Chapter 6 of 46

Bab 6 — Pekerjaan Pertama

886 words

Hari-hari berikutnya mulai memiliki pola baru bagi Alistair. Setiap pagi, ia datang ke Hunter Guild. Kadang Aldren sudah menunggunya di halaman belakang. Kadang Alistair harus menunggu beberapa saat sebelum pria itu muncul. Latihannya juga tidak selalu menggunakan pedang. Ada hari ketika Alistair hanya berlatih langkah. Ada hari ketika ia belajar menjaga keseimbangan. Ada pula hari ketika Aldren menyuruhnya berlari mengelilingi halaman sampai kakinya terasa berat. Awalnya Alistair mengira latihan seperti itu membosankan. Namun setelah beberapa hari, ia mulai memahami alasannya. Tubuhnya memang berbeda dari sebelumnya. Gerakannya sedikit lebih ringan. Keseimbangannya mulai membaik. Dan yang paling ia sadari, ia mulai lebih memperhatikan keadaan di sekitarnya. Tidak lagi hanya melihat ke depan. Pagi itu, setelah selesai berlatih, Alistair duduk di dekat dinding sambil meminum air. Aldren berdiri di hadapannya. “Besok kita berhenti latihan pedang.” Alistair langsung mengangkat kepala. “Kenapa?” “Karena aku ingin kau melihat sesuatu.” “Apa?” “Pekerjaan.” Alistair terdiam. Ia langsung teringat papan pekerjaan di dalam Guild. “Pekerjaan Hunter?” “Bukan pekerjaan berbahaya.” Aldren menekankan kalimat terakhir. “Dan kau tidak akan menghadapinya sendirian.” Alistair mengangguk. Keesokan harinya, Aldren membawa Alistair ke bagian depan Guild. Beberapa Hunter sedang mengambil lembar pekerjaan dari papan. Aldren menunjuk salah satu kertas. “Baca.” Alistair mendekat. Ia membaca tulisan di sana perlahan. Membutuhkan bantuan mengantarkan beberapa kotak makanan ke bagian utara kota. Alistair mengangkat wajah. “Ini pekerjaan Hunter?” “Ya.” “Tidak ada monster?” “Tidak.” “Tidak perlu bertarung?” “Belum tentu.” Alistair memiringkan kepala. “Kalau cuma mengantar barang, kenapa harus Hunter?” “Karena orang yang meminta pekerjaan itu membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya.” Aldren mengambil kertas tersebut. “Tidak semua pekerjaan membutuhkan pedang.” Ia menunjuk beberapa lembar lainnya. “Pengawalan.” “Pencarian.” “Pengumpulan informasi.” “Bantuan untuk desa.” “Dan banyak hal lain.” Alistair mulai memahami sesuatu. Hunter bukan sekadar orang yang berdiri di depan monster dengan pedang. Hunter adalah orang yang menerima pekerjaan dan bertanggung jawab menyelesaikannya. Aldren mengambil sebuah kantong kecil. “Ini bagian dari pekerjaan hari ini.” Alistair melihatnya. “Apa itu?” “Obat.” “Obat?” “Seorang tabib di bagian utara kota membutuhkan ini. Kita akan mengantarkannya.” Alistair mengangguk. “Baik.” Mereka berjalan meninggalkan Guild. Sepanjang perjalanan, Alistair tidak banyak bicara. Ia memperhatikan jalan. Orang-orang yang berlalu-lalang. Pedagang yang membuka toko. Anak-anak yang berlari di antara bangunan. Semuanya terasa berbeda dibandingkan desanya dulu. Namun setelah beberapa saat, ia mulai menyadari sesuatu. Ada seorang pria yang berjalan cukup jauh di belakang mereka. Alistair menoleh sekali. Pria itu berhenti sebentar di depan sebuah toko. Alistair kembali berjalan. Beberapa menit kemudian, ia menoleh lagi. Pria itu masih berada di belakang. Alistair mempercepat langkah sedikit. Aldren yang berjalan di sampingnya menyadari perubahan itu. “Ada apa?” “Orang itu.” Alistair tidak menunjuk. “Yang di belakang?” Aldren tidak menoleh. “Kenapa?” “Sepertinya dia mengikuti kita.” Aldren tersenyum tipis. “Bagus.” Alistair menatapnya. “Bagus?” “Kau mulai memperhatikan sekitar.” Pria itu memang tidak mengikuti mereka. Ia hanya kebetulan berjalan ke arah yang sama. Setelah beberapa saat, ia berbelok ke jalan lain. Alistair memperhatikan sampai pria itu menghilang. “Jadi bukan dia.” “Benar.” Alistair mengangguk. Aldren kemudian bertanya, “Kalau tadi dia benar-benar mengikuti kita, apa yang akan kau lakukan?” Alistair berpikir. “Memberitahumu.” “Kenapa?” “Karena aku belum cukup kuat untuk menghadapinya sendiri.” Aldren terdiam sebentar. “Jawaban yang benar.” Alistair menatapnya. “Bukannya Hunter harus berani?” “Berani bukan berarti bodoh.” Alistair tersenyum kecil. Mereka akhirnya sampai di sebuah bangunan kecil di bagian utara kota. Seorang wanita tua sudah menunggu di depan pintu. Ketika melihat Aldren, wajahnya langsung lega. “Kau datang juga.” Aldren menyerahkan kantong obat. “Pesananmu.” Wanita itu menerimanya dengan kedua tangan. “Terima kasih. Aku sudah menunggunya sejak kemarin.” Ia kemudian melihat Alistair. “Dan anak ini?” “Anak didik.” Alistair menoleh cepat. “Anak didik?” Aldren tidak menjawab. Wanita itu tersenyum. “Kalau begitu, terima kasih juga.” Alistair sedikit bingung. “Aku tidak melakukan apa-apa.” “Menemani juga termasuk membantu.” Alistair terdiam. Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa, ia mengingat sesuatu. Dulu, ketika ibunya sakit, Alistair juga tidak selalu bisa melakukan banyak hal. Kadang ia hanya duduk di dekat tempat tidur. Kadang hanya mengambilkan air. Kadang memasak makanan sederhana. Tidak semuanya besar. Tidak semuanya bisa menyembuhkan. Namun ia tetap melakukannya. Alistair menunduk sebentar. Aldren memperhatikannya, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Setelah selesai, mereka kembali menuju Guild. Di tengah perjalanan, Alistair bertanya, “Aldren.” “Ya?” “Apakah semua pekerjaan Hunter seperti ini?” “Tidak.” “Berarti ada yang lebih sulit?” “Jauh lebih sulit.” Alistair mengangguk. “Dan suatu hari nanti aku bisa mengambil pekerjaan sendiri?” Aldren berhenti berjalan. Alistair ikut berhenti. “Suatu hari.” “Bukan sekarang?” “Belum.” Alistair terlihat sedikit kecewa. Namun ia tidak membantah. Aldren kemudian berkata, “Kau baru beberapa hari belajar berdiri dengan benar.” Alistair mengerutkan wajah. “Itu sudah lama.” “Belum cukup lama.” Aldren melanjutkan langkah. “Kalau kau ingin menjadi Hunter, kau harus belajar bersabar.” Alistair mengikuti dari belakang. Ia memandang pedang kayu yang dibawanya. Kemudian memandang Guild yang mulai terlihat dari kejauhan. Ia belum menjadi Hunter. Ia juga belum cukup kuat untuk menghadapi monster. Bahkan dasar-dasar menggunakan pedang saja masih harus ia pelajari. Tetapi sekarang Alistair mulai mengerti satu hal. Menjadi Hunter bukan tentang seberapa cepat seseorang bisa mengangkat pedang. Kadang langkah pertama justru dimulai dari hal sederhana. Belajar. Mengamati. Membantu. Dan mengetahui kapan dirinya belum mampu melakukan sesuatu. Alistair tersenyum kecil. “Besok latihan lagi?” Aldren meliriknya. “Kalau kau masih sanggup bangun pagi.” “Aku sanggup.” “Kita lihat saja.” Alistair berjalan di sampingnya. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Eldermere, ia tidak lagi merasa hanya sedang mencari tempat untuk bertahan hidup. Ia mulai memiliki tujuan kecil. Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

End of Chapter 6

Chapter 6: Bab 6 — Pekerjaan Pertama - Luka di Balik Tekad (bagian 2) | Novel AI Studio