Chapter 11 of 14

Chapter 11: Undangan dari Sang Pemangsa

1.2k words

Pria berjas abu-abu itu melangkah maju. Cahaya sore menyelinap masuk melalui celah pintu gudang, membingkai siluetnya. Matanya tajam, mengamati Arsyad dan Pak Danu dengan sorot penuh perhitungan, seolah menimbang berat setiap serat otot mereka. Udara mendadak terasa dingin. Pak Danu menelan ludah, gugup. Arsyad berdiri tegak, membiarkan tatapan pria itu menyapu dirinya. Instingnya berteriak waspada. "Arsyad Soemarta," suara pria itu dalam, datar. Nada bicaranya tidak mempertanyakan, melainkan menegaskan. Ia sudah tahu. Mengangguk pelan, Arsyad membalas tatapan itu. "Anda siapa?" Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibir pria itu. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya, menyerahkannya pada Arsyad. Kartu itu terbuat dari bahan metalik, dingin di ujung jari. 'Arya Mahendra.' Nama itu tercetak rapi di tengah, di bawah logo naga emas yang sama dengan pin di kerah jasnya. Di bagian bawah, tertera 'Direktur Pengembangan Strategis, Grup Mahendra'. Jantung Arsyad berdesir. Grup Mahendra. Nama yang membayangi seluruh pasar modal, raksasa yang baru saja ia lawan di bursa jagung. Ini bukan sekadar perkenalan. "Pewaris ketiga Grup Mahendra," lanjut Arya, seolah membaca pikiran Arsyad. "Kudengar kau membuat sedikit riak di bursa komoditas. Menarik." Pak Danu tersentak mendengar nama itu. Matanya membelalak, ketakutan jelas terpancar di sana. Ia mundur selangkah, bersembunyi sedikit di balik tubuh Arsyad. Berdesir darah Arsyad. Sedikit riak? Pria ini meremehkan usahanya, keringatnya, malam-malam tanpa tidurnya. Kemenangan pahit yang nyaris merenggut segalanya baginya hanyalah 'riak' kecil. "Saya tidak yakin apa yang Anda inginkan dari gudang sederhana ini, Tuan Mahendra," kata Arsyad, suaranya tenang, meskipun di dalam kepalanya ribuan skenario ancaman mulai terbentuk. Arya Mahendra terkekeh pelan. "Langsung ke intinya. Aku tidak tertarik pada gudangmu. Aku tertarik pada apa yang kau ciptakan di sini. Formula jamu itu." Arsyad menegang. Bagaimana pria ini tahu tentang formula jamu yang baru saja ia mulai distribusikan? Ini bukan sekadar pengawasan pasar modal biasa. "Kudengar kau mulai membangun merek 'Jamu Asa'. Distribusinya masih terbatas, tapi potensinya... cukup besar." Arya melangkah mendekat, mengabaikan Pak Danu yang gemetar. "Aku datang untuk mengakuisisi formula itu." Akuisisi. Kata itu terasa berat, menggantung di udara. Arsyad memproses informasi itu, menimbang setiap implikasi. Jelas, Grup Mahendra tidak ingin Arsyad menjadi pesaing. "Berapa?" Arsyad menukas, langsung pada inti. Ia tahu Mahendra tidak akan memberi harga murah jika mereka sudah repot-repot mengirim pewarisnya. Senyum Arya melebar. Itu bukan senyum ramah, melainkan seringai predator yang telah mengendus mangsanya. "Lima miliar rupiah." Rahang Arsyad mengeras. Lima miliar. Angka itu menghantamnya seperti gelombang kejut. Lima miliar rupiah. Bukan lima juta. Bukan lima puluh juta. Lima miliar. Jumlah yang tak terbayangkan. Kepala Arsyad berputar. Gambar-gambar melintas cepat di benaknya: Ibunya yang sakit-sakitan, adiknya yang menangis kelaparan, rumah mereka yang reyot di ujung desa. Lima miliar bisa mengubah segalanya. Lima miliar bisa membayar semua utang. Membeli rumah layak. Memberikan pendidikan terbaik untuk kedua adiknya. Melunasi biaya pengobatan ibunya sampai tuntas. Membebaskan mereka dari belenggu kemiskinan yang mencekik. Kekayaan itu, janji kebebasan itu, begitu memikat. Tangannya sedikit gemetar. Ini adalah jalan pintas menuju impian yang selama ini ia kejar dengan susah payah. Namun, sesuatu di mata Arya Mahendra mengganggunya. Tatapan itu. Ada kilatan meremehkan, seolah ia sedang melihat seekor semut yang beruntung menemukan remah-remah. Arya memandangnya seolah Arsyad adalah bidak kecil, sebuah mainan yang bisa dibeli, dihancurkan, dan dibuang. "Aku tahu kau anak buruh tani," kata Arya, suaranya kini sedikit lebih lembut, tetapi justru itu yang terasa semakin menusuk. "Lima miliar adalah angka yang besar bagimu. Cukup untuk membuat keluargamu hidup nyaman seumur hidup." Arsyad mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Kata-kata itu, meski terdengar simpatik, adalah pukulan telak. Itu mengingatkannya pada masa lalu, pada rasa tidak berdaya yang membakar jiwanya. Ingatan itu kembali: Ibunya berlutut di depan rentenir, memohon pinjaman. Wajah ibunya yang pucat, air matanya yang mengalir. Arsyad kecil hanya bisa melihat, tidak bisa berbuat apa-apa. Rasa bersalah itu menusuknya hingga kini. Ia berjanji pada dirinya sendiri saat itu. Tidak akan pernah lagi ia membiarkan keluarganya berada dalam posisi rentan. Tidak akan pernah lagi ia membiarkan siapa pun meremehkan mereka, menganggap mereka tak berharga. Dan kini, pria di depannya, dengan uangnya, dengan kekuasaannya, melakukan hal yang sama. Arya menawarkan kebebasan, tetapi dengan harga diri Arsyad sebagai jaminannya. Arya melihatnya sebagai barang, bukan sebagai pejuang. "Jadi, bagaimana?" Arya mengangkat alisnya, senyum tipis masih bertengger di bibirnya. "Ini tawaran yang tidak akan kau dapatkan lagi. Pikirkan keluargamu." Pikirkan keluargamu. Kata-kata itu berulang di kepala Arsyad, beradu dengan harga dirinya. Lima miliar. Kehidupan yang lebih baik. Tanpa perjuangan. Tanpa risiko. Tanpa ancaman. Tapi juga tanpa kehormatan. Tanpa kedaulatan. Tanpa pengakuan atas perjuangannya sendiri. Ia akan menjadi pion dalam permainan orang lain, bukan pemain utama. Arsyad menarik napas dalam, membiarkan kemarahan dingin membakar di dadanya. Lima miliar adalah godaan yang mematikan. Itu adalah racun yang dibungkus madu. Ia telah melihat ibunya memohon. Ia tidak akan pernah lagi memohon. Ia tidak akan pernah lagi tunduk. Ia tidak akan pernah lagi membiarkan orang lain membeli mimpinya. "Saya mengerti betapa besar tawaran Anda, Tuan Mahendra," kata Arsyad, suaranya kini sekeras baja. "Tapi formula ini... ini lebih dari sekadar uang bagi saya." Arya Mahendra hanya memandangnya, ekspresinya tidak berubah. Ia menunggu. Menunggu Arsyad luluh, menunggu Arsyad menyerah pada godaan yang tak terbantahkan. "Ini warisan keluarga saya," lanjut Arsyad, tatapannya menusuk tajam ke mata Arya. "Ini adalah janji yang saya buat kepada diri sendiri, untuk mengubah nasib keluarga saya dengan tangan saya sendiri." Senyum Arya memudar sedikit. Ia sepertinya tidak menyangka akan ada penolakan, apalagi dengan alasan seperti itu. Di matanya, semua orang punya harga. "Semua orang punya harga, Arsyad," ujar Arya, suaranya kini terdengar sedikit lebih tajam. "Kau terlalu muda untuk memahami bagaimana dunia ini bekerja. Perusahaan besar melahap yang kecil. Itu hukum alam." "Saya tidak setuju," balas Arsyad tegas. "Saya tidak akan membiarkan formula ini menjadi bagian dari mesin raksasa yang tidak menghargai asal-usulnya. Formula ini akan berdiri sendiri, akan tumbuh, dan akan bersaing." Arya Mahendra menggelengkan kepalanya pelan, seolah sedang berbicara dengan anak kecil yang keras kepala. Ia mengeluarkan sebuah draf kontrak dari dalam tas kulitnya. Sebuah dokumen tebal dengan logo naga emas di setiap halamannya. "Kau bisa baca ini," kata Arya, menaruhnya di meja butut di gudang. "Semua detailnya ada di sana. Akuisisi penuh, hak paten dialihkan, royalti minimal untukmu... jika kau mau." Arsyad menatap kontrak itu. Setiap kata di sana adalah simbol penyerahan. Simbol bahwa ia akan menjual mimpinya, menjual harapan keluarganya, demi kenyamanan sesaat. Ia membayangkan wajah ibunya, wajah adiknya. Mereka akan bahagia dengan uang ini. Mereka akan aman. Tapi apakah ia akan bisa menatap cermin setiap pagi, tahu bahwa ia menyerah pada orang yang meremehkannya? Tidak. Harga dirinya, komitmennya pada prinsipnya, jauh lebih mahal dari lima miliar. Keamanan sejati bukan datang dari uang yang dibeli, tetapi dari kekuatan yang dibangun sendiri. Arsyad meraih draf kontrak itu. Matanya bertemu dengan mata Arya, yang masih menunjukkan sedikit kilatan mengejek. Kilatan itu memicu api terakhir dalam diri Arsyad. Dengan gerakan cepat, Arsyad merobek draf kontrak akuisisi di depan wajah Arya. Suara kertas terkoyak memecah keheningan gudang. "Formula ini tidak dijual kepada orang yang meremehkan keringat buruh tani." Arya tersenyum dingin dan membalas, "Maka bersiaplah melihat bursa menolak keberadaanmu mulai besok."

End of Chapter 11