Chapter 3 of 7

Penyingkapan Sutra Tanpa Busana

1.2k words

Ariel melengkungkan bibirnya, senyum kecil itu lebih seperti seringai seorang predator yang puas. Minyak pijat aromaterapi yang baru saja ia usapkan mengilat tipis pada kulit punggung Elina. Jemari lentiknya merayap naik, menyusup di bawah lipatan daster tipis Elina yang membalut tubuh. Kain licin itu terasa dingin di antara kulit hangat Ariel. Elina menahan napas. Punggungnya menegang, otot-otot di sana menegang kaku di bawah sentuhan Ariel yang tiba-tiba melancarkan serangan baru. Gerakan itu begitu halus, nyaris tak terasa, namun setiap tarikannya memicu desiran panas yang merambat dari punggung bawahnya. "Dingin?" bisik Ariel, suaranya serak dan rendah, melilit seperti kabut pagi di telinga Elina. "Atau justru sebaliknya?" Jari-jari Ariel memanjat semakin tinggi, melintasi lekuk pinggul Elina. Ibu jarinya menekan lembut, mengusap alur yang tercipta dari lipatan kain di area pantat. Elina menggeliat, lenguhan tertahan lolos dari bibirnya yang sedikit terbuka. Matanya melirik ke arah ponsel yang tergeletak di samping bantal. Layar itu masih menyala, menampilkan Luna dengan tatapan mata yang semakin dalam, bibir yang mengulum sesuatu. Elina menelan ludah, tenggorokannya mendadak kering. "Ariel..." Suaranya nyaris tak terdengar, sebuah permohonan yang lebih mirip rintihan kecil. Ariel mengabaikannya. Tangannya terus bekerja, seolah memiliki pikirannya sendiri. Dia menarik tepi daster Elina, kain itu bergeser naik sedikit demi sedikit, membuka akses ke area kulit di atas bokong yang kini terpapar. Ariel merasakan hawa hangat yang memancar dari sana. Gerakan jari-jari Ariel semakin berani, ia menggeser kain itu lebih tinggi lagi, melewati lekukan pantat yang kini tersembul di balik daster. Udara dingin menerpa kulit Elina, menimbulkan sensasi geli yang aneh. Jemari Ariel tetap berada di sana, hangat, mengusap dengan ritme lambat yang memabukkan. "Nikmati saja, Sayang," desis Ariel, bibirnya menyentuh daun telinga Elina, mengirimkan sengatan listrik. "Biarkan aku memanjakanmu." Aroma mint dan lavender dari minyak pijat bercampur dengan aroma tubuh Elina yang hangat, menciptakan perpaduan memabukkan. --- Elina merapatkan kedua pahanya, sebuah reaksi instingtif untuk menutupi bagian tubuhnya yang semakin terekspos. Pipi dan lehernya memerah, sensasi panas menyebar hingga ke ujung telinga. Ia mencoba meraih bantal di sampingnya, berniat menutup wajahnya dari pandangan Luna. "Jangan," suara Ariel berubah tegas, namun tetap rendah. Ia menahan pergelangan tangan Elina dengan lembut, mencegahnya meraih bantal. "Aku ingin melihatmu, Elina. Semua bagianmu." Jari-jari Ariel membelai bagian dalam pergelangan tangan Elina, sensasi itu membuat Elina nyaris lupa akan niat awalnya. Elina memejamkan mata, membiarkan napasnya terembus perlahan. Tubuhnya menegang, menolak, namun pada saat yang sama, ia merasakan tarikan kuat yang tak bisa ia lawan. Sentuhan Ariel di punggungnya semakin intens, mengundang setiap serat otot untuk rileks, untuk menyerah. Sebuah rintihan halus lolos dari kerongkongan Elina saat jari Ariel menyusuri tulang ekornya. Gerakan itu mengunci setiap syarafnya, membiarkan gelombang panas naik dan turun secara konsisten. Ariel melepaskan tangannya dari pergelangan Elina, kini jemarinya kembali fokus pada misi utamanya. Ia kembali menarik daster Elina, kali ini dengan gerakan yang lebih cepat, lebih lugas. Kain itu meluncur di atas punggung, melewati lekuk pinggang. Elina merasakan udara dingin membelai kulitnya yang sensitif, membuat bulu romanya meremang. Kepalanya terkulai ke samping, menempel pada bantal. Bibirnya sedikit terbuka, mengeluarkan desah napas pendek yang tak ia sadari. Aroma minyak pijat kini terasa lebih kuat, menusuk indra penciumannya, menenggelamkannya dalam sensasi yang memabukkan. "Kau cantik sekali, Elina," bisik Ariel, suaranya mengalir seperti madu. "Terlalu indah untuk disembunyikan." Tangannya berhenti sejenak, mengusap lembut lekukan pahanya yang kini terbuka. Sensasi itu mengalirkan aliran listrik ke seluruh tubuh Elina. Elina tidak lagi berusaha menutupi wajahnya. Tangannya kini mencengkeram erat seprai, buku-buku jarinya memutih. Matanya masih terpejam, menikmati setiap sentuhan Ariel yang semakin berani. Ia merasakan tubuhnya semakin merapat pada usapan hangat itu, seolah tak punya kendali atas reaksinya sendiri. --- Ariel memperhatikan Elina. Kakaknya kini benar-benar terbenam dalam sensasi yang ia ciptakan. Matanya terpejam rapat, bibirnya sedikit terbuka, dan napasnya memburu. Ini adalah isyarat. Isyarat bahwa Elina sudah siap untuk langkah selanjutnya. Dengan gerakan yang lebih berani dan cepat, Ariel menarik daster Elina. Kain tipis itu meluncur ke atas, melewati punggung, pinggang, hingga akhirnya berhenti di lekukan bahunya. Elina tidak bergeming. Dasternya kini menggantung longgar di leher, mengekspos seluruh punggung dan sisi tubuhnya yang mulus. Kulitnya yang putih bersih terpapar sepenuhnya, memancarkan rona kemerahan yang samar akibat sentuhan Ariel. Jemari Ariel kini melayang di atas bahu Elina, turun perlahan menyusuri tulang selangka. Ia bisa merasakan degup jantung Elina yang semakin cepat, berpacu di bawah kulitnya. Aroma tubuh Elina, perpaduan manis dari keringat dan minyak pijat, menusuk hidungnya. "Lihatlah, Sayang," bisik Ariel, menekan bibirnya ke bahu Elina, menyesap kulit di sana. "Kau begitu indah. Setiap inci tubuhmu adalah mahakarya." Ariel menoleh ke arah ponsel. Lensa kamera itu menyala, seolah menjadi mata ketiga yang mengawasi setiap gerakannya. Elina menggeliat, namun kali ini bukan karena penolakan, melainkan karena gejolak kenikmatan yang tak tertahankan. Ariel melanjutkan aksinya. Ia menaikkan kain daster itu lebih tinggi lagi, melewati leher, hingga akhirnya terlepas sepenuhnya dari tubuh Elina. Kain sutra tipis itu jatuh ke lantai dengan desau pelan. Elina kini terbaring telanjang bulat, punggungnya menghadap kamera, seluruh tubuh polosnya terekspos di depan lensa yang menyala. Rambut panjangnya yang terurai menutupi sebagian punggung atasnya, namun tidak cukup untuk menyembunyikan lekuk tubuhnya yang menggoda. Ariel mengusap punggung Elina dengan telapak tangannya, merasakan kehangatan kulitnya, kelembutan teksturnya. Ia mencondongkan tubuh, bibirnya menyusuri garis punggung Elina, dari leher hingga tulang ekor. Setiap sentuhan memicu getaran halus di tubuh Elina. "Astaga..." Elina merintih pelan, suaranya tercekat. Ia merasakan napas hangat Ariel di punggungnya, sensasi bibirnya yang basah meluncur di kulitnya. "Ariel, ini..." "Ini baru permulaan, Sayang," desis Ariel, suaranya penuh janji. Matanya menyapu tubuh Elina, lalu beralih ke layar ponsel, seolah ingin memastikan Luna melihat semua penampakan itu. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. --- Di seberang panggilan video, Luna terpaku di kursinya. Pulpen yang sedari tadi ia pegang erat kini terlepas dari jemarinya yang mendadak lemas. Benda itu berputar pelan di udara sebelum menghantam meja dengan suara <i>klak</i> yang nyaris tak terdengar, kemudian menggelinding jatuh ke lantai. Luna tidak memedulikannya. Matanya yang indah, yang biasanya memancarkan ketenangan seorang profesional, kini membelalak sempurna, mengunci pemandangan eksplisit di layar ponselnya. Pupil matanya melebar, memantulkan cahaya putih dari layar. Wajahnya yang tanpa riasan kini memerah samar, kontras dengan kulit putihnya yang bersih. Bibirnya sedikit terpisah, seolah sedang mengambil napas, namun tidak ada suara yang keluar. Napasnya sendiri terasa tertahan di kerongkongan, berat dan dangkal. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh Elina terbaring telanjang, punggungnya menghadap kamera. Lekukan pinggang yang ramping, pantat yang berisi, dan paha yang mulus. Setiap detail terekspos, tanpa penghalang. Luna merasakan denyutan halus di antara pahanya, sebuah respons fisik yang tak ia undang. Perutnya terasa bergejolak, aliran panas menyebar ke seluruh tubuhnya. Jemarinya mencengkeram erat sandaran kursi, buku-buku jarinya memutih, seolah berusaha menahan dirinya agar tidak melakukan sesuatu yang impulsif. Matanya menyapu setiap gerakan Ariel, setiap sentuhan lembut pada kulit Elina. Ia melihat bagaimana Ariel mencondongkan tubuh, bagaimana bibirnya menyentuh punggung Elina, dan bagaimana Elina menggeliat di bawah sentuhan itu. Pemandangan itu begitu intim, begitu mentah, begitu nyata. Sebuah desahan pelan lolos dari bibir Luna, sebuah suara yang nyaris tak terdengar, seperti bisikan angin. Pemandangan di layar itu membius setiap indranya, mengunci fokusnya sepenuhnya. Ia lupa akan pulpen yang jatuh, lupa akan waktu, lupa akan sekelilingnya. Mata indahnya mengunci pemandangan eksplisit di layar.

End of Chapter 3