Chapter 7 of 46
Bab 7 — Batas Kemampuan
863 words
Pagi berikutnya, Alistair kembali datang ke Hunter Guild.
Kali ini ia tidak datang sendirian.
Di belakangnya, seorang anak laki-laki membawa keranjang kecil berjalan dengan terburu-buru.
“Tunggu!”
Alistair berhenti dan menoleh.
Anak itu hampir menabraknya.
“Maaf!”
Alistair menggeser tubuh.
“Tidak apa-apa.”
Anak itu kemudian berlari menuju salah satu bangunan di seberang jalan.
Alistair memperhatikannya sebentar.
Kota Eldermere mulai terasa sedikit berbeda baginya.
Beberapa hari lalu, setiap jalan yang ia lewati terasa asing.
Sekarang ia mulai mengenali beberapa tempat.
Toko roti di dekat persimpangan.
Pasar kecil di sebelah timur.
Hunter Guild.
Dan jalan menuju penginapan tempat ia tinggal.
Tidak banyak.
Tapi setidaknya kota ini tidak sepenuhnya asing lagi.
Alistair masuk ke Guild.
Aldren sudah berada di dalam.
“Pagi.”
“Pagi.”
Aldren melihat pedang kayu yang dibawa Alistair.
“Kau masih membawanya.”
“Bukannya kita latihan?”
“Bukan hari ini.”
Alistair berhenti.
“Lalu?”
Aldren menunjuk papan pekerjaan.
“Pilih satu.”
Alistair mendekati papan.
Ia memperhatikan berbagai kertas yang tertempel.
Beberapa pekerjaan terlihat sederhana.
Beberapa lainnya membuatnya mengerutkan kening.
Ada pekerjaan mencari seseorang.
Ada pekerjaan mengawal pedagang.
Ada permintaan untuk membersihkan hama dari gudang.
Dan beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan monster.
Alistair menunjuk sebuah kertas.
“Yang ini.”
Aldren mengambilnya.
“Membersihkan gudang?”
“Kenapa tidak?”
“Karena pekerjaan ini membutuhkan tenaga lebih besar daripada yang kau punya.”
Alistair mengerutkan kening.
“Terus yang ini?”
Ia menunjuk pekerjaan lain.
“Mencari anjing yang hilang?”
Aldren melihatnya.
“Lebih masuk akal.”
Alistair membaca deskripsinya.
Seekor anjing milik seorang pedagang hilang sejak pagi dan terakhir terlihat di sekitar pasar.
“Jadi kita mencarinya?”
“Kita?”
Aldren tersenyum tipis.
“Kau yang akan mencarinya.”
Alistair langsung menoleh.
“Aku?”
“Aku akan mengawasi.”
Alistair melihat kertas itu lagi.
“Baik.”
Mereka keluar dari Guild.
Perjalanan menuju pasar tidak terlalu jauh.
Begitu sampai, Alistair mulai mencari.
Ia melihat ke bawah gerobak.
Tidak ada.
Di belakang toko.
Tidak ada.
Di antara beberapa peti.
Tidak ada.
Aldren berdiri agak jauh sambil memperhatikan.
“Jangan hanya melihat.”
Alistair menoleh.
“Terus?”
“Pikirkan.”
Alistair diam.
Ia kembali melihat sekitar.
Kalau seekor anjing hilang, ia tidak mungkin berjalan tanpa tujuan.
Anjing itu mungkin takut.
Atau lapar.
Atau mencari pemiliknya.
Alistair mulai bertanya kepada beberapa orang di sekitar pasar.
“Permisi.”
Seorang pedagang menoleh.
“Apa?”
“Kalian melihat anjing kecil lewat?”
Pedagang itu berpikir sebentar.
“Anjing cokelat?”
Alistair mengangguk.
“Iya.”
“Tadi aku melihatnya menuju belakang toko buah.”
Alistair berterima kasih dan segera pergi.
Aldren mengikuti dari jauh.
Di belakang toko buah terdapat sebuah gang sempit.
Alistair melihat jejak kecil di tanah.
Ia berjongkok.
Beberapa jejak kaki terlihat di dekat tumpukan kotak.
“Di sini…”
Ia mengikuti jejak tersebut.
Semakin jauh, gang itu semakin sepi.
Kemudian terdengar suara kecil.
Guk.
Alistair berhenti.
Ia melihat ke balik beberapa peti.
Seekor anjing cokelat kecil sedang meringkuk di sudut.
Alistair tersenyum.
“Akhirnya ketemu.”
Ia perlahan mendekat.
Namun anjing itu mundur.
Alistair berhenti.
Ia tidak memaksanya.
Ia hanya duduk di tanah dan mengulurkan tangannya.
“Aku tidak akan menyakitimu.”
Anjing itu masih ragu.
Alistair menunggu.
Beberapa saat kemudian, anjing itu perlahan mendekat.
Ia mengendus tangan Alistair.
Kemudian menjilat jarinya.
Alistair tersenyum.
“Ketemu.”
Ia mengangkat anjing itu dengan hati-hati.
Ketika kembali ke pasar, pemiliknya langsung datang menghampiri.
“Benny!”
Anjing itu menggonggong kecil.
Pria tersebut terlihat sangat lega.
“Terima kasih! Aku sudah mencarinya ke mana-mana.”
Alistair menyerahkan anjing tersebut.
“Dia ada di belakang toko buah.”
Pria itu kemudian memberikan beberapa koin.
Alistair menerimanya.
Ia melihat koin tersebut.
Kemudian menatap Aldren.
Aldren hanya mengangguk.
“Bayaranmu.”
Alistair menyimpan koin itu.
Ia tersenyum kecil.
Ternyata pekerjaan Hunter tidak selalu berakhir dengan darah atau monster.
Kadang hanya dengan menemukan seekor anjing.
Namun ketika mereka berjalan kembali, Aldren tiba-tiba berhenti.
“Sekarang aku ingin menunjukkan sesuatu.”
Alistair menoleh.
“Apa?”
Aldren menunjuk ke sebuah jalan di depan.
Dari kejauhan terdengar suara ribut.
Beberapa orang berkumpul.
Alistair melihat seorang pria sedang berbicara dengan dua Hunter.
“Masalah apa itu?”
“Permintaan pekerjaan.”
Mereka mendekat.
Seorang pedagang sedang terlihat panik.
“Barangku dibawa ke luar kota! Mereka bilang ada monster di jalannya!”
Salah satu Hunter bertanya,
“Berapa banyak?”
“Tidak tahu!”
Hunter itu menggeleng.
“Kami perlu informasi lebih jelas.”
Pedagang itu mulai gelisah.
“Kalau kalian tidak pergi sekarang, barangku akan hilang!”
Aldren memperhatikan dari samping.
Alistair juga memperhatikan.
“Kenapa mereka tidak langsung pergi?”
“Karena mereka tidak tahu apa yang akan mereka hadapi.”
Alistair menatap Aldren.
“Tapi kalau barang itu penting…”
“Penting bukan berarti kau boleh mengabaikan risiko.”
Aldren menunjuk jalan keluar kota.
“Bayangkan kau menerima pekerjaan itu.”
Alistair terdiam.
“Tidak ada informasi tentang jumlah monster. Tidak tahu jenisnya. Tidak tahu apakah benar ada monster. Tidak tahu kondisi jalannya.”
Aldren menatap Alistair.
“Kalau kau berangkat sekarang, kau sedang bekerja…”
Ia berhenti sebentar.
“Atau sedang berjudi dengan nyawamu?”
Alistair tidak menjawab.
Ia kembali melihat para Hunter yang sedang berbicara dengan pedagang tersebut.
Untuk pertama kalinya, ia memahami kenapa Aldren terus mengatakan bahwa Hunter harus mengetahui batas kemampuan mereka.
Bukan karena mereka pengecut.
Justru karena mereka bertanggung jawab terhadap keputusan yang mereka ambil.
Alistair menggenggam uang hasil pekerjaannya tadi.
“Kalau aku belum mampu…”
Aldren menoleh.
“…berarti aku harus bilang belum mampu?”
“Benar.”
Alistair mengangguk perlahan.
Ia melihat kembali jalan di depan.
Mungkin suatu hari nanti ia bisa melewati jalan itu.
Mungkin suatu hari nanti ia bisa menghadapi monster yang menunggu di luar sana.
Tapi bukan hari ini.
Dan untuk pertama kalinya, Alistair tidak merasa malu mengakuinya.
Ia hanya perlu terus belajar.
Selangkah demi selangkah.