Chapter 10 of 14

Chapter 10: Kemenangan Berdarah Dingin

1.4k words

Jantung Arsyad berdegup kencang. Monitor di depannya berkedip merah terang, angka kerugian semakin membengkak. Hanya dua menit tersisa. Margin call akan datang. Seluruh modalnya, sepuluh juta rupiah yang tersisa, akan lenyap dalam sekejap mata. Keheningan di gudang terasa mencekik, hanya suara kipas laptop yang meraung menemani detak jam di sudut layar. Ini adalah pertaruhan terakhirnya. Jika ia kalah, semua perjuangannya akan sia-sia. Bisnis jamu keluarga hancur. Adik-adiknya kembali hidup dalam kemiskinan yang ia benci setengah mati. Darah Arsyad mendingin. Ia melihat grafik harga jagung berjangka yang terus melonjak tak terkendali. Ini melampaui perhitungan logisnya. Mahendra pasti sedang melakukan sesuatu yang gila. Sebuah manipulasi harga yang brutal, tanpa ampun, untuk melibas pemain kecil seperti dirinya. Ia bisa merasakan cengkeraman oligarki itu, tangan tak terlihat yang mencekik pasar. Napasnya tercekat. Keringat dingin membasahi punggungnya. Perutnya melilit. Semua data, semua analitik, semua risetnya tentang pergerakan kapal kargo Mahendra, semua itu terbukti salah. Atau belum waktunya. Hanya satu menit dan tiga puluh detik tersisa. Arsyad menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak. Otaknya bekerja dengan kecepatan gila, mengulang setiap skenario, setiap kemungkinan. Keyakinannya teguh bahwa Mahendra tidak bisa menunda pengiriman tanpa konsekuensi besar. Tapi kapan efeknya akan terlihat? Sial. Waktunya bukan di pihaknya. Satu menit tersisa. Layar mulai berkedip lebih cepat, sinyal peringatan berbunyi nyaring. Sebuah pop-up merah muncul, ‘Margin Call Alert’. Arsyad meraih mouse, jari-jarinya gemetar di atas tombol ‘Sell’. Menjual sekarang, berarti mengakui kekalahan, menyelamatkan sisa-sisa modalnya yang tak seberapa. Atau bertahan? Bertahan berarti mempertaruhkan segalanya, percaya pada instingnya yang terasa semakin tipis di ambang keputusasaan. “Persetan!” gumamnya, matanya tajam menatap layar. Ia tidak akan menyerah. Bukan Arsyad Soemarta namanya jika ia mundur sekarang. Tiga puluh detik. Angka kerugian mencapai puncaknya. Jantungnya berdebar seperti genderang perang. Ia melihat berita terbaru di salah satu tab yang terbuka, memindai sekilas. Tidak ada apa-apa. Lima belas detik. Layar mulai berkedip lebih ganas, seolah menuntutnya untuk menyerah. Tiba-tiba, sebuah notifikasi berita muncul di pojok kanan bawah layarnya, tersembunyi di balik jendela grafik. Sebuah judul kecil, tapi cukup untuk membekukan Arsyad di tempatnya. “KETERLAMBATAN PENGIRIMAN KARGO MAHENDA AKIBAT KERUSAKAN SISTEM NAVIGASI.” Matanya membelalak. Ini dia. Sepuluh detik. Arsyad tidak berpikir. Tangannya bergerak cepat, mencari tombol ‘refresh’ pada halaman berita yang lebih kredibel. SIAL! Jaringan internet gudang yang lambat membuatnya frustasi. Lima detik. Empat. Tiga. Detik-detik terakhir yang terasa seperti kekekalan. Angka kerugiannya perlahan, sangat perlahan, mulai mereda. Ia melihatnya. Pergerakan minor pada grafik. Lalu, seperti bendungan yang jebol, grafiknya ambruk. Turun drastis. Sebuah penurunan tajam yang tak masuk akal. Arsyad menahan napas. Margin call terhindar. Layar yang tadi merah pekat, kini mulai berubah hijau. Angka-angka kerugian berganti menjadi keuntungan. Pertama puluhan juta, lalu seratus juta. Dua ratus juta. Arsyad terhuyung mundur dari kursinya, napasnya tersengal. Ia berhasil. Perhitungannya tepat. Berita keterlambatan kapal kargo Mahendra bocor ke publik di menit-menit terakhir, tepat seperti yang ia duga. Pasar bereaksi panik. Harga jagung anjlok tajam. Posisi short sell-nya meledak dengan keuntungan. Arsyad menekan tangan ke dadanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila. Ia melihat angka akhir di layar: Keuntungan Bersih Rp 200.000.000. Dua ratus juta rupiah. Sebuah kemenangan yang menghancurkan. Namun, tidak ada kebahagiaan yang meluap. Tidak ada sorakan. Hanya rasa dingin yang merayapi tulangnya. Ia baru saja lolos dari jurang kehancuran. Dalam hitungan detik. Dunia bursa adalah medan perang yang kejam. Predator-predator korporat siap melibas siapa saja yang lengah. Rasa mual melandanya. Ia hampir kehilangan segalanya. Hampir. Rasa bersalah masa kecil, saat ibunya memohon pinjaman medis, terulang kembali dalam memori. Ketakutan ekstrem akan kemiskinan yang ia pikir sudah ia taklukkan, kini terasa lebih nyata. Kemenangan ini bukan manis. Ini pahit. Ini adalah pengingat brutal bahwa uang adalah kekuasaan. Kontrol mutlak atas modal adalah satu-satunya jaminan keselamatan. Ia harus mengendalikan setiap variabel. Tidak bisa mempercayai siapa pun. Terutama di dunia yang penuh intrik ini. Arsyad beringsut kembali ke meja, jari-jarinya menekan tombol untuk menutup posisi. Keuntungan dua ratus juta rupiah tercatat aman di akunnya. Ia merasa seperti baru saja keluar dari medan perang, selamat, tapi dengan jiwa yang terkikis. Matanya kini lebih tajam, lebih dingin. Kekalahan hampir membuatnya rapuh, tetapi kemenangan ini justru membuatnya mengeras. Ia tidak akan pernah lagi membiarkan dirinya berada di posisi rentan seperti ini. Tidak akan pernah. Ia akan membangun benteng modal yang tak tergoyahkan. Demi adik-adiknya. Demi keluarganya. --- Pagi berikutnya, Arsyad berdiri di depan kantor Pak Danu, cek tunai di tangannya. Udara pagi terasa sejuk, tetapi hatinya masih dingin. Ia telah tidur kurang dari tiga jam, otaknya masih memproses gejolak semalam. Sebuah kemenangan besar, tetapi dengan harga yang mahal. “Pak Danu.” Arsyad menyapa, suaranya datar. Pak Danu keluar dari kantornya, ekspresinya masih tegang dan penuh kekhawatiran. Matanya sembap. “Arsyad? Kamu datang.” “Aku bayar hutangnya,” ucap Arsyad, menyerahkan cek tunai dua puluh lima juta rupiah. Pak Danu meraih cek itu, matanya melebar saat melihat angka-angkanya. “Ini… ini lunas?” “Lunas. Dan biaya ganti rugi atas kerusakan bahan baku yang ku gunakan kemarin juga sudah termasuk di dalamnya. Lebih dari cukup, malah,” jawab Arsyad. Pak Danu menatap Arsyad dengan tak percaya, lalu rasa lega yang luar biasa membanjiri wajahnya. “Nak… Arsyad. Terima kasih. Terima kasih banyak. Aku tidak tahu harus bilang apa.” “Tidak perlu berterima kasih,” kata Arsyad, tanpa emosi. “Ini adalah hutang bisnis. Sudah selesai.” Ia berbalik, ingin segera pergi dari sana. Mengingat Pak Danu, mengingatkannya pada ancaman yang ia hadapi. Pada betapa dekatnya ia dengan kehancuran. “Tunggu, Arsyad!” Pak Danu memanggil. Arsyad berhenti, menoleh sekilas. “Setidaknya, biarkan aku tahu bagaimana kamu mendapatkan uang sebanyak ini dalam semalam. Apa… apa kamu melakukan sesuatu yang ilegal?” Pertanyaan itu membuat Arsyad tersenyum tipis, sebuah senyuman tanpa kehangatan. “Tidak ada yang ilegal, Pak Danu. Hanya sedikit… spekulasi pasar.” Ia tidak perlu menjelaskan lebih jauh. Pak Danu tidak akan mengerti, atau lebih tepatnya, ia tidak mau mengerti. Dunia bursa adalah dunia yang kejam. Ia tidak ingin Pak Danu terseret ke dalamnya. Arsyad kembali berjalan, langkahnya mantap. Ia harus segera kembali ke gudang, ada banyak hal yang harus ia lakukan. Banyak rencananya yang harus ia eksekusi. Bisnis jamu adalah dasar. Tapi masa depannya ada di pasar modal. Ia harus menguasainya. Ia harus menguasai dunia itu. Ketika Arsyad kembali ke gudang, ia menemukan ketiga adiknya sudah menunggu, wajah mereka penuh harap dan kecemasan. “Mas Arsyad!” panggil Tari, berlari memeluk kakaknya. “Bagaimana? Bisnis kita… selamat?” Arsyad mengangguk, membalas pelukan adiknya. Rasa dingin di hatinya sedikit melunak melihat wajah polos mereka. “Selamat. Lebih dari selamat.” Wajah ketiga adiknya langsung berseri-seri. Mereka tidak tahu apa yang ia alami semalam, seberapa dekat mereka dengan kehancuran total. Arsyad tidak ingin mereka tahu. Ia akan melindungi mereka dari kegelapan ini. “Ini sudah Mas bayar lunas. Sekarang, kita bisa fokus mengembangkan bisnis jamu lagi,” katanya, mencoba terdengar ceria. “Kita akan buat lebih banyak varian, memperluas jangkauan pasar.” “Benarkah, Mas?!” seru Sinta, matanya berbinar. “Aku akan bantu mengemasnya lebih cantik!” “Aku akan bantu antar ke warung-warung, Mas!” tambah Rio, semangat. Melihat senyum mereka, Arsyad merasa sedikit kehangatan kembali. Ini adalah alasannya. Untuk mereka. Ia tidak akan pernah lagi membiarkan ketidakberdayaan masa lalu terulang. Ia akan membangun benteng yang kokoh, tak tertembus, dengan modal sebagai fondasinya. Mereka semua masuk ke dalam gudang, memulai hari baru dengan semangat yang membara. Arsyad menginstruksikan Tari dan Sinta untuk menyiapkan bahan-bahan, sementara Rio membantu mengangkat karung-karung jahe dan kunyit. Suasana gudang kembali hidup, dipenuhi tawa dan obrolan ringan. Namun, mata Arsyad tetap waspada. Ia sudah memeriksa laporan keuangan Mahendra Group pagi ini. Mereka menderita kerugian besar dari insiden kapal kargo itu. Sebuah kemenangan kecil bagi dirinya, tetapi sebuah pukulan telak bagi raksasa. Itu adalah pertanda. Sebuah peringatan. Ia tahu mereka tidak akan tinggal diam. Tidak ada yang akan membiarkan seorang pemula merusak permainan mereka. Arsyad menyelesaikan instruksinya, lalu duduk di mejanya, membuka laptop lagi. Ada lebih banyak hal yang harus ia pelajari. Setiap data, setiap berita, setiap pergerakan pasar. Ia harus tahu semuanya. Ia harus mengendalikan semuanya. Saat Arsyad menyerahkan uang tunai kepada Pak Danu, seorang pria paruh baya berjas abu-abu dengan pin berlogo naga emas melangkah masuk ke gudang mereka tanpa diundang. Ia melihat Arsyad, lalu senyum tipis terukir di bibirnya. Sebuah senyum yang tak menjanjikan kebaikan. Pria itu mengangkat tangannya, sebuah isyarat kecil yang dingin. “Arsyad Soemarta, bukan?” suaranya terdengar berat, mengisi ruang. “Saya dengar Anda membuat keributan di pasar jagung kemarin.”

End of Chapter 10