Chapter 2 of 7
Sentuhan Pijatan Pembangkit Birahi
1.5k words
Ariel melirik Elina yang masih mengerucutkan bibirnya, duduk dengan punggung membelakangi laptop. Layar retina matanya menangkap siluet Luna yang tampak membenarkan posisi duduknya di balik meja kerja, sorot mata sang psikolog menajam di balik kacamata. Sesuatu berdesir dalam dada Ariel, sebuah kepuasan melihat Luna tidak bisa mengalihkan pandangannya.
“Kakak kenapa, sih? Cemberut terus,” bisik Ariel, suaranya dibuat manja, seolah-olah hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Jemarinya bergerak lembut mengusap punggung Elina yang terbalut kaos tipis. Aroma sabun Elina menguar, bercampur samar dengan keringat tipis di kulitnya. Sebuah sensasi yang selalu familiar, sekaligus selalu memantik gejolak baru dalam dirinya.
Elina menggeliat pelan, bahunya sedikit terangkat. “Kepalaku pusing. Badan pegal semua,” sahutnya, suaranya terdengar jengkel. Ia tidak berbalik. Jelas terlihat, ia masih merasa tidak nyaman dengan keberadaan Luna yang mengawasi dari layar.
“Pasti karena seharian sibuk di kampus, ya?” Ariel menarik napas panjang, pura-pura bersimpati. Ujung jemarinya menyusup ke balik leher Elina, mengusap tengkuknya dengan ibu jari. Kulit leher Elina terasa hangat di bawah sentuhannya. Ariel bisa merasakan bulu roma halus di sana berdiri tegak.
Elina mengangguk, tanpa suara. Matanya melirik sekilas ke arah laptop, seolah memastikan Luna benar-benar ada di sana. Ada keraguan di sana, juga sedikit rasa takut.
“Sini, biar Ariel pijat,” tawar Ariel, suaranya lebih lembut dari sebelumnya, penuh bujukan. “Ariel punya minyak pijat khusus, Kak. Aromanya bisa bikin rileks, pegal-pegal langsung hilang.”
Elina menggeleng pelan. “Enggak usah, Dek. Nanti malah makin jadi-jadi,” tolaknya, ada nada protes yang terselip. Namun, bahunya tidak lagi tegang. Jemari Ariel masih mengusap tengkuknya, membuat otaknya mulai kabur.
“Apanya yang jadi-jadi, sih?” Ariel terkekeh pelan, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Elina. Napas hangatnya menerpa kulit sensitif itu. Sebuah sensasi panas menjalari Elina, membuatnya menahan napas. “Ariel kan cuma mau bantu Kakak. Nanti kalau sakit, yang rugi siapa? Yang enggak bisa main-main sama Ariel kan Kakak sendiri.”
Elina menoleh, matanya membesar menatap Ariel. Wajahnya sedikit memerah. Senyum tipis mengembang di bibir Ariel, sebuah senyum penuh arti yang hanya mereka berdua pahami. Sebuah kedipan mata yang tidak disengaja, atau mungkin disengaja, mengarah ke layar laptop. Luna di sana, rahangnya sedikit mengeras.
“Tapi…” Elina mencoba protes lagi, namun suaranya semakin melemah. Tatapan Ariel yang intens mengunci pandangannya. Ada percikan gairah di mata Ariel, sebuah janji kenikmatan yang sulit ia tolak.
“Ssst…” Ariel menempelkan telunjuknya di bibir ranum Elina. Sensasi lembut kulit mereka bersentuhan. Aroma napas Elina, manis dan sedikit asam, memenuhi indra penciumannya. “Nurut sama Ariel, ya? Nanti Kakak pasti suka.”
Elina akhirnya menghela napas pasrah, sebuah getaran halus terlihat di sudut bibirnya. Kelopak matanya terpejam, seolah menyerah pada bujukan adiknya. Ia berbalik, membiarkan punggungnya sepenuhnya menghadap Ariel, sebuah isyarat izin yang tidak terucap.
---
Ariel tersenyum puas. Tangannya bergerak mengambil botol kecil berisi minyak aromaterapi dari nakas. Botol kaca itu terasa dingin di ujung jemarinya. Aroma lavender dan melati langsung menyebar di udara begitu tutupnya terbuka. Ia memiringkan botol itu, meneteskan beberapa tetes minyak ke telapak tangannya yang hangat. Aroma yang lembut, namun memabukkan.
Elina masih memejamkan mata, memunggungi Ariel. Punggung mulusnya terlihat jelas di bawah kaos tipis yang sedikit tersingkap. Ariel menatap ke layar laptop, menemukan Luna sedang mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah ingin melihat lebih dekat. Garis rahangnya mengeras, bibirnya sedikit terbuka. Ariel merasakan denyutan di bawah perutnya, sebuah respons langsung terhadap tatapan Luna yang membara.
“Dingin?” bisik Ariel, suaranya rendah dan serak, saat telapak tangannya yang sudah berlumur minyak menyentuh punggung Elina. Kulit Elina langsung bereaksi. Sebuah *geliat* kecil melintas di punggungnya, otot-ototnya menegang sesaat sebelum melunak di bawah sentuhan Ariel.
Minyak itu terasa licin dan hangat, mempermudah jemari Ariel bergerak. Ia mulai memijat perlahan, melingkar di bahu Elina, turun ke tulang belikat. Setiap sentuhan terasa seperti sengatan listrik. Elina menahan napas, dadanya naik turun dengan ritme yang cepat.
Ariel bisa merasakan setiap serpihan otot di punggung Elina. Jemarinya menari, meratakan minyak, membiarkan aroma terapi itu meresap ke dalam kulit. Ia menekan beberapa titik di sepanjang tulang belakang, membuat Elina mendesah pelan. *Nghh…*
Dari sudut matanya, Ariel melihat Luna di layar. Wanita itu membasahi bibirnya sendiri, tatapannya tidak lepas dari setiap gerakan jemari Ariel di punggung Elina. Ada ketegangan yang nyata terpancar dari wajahnya, sebuah campuran antara rasa penasaran dan sesuatu yang lain, sesuatu yang Ariel tahu persis apa itu. Hasrat. Keinginan.
“Relaks, Kak,” bisik Ariel lagi, sengaja menggesekkan ibu jarinya di antara dua tulang belikat Elina. Daerah itu selalu menjadi titik lemahnya. Elina mendesah lagi, lebih dalam kali ini. *Mmmh…*
Ariel menuruni punggung Elina, mengusap lembut otot di sisi pinggang. Gerakannya lambat, disengaja. Ia ingin setiap sentuhannya terasa, setiap desahan Elina terdengar jelas oleh Luna. Aroma minyak itu kini bercampur dengan aroma tubuh Elina yang mulai memanas, menciptakan kombinasi yang memabukkan.
Jemari Ariel terus bergerak, turun lebih jauh ke pinggul, sedikit menyentuh karet celana dalam Elina yang tipis. Sentuhan itu sangat singkat, hanya sebuah gesekan ringan, namun cukup untuk membuat Elina sedikit tersentak. Sebuah tarikan napas tertahan terdengar dari bibirnya. Ariel melirik layar. Senyum tipis tersungging di bibirnya melihat Luna menelan ludah dengan susah payah.
---
Ariel melanjutkan pijatannya, gerakannya kini lebih berani. Dari pinggul, jemarinya perlahan merayap turun ke paha. Ia merasakan otot-otot paha Elina yang tegang di bawah kulit. Aroma minyak semakin kuat, berbaur dengan aroma kulit yang memanas. Elina menggeliat, kepalanya sedikit mendongak, matanya masih terpejam erat. Sebuah rona merah kini menjalar ke pipinya.
“Kakak tegang banget,” bisik Ariel, suaranya dibuat seolah peduli, namun nada licik terselip di sana. Jemarinya menekan lembut bagian paha luar, bergerak melingkar. Elina mendesah pelan, sebuah suara yang nyaris tak terdengar. *Nnggh…*
Ariel tahu persis titik-titik erogen Elina. Ia telah mempelajarinya, merasakan setiap respons tubuh kakaknya. Ia menggeser posisinya sedikit, kini berlutut di belakang Elina, memungkinkannya menjangkau lebih leluasa. Jemarinya bergerak menelusuri paha dalam Elina, perlahan mendekati area paling sensitif.
Sensasi kulit yang lembut dan hangat membuat denyutan di bawah perut Ariel semakin kuat. Ia bisa merasakan gairah Elina mulai terbangun. Kakinya sedikit gemetar, napasnya tersengal. Ariel melirik layar laptop. Luna di sana, tangannya terangkat ke bibir, salah satu jarinya menyentuh bibir bawahnya yang sedikit bengkak. Matanya lebar, pupilnya membesar.
“Ini… ini sakit, Dek,” Elina berbisik, suaranya serak dan putus-putus. Namun, ia tidak menghentikan Ariel. Tangannya mencengkeram erat bantal di depannya, buku-buku jarinya memutih.
“Sakit? Atau… nikmat?” Ariel bertanya balik, suaranya bergetar rendah, menantang. Jemarinya semakin dalam menekan, melingkar di pangkal paha dalam Elina. Ia bisa merasakan getaran di tubuh Elina, sebuah respons tak tertahankan.
Elina menggeliat kuat, punggungnya melengkung indah. Sebuah rintihan panjang keluar dari bibirnya, sebuah erangan yang memecah keheningan ruangan. *Aahhh… nghh…*
Ariel menekan lebih dalam. Ibu jarinya menyentuh tepi celana dalam Elina yang tipis, sedikit menggeser kain itu agar kulit paha dalamnya terekspos lebih banyak. Gerakannya disengaja, memastikan Luna di layar mendapatkan pemandangan yang jelas. Elina merintih lagi, kali ini lebih keras, lebih lepas. *Ah… Dek… cukup… nghhh…*
Namun, Ariel tidak berhenti. Ia hanya tersenyum tipis, matanya terpaku pada layar laptop. Puas melihat Luna terengah, tergoda. Ariel tahu, ia telah berhasil memegang kendali. Dua wanita, dalam genggamannya, dalam satu momen. Kekuatan itu memabukkan.
Elina terbatuk pelan, kepalanya menggeleng lemah. “Ariel… *nngghh*… jangan…,” bisiknya, suaranya nyaris hilang ditelan rintihan. Namun, kakinya justru sedikit terbuka, seolah mengundang sentuhan Ariel lebih jauh. Punggungnya basah oleh keringat halus. Aroma tubuhnya kini jauh lebih kuat, manis bercampur masam, aroma gairah yang memudaratkan akal sehat.
---
Rintihan Elina memenuhi udara. Suara itu begitu jelas, mengalir melalui *speaker* laptop Ariel, memenuhi seluruh ruangan. Sebuah simfoni kepasrahan yang memancing naluri primal. Ariel bisa merasakan denyutan di sekujur tubuhnya, sebuah gelombang panas yang membakar. Ia menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma Elina yang kini semakin intens.
Dari layar laptop, Ariel melihat Luna bereaksi. Wanita itu memang tanpa sadar memajukan wajahnya ke layar. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya mulai terengah. Ada kilatan basah di matanya yang membesar, sebuah pantulan cahaya dari layar yang memancarkan adegan itu langsung ke retinanya.
Rintihan Elina semakin kuat, sebuah melodi yang penuh gairah dan kepasrahan total. *Ah… ya… ya ampun… nghhh…*
Luna, di sisi lain layar, tampak tidak bisa mengalihkan pandangannya. Jemarinya yang ramping, dengan kuku yang terpoles rapi, kini menekan sisi meja. Buku-buku jarinya memutih. Alisnya berkerut, bukan karena cemas, melainkan karena konsentrasi yang dalam, seolah setiap serat ototnya fokus pada suara dan visual di depannya.
Ariel tersenyum miring, matanya terpaku pada Luna. Ia melihat pergerakan kecil di leher Luna, sebuah gerakan menelan yang sulit. Tenggorokannya bergerak naik turun. Wajahnya memerah tipis, sebuah rona samar yang kontras dengan kulit putihnya. Ariel tahu, ia telah berhasil menyentuh sisi tersembunyi Luna.
Elina di depannya, kembali merintih panjang. Tubuhnya bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan suara yang ingin meledak. Namun, rintihan itu lolos juga, sebuah desahan dari dasar tenggorokan yang sarat akan kenikmatan. *Mmhh… Ah… Ariel…*
Luna memejamkan mata sesaat, sebuah tarikan napas tajam meluncur dari bibirnya yang sedikit terbuka. Getaran halus terlihat di bahunya yang terbalut blazer formal. Kontras sekali dengan adegan vulgar yang terpampang di depannya. Ariel merasakan kepuasan yang membuncah. Ia telah berhasil menarik Luna ke dalam pusarannya, mengikis batas profesionalisme wanita itu.
Ada jeda singkat sebelum Luna membuka matanya kembali, tatapannya kini lebih gelap, lebih intens. Ia menatap Ariel seolah ingin melahapnya, seolah ingin menyentuh Elina sendiri. Ariel merasa detak jantungnya sendiri berpacu, sebuah respons terhadap gairah yang terpancar dari layar. Rintihan pasrah Elina memenuhi *speaker* laptop, membuat Luna ketahuan membasahi bibirnya sendiri di balik meja kerjanya.