Pagi itu, halaman latihan keluarga Pendragon dipenuhi suara baja yang beradu.
Para pelayan bergerak di antara bangunan batu putih, membawa perlengkapan latihan dan mencatat nama setiap peserta. Beberapa kesatria berdiri di tepi arena, sementara para anggota keluarga bangsawan duduk di bawah paviliun untuk menyaksikan evaluasi tahunan para pewaris muda.
Bagi kebanyakan anak, hari ini adalah kesempatan untuk memperoleh pujian.
Bagi Ignis, ini adalah ujian pertama yang benar-benar penting sejak ia kembali ke masa lalu.
Bukan karena ia takut gagal.
Melainkan karena ia tahu betul bahwa keberhasilan yang terlalu mencolok dapat menjadi belenggu.
“Jangan melamun.”
Suara Garrick Thorne membuyarkan pikirannya.
Pria itu berdiri di sampingnya dengan kedua tangan terlipat di dada. Seperti biasa, ekspresinya sulit dibaca.
“Evaluasi ini bukan hanya tentang seberapa keras kau bisa memukul,” ujar Garrick. “Mereka akan melihat kendali, ketepatan, kemampuan membaca lawan, dan bagaimana kau bertindak ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.”
Ignis meliriknya.
“Kalau begitu, sepertinya aku harus terlihat sedikit bodoh.”
Alis Garrick terangkat.
“Jangan terlalu khawatir. Kau sudah berlatih cukup keras untuk melakukannya secara alami.”
Ignis terdiam sesaat.
Lalu ia tertawa kecil.
Garrick tidak tersenyum, tetapi sudut matanya bergerak tipis.
“Bagus. Setidaknya kau masih bisa tertawa sebelum dihajar anak seusiamu.”
Di sisi lain halaman, seorang anak berambut cokelat sedang memutar pedang kayunya dengan penuh percaya diri. Ia memiliki tubuh sedikit lebih tinggi daripada Ignis dan mengenakan pakaian latihan dengan lambang cabang keluarga Pendragon.
Namanya Leonhard Pendragon.
Putra dari salah satu kerabat jauh keluarga utama, sekaligus anak yang terkenal karena kekuatan fisiknya di antara para pewaris muda.
Leonhard menyadari tatapan Ignis dan berjalan mendekat.
“Jadi, kau Ignis?”
“Sepertinya begitu.”
“Aku mendengar kau mulai berlatih lebih awal daripada anak-anak lain.” Leonhard mengangkat dagu. “Jangan kecewakan aku. Aku ingin tahu apakah rumor tentang genius keluarga utama itu benar.”
Ignis memandang pedang kayu di tangan anak itu.
“Kalau kau ingin tahu, tunggu giliranmu.”
Leonhard mengerutkan kening, seolah tidak menyangka akan menerima jawaban sesederhana itu.
“Kau cukup percaya diri.”
“Tidak juga. Aku hanya belum sarapan dengan cukup banyak untuk berdebat.”
Leonhard mendengus lalu kembali ke kelompoknya.
Garrick menunduk sedikit ke arah Ignis.
“Kau baru saja membuatnya kesal.”
“Apakah itu termasuk pelanggaran dalam evaluasi?”
“Belum. Namun, kalau dia memukulmu lebih keras karena kesal, jangan menangis.”
“Aku akan mempertimbangkannya.”
Garrick menghela napas panjang.
Anak ini semakin sulit dipahami.
---
Evaluasi dimulai dengan ujian kendali energi.
Setiap peserta diminta menyalurkan mana ke dalam sebuah kristal pengukur. Warna dan intensitas cahaya akan menunjukkan jumlah energi yang mampu mereka kendalikan, sementara kestabilan pancaran menjadi tolok ukur ketepatan pengendalian.
Satu per satu, para pewaris maju.
Ada yang menghasilkan cahaya biru pucat. Ada pula yang memancarkan sinar keemasan yang cukup terang untuk mengundang tepuk tangan.
Ketika nama Ignis dipanggil, halaman latihan perlahan menjadi lebih sunyi.
Ia melangkah menuju kristal.
Di kehidupan sebelumnya, ia ingat hari ini dengan jelas. Pada usia delapan tahun, bakatnya telah melampaui hampir seluruh anak seusianya. Para tetua memujinya sebagai harapan baru keluarga Pendragon.
Pujian itu kemudian berubah menjadi tuntutan.
Tuntutan berubah menjadi pengawasan.
Dan pengawasan, pada akhirnya, membuat setiap kesalahan kecil terasa seperti dosa.
Kali ini, ia tidak berniat mengulangi semuanya.
Ignis meletakkan telapak tangan di atas kristal.
Ia menarik napas perlahan, lalu mengalirkan mana ke dalamnya.
Cahaya merah tua muncul dari inti kristal.
Mula-mula redup.
Kemudian semakin terang, membentuk lingkaran cahaya tipis yang berputar di dalam permukaannya.
Bisikan terdengar dari bangku penonton.
“Warna itu…”
“Energi drakonik?”
“Mustahil. Anak seusianya belum tentu mampu membangkitkan ciri darah keluarga.”
Ignis segera mengendalikan aliran mananya.
Cahaya itu meredup, berhenti sebelum mencapai intensitas yang sebenarnya dapat ia hasilkan.
Namun, ia terlambat menyadari satu hal.
Di tengah cahaya merah tersebut, sesaat muncul garis perak yang membentuk lengkungan menyerupai sayap.
Hanya sesaat.
Lalu lenyap.
Ignis menarik tangannya.
Kristal kembali bening.
Seorang tetua yang duduk di dekat meja penilaian menyipitkan mata. Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi ujung jarinya mengetuk permukaan meja tiga kali.
“Kontrol cukup baik,” katanya akhirnya. “Cadangan mana di atas rata-rata. Potensi afinitas drakonik juga patut diperhatikan.”
Ia berhenti sejenak.
“Namun, aliran energinya sempat berubah. Pastikan kau tidak memaksakan diri dalam latihan berikutnya.”
Ignis menunduk sopan.
“Baik, Tetua.”
Ia berjalan kembali ke tempatnya dengan wajah tenang.
Di dalam kepalanya, berbagai kemungkinan mulai tersusun.
Garis perak itu tidak seharusnya muncul.
Apakah karena perubahan yang ia lakukan setelah regresi? Apakah tanda di telapak tangannya semalam memiliki hubungan dengan aliran mana? Atau ia sekadar melihat sesuatu yang kebetulan menyerupai simbol dua sayap?
Belum ada jawaban.
Dan Ignis tidak akan membuat kesimpulan hanya karena dua hal muncul berdekatan.
Itulah salah satu kesalahan yang pernah ia lakukan dalam kehidupan pertamanya: mengira bahwa mengetahui masa depan berarti memahami penyebab di baliknya.
Padahal, ia hanya mengetahui hasil akhirnya.
Bukan seluruh jalan yang mengarah ke sana.
---
Ujian berikutnya adalah pertarungan latihan.
Para peserta dibagi berdasarkan usia dan kemampuan, kemudian dipasangkan untuk menguji dasar-dasar pertempuran mereka.
Ignis mendapat lawan yang tidak mengejutkan siapa pun.
Leonhard Pendragon.
Anak itu menyeringai ketika mereka memasuki arena.
“Semoga kau tidak terlalu cepat menyerah.”
Ignis mengambil pedang kayu yang disediakan.
“Kalau aku menyerah, apakah kita boleh langsung makan siang?”
Beberapa anak di sekitar arena tertawa.
Leonhard tidak ikut tertawa.
Peluit berbunyi.
Leonhard menyerang lebih dahulu.
Tebasannya cepat untuk anak seusianya, mengarah ke bahu Ignis dengan tenaga yang cukup besar. Ignis memiringkan tubuh, membiarkan pedang itu melewati sisi bajunya, lalu menggeser kaki untuk menjaga jarak.
Serangan kedua menyusul.
Kemudian ketiga.
Ignis menghindar tanpa membalas.
Ia melihat bahu Leonhard bergerak lebih dahulu setiap kali anak itu hendak menyerang. Kakinya juga terlalu berat ketika berpindah arah, membuat serangan berikutnya mudah ditebak.
Dalam kehidupan sebelumnya, Ignis mungkin sudah mengakhiri pertarungan ini dengan tiga gerakan.
Namun, tubuhnya sekarang kecil.
Ototnya belum berkembang. Jangkauannya pendek. Keseimbangannya belum cukup matang untuk melakukan semua teknik yang masih ia ingat.
Pengetahuan tidak membuat tulangnya lebih kuat.
Pengalaman tidak otomatis mempercepat langkahnya.
Ia harus bertarung dengan tubuh yang benar-benar dimilikinya sekarang.
Leonhard kembali menerjang, kali ini dengan serangan menyamping yang lebih lebar.
Ignis mundur setengah langkah.
Ujung pedang kayu Leonhard menyentuh lengan bajunya.
“Poin untuk Leonhard!” seru pengawas.
Sorakan kecil terdengar dari kelompok keluarga cabang.
Leonhard tersenyum lebar.
“Apa yang terjadi, genius? Kau terlalu lambat?”
Ignis menatap bekas sentuhan di lengan bajunya.
“Sepertinya begitu.”
Ia tidak marah.
Justru, ia merasa lega.
Ia baru saja membuktikan sesuatu yang penting kepada dirinya sendiri: meskipun ia mengingat banyak hal, ia tetap bisa salah memperhitungkan jarak ketika menggunakan tubuh yang belum terbiasa.
Leonhard menyerang lagi.
Kali ini, Ignis tidak mencoba menghindar sepenuhnya.
Ia membiarkan serangan itu mendekat, membaca arah bahu lawannya, lalu menggeser pedangnya untuk menangkis pada sudut yang tepat.
Benturan kayu terdengar nyaring.
Leonhard kehilangan keseimbangan selama sesaat.
Ignis memanfaatkan celah itu untuk menyentuhkan ujung pedangnya ke dada lawan.
“Poin untuk Ignis!”
Kali ini, sorakan terdengar dari kedua sisi.
Leonhard menatapnya dengan mata membesar.
“Aku belum selesai!”
“Aku juga belum bilang selesai.”
Mereka kembali bertarung.
Leonhard mengandalkan kekuatan dan keberanian. Ignis mengandalkan pengamatan, jarak, serta gerakan sederhana yang bisa dilakukan tubuhnya.
Tidak ada teknik spektakuler.
Tidak ada ledakan mana.
Hanya dua anak yang bertukar serangan di atas arena kayu.
Pada pertukaran terakhir, Leonhard menyerang terlalu jauh ke depan. Ignis menghindar ke samping dan menyentuhkan pedangnya ke bahu lawan.
Pengawas mengangkat tangan.
“Pertandingan selesai. Hasilnya imbang berdasarkan jumlah poin.”
Leonhard menggertakkan gigi, tetapi setelah beberapa detik ia mengulurkan tangan.
“Kau menyebalkan.”
Ignis menerima uluran itu.
“Aku sering mendengarnya.”
“Aku akan mengalahkanmu lain kali.”
“Aku akan berusaha tidak merepotkanmu.”
Leonhard menatapnya curiga, seolah tidak yakin apakah ia sedang diejek.
Dari tepi arena, Garrick mengangguk kecil.
Ignis tidak menang telak.
Namun, ia menunjukkan sesuatu yang lebih berharga daripada kemenangan mudah: kemampuan menyesuaikan diri ketika menghadapi batasannya sendiri.
---
Menjelang akhir evaluasi, para tetua mengumumkan hasil sementara.
Ignis menempati peringkat teratas dalam pengendalian energi dan termasuk yang terbaik dalam penilaian taktik. Dalam pertarungan, hasil imbangnya dengan Leonhard membuat beberapa pengamat menilai bahwa kemampuan fisiknya masih perlu dikembangkan.
Kesimpulan yang cukup masuk akal.
Tidak berlebihan.
Dan yang paling penting, tidak menuntutnya menjadi monster sempurna dalam semalam.
Saat para peserta mulai meninggalkan arena, seorang pria tua mendekati tetua yang sebelumnya memeriksa kristal mana.
“Apakah kau melihat perubahan warna tadi?”
“Aku melihatnya.”
“Garis perak itu mirip dengan lambang dalam catatan lama.”
Tetua tersebut terdiam.
“Jangan membuat dugaan berdasarkan satu kilatan cahaya.”
“Aku hanya mengatakan kemiripannya.”
“Dan aku hanya mengatakan bahwa kemiripan bukanlah bukti.”
Mereka tidak melanjutkan pembicaraan itu.
Tetapi dari kejauhan, Ignis melihat keduanya berdiri terlalu lama di dekat kristal pengukur.
Ia tidak dapat mendengar percakapan mereka.
Ia juga tidak tahu apakah mereka benar-benar melihat garis perak yang sama.
Namun, untuk pertama kalinya sejak kembali ke usia delapan tahun, ia menyadari bahwa perubahan yang ia buat mungkin tidak hanya mengubah masa depannya.
Perubahan itu mungkin juga mulai menarik perhatian orang-orang yang selama ini tidak pernah memandangnya dengan cara yang sama.
Malamnya, ketika Ignis duduk di tepi ranjang, ia membuka telapak tangan kirinya.
Tidak ada garis perak.
Tidak ada lambang.
Hanya kulit seorang anak berusia delapan tahun.
Ia mengepalkan tangan, lalu menatap bayangannya di jendela.
“Baiklah,” gumamnya. “Kalau dunia mulai bergerak lebih cepat, aku harus memastikan aku tidak tertinggal.”
Ia memadamkan lampu.
Dan ketika tidur menariknya menuju kegelapan, sembilan pilar kembali menunggunya.
Namun, malam ini, ada sesuatu yang berbeda.
Pilar perak-putih yang sebelumnya berdiri diam kini memiliki retakan tipis.
Dari balik retakan itu, terdengar suara yang bukan milik sosok misterius yang biasa berbicara kepadanya.
Suara itu terdengar jauh.
Tua.
Dan untuk alasan yang tidak dapat dijelaskan Ignis, suara tersebut membuat darahnya terasa dingin.
“Pewaris itu telah menunjukkan tandanya.”
Hening sesaat.
Kemudian suara lain menjawab.
“Belum. Itu baru pantulan.”
“Lalu, kapan kita akan tahu?”
Di balik pilar yang retak, sesuatu bergerak.
“Ketika dua sayap itu kembali saling mengenali.”
Ignis terbangun mendadak, napasnya memburu.
Kamar masih gelap.
Tangannya gemetar sedikit, tetapi ia segera menahannya.
Ia tidak tahu siapa yang berbicara.
Ia tidak tahu apa yang dimaksud dengan pantulan.
Namun, satu hal terasa jelas.
Di kehidupan pertamanya, ia tidak pernah mendengar percakapan itu.
Dan jika ingatannya benar, berarti sesuatu telah berubah lebih jauh daripada yang ia perkirakan.
Bersambung.
Bab 14 — Retakan pada Takdir: Ketika Ignis mulai menyelidiki perubahan pada kutukannya, sebuah petunjuk baru muncul di tempat yang tidak pernah ia duga sebelumnya.