Chapter 12 of 70

Bab 12 — Harga Sebuah Kemajuan

1.8k words

Bunyi pedang kayu beradu terdengar berulang kali di halaman latihan House Pendragon. Tak. Tak! Duk! Ignis mundur dua langkah, menahan rasa nyeri pada pergelangan tangannya. Pedang kayu di tangannya hampir terlepas setelah menangkis serangan Garrick Thorne. “Lagi,” perintah mantan kesatria itu. Ignis mengatur napas. “Guru, apakah Anda tidak pernah merasa bahwa mengulang kesalahan yang sama merupakan bentuk kegilaan?” “Tidak.” “Jawaban yang sangat singkat.” “Karena aku sedang melatihmu, bukan menghiburmu.” Garrick mengangkat pedangnya. Ignis segera memasang kuda-kuda. Kali ini, ia tidak mencoba membaca tiga atau empat kemungkinan serangan sekaligus. Ia memusatkan perhatian pada bahu Garrick, posisi kaki, dan perubahan kecil pada keseimbangan tubuh lawannya. Serangan datang dari kanan. Ignis menangkisnya, menggeser kaki, kemudian mencoba melakukan serangan balasan. Hampir berhasil. Hampir. Garrick memutar pergelangan tangannya, mengalihkan pedang Ignis, lalu menyentuh bahu anak itu dengan ujung senjata kayunya. “Sekali lagi.” Ignis menurunkan pedangnya. Dalam kehidupan pertamanya, ia mampu menghadapi kesatria berpengalaman tanpa harus memikirkan setiap gerakan secara sadar. Pengalaman bertahun-tahun telah menjadikan banyak keputusan sebagai naluri. Namun, tubuh yang sekarang dimilikinya belum memiliki fondasi yang sama. Ia bisa mengingat bagaimana seorang ahli pedang bergerak, tetapi ingatan tersebut tidak otomatis membuat ototnya mampu meniru gerakan itu. Lebih buruk lagi, ia terkadang memaksakan gerakan yang sebenarnya belum cocok untuk tubuhnya. “Masalahmu bukan kurangnya pengetahuan,” kata Garrick, seolah membaca pikirannya. “Kau ingin tubuhmu mengikuti pikiranmu, padahal tubuhmu belum siap.” “Jadi, saya harus berpikir lebih lambat?” “Kau harus berhenti menganggap setiap pertarungan sebagai teka-teki yang bisa diselesaikan dengan menemukan jawaban tercepat.” Garrick menurunkan pedangnya. “Seorang petarung yang baik bukan orang yang selalu mengetahui apa yang akan dilakukan lawannya. Ia adalah orang yang tetap bisa bertindak ketika dugaannya salah.” Ignis terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menusuk tepat ke kelemahannya. Selama ini, ia terlalu mengandalkan pengetahuan kehidupan pertama. Ia mengetahui banyak kejadian yang akan datang, mengenali sejumlah tokoh, dan memahami bagaimana beberapa konflik berakhir. Namun, semua itu berlaku untuk masa depan yang sudah ia tinggalkan. Jika tindakannya mengubah keadaan, pengetahuannya bisa menjadi tidak akurat. Bahkan dalam latihan, ia telah melihat masalah yang sama: ia terlalu sibuk memperkirakan gerakan lawan sehingga terlambat bereaksi ketika lawan melakukan sesuatu di luar dugaannya. “Baiklah,” ujar Ignis akhirnya. “Apa yang harus saya lakukan?” Garrick melemparkan sebuah kantong kain kecil ke arahnya. Ignis menangkapnya. “Buka.” Di dalamnya terdapat beberapa batu kecil. Ignis mengangkat sebelah alis. “Apakah kita akan berlatih melempar batu?” “Kau akan berlatih menjaga keseimbangan sambil bergerak. Letakkan batu-batu itu di sepanjang jalur latihan. Kemudian lewati jalur tersebut tanpa menjatuhkannya.” Ignis memandangi batu-batu itu. “Dan apa hubungannya dengan ilmu pedang?” “Kalau kau belum mampu mengendalikan tubuhmu sendiri, jangan berharap bisa mengendalikan senjata dengan baik.” Ignis menghela napas panjang. Ia mulai meletakkan batu-batu tersebut. Hari itu, ia tidak mempelajari teknik rahasia. Tidak ada jurus spektakuler, aura naga, ataupun serangan yang mampu membelah gunung. Hanya langkah kaki, keseimbangan, dan pengulangan. Menyebalkan. Tetapi untuk pertama kalinya sejak kembali ke usia delapan tahun, Ignis mulai memahami bahwa membangun kekuatan bukan sekadar mengulang apa yang pernah ia lakukan. Ia harus membangun kembali fondasinya. Dan kali ini, ia harus melakukannya dengan benar. --- Menjelang siang, latihan berakhir. Ignis duduk di bangku dekat taman, memijat pergelangan tangannya yang terasa pegal. Sebuah gelas air diletakkan di sampingnya. “Terima kasih,” katanya. Mira Valen tersenyum. “Guru Garrick bilang Tuan Muda berlatih lebih keras hari ini.” “Beliau juga bilang aku harus berlari dua puluh putaran jika mengeluh terlalu banyak.” “Kalau begitu, sebaiknya Tuan Muda tidak mengeluh.” Ignis menatapnya. “Mira, aku mulai curiga semua orang di rumah ini bekerja sama untuk membuat hidupku lebih sulit.” “Kalau begitu, saya akan menyampaikan keluhan Tuan Muda kepada Tuan Garrick.” “Itu bukan maksudku.” Mira tertawa kecil. Untuk beberapa saat, Ignis membiarkan dirinya menikmati suasana tersebut. Suara burung terdengar dari pepohonan, air mancur berdesir pelan, dan para pelayan melintasi halaman sambil membawa perlengkapan rumah tangga. Dunia masih memiliki hal-hal sederhana seperti ini. Hal-hal yang dalam kehidupan pertamanya sering ia abaikan karena terlalu sibuk mengejar jawaban dan kekuatan. Ia baru saja hendak meminum airnya ketika merasakan sensasi aneh di dadanya. Seperti benang dingin yang ditarik dari dalam tubuh. Tangannya berhenti. Rasa sakit itu hanya berlangsung sesaat, tetapi cukup untuk membuat napasnya tertahan. Mira segera menyadarinya. “Tuan Muda? Apakah Anda tidak enak badan?” Ignis menurunkan gelas. “Tidak. Mungkin hanya kelelahan.” Ia mencoba berdiri, tetapi kepalanya terasa ringan. Bukan kelelahan biasa. Sensasi tersebut mengingatkannya pada detik-detik sebelum kutukannya aktif pada malam hari. Hanya saja, kali ini matahari masih tinggi di langit. Ignis mengepalkan tangan, berusaha mengabaikannya. Kemudian, sesuatu yang lebih mengganggu terjadi. Untuk sesaat, ia merasakan seolah-olah ada bagian dari dirinya yang sedang ditarik ke tempat lain. Bukan tubuhnya. Melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Jiwanya. Ignis segera duduk kembali. Mustahil. Kutukan ini seharusnya aktif ketika aku tidur. Ia mengingat seluruh pengalaman kehidupan pertamanya. Kutukan itu selalu menarik jiwanya ke alam menyerupai neraka ketika kesadarannya terlelap. Ia tidak pernah mengingat sensasi yang persis seperti ini saat sedang terjaga. Apakah ini akibat perubahan yang dilakukannya? Atau kutukan tersebut memang memiliki kemampuan yang belum pernah ia ketahui? Ia tidak memiliki jawaban. Dan ketidaktahuan itu membuatnya lebih gelisah daripada rasa sakitnya sendiri. “Tuan Muda, saya akan memanggil tabib.” “Jangan.” Jawaban Ignis terdengar lebih tajam daripada yang ia maksudkan. Mira terdiam. Ignis segera melunakkan suaranya. “Maaf. Aku hanya perlu beristirahat sebentar. Kalau keadaan ini tidak membaik, barulah panggil tabib.” Mira tampak ragu, tetapi akhirnya mengangguk. Setelah perempuan itu pergi mengambil air tambahan, Ignis memejamkan mata dan memeriksa aliran mana di dalam tubuhnya sebagaimana yang pernah ia pelajari pada kehidupan pertama. Ia tidak menemukan gangguan yang jelas. Namun, sensasi dingin itu belum sepenuhnya menghilang. Ada sesuatu yang berubah. Ia hanya belum tahu apa. --- Sore harinya, Ignis mengunjungi ruang baca kecil untuk memeriksa kembali catatan Caelan mengenai Perjanjian Dua Sayap. Ia membentangkan salinan gambar di atas meja, lalu meletakkan buku catatannya sendiri di sampingnya. Lambang dari arsip memiliki lingkaran utuh di antara kedua sayap. Sementara simbol di gerbang kutukan memiliki bentuk yang terbelah. Ignis mencoba menggambar ulang kedua simbol itu, membandingkan setiap garis dan sudutnya. Kemudian ia menyadari sesuatu. Kedua sayap tersebut bukan sekadar mengapit lingkaran. Pada gambar arsip, ujung sayap kiri dan kanan mengarah ke pusat lingkaran. Bentuknya seperti dua tangan yang melindungi sesuatu. Pada simbol di alam kutukan, kedua sayap justru menjauh dari pusat. Seolah-olah mereka telah memutus hubungan. Apakah ini perjanjian yang telah rusak? Ia segera menuliskan kemungkinan tersebut, tetapi memberi tanda tanya besar di sampingnya. Sebuah gambar tidak cukup untuk membuktikan sejarah. Ia membutuhkan naskah aslinya, nama pihak yang terlibat, atau catatan lain yang bisa mengonfirmasi hubungan tersebut. Ketika Ignis sedang berpikir, suara langkah kaki terdengar dari lorong. Ia menutup buku catatannya. Seorang pelayan muda muncul di ambang pintu. “Tuan Muda Ignis, ada pesan dari kepala pelayan. Lord Pendragon meminta Anda menghadiri evaluasi kemampuan keluarga besok pagi.” Ignis menatapnya. “Evaluasi kemampuan?” “Benar. Beberapa pengajar akan menilai perkembangan anak-anak keluarga dan menentukan kelompok latihan mereka untuk bulan berikutnya.” Pelayan itu membungkuk, lalu pergi. Ignis tidak langsung bergerak. Dalam kehidupan pertamanya, evaluasi semacam itu merupakan salah satu kesempatan yang membuat bakatnya mulai dikenal luas. Ia ingat hasilnya dengan jelas: ia menonjol dalam pemahaman taktik, tetapi kemampuan fisiknya belum sepenuhnya berkembang. Kali ini, ia bisa saja menunjukkan hasil yang jauh lebih baik dengan memanfaatkan pengetahuan masa depan. Namun, itu juga akan membuat lebih banyak orang memperhatikannya. Ia belum siap menarik perhatian sebanyak itu. Terlebih lagi, setelah sensasi aneh yang dialaminya siang tadi, ia mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa kutukannya sedang berubah. Ia membutuhkan waktu untuk memahami keadaan dirinya sendiri. Tetapi menampilkan kemampuan yang terlalu rendah juga berbahaya. Jika ia terlihat sengaja menahan diri, para pengajar mungkin akan mulai bertanya-tanya. Ignis menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Hebat,” gumamnya. “Aku berhasil kembali ke masa lalu, tetapi sekarang aku harus menghadapi ujian yang bahkan tidak bisa kulewati dengan menyontek.” Ia mengusap wajahnya. Lalu, perlahan, sebuah senyum tipis muncul. Tidak. Ia tidak akan menghindari evaluasi itu. Ia hanya perlu menunjukkan kemampuan yang sesuai dengan usianya, membiarkan beberapa kelemahan tetap terlihat, dan memastikan tidak ada gerakan yang mengungkapkan pengalaman yang seharusnya belum ia miliki. Ia akan maju. Tetapi tidak terlalu cepat. Setidaknya, itulah rencananya. --- Malam tiba lebih cepat daripada yang diharapkan Ignis. Setelah makan malam dan menyelesaikan persiapan untuk evaluasi esok hari, ia kembali ke kamarnya. Ia menuliskan satu catatan terakhir di buku pribadinya. Hari ini, kutukan menunjukkan gejala yang tidak biasa ketika aku sedang terjaga. Ia berhenti sejenak, kemudian menambahkan: Penyebab belum diketahui. Jangan langsung menganggapnya sebagai akibat regresi. Setelah menutup buku, Ignis berbaring. Ia sudah terbiasa dengan ketakutan yang datang setiap kali hendak tidur. Namun, malam ini ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya rasa takut akan penderitaan yang menantinya, melainkan kekhawatiran bahwa kutukan itu mungkin memiliki aturan yang belum pernah ia pahami. Perlahan, kesadarannya mulai memudar. Dunia nyata menghilang. Dan kegelapan menyambutnya. Kali ini, Ignis tidak langsung muncul di tanah hitam dekat gerbang sembilan garis. Ia berdiri di sebuah ruangan luas dengan lantai menyerupai kaca gelap. Di bawah permukaannya, cahaya merah berdenyut seperti bara yang tertanam di dalam batu. Di hadapannya terdapat sembilan pilar. Delapan pilar tertutup kegelapan. Satu pilar memancarkan cahaya putih keperakan. Ignis mengenali warna itu. Warna yang muncul pada salah satu garis gerbang setelah ia menemukan lambang dua sayap. Ia melangkah mendekat. Ketika tangannya menyentuh pilar tersebut, rasa sakit menjalar hingga ke tulang-tulangnya. Namun, di tengah rasa sakit itu, sebuah gambaran muncul. Dua sayap. Sebuah lingkaran yang terbelah. Dan bayangan seseorang yang berdiri di hadapan gerbang, mengulurkan tangan seolah sedang membuat janji. Ignis berusaha melihat wajah sosok tersebut. Kabut menutupi semuanya. Lalu suara yang pernah didengarnya kembali bergema. “Setiap langkah membawa harga.” Ignis menarik tangannya dari pilar. “Siapa yang berbicara?” “Setiap perubahan meninggalkan jejak.” Cahaya pada pilar bergetar. “Dan setiap jejak dapat ditemukan.” Ignis mengepalkan tangan. “Apakah kau sedang mengancamku?” Tidak ada jawaban. Sebaliknya, lantai kaca di bawah kakinya mulai retak. Dari celah-celahnya terdengar suara bisikan yang saling bertumpuk, seolah ratusan orang sedang mengucapkan sumpah yang sama pada waktu berbeda. Ignis mundur. Di kejauhan, sembilan pilar mulai memancarkan cahaya satu demi satu. Namun, sebelum semuanya menyala, dunia kembali runtuh. Ia terbangun dengan napas memburu. Cahaya bulan menyinari kamarnya. Tangannya terasa dingin, dan untuk beberapa detik ia tidak mampu menggerakkan jari-jarinya. Lalu ia menyadari sesuatu. Pada telapak tangan kirinya, terdapat garis samar berwarna keperakan. Bukan luka. Bukan pula tinta. Garis itu menyerupai bagian kecil dari lambang dua sayap. Ignis menatapnya tanpa berkedip. Beberapa saat kemudian, garis tersebut memudar hingga menghilang sepenuhnya. Ia segera mengambil buku catatan dan menuliskan seluruh pengalamannya sebelum ingatannya menjadi kabur. Malam ini, ia memperoleh petunjuk baru. Namun, petunjuk itu datang dengan harga yang belum ia pahami. Ignis menutup buku catatannya. “Baiklah,” bisiknya ke arah kegelapan. “Kalau setiap kemajuan memang memiliki harga, aku akan memastikan bahwa aku tahu apa yang sedang kubayar.” Di luar jendela, fajar masih jauh. Dan untuk pertama kalinya sejak regresinya, Ignis mulai curiga bahwa kutukan itu bukan sekadar sesuatu yang menimpanya. Mungkin, kutukan itu sedang merespons tindakannya. Atau lebih buruk lagi— Mungkin, sesuatu di baliknya mulai menyadari bahwa Ignis telah kembali. Bersambung. Teaser Bab 13 — Evaluasi Sang Pewaris: Ignis harus membuktikan kemampuannya di hadapan para pengajar House Pendragon. Namun, ketika hasil evaluasi mulai menarik perhatian yang tidak diinginkan, ia menemukan bahwa menyembunyikan kekuatan terkadang sama sulitnya dengan menunjukkannya.

End of Chapter 12

Chapter 12: Bab 12 — Harga Sebuah Kemajuan - PENDRAGON: The Heir Bound to Hell | Novel AI Studio