Alistair tidak bergerak.
Tangannya masih berada di dekat gagang pedang, tetapi ia belum menariknya.
Suara geraman dari balik semak terdengar sekali lagi.
Grrr…
Kali ini lebih jelas.
Alistair menelan ludah.
Ia melirik Aldren.
Pria itu masih tenang.
Tidak menghunus senjata.
Tidak mengambil posisi menyerang.
Hanya memperhatikan semak di depan mereka.
Alistair kembali menatap ke sana.
“Jangan terburu-buru,” kata Aldren pelan.
Alistair mengangguk.
Ia mencoba mengingat latihan beberapa hari terakhir.
Jangan hanya melihat.
Perhatikan sekeliling.
Jangan bergerak tanpa alasan.
Ia menarik napas perlahan.
Daun-daun di depan mereka bergerak.
Namun angin juga bertiup dari arah kiri.
Alistair memperhatikan gerakan semak.
“Bukan dari sana…”
Aldren meliriknya.
“Apa?”
“Gerakannya.”
Alistair menunjuk dengan dagu.
“Semaknya bergerak, tapi anginnya dari kiri.”
Aldren tidak menjawab.
Ia membiarkan Alistair melanjutkan.
Alistair memusatkan perhatian.
Geraman terdengar lagi.
Kali ini dari tempat yang berbeda.
Alistair sedikit terkejut.
“Suara itu berpindah.”
Aldren tersenyum tipis.
“Sekarang kau mulai menggunakan telingamu.”
Alistair tidak menjawab.
Ia memejamkan mata sesaat.
Suara dedaunan.
Suara burung.
Angin.
Kemudian—
Grrr…
Alistair membuka mata.
“Di belakang.”
Aldren mengangguk.
Keduanya berbalik.
Beberapa meter di belakang mereka, seekor makhluk keluar dari balik semak.
Alistair langsung mengenalinya.
Makhluk itu menyerupai serigala, tetapi tubuhnya lebih besar daripada yang mereka lihat sebelumnya.
Bulu abu-abunya berdiri.
Matanya tertuju pada mereka.
Alistair mundur satu langkah.
Kali ini ia benar-benar menarik pedang kayu.
Aldren tetap diam.
Makhluk itu menggeram.
Alistair menggenggam pedang dengan kedua tangan.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
“Tenang…”
Ia mengucapkan kata itu pada dirinya sendiri.
Makhluk tersebut menundukkan tubuh.
Alistair langsung mengambil posisi.
Namun ia tidak maju.
Ia menunggu.
Makhluk itu bergerak.
Cepat.
Alistair spontan mengangkat pedang kayu.
Buk!
Tubuhnya terdorong ke belakang.
Ia hampir terjatuh.
Makhluk itu mendarat beberapa langkah di depannya.
Alistair terengah.
Pedang kayunya masih berada di tangan.
“Jangan panik!” seru Aldren.
Makhluk itu kembali menyerang.
Kali ini Alistair mencoba bergerak ke samping.
Ia berhasil menghindari serangan pertama.
Namun kakinya salah berpijak.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Ia jatuh ke tanah.
Pedang kayunya terlepas.
Makhluk itu berbalik.
Alistair membeku.
Untuk sesaat, ia tidak tahu harus melakukan apa.
Aldren melangkah maju.
Namun sebelum Aldren bergerak lebih jauh, makhluk itu tiba-tiba berhenti.
Ia tidak menyerang.
Makhluk tersebut justru menoleh ke belakang.
Terdengar suara lain dari kejauhan.
Lebih kecil.
Alistair mengerutkan kening.
“Suara apa itu?”
Makhluk itu berbalik dan berlari menuju semak.
Alistair masih duduk di tanah.
Aldren tidak mengejar.
“Bangun.”
Alistair mengambil pedang kayunya.
Ia berdiri perlahan.
“Kenapa dia pergi?”
“Cari tahu.”
Alistair menatap arah makhluk tadi.
Ia mengikuti beberapa langkah.
Di balik semak, ia menemukan sesuatu.
Sebuah lubang kecil di antara akar pohon.
Di dalamnya terdapat dua makhluk kecil yang meringkuk.
Anak-anak dari makhluk tadi.
Alistair terdiam.
“Dia bukan mau menyerang kita.”
Aldren berjalan mendekat.
“Dia sedang menjaga anaknya.”
Alistair melihat kembali ke arah hutan.
Makhluk itu sudah menghilang.
Ia menurunkan pedang kayunya.
“Berarti tadi…”
“Kau salah mengira.”
Alistair mengangguk.
Ia tidak merasa malu.
Justru ada sesuatu yang baru ia pahami.
Tidak semua geraman berarti seseorang ingin menyerang.
Tidak semua monster akan bertarung hanya karena manusia mendekat.
Kadang mereka hanya melindungi sesuatu.
Aldren kemudian mengambil pedang kayu dari tangan Alistair.
“Bagaimana rasanya?”
Alistair mengusap lengannya yang tadi terkena benturan.
“Sakit.”
“Takut?”
Alistair berpikir.
“Iya.”
Aldren mengangguk.
“Bagus.”
Alistair mengerutkan kening.
“Kenapa semuanya bagus?”
“Karena kalau kau tidak merasa takut sama sekali, kau mungkin akan melakukan hal bodoh.”
Alistair terdiam.
Aldren menyerahkan pedang kayu itu kembali.
“Takut bukan berarti kau harus berhenti.”
“Terus?”
“Gunakan rasa takut itu untuk berpikir.”
Alistair melihat pedang di tangannya.
Ia mulai memahami maksud Aldren.
Ketika makhluk itu datang tadi, ia langsung memikirkan cara menyerang.
Ia lupa memperhatikan.
Lupa mencari jalan keluar.
Lupa bahwa dirinya belum cukup kuat untuk menghadapi makhluk seperti itu.
Aldren berjalan kembali menuju jalan setapak.
“Pulang.”
Alistair mengikutinya.
“Latihannya selesai?”
“Untuk hari ini.”
Alistair melihat ke belakang.
Hutan kembali tenang.
“Kalau tadi aku benar-benar harus bertarung…”
“Kau akan kalah.”
Jawabannya langsung.
Alistair terdiam.
Aldren tidak mengatakan itu untuk merendahkannya.
Justru ia ingin Alistair mengetahui kenyataan.
“Kau belum siap menghadapi monster seperti itu.”
Alistair mengangguk.
“Aku tahu.”
Mereka berjalan dalam diam.
Beberapa saat kemudian, Alistair bertanya,
“Aldren.”
“Ya?”
“Kalau aku belum bisa melawan monster…”
“Hmm?”
“Kenapa kau masih mengajariku?”
Aldren tidak langsung menjawab.
Ia melihat jalan di depan.
“Karena kau mau belajar.”
Alistair terdiam.
Jawaban itu sederhana.
Namun cukup.
Mereka terus berjalan meninggalkan hutan.
Hari itu Alistair tidak mengalahkan monster.
Ia bahkan gagal mempertahankan keseimbangannya ketika diserang.
Namun ia membawa pulang sesuatu yang lebih penting daripada kemenangan.
Ia belajar bahwa tidak semua hal harus diselesaikan dengan pedang.
Dan sebelum seseorang belajar bagaimana cara menang—
ia harus terlebih dahulu belajar bagaimana cara memahami apa yang sedang dihadapinya.