Chapter 14 of 70
Bab 14 — Retakan pada Takdir
1.4k words
Ignis tidak langsung bangkit dari tempat tidurnya.
Ia duduk diam, menatap telapak tangan kirinya yang terbuka di bawah cahaya bulan. Napasnya perlahan kembali teratur, tetapi percakapan yang didengarnya di dalam alam kutukan masih bergema di kepalanya.
Pewaris itu telah menunjukkan tandanya.
Belum. Itu baru pantulan.
Ketika dua sayap itu kembali saling mengenali.
Ignis mengulang setiap kalimat dalam pikirannya.
Ada dua suara yang berbeda. Ia cukup yakin akan hal itu. Suara pertama terdengar seperti seseorang yang mengamati dari kejauhan, sementara suara kedua memiliki nada yang lebih dingin, seolah sedang menjelaskan sesuatu yang sudah dipahaminya sejak lama.
Tetapi tidak satu pun menyebut namanya.
Tidak satu pun menjelaskan apa yang dimaksud dengan tanda.
Dan yang paling mengganggunya, percakapan tersebut tidak pernah muncul dalam ingatannya tentang kehidupan pertama.
“Kalau aku terus menganggap semua yang kuingat sebagai kebenaran mutlak, aku akan mati untuk kedua kalinya karena kebodohanku sendiri.”
Ia mengusap wajahnya.
“Hebat. Baru kembali menjadi anak-anak, aku sudah harus menghadapi masalah yang bahkan orang dewasa pun mungkin tidak sanggup mengerti.”
Untuk beberapa saat, ia mempertimbangkan untuk kembali tidur.
Lalu ia mengingat sembilan pilar dan retakan pada pilar perak-putih.
Keputusan pun berubah.
Malam ini, ia tidak akan mencoba memaksakan diri memasuki alam kutukan lagi. Ia belum memahami batas-batas tempat itu, dan pengalaman sebelumnya telah mengajarinya bahwa rasa ingin tahu yang berlebihan bisa menjadi cara tercepat untuk kehilangan nyawa.
Setidaknya, kali ini ia masih punya pilihan untuk menunggu pagi.
Sayangnya, pagi datang membawa masalah lain.
---
“Kenapa kau terlihat seperti seseorang yang kalah taruhan dengan hantu?”
Mira Valen berdiri di dekat meja sarapan, membawa teko susu hangat. Tatapannya tertuju pada Ignis yang duduk sambil menopang dagu.
Ignis menoleh.
“Apakah wajahku separah itu?”
“Tidak, Tuan Muda. Wajah Anda masih tampan.”
Mira berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan ekspresi serius, “Hanya saja, Anda terlihat seperti belum tidur sama sekali.”
“Penilaian yang sangat menghibur.”
“Saya selalu berusaha melayani dengan jujur.”
Ignis hampir tersenyum.
Di kehidupan pertamanya, Mira tetap menjadi salah satu orang yang paling sering mengkhawatirkannya. Namun, saat itu ia terlalu sibuk mengejar kekuatan untuk menyadari betapa banyak hal sederhana yang telah ia abaikan.
Sekarang, ia tidak berniat mengulangi kesalahan yang sama.
“Aku hanya mengalami mimpi buruk,” katanya.
Mira meletakkan secangkir susu di hadapannya.
“Mimpi buruk yang sama seperti sebelumnya?”
Pertanyaan itu membuat Ignis terdiam sesaat.
Ia tidak pernah menjelaskan isi mimpinya kepada Mira. Namun, perempuan itu telah melihat cukup banyak malam ketika ia terbangun dengan tubuh gemetar, bahkan sebelum Ignis kembali ke masa lalu.
“Kurang lebih.”
Mira tidak mendesaknya.
Sebagai gantinya, ia menarik kursi dan duduk pada jarak yang sopan.
“Kalau begitu, jangan memaksakan diri hari ini. Anda boleh menjadi genius keluarga, tetapi Anda tetap membutuhkan tidur.”
Ignis memandangi cangkirnya.
“Aku akan mengingat nasihat itu.”
“Bagus.”
Mira berdiri, puas dengan jawabannya.
“Dan jangan lupa menghabiskan sarapan. Kalau tidak, saya akan melaporkannya kepada Tuan Garrick.”
Ignis mengangkat wajah.
“Itu ancaman yang kejam.”
“Terima kasih, Tuan Muda.”
Mira pergi sebelum Ignis sempat membalas.
Untuk sesaat, suasana hatinya terasa lebih ringan.
Tidak semua hal dalam kehidupan keduanya harus berubah menjadi perang melawan takdir.
Beberapa hal boleh tetap sederhana.
---
Setelah sarapan, Ignis menuju perpustakaan keluarga.
Ia tidak langsung mencari dokumen mengenai kutukan. Catatan semacam itu terlalu langka, dan pencarian yang terlalu terarah hanya akan menarik perhatian.
Sebaliknya, ia kembali pada lambang dua sayap.
Jika suara dalam alam kutukan benar-benar berkaitan dengan lambang tersebut, maka ia membutuhkan informasi dari dunia nyata untuk membedakan fakta dari dugaan.
Perpustakaan keluarga Pendragon memiliki tiga lantai. Bagian utama berisi catatan silsilah, strategi militer, dan sejarah keluarga. Sementara itu, ruang arsip yang lebih tua berada di lantai bawah, sebagian besar terkunci dan hanya dapat diakses dengan izin.
Ignis belum memiliki izin untuk memasuki bagian terdalam.
Namun, ia masih dapat menggunakan rak sejarah umum.
Ia mengambil beberapa buku tentang masa awal Kekaisaran Solvaris, lalu menyusuri meja panjang di dekat jendela.
Setelah hampir satu jam membaca, ia menemukan sesuatu.
Bukan lambang dua sayap.
Melainkan catatan mengenai sebuah perjanjian kuno yang dibuat sebelum Solvaris berdiri.
Sebagian besar isi halaman itu telah rusak. Tinta di beberapa bagian memudar, sedangkan nama pihak-pihak yang terlibat telah hilang bersama potongan kertas yang robek.
Hanya satu kalimat yang masih terbaca dengan jelas.
Perjanjian tersebut disaksikan oleh dua pihak yang tidak boleh dipisahkan, sebab kehancuran salah satunya akan mengubah keseimbangan pihak lainnya.
Ignis membaca kalimat itu dua kali.
Tidak ada nama naga.
Tidak ada nama Pendragon.
Tidak ada lambang.
Hanya kalimat samar yang bisa merujuk pada banyak hal.
Ia membalik halaman berikutnya.
Kosong.
Halaman setelahnya juga kosong.
“Catatan yang sangat membantu,” gumamnya. “Benar-benar membuatku ingin berterima kasih kepada penulisnya.”
“Apakah kau sedang berbicara dengan buku?”
Ignis menoleh.
Caelan Voss berdiri beberapa langkah darinya, membawa setumpuk dokumen dan sebuah buku tebal yang tampak terlalu berat untuk dibawa seorang diri.
“Kadang-kadang,” jawab Ignis. “Buku tidak pernah menyela.”
Caelan mengangkat sebelah alis.
“Kalau begitu, kau belum pernah membaca buku yang ditulis oleh orang bodoh.”
“Sayangnya, aku sedang membaca catatan sejarah. Jadi, aku tidak bisa memastikan.”
Pria itu tertawa pendek sebelum meletakkan dokumennya di meja.
“Apa yang kau cari kali ini?”
“Sejarah sebelum berdirinya Solvaris.”
“Topik yang terlalu luas untuk anak seusiamu.”
“Sejarah tidak menjadi lebih sederhana hanya karena pembacanya masih kecil.”
Caelan menatapnya selama beberapa detik.
Ada sesuatu pada cara Ignis berbicara yang selalu membuat sang arsiparis merasa sedang berbincang dengan seseorang yang jauh lebih tua daripada penampilannya.
Namun, Caelan tidak mencoba mencari penjelasan aneh. Ia hanya menganggap anak itu memiliki rasa ingin tahu yang tidak biasa.
“Kalau kau tertarik pada periode tersebut, carilah catatan ekspedisi dari masa awal kekaisaran,” katanya. “Banyak wilayah yang sekarang berada di bawah Solvaris dahulu memiliki hubungan dengan kerajaan lain. Beberapa perjanjian bahkan lebih tua daripada batas wilayah yang kita kenal sekarang.”
“Apakah catatan itu tersedia di sini?”
“Sebagian. Sisanya berada dalam arsip kekaisaran.”
Ignis menahan keinginannya untuk langsung bertanya mengenai lambang dua sayap.
Ia tidak boleh membuat Caelan curiga hanya karena satu simbol.
“Terima kasih atas sarannya.”
Caelan mengangguk, kemudian kembali mengurus dokumennya.
Ignis menutup buku sejarah itu.
Ia mendapatkan satu petunjuk, tetapi belum cukup untuk menarik kesimpulan.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa menunggu jawaban mungkin lebih sulit daripada menghadapi monster di alam kutukan.
---
Malam berikutnya, Ignis kembali memasuki alam kegelapan.
Sembilan pilar berdiri di kejauhan.
Pilar perak-putih masih retak.
Namun, kali ini tidak ada suara yang menyambutnya.
Ignis berdiri pada jarak aman, mengamati retakan tersebut tanpa mendekat. Ia mencoba mengingat kapan tepatnya retakan itu muncul.
Setelah evaluasi.
Setelah garis perak muncul di dalam kristal.
Setelah ia mendengar percakapan dua suara.
Tiga kejadian yang berdekatan.
Tetapi kedekatan waktu bukan bukti hubungan sebab-akibat.
Ia mengulangi kalimat itu dalam hati, seolah sedang mengingat pelajaran yang pernah ia abaikan.
Kemudian ia melihat sesuatu di bawah pilar.
Sebuah serpihan kecil berwarna perak tergeletak di tanah hitam.
Ignis tidak segera menyentuhnya. Ia mengambil sebatang ranting yang muncul entah dari mana di dekat kakinya, lalu mendorong serpihan itu perlahan.
Benda itu tidak bergerak.
Ketika ujung ranting menyentuh permukaannya, terdengar bunyi halus seperti kaca yang beradu.
Ignis menyipitkan mata.
Di permukaan serpihan tersebut terdapat guratan tipis.
Dua lengkungan.
Satu lingkaran yang terputus.
Lambang dua sayap.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia ingin mengambil benda itu. Ia ingin memeriksanya lebih dekat dan mencari tahu apakah serpihan tersebut memiliki hubungan dengan garis perak di telapak tangannya.
Namun, sebelum ia sempat memutuskan, tanah di bawah pilar bergetar.
Retakan pada pilar melebar sedikit.
Dari balik celah itu, muncul cahaya putih yang begitu pucat hingga hampir menyerupai ketiadaan warna.
Lalu terdengar suara.
Bukan suara yang sama seperti sebelumnya.
Kali ini, suara itu hanya mengucapkan satu kalimat.
“Jangan sentuh apa yang belum mengenali dirimu.”
Ignis segera mundur.
Serpihan perak itu lenyap.
Cahaya di dalam retakan padam, dan pilar kembali diam seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Ignis berdiri membeku selama beberapa saat.
Ia tidak tahu apakah suara itu sebuah peringatan, ancaman, atau sekadar mekanisme pertahanan dari tempat tersebut.
Namun, ia cukup berpengalaman untuk memahami satu hal.
Ia baru saja menemukan sesuatu yang mungkin penting.
Dan ia tidak mengambilnya.
Untuk pertama kalinya sejak regresi, Ignis memilih meninggalkan sebuah petunjuk tanpa mencoba menguasainya.
Ketika ia terbangun, langit di luar jendela masih gelap.
Ia membuka telapak tangan kirinya.
Sebuah garis perak samar muncul di bawah kulit, membentuk lengkungan kecil sebelum perlahan menghilang.
Ignis menatapnya tanpa berkedip.
“Baiklah,” bisiknya. “Aku tidak akan menyentuhnya.”
Ia menarik napas.
“Tapi suatu hari nanti, aku akan mengetahui siapa yang meninggalkannya di sana.”
Jauh di dalam alam yang tidak dapat dijangkaunya, sembilan pilar tetap berdiri.
Dan pada pilar perak-putih, retakan itu tidak lagi melebar.
Namun, retakan tersebut juga tidak menutup.
Bersambung.
Bab 15 — Catatan dari Masa yang Hilang: Sebuah dokumen lama membawa Ignis pada jejak hubungan antara keluarga Pendragon dan sejarah yang tidak pernah diajarkan kepada generasi muda.