Chapter 10 of 46

Bab 10 — Jejak yang Tertinggal

648 words

Pagi di Eldermere selalu dimulai lebih cepat daripada yang Alistair bayangkan. Suara roda kereta melewati jalan batu terdengar sejak matahari belum sepenuhnya naik. Dari luar penginapan, terdengar pedagang mulai membuka kios dan orang-orang membawa barang menuju pasar. Alistair membuka mata. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar. Kemudian tangannya bergerak ke sisi tempat tidur. Tidak ada siapa-siapa. Ia sudah terbiasa. Alistair duduk dan merapikan rambutnya yang berantakan. Di samping tempat tidur, pedang kayu pemberian Aldren tergeletak bersama pakaian yang akan digunakannya hari itu. Ia mengambil pedang tersebut. Hari ini latihan lagi. Setelah sarapan sederhana, Alistair menuju Hunter Guild. Aldren sudah menunggunya di halaman belakang. “Lambat.” Alistair melihat matahari. “Belum terlambat.” “Bagi orang yang ingin menjadi Hunter, itu sudah cukup terlambat.” Alistair menghela napas kecil. “Baiklah.” Aldren tersenyum tipis. “Pemanasan. Lima putaran.” Alistair langsung berlari. Beberapa minggu terakhir, rutinitasnya mulai terbentuk. Pagi untuk latihan. Siang untuk pekerjaan sederhana. Sore terkadang digunakan untuk membantu di Guild. Malam kembali ke penginapan. Tidak ada yang istimewa. Tapi bagi Alistair, kehidupan seperti itu terasa baru. Ia mulai memiliki alasan untuk bangun setiap pagi. Setelah latihan selesai, Aldren memberikan sebuah pekerjaan. “Antarkan ini.” Aldren menyerahkan sebuah kantong kecil. “Ke mana?” “Pondok pemburu di luar kota. Tidak terlalu jauh.” Alistair memeriksa kantong itu. “Isinya?” “Persediaan obat.” Alistair mengangguk. “Baik.” “Dan satu hal.” Alistair menoleh. “Jangan mengambil jalan pintas melewati hutan.” “Kenapa?” “Karena kau masih belum cukup kuat untuk berurusan dengan sesuatu yang mungkin ada di sana.” Alistair diam sebentar. Kemudian mengangguk. Ia berangkat. Jalan menuju pondok pemburu cukup sepi. Setelah melewati gerbang kota, suara Eldermere perlahan menghilang. Yang tersisa hanya suara angin dan dedaunan. Alistair berjalan sambil sesekali melihat sekeliling. Sejak kejadian beberapa hari lalu, ia mulai lebih memperhatikan suara di sekitarnya. Burung. Ranting patah. Langkah kaki. Bahkan suara angin yang melewati pepohonan. Ia berhenti. Ada suara lain. Krk... Alistair menoleh. Tidak ada apa-apa. Ia melanjutkan perjalanan. Beberapa langkah kemudian— Krk. Kali ini lebih jelas. Alistair kembali berhenti. Tangannya perlahan mendekati gagang pedang kayu. “...Ada siapa?” Tidak ada jawaban. Ia mengamati semak di sisi jalan. Kemudian sesuatu bergerak. Seekor anak makhluk berbulu keluar perlahan dari balik semak. Alistair membeku. Makhluk itu menyerupai serigala kecil. Bulunya berwarna abu-abu gelap. Salah satu telinganya sedikit terkulai dan ada luka kecil di bagian kaki belakangnya. Makhluk itu menatap Alistair. Alistair menatap balik. “...Kau terluka?” Makhluk itu menggeram pelan. Alistair langsung mengangkat kedua tangannya. “Tenang.” Makhluk itu mundur. Alistair tidak bergerak mendekat. Ia teringat perkataan Aldren. Jangan langsung menganggap sesuatu sebagai musuh. Alistair berjongkok. “Aku nggak akan menyakitimu.” Makhluk itu masih mengawasinya. Beberapa detik berlalu. Kemudian Alistair membuka kantong kecil berisi roti yang dibawanya dari penginapan. Ia mengambil sedikit. Meletakkannya di tanah. Lalu mundur. “Kalau lapar, ambil.” Makhluk itu tidak langsung bergerak. Alistair menunggu. Satu menit. Dua menit. Akhirnya makhluk itu mendekati roti tersebut. Mengendus. Lalu memakannya. Alistair tersenyum kecil. “Begitu lebih baik.” Makhluk itu kembali menatapnya. Kali ini tanpa geraman. Alistair berdiri. “Aku harus pergi.” Ia berbalik. Baru beberapa langkah— Tap. Alistair berhenti. Suara langkah kecil terdengar dari belakang. Ia menoleh. Makhluk itu berdiri beberapa meter darinya. “...Kau mengikutiku?” Makhluk itu memiringkan kepala. Alistair ikut memiringkan kepalanya. “Jangan.” Ia berjalan. Makhluk itu mengikuti. Alistair berhenti. Makhluk itu berhenti. Alistair berjalan lagi. Makhluk itu kembali mengikuti. Alistair menghela napas. “Kau keras kepala juga.” Makhluk itu hanya mengibaskan ekornya. Alistair akhirnya membiarkannya. Namun ketika mereka tiba di persimpangan, makhluk itu tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke arah hutan. Telinganya berdiri. Alistair ikut melihat. “Kenapa?” Makhluk itu mengeluarkan suara rendah. Bukan geraman marah. Lebih seperti peringatan. Alistair menatap hutan. Tidak ada yang terlihat. Tapi untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa mungkin makhluk kecil di sampingnya mendengar sesuatu yang tidak bisa ia dengar. Alistair tersenyum tipis. “...Kau ternyata berguna juga.” Makhluk itu menatapnya. Lalu berjalan kembali. Alistair mengikutinya. Tanpa mengetahui bahwa pertemuan kecil itu akan menjadi awal dari perjalanan panjang mereka. Dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan ibunya— Alistair tidak benar-benar berjalan sendirian.

End of Chapter 10