Chapter 12 of 14

Blokade Total Jalur Darat

976 words

Jantung Arsyad berdebar kencang. Ponsel di tangannya bergetar hebat, menampilkan nama Pak Tejo. Satu dari tiga sopir truk yang membawa pasokan jahe merah segar dari kaki gunung. Wajahnya mengernyit, firasat buruk menusuk tajam ke ulu hati. Firasat yang sama saat Arya Mahendra mengancamnya. "Arsyad, gawat!" Suara Pak Tejo pecah, terdengar putus asa. "Semua truk kita ditahan di pos pemeriksaan perbatasan kota! Mereka bilang dokumen distribusi kita palsu!" Merah padam wajah Arsyad. "Palsu? Bagaimana bisa? Aku sendiri yang mengurusnya langsung di dinas perdagangan! Aku memastikan semua berkas lengkap dan sah!" "Entah, Mas. Petugas-petugas ini bersikeras. Ada surat perintah dari atas, katanya. Mereka tidak mau dengar penjelasan kita." Pak Tejo terdiam sejenak, lalu berbisik, suaranya nyaris tak terdengar, "Aku dengar mereka menyebut nama 'Mahendra' saat bicara satu sama lain." Napas Arsyad tercekat. Ini bukan kebetulan. Ini adalah perang yang Arya Mahendra janjikan. Sebuah blokade total, dimulai dari jalur pasokan vital. Rahangnya mengeras. Jemarinya mencengkeram ponsel hingga buku-buku jarinya memutih. Segera Arsyad menelepon pengacara langganannya, Pak Herman. Penjelasan rinci ia sampaikan, berharap ada celah hukum untuk melawan. Nada bicara Pak Herman berubah muram setelah mendengar semua detailnya. Ada keheningan di ujung sana. "Arsyad, ini rumit sekali," kata Pak Herman akhirnya. "Dokumen palsu yang mereka maksud itu… mungkin direkayasa sedemikian rupa sehingga secara administratif terlihat cacat. Padahal aslinya sah. Ini pekerjaan orang dalam, dan yang pasti, kekuatannya besar sekali." Usai menutup telepon, kepalanya terasa pening. Pikirannya berpacu, mencari celah. Memutar otak, mencoba mengingat setiap detail proses perizinan. Tidak ada yang salah. Semua sempurna. Kecuali jika ada pihak yang sengaja merusaknya dari dalam. Itu baru saja terjadi. --- Jam-jam berikutnya terasa seperti neraka. Arsyad mencoba menghubungi berbagai kenalan, mulai dari pejabat kecil di dinas perhubungan hingga beberapa pengusaha logistik yang pernah ia bantu. Semua pintunya tertutup rapat. Beberapa bahkan langsung menolak sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, seolah ada perintah tegas untuk tidak ikut campur. Setiap panggilan yang ia lakukan hanya menghasilkan penolakan atau alasan berbelit. Ini bukan sekadar hambatan birokrasi biasa. Ini adalah tembok. Sebuah tembok yang dibangun kokoh oleh tangan tak terlihat, dipersenjatai dengan uang dan kekuasaan. Melangkah ke ruang produksi, udara dingin menyergapnya. Biasanya, bau rempah menyengat dan mesin penggiling berdengung sibuk. Kini, suasana hening mencekam. Mesin-mesin terdiam, bersih, tapi tidak berfungsi. Para pekerja tampak gelisah, sesekali meliriknya dengan tatapan khawatir. “Bagaimana, Bos?” tanya Mang Udin, kepala bagian produksi, suaranya rendah. “Apa sudah ada kabar soal pasokan jahe merah?” Arsyad menggeleng pelan, rasa pahit memenuhi kerongkongannya. “Belum, Mang. Truk masih tertahan. Sepertinya kita harus menghentikan produksi untuk sementara.” Ekspresi Mang Udin berubah muram. “Padahal pesanan sedang banyak-banyaknya, Bos. Terutama untuk jamu stamina dan imun. Banyak yang butuh sekali.” Menunduk, Arsyad merasakan beban berat menimpanya. Bukan hanya dirinya, tapi juga nasib para pekerja yang menggantungkan hidup padanya. Rasa bersalah mulai merayap, menusuk egonya yang selalu ingin mengendalikan segalanya. Pandangannya menyapu ke sudut ruangan. Syifa, adiknya, sedang membantu Bu Siti mengemas sisa-sisa produk jamu yang sudah jadi. Wajah Syifa pucat, garis kelelahan terlihat jelas di bawah matanya. Gerakannya lebih lambat dari biasanya. Beberapa kali ia terbatuk pelan, berusaha menyembunyikannya. Arsyad tahu kondisi Syifa belum pulih sepenuhnya. Ia seharusnya beristirahat, namun rasa tanggung jawab adiknya terlalu besar. Ia tidak bisa diam melihat kakaknya berjuang sendirian. Melihat Syifa memaksakan diri, hati Arsyad mencelos. Ini semua salahnya. Kesalahannya karena menolak Arya Mahendra. Kesalahannya karena terlalu percaya diri. --- Di pelabuhan, suasana semakin tegang. Antrean konsumen yang biasanya tertib dan bersemangat, kini diwarnai kekecewaan. Para pedagang yang menjual jamu Arsyad terlihat bingung, stok mereka menipis drastis, bahkan beberapa sudah kehabisan. “Sudah tiga hari jamu stamina habis!” teriak seorang bapak berjaket kulit tebal. “Saya ini butuh untuk kerja keras di laut! Bagaimana ini?!” Ibu-ibu lain ikut mengeluh. “Jamu imun juga tidak ada. Padahal anak saya sering sakit. Biasanya minum ini cepat pulih.” Arsyad mengamati dari kejauhan, hatinya perih. Konsumennya kecewa. Mereka yang selama ini percaya pada produknya, kini merasa ditinggalkan. Ini bukan sekadar kerugian finansial, ini adalah pukulan telak terhadap reputasinya, kepercayaan yang ia bangun dengan susah payah. Seorang pedagang tua menghampirinya. “Maaf, Nak Arsyad. Saya tahu kamu sudah berusaha. Tapi kalau begini terus, kami terpaksa mencari pemasok lain. Kami tidak bisa membiarkan lapak kosong.” Kata-kata itu bagai belati yang menusuk. Pikirannya kacau balau. Semua rencananya, semua perhitungan cermatnya, seolah runtuh dalam sekejap. Ini adalah efek domino yang Arya Mahendra inginkan. Menghancurkan Arsyad perlahan, dari hulu ke hilir. Malam tiba, Arsyad masih terjaga. Matanya memerah karena kurang tidur. Ia sudah mencoba menghubungi semua jaringan, menjelajahi setiap opsi logistik alternatif. Hasilnya nihil. Seluruh jalur darat ke wilayah pemasok utamanya seperti diblokade total oleh kekuatan tak terlihat. Bahkan mencoba mengalihkan pasokan dari daerah lain pun sama saja. Setiap kali ia menemukan celah, seolah ada tangan tak kasat mata yang langsung menutupnya. Arya Mahendra tidak main-main. Ia telah mengerahkan seluruh kekuasaannya untuk mencekik Arsyad. Memijit pelipisnya yang berdenyut, Arsyad merasa frustrasi. Ia terbiasa mengendalikan setiap variabel, namun kali ini, ia kehilangan kendali sepenuhnya. Ketidakberdayaan ini mengingatkannya pada masa kecil, saat ibunya memohon pinjaman medis, dan ia tak bisa melakukan apa-apa. Rasa takut itu kembali menghantuinya, lebih kuat dari sebelumnya. Ia harus mencari solusi. Harus. Tidak peduli seberapa sulitnya. Ia tidak akan membiarkan keluarganya jatuh lagi ke dalam kemiskinan yang mencekik. Arsyad tidak akan membiarkan Syifa terus memaksakan diri hingga sakit. Ia akan menemukan cara. Tiba-tiba, ponselnya kembali berdering. Nama Pak Tejo muncul lagi di layar. Kali ini, panggilan video. Arsyad mengangkatnya, merasakan detak jantungnya berpacu tak karuan. Wajah Pak Tejo muncul, di belakangnya terlihat kegelapan jalanan lintas provinsi. Ekspresinya panik, rambutnya acak-acakan. "Mas Arsyad! Mas Arsyad!" Pak Tejo berteriak histeris, suaranya nyaris tenggelam oleh suara gaduh dan benturan benda keras. Kamera ponselnya bergetar hebat, memperlihatkan bayangan beberapa sosok kekar yang bergerak cepat di sekitar truk. "Sialan! Mereka menjarah! Preman-preman itu menjarah muatan jahe merah kita!" Salah satu sopir truk menelepon Arsyad sambil berteriak histeris karena sekelompok preman tak dikenal mulai menjarah muatan jahe merah mereka di pinggir jalan lintas provinsi.

End of Chapter 12

Chapter 12: Blokade Total Jalur Darat - Membangun Dari Langkah Pertama | Novel AI Studio