ignis menjalani latihan bersama Garrick. Namun, pikirannya sesekali kembali pada lampiran ketujuh. Garrick menyadarinya setelah Ignis melakukan kesalahan yang tidak biasa saat berlatih menghindar. Pedang kayu pelatih menyentuh bahunya. “Satu poin.” Ignis mundur. “Maaf.” “Jangan meminta maaf. Pahami kesalahanmu.” Garrick mengangkat pedangnya kembali. “Apa yang mengganggu pikiranmu?” “Sejarah.” “Sejarah?” “Catatan lama yang tidak lengkap.” Garrick menghela napas. “Kalau begitu, tinggalkan catatan itu di perpustakaan selama latihan.” “Aku sedang mencoba.” “Coba lebih keras.” Serangan berikutnya datang tanpa peringatan. Ignis menghindar, kali ini lebih cepat. Ia menangkis serangan kedua dan mundur sebelum Garrick dapat memanfaatkan jangkauan pedangnya. Namun, pelatihnya tidak menghentikan latihan. “Jangan biarkan sesuatu yang tidak kau pahami menguasai perhatianmu,” kata Garrick. “Kau boleh memikirkan masalah ketika waktunya tepat. Tetapi ketika seseorang menyerangmu, kau harus berada di sini.” Ia mengetuk dada Ignis dengan ujung pedang kayunya. “Bukan di dalam kepalamu.” Ignis menatapnya. Nasihat itu sederhana. Dan justru karena sederhana, Ignis tahu bahwa ia perlu mengingatnya. Ia mengatur napas, menurunkan pusat keseimbangan tubuhnya, lalu mengangkat pedang kembali. “Sekali lagi.” Garrick mengangguk. Kali ini, Ignis benar-benar memperhatikan lawannya. Ia tidak menang dalam latihan itu. Tubuhnya masih terlalu kecil, dan kemampuan fisiknya belum mampu menyamai ingatan yang dimilikinya. Namun, saat latihan berakhir, Garrick memberikan satu anggukan singkat. “Kau belajar.” Bagi Ignis, itu sudah cukup. --- Malam tiba. Ketika kutukan menarik kesadarannya ke alam kegelapan, Ignis tidak langsung mencari sembilan pilar. Ia berdiri di dekat gerbang dan memandangi kata yang pernah ditemukannya. MEMORIA. Ingatan. Ia mengingat tiga nama yang hilang dari daftar ekspedisi. Ia mengingat catatan lampiran ketujuh. Ia mengingat bagaimana satu dokumen dapat mempertahankan jumlah anggota yang sama meskipun tiga nama di dalamnya berubah. Lalu ia mengingat suara yang pernah berkata bahwa sesuatu yang hilang dari catatan belum tentu hilang dari dunia. “Siapa pun kau,” gumamnya ke dalam kegelapan, “aku tidak akan memercayaimu hanya karena kau mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui.” Tidak ada jawaban. Namun, ketika ia menoleh ke arah sembilan pilar, ia melihat bayangan samar pada permukaan pilar perak-putih. Bukan lambang dua sayap. Bukan retakan. Melainkan bentuk seperti dua sosok yang berdiri saling membelakangi. Salah satunya mengulurkan tangan. Sosok lainnya mundur. Kemudian bayangan itu lenyap. Ignis tidak mengejarnya. Ia hanya berdiri diam, menyimpan gambaran tersebut dalam ingatannya. Ketika terbangun pada pagi berikutnya, ia segera menuliskan satu kalimat di bawah tiga kata yang telah dicatatnya sebelumnya. Lambang. Perjanjian. Ingatan. Dua pihak tidak selalu mengingat peristiwa yang sama dengan cara yang sama. Ia menatap kalimat itu cukup lama. Mungkin sejarah telah diubah. Mungkin seseorang telah menghapus nama-nama tertentu. Atau mungkin ada peristiwa lama yang begitu rumit sehingga bahkan orang-orang yang mengalaminya tidak sepakat tentang apa yang sebenarnya terjadi. Untuk saat ini, semua kemungkinan itu masih terbuka. Dan Ignis berniat mencari tahu mana yang benar. Bersambung. Bab 17 — Ruang Arsip yang Terkunci: Setelah izin pemeriksaan diperoleh, Ignis dan Caelan akhirnya mendekati tempat penyimpanan dokumen lama. Namun, sebelum menemukan buku yang mereka cari, mereka harus menghadapi sebuah masalah yang tidak tercatat dalam katalog mana pun.

End of Chapter 16