Chapter 15 of 70

Bab 15 — Catatan dari Masa yang Hilang

1.6k words

Pagi itu, Ignis kembali mengunjungi perpustakaan keluarga Pendragon. Ia membawa tiga hal dalam pikirannya: kalimat dari buku sejarah, lambang dua sayap, dan peringatan yang didengarnya di alam kutukan. Jangan sentuh apa yang belum mengenali dirimu. Kalimat itu terdengar seperti larangan, tetapi Ignis tidak menganggapnya sebagai kebenaran mutlak. Bisa saja itu peringatan tulus. Bisa juga cara sesuatu di balik pilar mencegahnya menemukan jawaban. Sebelum mengetahui siapa yang berbicara, ia tidak punya alasan untuk memercayainya. Karena itulah, hari ini ia akan mencari jawaban di tempat yang lebih aman. Di atas kertas. “Kalau kau terus datang sepagi ini, aku mulai curiga kau berencana tidur di perpustakaan.” Ignis menoleh. Caelan Voss berdiri di ambang pintu dengan secangkir teh di tangan. Rambutnya sedikit berantakan, dan beberapa lembar perkamen terselip di bawah lengannya. “Aku mempertimbangkannya,” jawab Ignis. “Namun, tempat tidurnya kurang nyaman.” “Perpustakaan tidak memiliki tempat tidur.” “Itulah masalahnya.” Caelan menggeleng sambil tertawa kecil. Ia berjalan ke meja kerjanya, meletakkan teh, lalu membuka sebuah buku catatan. “Kau masih mencari sejarah sebelum berdirinya Kekaisaran Solvaris?” “Benar.” “Kalau begitu, aku punya sesuatu yang mungkin menarik bagimu.” Ignis segera mengalihkan perhatian. Caelan mengambil sebuah map tipis dari tumpukan dokumen. Warnanya kecokelatan, ujungnya aus, dan tali pengikatnya tampak sudah beberapa kali diganti. “Ini salinan inventaris lama. Bukan dokumen asli. Aku menemukannya saat menyusun ulang daftar catatan ekspedisi keluarga.” Ia meletakkannya di hadapan Ignis. “Sebagian besar hanya daftar barang, nama wilayah, dan catatan perjalanan. Tidak terlalu menarik bagi kebanyakan orang.” “Kalau begitu, aku mungkin bukan kebanyakan orang.” “Sayangnya, aku mulai menyadarinya.” Ignis membuka map tersebut. Baris-baris tulisan memenuhi halaman. Ada catatan tentang peti obat, perlengkapan perjalanan, peta wilayah yang kini sudah berubah, serta sejumlah benda yang asal-usulnya tidak dijelaskan. Ia membaca dengan teliti, sampai matanya berhenti pada satu entri. Catatan Ekspedisi Utara — Tahun 17 Era Solvaris. Di bawahnya tercantum daftar benda yang dibawa pulang oleh rombongan ekspedisi. Pecahan batu bercahaya. Dua lempeng logam dengan ukiran tidak dikenal. Sebuah gulungan perjanjian yang tidak dapat dibaca. Dan satu entri terakhir. Lambang bersayap ganda, ditemukan di reruntuhan tanpa nama. Status: dipindahkan ke penyimpanan arsip pusat. Jari Ignis berhenti di atas tulisan itu. Ia membaca baris tersebut sekali lagi. Lambang bersayap ganda. Bukan sekadar gambaran samar dalam mimpi. Bukan hanya simbol yang muncul di dalam alam kutukan. Seseorang pernah menemukan lambang itu di dunia nyata. Dan benda tersebut dibawa ke arsip pusat. “Caelan.” “Hm?” “Apakah ada catatan mengenai tujuan akhir benda-benda dari ekspedisi ini?” Caelan membungkuk untuk melihat halaman yang ditunjuk Ignis. “Seharusnya ada. Namun, ini hanya salinan inventaris. Dokumen pemindahan aslinya mungkin disimpan di arsip kekaisaran.” “Apakah kita bisa mendapatkannya?” “Kita?” Ignis mengangkat wajah. Caelan menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. “Maaf, Tuan Muda. Apakah kau baru saja mengajak seorang arsiparis keluarga untuk menyelidiki dokumen kekaisaran yang mungkin sudah berusia ratusan tahun?” “Ketika kau mengatakannya seperti itu, kedengarannya cukup merepotkan.” “Karena memang merepotkan.” Ignis mengembalikan pandangannya pada dokumen. “Kalau begitu, kita mulai dari catatan yang tersedia.” Caelan menghela napas, tetapi tidak membantah. “Setidaknya itu rencana yang masuk akal.” --- Selama hampir dua jam, mereka memeriksa dokumen yang berkaitan dengan ekspedisi utara. Hasilnya tidak banyak. Beberapa catatan menyebutkan bahwa rombongan tersebut menemukan reruntuhan kuno di dekat perbatasan wilayah yang kini menjadi bagian dari Kerajaan Caelmont. Namun, lokasi tepatnya tidak pernah dicatat dengan konsisten. Ada dokumen yang menyebut reruntuhan itu sebagai kuil. Dokumen lain menyebutnya sebagai benteng yang telah ditinggalkan. Sementara sebuah laporan singkat menyebutkan bahwa sebagian anggota ekspedisi mengalami gangguan ingatan setelah menghabiskan malam di dekat lokasi tersebut. Ignis membaca laporan itu dua kali. “Gangguan ingatan?” tanyanya. Caelan mengangguk. “Tidak jelas apakah mereka sakit, mengalami kelelahan, atau terkena pengaruh sesuatu di reruntuhan. Laporan medisnya tidak ditemukan.” “Apakah semua anggota ekspedisi mengalami hal yang sama?” “Tidak. Hanya tiga orang yang disebutkan dalam catatan.” Ignis menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia tidak akan langsung menghubungkan kejadian tersebut dengan kutukannya. Dunia Eryndor memiliki banyak fenomena magis yang belum dipahami manusia. Gangguan ingatan di sebuah reruntuhan bisa disebabkan oleh banyak hal. Namun, ada satu detail lain yang membuatnya tidak nyaman. Ketiga nama orang yang mengalami gangguan ingatan ternyata tidak tercantum pada daftar anggota ekspedisi yang diterbitkan kemudian. Nama mereka hanya muncul pada laporan awal. Pada salinan berikutnya, bagian tersebut tidak ada. “Caelan, mengapa ada dua versi daftar anggota?” Sang arsiparis mendekat. Untuk pertama kalinya pagi itu, ekspresinya berubah serius. “Sepertinya ada kesalahan penyalinan.” “Kesalahan yang menghilangkan tiga nama?” “Mungkin.” Jawaban itu terdengar tidak meyakinkan, bahkan bagi Caelan sendiri. Ia mengambil kedua dokumen dan membandingkannya. Setelah beberapa saat, ia mencatat nomor arsip yang tertera pada sudut halaman. “Aku akan memeriksa sumbernya. Tapi jangan terlalu berharap. Dokumen setua ini sering memiliki salinan yang tidak lengkap.” Ignis mengangguk. Ia tidak membutuhkan Caelan untuk langsung mempercayai dugaan apa pun. Justru, ia ingin sang arsiparis memeriksa catatan tersebut dengan cara yang wajar. Jika memang ada sesuatu yang disembunyikan, bukti harus ditemukan terlebih dahulu. Bukan diciptakan dari kecurigaan. --- Menjelang siang, Ignis meninggalkan perpustakaan dengan salinan catatan yang diizinkan Caelan untuk dibacanya. Di lorong menuju taman, ia bertemu Evelyne Astervale. Gadis itu mengenakan gaun biru muda sederhana dengan pita putih di rambutnya. Seorang pelayan berjalan beberapa langkah di belakangnya, membawa keranjang kecil berisi buku. “Ignis!” Ia berhenti di hadapannya. “Kau menghabiskan pagi di perpustakaan lagi?” “Apakah semua orang mulai mengawasi ke mana aku pergi?” “Tidak. Hanya saja, aku melewati taman dua kali dan tidak melihatmu.” Evelyne memiringkan kepala. “Kau sedang mencari sesuatu?” Ignis mempertimbangkan jawabannya. “Catatan sejarah.” “Apakah kau menemukannya?” “Sebagian.” “Kalau begitu, itu kabar baik.” Jawaban sederhana itu membuat Ignis terdiam sesaat. Evelyne tidak bertanya apakah ia menemukan sesuatu yang penting. Ia tidak memintanya menjelaskan setiap detail. Baginya, menemukan sebagian jawaban sudah cukup untuk disebut kabar baik. Ignis hampir lupa bahwa tidak semua orang memandang dunia sebagai rangkaian masalah yang harus diselesaikan sekaligus. “Bagaimana denganmu?” tanyanya. “Apa yang kau lakukan di taman?” “Aku hendak membaca. Tapi cuacanya terlalu bagus untuk menghabiskan waktu di dalam ruangan.” Ia menunjuk ke arah bangku batu di bawah pohon berbunga. “Kau boleh ikut kalau tidak sedang sibuk.” Ignis melirik dokumen di tangannya. Untuk sesaat, ia ingin kembali ke perpustakaan dan melanjutkan pencarian. Namun, tidak ada alasan untuk terburu-buru. Catatan itu tidak akan menghilang hanya karena ia menghabiskan setengah jam di taman. “Baiklah.” Mereka duduk berdampingan. Evelyne membuka bukunya, sedangkan Ignis meletakkan salinan inventaris di pangkuannya. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang nyaman. Kemudian Evelyne berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari halaman. “Ibuku pernah mengatakan bahwa sejarah seperti taman.” Ignis menoleh. “Perumpamaan yang tidak biasa.” “Katanya, orang sering hanya mengingat bunga yang tumbuh paling indah. Mereka lupa bahwa taman juga memiliki akar, tanah, dan bagian-bagian yang tidak terlihat.” Ia menutup bukunya sebentar. “Kalau seseorang hanya mencatat bunga yang disukainya, apakah itu berarti bagian lainnya tidak pernah ada?” Ignis memandang taman di hadapan mereka. Daun-daun bergerak tertiup angin. Sinar matahari menyentuh kelopak bunga, sementara bayangan cabang pohon membentuk pola yang berubah perlahan di atas jalan setapak. “Tidak,” jawabnya. “Itu hanya berarti catatannya tidak lengkap.” Evelyne tersenyum. “Kalau begitu, kau harus mencari bagian yang hilang.” Ignis menatap gadis itu sedikit lebih lama. Ia tidak tahu apakah perkataan tersebut memiliki makna lebih dalam atau hanya kebetulan. Evelyne bahkan tidak mengetahui apa yang sedang ia selidiki. Namun, kalimat itu tetap melekat dalam pikirannya. Catatan yang tidak lengkap bukan bukti bahwa masa lalu tidak pernah terjadi. Dan sesuatu yang tidak tercatat belum tentu sengaja dihapus. Terkadang, seseorang hanya tidak mengetahui apa yang seharusnya ditulis. --- Malam itu, Ignis kembali memasuki alam kutukan. Sembilan pilar masih berdiri di tengah kegelapan. Retakan pada pilar perak-putih belum berubah. Ia berdiri cukup jauh dan mengamati tempat serpihan perak itu muncul sebelumnya. Tidak ada apa-apa di sana. Namun, ketika ia menoleh ke arah gerbang, ia melihat sesuatu yang belum pernah diperhatikannya dengan jelas. Di salah satu sisi gerbang terdapat deretan guratan kecil, hampir tertutup oleh lapisan hitam yang menyerupai batu terbakar. Ignis mendekat perlahan, menjaga jarak dari pilar yang retak. Ia membersihkan sedikit permukaan gerbang dengan ujung jarinya. Tiga guratan muncul. Lalu satu kata yang ditulis dengan huruf kuno. MEMORIA. Ingatan. Ignis menatap kata itu tanpa bergerak. Di belakangnya, sembilan pilar mengeluarkan suara bergetar yang sangat pelan. Lalu terdengar bisikan dari kegelapan. “Yang hilang dari catatan belum tentu hilang dari dunia.” Ignis berbalik. Tidak ada sosok. Tidak ada mata yang mengawasinya. Hanya kegelapan yang membentang tanpa akhir. Ia kembali menatap tulisan di gerbang. Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertimbangkan kemungkinan yang berbeda. Mungkin misteri ini bukan hanya tentang sejarah yang dipalsukan. Mungkin ada sesuatu yang membuat orang-orang kehilangan kemampuan untuk mengingatnya. Namun, ia belum memiliki bukti. Dan sebelum mengetahui perbedaan antara ingatan yang hilang dan sejarah yang sengaja dihapus, ia tidak akan membiarkan dirinya mengambil kesimpulan. Ignis mundur dari gerbang. Di kehidupan pertamanya, ia mengira bahwa kebenaran adalah sesuatu yang bisa ditemukan jika seseorang cukup kuat untuk meraihnya. Sekarang, ia mulai memahami bahwa kebenaran juga bisa menjadi sesuatu yang harus dijaga agar tidak rusak ketika ditemukan. Ketika ia terbangun, malam masih menyelimuti kamarnya. Ia segera mengambil kertas dan menuliskan tiga kata sebelum ingatannya memudar. Lambang. Perjanjian. Ingatan. Di bawahnya, ia menambahkan satu kalimat. Jangan menganggap sesuatu telah dihapus hanya karena aku tidak dapat menemukannya. Ia meletakkan pena. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Ignis merasa bahwa ia mungkin sedang mengejar pertanyaan yang salah. Bukan sekadar siapa yang mengubah sejarah. Melainkan apa yang membuat sejarah itu bisa berubah tanpa meninggalkan jejak yang jelas. Dan jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin telah menunggunya jauh sebelum ia dilahirkan. Bersambung. Bab 16 — Nama dalam Daftar yang Berbeda: Caelan menemukan ketidaksesuaian lain dalam arsip ekspedisi, sementara Ignis mulai menyadari bahwa ingatan manusia mungkin menyimpan celah yang tidak dapat dijelaskan oleh waktu saja.

End of Chapter 15