Chapter 11 of 70
Bab 11 — Anak Genius dengan Rahasia
1.4k words
Rasa sakit adalah hal pertama yang dirasakan Ignis ketika membuka mata.
Punggungnya basah oleh keringat. Napasnya tersengal, sementara kedua tangannya mencengkeram seprai seolah-olah ia baru saja berjuang keluar dari kuburan.
Cahaya pagi menyusup melalui tirai kamarnya.
Ia kembali ke dunia nyata.
Namun, sensasi tangan-tangan pucat yang merangkak dari tanah hitam masih melekat di benaknya. Begitu pula suara misterius yang berbicara tentang sebuah sumpah yang seharusnya tidak pernah dilanggar.
Sumpah yang seharusnya tidak pernah dilanggar.
Ignis menutup mata sejenak.
“Kalau ini cara kalian membangunkanku setiap malam, setidaknya sediakan sarapan setelahnya.”
Tentu saja, tidak ada yang menjawab.
Ia duduk di tepi ranjang dan memeriksa kedua tangannya. Tubuh kecilnya tidak menunjukkan luka baru, tetapi rasa sakit dari alam kutukan selalu meninggalkan kelelahan yang sulit dijelaskan.
Dalam kehidupan pertamanya, ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terbiasa dengan penderitaan tersebut.
Kali ini, ia tidak berniat mengulangi kesalahan yang sama.
Ignis mengambil buku catatan dari laci meja. Dengan tulisan kecil dan rapi, ia mencatat apa yang dilihatnya malam itu: lambang dua sayap pada gerbang sembilan garis, dua sosok yang berdiri saling membelakangi, dan perubahan warna pada salah satu garis.
Ia tidak menulis dugaan sebagai fakta.
Belum ada bukti bahwa kedua sosok itu mewakili leluhurnya dan Hell Dragon King. Ia juga belum mengetahui apakah kata Pactum berkaitan langsung dengan Pactum Sanguinis.
Yang ia miliki hanyalah petunjuk.
Dan petunjuk bisa menyesatkan seseorang yang terlalu ingin menemukan jawaban.
Setelah menyimpan buku tersebut, Ignis berpakaian dan turun untuk sarapan.
Ia harus tetap terlihat seperti anak bangsawan berusia delapan tahun.
Setidaknya, sampai ia cukup kuat untuk tidak perlu berpura-pura lagi.
---
“Pukul tujuh lewat lima menit.”
Suara Garrick Thorne menyambut Ignis ketika anak itu tiba di halaman latihan.
Mantan kesatria tersebut berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Di sampingnya terdapat dua pedang kayu, sebuah tongkat latihan, dan beberapa sasaran yang disusun dalam garis lurus.
“Selamat pagi,” ujar Ignis.
“Selamat pagi tidak akan membuat latihanmu lebih mudah.”
“Sayang sekali. Aku berharap bisa memanfaatkan keajaiban itu.”
Garrick mengangkat sebelah alis.
“Kau semakin banyak bicara akhir-akhir ini.”
“Apakah itu melanggar peraturan latihan?”
“Belum. Tetapi aku bisa menambahkan hukuman lari kalau kau terus mengujiku.”
Ignis tersenyum tipis.
Setidaknya, Garrick masih sama seperti yang diingatnya.
Tegas, keras kepala, dan tidak mudah terkesan oleh nama besar House Pendragon.
Latihan dimulai dengan gerakan dasar. Ignis mengayunkan pedang kayunya, melangkah ke samping, lalu mencoba melakukan serangan balasan sesuai pola yang diajarkan Garrick.
Dalam pikirannya, setiap gerakan memiliki tujuan.
Ia tahu bagaimana seorang kesatria berpengalaman memanfaatkan jarak. Ia tahu cara memancing lawan membuka pertahanan, mengalihkan perhatian, dan menyerang titik lemah.
Masalahnya, tubuhnya tidak mampu mengikuti semua perhitungan itu.
Ketika mencoba mempercepat gerakan, kakinya kehilangan keseimbangan. Ayunan berikutnya meleset dari sasaran.
Tok!
Pedang kayunya terlepas dan jatuh ke tanah.
Garrick tidak tertawa. Ia hanya memungut senjata tersebut dan menyerahkannya kembali.
“Apa yang kau lihat ketika menyerang tadi?”
Ignis menerima pedangnya.
“Jarak, arah gerakan, dan kemungkinan serangan balasan.”
“Lalu apa yang kau abaikan?”
Ignis terdiam.
“Tubuhku sendiri.”
“Benar.”
Garrick menunjuk kedua kaki Ignis.
“Pikiranmu bergerak lebih cepat daripada tubuhmu. Kau melihat tiga langkah ke depan, tetapi bahkan belum menguasai langkah pertama. Dalam pertempuran, kesalahan seperti itu bisa membuatmu mati.”
Ignis menatap pedang kayu di tangannya.
Dalam kehidupan pertama, ia mempelajari pelajaran tersebut melalui darah dan tulang yang patah.
Mendengarnya kembali dari Garrick terasa menyebalkan.
Namun, pria itu benar.
“Aku mengerti.”
“Bagus. Ulangi gerakannya. Kali ini, jangan mencoba menjadi genius.”
Ignis menghela napas.
“Permintaan yang cukup sulit.”
“Kalau begitu, mulailah dengan berlari mengelilingi halaman sepuluh kali.”
“Guru, aku menarik kembali pernyataanku. Permintaan Anda sangat masuk akal.”
Garrick menyeringai.
Untuk pertama kalinya pagi itu, latihan terasa sedikit lebih ringan.
---
Masalah sesungguhnya muncul ketika Ignis kembali ke kediaman utama.
Di ruang makan, ayahnya, Lord Pendragon, sedang berbicara dengan seorang kesatria yang membawa laporan dari wilayah keluarga. Ignis berniat melewati mereka tanpa mengganggu percakapan.
Namun, sebuah kalimat membuat langkahnya berhenti.
“...dan anak itu menyelesaikan ujian dasar dengan hasil yang bahkan melampaui beberapa peserta yang lebih tua.”
Lord Pendragon mengangguk puas.
“Bakatnya memang luar biasa.”
Ignis mengenali pembicaraan tersebut. Seorang penguji keluarga telah menyaksikan latihan para anak bangsawan muda beberapa hari sebelumnya. Dalam kehidupan pertamanya, hasil seperti itu menjadi awal dari perhatian yang terus meningkat terhadap dirinya.
Ia tahu apa yang akan terjadi berikutnya.
Para pengajar akan menaikkan standar latihan. Kerabat akan membicarakan masa depannya. Sebagian orang akan mengaguminya, sementara yang lain mulai melihatnya sebagai ancaman.
Dan semakin banyak orang memperhatikannya, semakin sulit baginya menyelidiki rahasia kutukan secara diam-diam.
“Apakah ada masalah, Ignis?”
Suara ayahnya menariknya kembali.
Ignis membungkuk sopan.
“Tidak, Ayah. Aku hanya hendak membaca di perpustakaan.”
“Bagus. Tetapi jangan melupakan latihanmu. Bakat yang tidak diasah hanya akan menjadi potensi yang sia-sia.”
“Baik, Ayah.”
Ia melanjutkan langkahnya tanpa menunjukkan perubahan ekspresi.
Di dalam hati, ia sudah mengambil keputusan.
Ia tidak akan menyembunyikan bakatnya sepenuhnya. Itu justru akan menimbulkan kecurigaan dan menghambat perkembangannya.
Sebaliknya, ia akan menunjukkan kemampuan secukupnya, membuat kemajuan yang masuk akal, dan menyimpan pengetahuan yang tidak seharusnya dimiliki anak delapan tahun.
Ia harus menjadi genius tanpa terlihat seperti seseorang yang mengetahui masa depan.
Sebuah tugas yang jauh lebih sulit daripada mengalahkan monster.
---
Menjelang siang, Ignis menerima kunjungan yang tidak diduganya.
Caelan Voss datang membawa sebuah buku tipis dan beberapa lembar catatan. Arsiparis muda itu sebelumnya berjanji akan menyampaikan perkembangan penyelidikannya mengenai Kotak E-17.
“Aku belum menemukan lokasi kotaknya,” kata Caelan setelah mereka duduk di ruang baca kecil. “Namun, aku menemukan sesuatu yang mungkin menarik perhatianmu.”
Ia membuka buku dan menunjuk sebuah gambar.
Dua sayap.
Ignis menjaga ekspresinya tetap tenang, meskipun jantungnya berdegup lebih cepat.
Gambar tersebut tidak identik dengan simbol di gerbang alam kutukan. Bentuknya menyerupai dua sayap yang mengapit sebuah lingkaran kecil, dengan garis tipis di bagian tengah.
“Di mana Anda menemukan ini?” tanya Ignis.
“Catatan katalog dari sebuah koleksi sejarah yang pernah dipindahkan ke arsip kekaisaran. Keterangan aslinya tidak lengkap. Aku belum bisa memastikan siapa pemilik lambang ini.”
“Apakah lambang itu milik keluarga bangsawan?”
“Tidak diketahui.”
Caelan membalik halaman.
“Yang menarik, simbol ini muncul dalam catatan tentang sebuah perjanjian sebelum berdirinya Kekaisaran Solvaris. Tidak ada nama keluarga yang tercantum. Hanya sebuah istilah.”
Ignis menahan napas.
“Apa istilahnya?”
Caelan menunjukkan tulisan yang nyaris pudar di bawah gambar.
PACTUM BINAE ALARUM.
“Bahasa kuno,” jelas Caelan. “Terjemahan sementaranya kira-kira adalah Perjanjian Dua Sayap. Namun, aku belum menemukan teks lengkap yang bisa memastikan maknanya.”
Dunia seakan berhenti sesaat.
Perjanjian Dua Sayap.
Lambang yang dilihatnya di alam kutukan ternyata memiliki kemungkinan hubungan dengan perjanjian kuno di dunia nyata.
Tetapi siapa dua pihak yang membuatnya?
Dan mengapa sumpah itu berkaitan dengan darah Pendragon?
Ignis tidak membiarkan pertanyaan tersebut muncul di wajahnya.
“Apakah saya boleh melihat catatannya?”
Caelan mengangguk dan menyerahkan salinannya.
“Boleh. Namun, tolong jangan menyebarkannya dulu. Aku ingin memeriksa sumber lain sebelum menarik kesimpulan.”
“Aku mengerti.”
Ignis menyimpan salinan itu dengan hati-hati.
Setelah Caelan pergi, ia kembali memandangi gambar dua sayap tersebut.
Ada satu perbedaan kecil yang baru disadarinya.
Pada catatan Caelan, lingkaran di antara sayap digambarkan utuh.
Sementara pada gerbang alam kutukan, lingkaran itu terbelah.
Seolah-olah sesuatu yang dahulu menyatukan kedua sayap telah dihancurkan.
Atau mungkin, sebuah perjanjian pernah dibuat untuk menyatukan dua pihak yang kemudian menjadi musuh.
Ignis belum memiliki jawaban.
Namun, untuk pertama kalinya sejak regresinya, dua petunjuk dari dunia yang berbeda mulai mengarah ke tempat yang sama.
Ia menutup buku tersebut.
Di luar jendela, lonceng kota berdentang menandai pergantian jam. Kehidupan Aurelis terus berjalan seperti biasa, tanpa mengetahui bahwa seorang anak kecil sedang menggali rahasia yang terkubur jauh sebelum kekaisaran berdiri.
Ignis menatap pantulan dirinya di kaca.
Rambut putih keperakan. Mata merah gelap dengan pupil vertikal menyerupai naga. Wajah seorang anak yang belum pernah mengalami perang, tetapi menyimpan ingatan tentang kematian.
Ia tidak tahu siapa yang mengawasinya dari balik kutukan.
Ia tidak tahu siapa yang telah mengubah sejarah leluhurnya.
Dan ia belum tahu apakah regresi ini benar-benar hadiah dari takdir atau bagian lain dari rencana yang jauh lebih besar.
Namun, satu hal sudah pasti.
Kali ini, ia tidak akan membiarkan dirinya berjalan menuju kematian tanpa mengetahui kebenarannya.
“Perjanjian Dua Sayap,” gumamnya.
Ia menggenggam salinan catatan itu.
“Kalau sumpah ini masih hidup, aku akan menemukan siapa yang mengikatnya.”
Jauh di dalam alam kutukan, sebuah garis pada gerbang hitam kembali menyala.
Dan untuk sesaat, dari balik kabut, terdengar suara lirih.
“Dia telah menemukan jejak pertama.”
Bersambung.
Teaser Bab 12 — Harga Sebuah Kemajuan: Ketika Ignis mencoba mempercepat latihannya, ia menemukan bahwa pengetahuan dari kehidupan pertama tidak selalu cukup untuk menghindari kesalahan. Sementara itu, seseorang mulai memperhatikan perubahan pada pewaris kecil House Pendragon.