Chapter 8 of 46
Bab 8 — Sebelum Menghunus Pedang
910 words
Sore mulai turun ketika Alistair dan Aldren kembali ke Hunter Guild.
Alistair berjalan sambil sesekali melihat koin yang baru saja ia dapatkan dari pekerjaan mencari anjing.
Jumlahnya memang tidak banyak.
Namun untuk Alistair, uang itu terasa berbeda.
Ini adalah uang pertama yang ia dapatkan dari pekerjaan yang ia lakukan sendiri sejak datang ke Eldermere.
Ia memasukkannya ke dalam kantong kecil di pinggang.
“Senang?”
Alistair menoleh.
“Lumayan.”
“Lumayan?”
Alistair mengangguk.
“Aku masih harus bayar penginapan.”
Aldren tertawa kecil.
“Setidaknya kau mulai berpikir seperti orang yang hidup sendiri.”
Mereka masuk ke Guild.
Suasana di dalam jauh lebih ramai dibandingkan pagi tadi. Beberapa Hunter baru kembali dari pekerjaan. Ada yang sedang berbicara dengan rekannya, ada yang menyerahkan laporan, dan ada pula yang langsung menuju meja pembayaran.
Alistair memperhatikan semuanya.
Ia mulai mengenali pola kegiatan di tempat itu.
Hunter pergi.
Hunter kembali.
Pekerjaan diselesaikan.
Hasilnya dilaporkan.
Kemudian mereka mendapatkan bayaran.
Tidak sesederhana yang terlihat dari luar.
Aldren membawa Alistair ke sebuah ruangan kecil di bagian belakang.
Di dalamnya terdapat beberapa rak berisi buku dan gulungan kertas.
Alistair memandang sekeliling.
“Tempat apa ini?”
“Ruang catatan.”
“Catatan?”
“Informasi tentang pekerjaan.”
Aldren mengambil sebuah buku tebal dari rak.
“Lokasi monster yang pernah ditemukan. Jalur yang berbahaya. Daerah yang aman. Laporan dari Hunter.”
Ia membuka beberapa halaman.
Alistair melihat berbagai tulisan dan gambar sederhana.
Ada gambar makhluk dengan empat kaki.
Ada yang menyerupai serigala.
Ada pula makhluk besar yang belum pernah ia lihat.
Alistair mendekat.
“Semua monster ada di sini?”
“Tidak mungkin.”
Aldren membalik halaman.
“Dunia terlalu luas.”
“Jadi bagaimana orang tahu monster apa yang ada di suatu tempat?”
“Informasi.”
Aldren menunjuk buku tersebut.
“Hunter yang pulang hidup-hidup membawa informasi. Hunter berikutnya menggunakan informasi itu.”
Alistair terdiam.
“Berarti kalau seseorang menemukan monster baru…”
“Dia harus melaporkannya.”
“Supaya Hunter lain tidak mengulang kesalahan yang sama?”
Aldren mengangguk.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Alistair kembali melihat buku itu.
Selama ini ia mengira kekuatan seorang Hunter hanya berasal dari pedang.
Ternyata pengetahuan juga bisa menentukan apakah seseorang pulang dengan selamat atau tidak.
Aldren kemudian menutup buku tersebut.
“Besok kita keluar kota.”
Alistair langsung menatapnya.
“Untuk berburu?”
“Tidak.”
Jawaban itu membuat Alistair sedikit kecewa.
“Kita hanya akan melihat.”
“Melihat apa?”
“Monster.”
Alistair terdiam.
Untuk beberapa saat ia tidak menjawab.
Aldren memperhatikan ekspresinya.
“Kau takut?”
Alistair berpikir.
“Tidak tahu.”
“Jawaban yang jujur.”
Aldren tersenyum.
“Bagus.”
---
Keesokan paginya, mereka meninggalkan Eldermere melalui gerbang utama.
Alistair membawa pedang kayu.
Pedang ayahnya tetap tersimpan di pinggang, tetapi tidak ia gunakan.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin sedikit bangunan yang terlihat.
Suara kota perlahan menghilang.
Digantikan oleh suara angin dan dedaunan.
Alistair beberapa kali melihat ke belakang.
Eldermere semakin jauh.
“Seberapa jauh?”
“Tidak jauh.”
“Monster biasanya dekat kota?”
“Beberapa iya.”
“Kenapa tidak dibasmi semuanya?”
Aldren berhenti berjalan.
“Karena monster tidak muncul hanya di satu tempat.”
Ia menunjuk hutan yang terbentang di depan.
“Dan tidak semua monster berbahaya.”
Alistair mengerutkan kening.
“Monster tidak berbahaya?”
“Tidak semua makhluk akan menyerang manusia hanya karena mereka monster.”
Alistair mengangguk perlahan.
Mereka masuk ke bagian hutan yang lebih terbuka.
Aldren memberi isyarat agar Alistair berhenti.
“Jangan bersuara.”
Alistair langsung diam.
Aldren menunjuk ke depan.
Di antara pepohonan, sesuatu bergerak.
Alistair menyipitkan mata.
Seekor makhluk kecil keluar dari semak.
Bentuknya mirip serigala, tetapi tubuhnya lebih pendek. Bulu abu-abu menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Alistair spontan menyentuh gagang pedang.
Aldren langsung menahan tangannya.
“Jangan.”
Alistair menoleh.
“Kenapa?”
“Perhatikan.”
Makhluk itu berhenti.
Ia mengendus tanah.
Kemudian berjalan menjauh.
Tidak menyerang.
Tidak mendekat.
Hanya melanjutkan perjalanannya.
Alistair perlahan melepaskan gagang pedangnya.
“Dia tidak menyerang.”
“Benar.”
“Kalau begitu kenapa kita diam?”
“Karena kau tidak tahu apa yang akan dia lakukan.”
Alistair kembali memperhatikan makhluk itu.
Beberapa saat kemudian, ia menghilang di antara pepohonan.
Aldren baru kembali berjalan.
“Kalau tadi kau langsung menghunus pedang, apa yang terjadi?”
Alistair berpikir.
“Dia mungkin lari.”
“Mungkin.”
“Kalau tidak?”
“Mungkin dia menyerang.”
Alistair mengangguk.
“Jadi kita harus melihat dulu.”
“Selalu.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
Tidak lama kemudian, Aldren membawa Alistair ke sebuah tanah lapang kecil.
Di sana terdapat beberapa tanda goresan pada pohon.
Alistair mendekat.
“Ini bekas monster?”
“Ya.”
Ia menyentuh salah satu bekas goresan, tetapi tidak sampai menyentuh permukaannya.
“Baru?”
“Beberapa hari.”
Alistair memperhatikan bentuknya.
“Monster yang tadi?”
“Bukan.”
“Bagaimana kau tahu?”
Aldren menunjuk bekas goresan.
“Ukuran.”
Kemudian ia menunjuk tanah.
“Jejak.”
Lalu ke arah semak.
“Dan pola geraknya.”
Alistair menatap sekeliling.
Ia mulai memahami bahwa seorang Hunter harus menggunakan lebih dari sekadar kekuatan.
Mata.
Telinga.
Ingatan.
Pengetahuan.
Semuanya berguna.
Aldren kemudian duduk di atas sebuah batu.
“Sekarang giliranmu.”
Alistair menoleh.
“Aku?”
“Cari tahu apa yang bisa kau temukan dari tempat ini.”
Alistair melihat sekeliling.
Awalnya ia tidak menemukan apa-apa.
Ia berjalan perlahan.
Ada bekas kaki.
Ada ranting patah.
Ada daun yang terinjak.
Ia berjongkok.
“Makhluk ini lewat sini.”
Aldren tidak menjawab.
Alistair mengikuti jejak tersebut.
Kemudian berhenti.
“Lalu berbelok ke sana.”
Aldren mengangguk kecil.
Alistair tersenyum.
Ia mulai merasa seperti seorang Hunter sungguhan.
Namun ketika ia berdiri—
Terdengar suara dari balik semak.
Grrr…
Alistair membeku.
Tangannya kembali menuju gagang pedang.
Kali ini Aldren tidak menghentikannya.
Ia hanya berkata pelan,
“Tenang.”
Alistair menarik napas.
Suara itu terdengar lagi.
Lebih dekat.
Alistair menggenggam pedangnya.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Untuk pertama kalinya sejak memulai latihan, ia benar-benar berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa ia pastikan.
Aldren berdiri di sampingnya.
“Jangan terburu-buru.”
Alistair mengangguk.
Ia menatap semak di depannya.
Kemudian perlahan mengambil posisi.
Pedangnya belum terhunus.
Ia hanya menunggu.
Karena kali ini, ia tidak sedang berlatih menghadapi boneka kayu.
Di balik semak itu, sesuatu benar-benar ada.
Dan Alistair harus menentukan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.