Ariel memiringkan laptopnya, mencari sudut paling strategis di atas meja nakas. Cahaya dari lampu belajar menyinari sebagian kasurnya, menciptakan bayangan tipis di dinding. Ia tidak ingin terlalu terang, cukup remang untuk kesan intim, namun cukup jelas untuk menampilkan apa yang ia inginkan. Sebuah cengiran tipis tersungging di bibirnya. Ini bukan sekadar sesi terapi biasa.
"Halo, Dokter Luna."
Suaranya meluncur santai, sedikit terlalu lembut dari biasanya, menangkap perhatian perempuan di layar. Luna muncul dengan rambut yang tertata rapi, kemeja sutra berwarna krem, dan sorot mata yang terlihat terlalu waspada. Lingkaran gelap samar di bawah matanya menunjukkan tidur yang kurang nyenyak. Ia tampak anggun, seperti biasa, namun ada ketegangan tipis menggaris di antara alisnya. Ariel menyukai itu. Ketegangan adalah awal dari pelepasan.
"Halo, Ariel."
Suara Luna terdengar lebih formal dari yang Ariel harapkan. Ia mendesah, seolah-olah sesi ini adalah beban. Bibirnya, yang semalam mengirim emoji merah menyala, kini menipis. Ariel menangkapnya. Sebuah respons. Ia menarik napas dalam, merasakan aroma pelembut pakaian dari selimutnya. Ia sengaja tidak mengenakan kaus, memamerkan bahu telanjangnya di depan lensa.
"Sepertinya Anda tidak tidur nyenyak, Dokter."
Ariel memiringkan kepala, senyumnya sedikit nakal. Jemarinya bermain di tepi selimut tebalnya. Ia melihat sekilas kerutan tipis di dahi Luna, sebuah reaksi mikro yang tidak akan terlihat jika ia tidak mencari.
"Sesuatu yang wajar terjadi, mengingat kesibukan saya," balas Luna, suaranya berusaha terdengar datar.
Namun, Ariel melihat matanya. Mata itu tidak sepenuhnya fokus pada wajahnya, melainkan bergerak-gerak, mengamati latar belakang kamar Ariel. Sebuah tanda bahwa Luna mencoba mencari tahu sesuatu. Ariel membiarkan tatapan itu berkeliaran. Ia bahkan sedikit menggeser posisi, memastikan kasur besar yang belum dirapikan terlihat jelas.
"Ah, begitu ya. Saya pikir ada hal lain yang mengganggu pikiran Anda," kata Ariel, nadanya lebih ke menggoda daripada bersimpati.
Ia melihat rahang Luna sedikit mengeras, lalu melunak lagi. Perempuan itu menegakkan bahunya, berusaha mempertahankan profesionalisme. Gerakan itu justru membuat Ariel semakin tertarik. Ia suka melihat Luna mencoba membangun dinding, padahal ia tahu persis dinding itu rapuh.
"Apa yang membuatmu berpikir begitu, Ariel?"
Pertanyaan itu meluncur, sedikit lebih cepat dari yang seharusnya. Ariel tahu ia telah memancingnya. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, mendekatkan wajahnya pada kamera. Jarak itu membuat matanya tampak lebih gelap, lebih intens.
"Entahlah. Hanya... sebuah firasat."
Ariel membiarkan kata-kata itu menggantung di udara, sebuah jembatan yang ia bangun sendiri menuju jurang yang lebih dalam. Ia merasakan sensasi geli di dadanya. Luna pasti mengingat emoji bibir merah itu. Pasti.
"Baiklah, Ariel. Kita mulai saja sesinya," ujar Luna, mengalihkan pandangannya dari matanya ke arah layar secara umum.
Ia jelas menghindari kontak mata yang terlalu lama. Ariel tersenyum, kemenangan kecil pertamanya.
"Tentu, Dokter."
Ariel menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur, memastikan kamera masih menangkap area kasur yang cukup luas. Ia sengaja menciptakan ruang kosong di sampingnya, sebuah undangan yang tidak terucapkan. Ia tahu Elina sebentar lagi akan masuk. Perhitungannya tidak pernah meleset.
---
Pintu kamar Ariel terbuka pelan. Sebuah derit halus, hampir tidak terdengar, namun cukup bagi Ariel untuk menegakkan tubuhnya sedikit. Jantungnya berdetak satu kali lebih cepat. Ia menahan napas, matanya tetap terpaku pada layar laptop, namun indra pendengarannya menajam. Sebuah siluet ramping muncul di ambang pintu, dibingkai oleh cahaya redup koridor.
Elina.
Kakaknya melangkah masuk dengan langkah ringan, rambut panjangnya yang berwarna coklat gelap tergerai acak di pundak. Sebuah daster sutra berwarna biru muda membaluti tubuhnya. Bahan tipis itu melayang mengikuti setiap gerakannya, menyingkap lekuk tubuhnya dengan jelas. Ariel bisa melihat bayangan gelap di antara pahanya, bukti nyata bahwa Elina tidak mengenakan apa pun di balik daster itu.
"Kamu sudah selesai, Ri?" tanya Elina pelan, suaranya sedikit serak karena kantuk.
Ia tidak menyadari tatapan Ariel yang kini menyala, atau mata Luna yang pasti sedang memperhatikannya di layar laptop. Elina hanya fokus mencari sesuatu di atas meja belajar Ariel, menggeser beberapa tumpukan buku dan kertas.
Ariel berdeham pelan.
"Belum," jawabnya singkat, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya.
Ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari Elina. Daster itu menari-nari di sekitar lututnya setiap kali Elina membungkuk. Aroma sabun mandi dan sampo yang lembut menguar dari tubuh kakaknya, memenuhi udara kamar Ariel. Bau yang terlalu akrab, namun kini terasa begitu menggoda.
Elina mengabaikannya, masih sibuk mencari. Ia merangkak sedikit di atas meja, mencari buku catatan yang biasa ia pinjam dari Ariel. Gerakan itu menyebabkan daster sutranya tertarik ke atas, menyingkap paha mulusnya hingga batas pinggul. Ariel merasakan tenggorokannya tercekat. Ia menelan ludah, sebuah gerakan yang pasti terlihat oleh Luna di layar.
Ia melirik ke arah layar laptop, dan benar saja. Ekspresi Luna sedikit berubah. Alisnya terangkat tipis, bibirnya sedikit terbuka. Ada kilatan yang sulit diartikan di matanya, seperti perpaduan antara keterkejutan dan sesuatu yang lain, sesuatu yang Ariel yakini sebagai gairah yang tertahan. Kemenangan kedua.
"Oh, ini dia!" seru Elina, menemukan buku yang ia cari.
Ia menegakkan tubuh, daster sutra itu kembali melayang turun. Ariel melihatnya, setiap detail kecil tubuh kakaknya yang tersembunyi dan terungkap. Ia sudah merencanakan ini, tentu saja. Ia tahu Elina punya kebiasaan masuk ke kamarnya tanpa mengetuk jika ia merasa "aman". Dan daster itu, oh, daster itu adalah bonus tak terduga yang sempurna.
"Kenapa kamu tidak pakai baju, El?" tanya Ariel, pura-pura terkejut, suaranya sedikit lebih tinggi.
Elina menoleh, matanya mengerjap pelan. Sebuah semburat merah tipis muncul di pipinya. Ia baru menyadari bahwa Ariel sedang melakukan video call.
"Astaga, Ariel! Kenapa tidak bilang kalau ada video call?" bisik Elina, suaranya berubah panik.
Ia mencoba menyilangkan tangan di depan dadanya, namun daster tipis itu tidak bisa menyembunyikan apa pun. Ariel hanya tersenyum simpul, matanya menangkap setiap detail kebingungan dan rasa malu kakaknya. Ini sempurna.
---
Elina hendak berbalik, tangannya terulur untuk menarik pintu kamar, berniat kabur. Namun, Ariel lebih cepat. Sebuah kilatan licik melintas di matanya. Tanpa peringatan, ia menjulurkan lengannya. Jemarinya mencengkeram pinggang Elina yang ramping. Kulit hangat kakaknya terasa lembut di bawah sentuhannya.
"Mau ke mana, sayang?" bisik Ariel, suaranya rendah dan penuh godaan.
Elina terkesiap, tubuhnya menegang dalam genggaman Ariel. Matanya membelalak, ekspresi terkejut membeku di wajahnya. Ia tidak sempat mengeluarkan sepatah kata pun. Ariel menariknya dengan satu sentakan kuat. Tubuh Elina yang ringan terhuyung ke belakang, jatuh menimpa kasur di samping Ariel.
*Bruk!*
Suara benturan tubuhnya dengan kasur tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat Elina mendesah kaget. Ia berbaring telentang, tepat di tengah sorotan kamera. Daster sutranya tersibak hingga pangkal paha, menyingkap paha mulus dan bagian dalam pahanya yang putih bersih. Rambutnya terurai berantakan di atas bantal, membingkai wajahnya yang kini memerah padam.
"Ariel! Apa-apaan kamu ini?!" Elina memekik tertahan, suaranya bercampur antara marah dan sedikit ketakutan.
Ia mencoba bangkit, namun Ariel sudah menahan bahunya dengan satu tangan, menahannya tetap berbaring. Ariel memiringkan tubuh, mencondongkan wajahnya mendekati Elina, seolah ingin membisikkan sesuatu. Jarak antara mereka begitu tipis, napas hangat Ariel menyapu pipi Elina.
"Sstt... diam saja," bisik Ariel, senyumnya semakin lebar.
Matanya bergerak ke layar laptop. Luna. Wajah Luna di layar tampak membeku, matanya melebar sempurna. Bibirnya sedikit terkatup, namun Ariel bisa melihat bibir bawahnya sedikit bergetar. Warna merah muda di wajah Luna memudar, digantikan oleh pucat pasi yang menonjolkan tulang pipinya. Ia tidak bisa mengalihkan pandangan. Tatapannya terpaku pada Elina, pada daster yang tersingkap, pada paha yang terekspos.
"Tapi... ada Dokter Luna!" Elina berbisik lagi, suaranya lebih lirih.
Ia berusaha menggerakkan tangannya, mencoba menutupi pahanya yang terbuka. Namun, Ariel menahan pergelangan tangannya, mengunci kedua tangan Elina di atas kepalanya. Posisi itu membuat Elina semakin terbuka, memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya yang tersembunyi di balik daster transparan.
Ariel menatap mata Elina, tatapannya penuh kemenangan. Ia tahu Luna sedang menonton. Ia ingin Luna melihatnya. Ini adalah bagian dari permainannya, bagian dari rencananya untuk membuat Luna runtuh.
"Biarkan saja, sayang," desis Ariel, mengabaikan protes Elina.
Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Elina, bibirnya menyentuh daun telinga kakaknya yang mungil. Sebuah getaran halus menjalar di tubuh Elina. Ariel merasakan otot-otot di bawah genggamannya menegang. Ia melihat Luna di layar. Perempuan itu tampak seperti patung, bergerak pun tidak. Hanya matanya yang hidup, mengikuti setiap gerakan Ariel dan Elina. Ariel tahu, Luna tidak akan mematikan panggilan ini. Ia tidak akan sanggup.
Ariel membiarkan tangannya meluncur perlahan dari bahu Elina, turun ke lengan, lalu ke pinggang. Sentuhannya terasa begitu lembut, namun penuh maksud. Sebuah sentuhan yang membuat Elina kesulitan bernapas, dan membuat Luna di layar terjebak dalam pusaran tatapan yang tidak bisa ia lepaskan.
---
Jemari Ariel bergerak. Perlahan, namun penuh ketegasan, ujung jempolnya menyentuh kulit paha Elina yang mulus, tepat di bawah lipatan daster sutra. Sensasi hangat dan lembut itu langsung merambat di bawah kulit Ariel, mengirimkan getaran halus ke seluruh lengannya. Elina tersentak. Sebuah *hnggh* pendek lolos dari bibirnya, mata Elina terpejam sesaat.
"Ariel..."
Suaranya nyaris tak terdengar, sebuah rintihan yang bercampur antara protes dan sesuatu yang lain, sesuatu yang rapuh. Ariel tidak memberinya kesempatan untuk melawan. Jemarinya mulai membelai, bergerak naik-turun di area paha atas Elina, menciptakan sensasi gesekan yang halus. Kulit Elina memerah tipis di bawah sentuhannya.
Ariel melirik layar laptop. Luna masih ada di sana. Tubuhnya sedikit condong ke depan, seperti seseorang yang ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Matanya melebar, menyorot langsung ke arah Elina dan tangan Ariel. Bibir Luna kini terpisah, napasnya memburu samar. Ariel melihat dadanya naik turun dengan cepat, di balik kemeja sutra yang tadi terlihat begitu rapi.
Elina meronta pelan, namun itu lebih seperti gerakan refleks. Tubuhnya mulai merespons sentuhan Ariel, bukan lagi menolak. Napas Elina tersengal, dadanya bergerak cepat di balik daster tipis. Ariel merasakan suhu tubuh Elina naik di bawah telapak tangannya. Aroma tubuh Elina, yang tadi lembut, kini bercampur dengan aroma keringat tipis yang mulai menguar.
"Apa yang kamu lakukan, Ariel?" bisik Elina, suaranya pecah.
Ariel hanya tersenyum miring, matanya tetap mengunci pandangan Luna di layar. Ia ingin Luna melihat reaksi Elina, melihat bagaimana kakaknya perlahan menyerah pada sentuhannya. Sebuah kemenangan ganda. Jemarinya terus bergerak, semakin berani, semakin dekat dengan tepi terlarang.
Luna tidak bergerak. Tidak ada suara dari sana. Perempuan itu hanya menatap, tatapannya kosong namun penuh gejolak. Ariel bisa melihat perjuangan batin di wajah Luna, antara profesionalisme yang ingin ia pertahankan dan hasrat terlarang yang mulai menguasainya. Ariel tahu, Luna tidak akan pernah memutus panggilan ini. Ia telah membuat Luna kecanduan, bahkan sebelum permainan sesungguhnya dimulai.
Sentuhan Ariel semakin dalam, jemarinya kini mengusap bagian dalam paha Elina, merasakan kelembutan kulitnya yang paling sensitif. Elina menggeliat, sebuah *nnggh* keluar dari tenggorokannya. Matanya kembali terpejam, kepalanya sedikit mendongak, menunjukkan lehernya yang jenjang. Ariel tahu ia telah melewati batas, dan Luna menjadi saksi bisu.
Jemari Ariel menyusup ke balik daster Elina di bawah sorotan kamera, sementara tatapan Luna di layar terpaku tanpa sanggup menekan tombol pemutus panggilan.