Chapter 5 of 46
Bab 5 — Dari Dasar
778 words
Pagi di Eldermere masih terasa dingin.
Kabut tipis menggantung di antara bangunan-bangunan kota ketika Alistair berdiri di depan Hunter Guild. Ia datang lebih awal dari yang ia kira. Bahkan matahari belum sepenuhnya naik ketika ia sudah berada di sana.
Pedang tua milik ayahnya tergantung di pinggang.
Alistair menguap kecil.
Ia melihat pintu Guild yang masih tertutup sebagian.
“Katanya pagi…”
Ia duduk di anak tangga sambil memeluk lututnya.
Beberapa menit berlalu.
Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang.
“Datang juga.”
Alistair menoleh.
Aldren berdiri beberapa meter darinya. Di tangannya terdapat dua buah pedang kayu.
Alistair segera berdiri.
“Pagi.”
“Pagi.”
Aldren melemparkan salah satu pedang kayu itu.
Alistair menangkapnya dengan kedua tangan.
Ia memerhatikan benda tersebut dari atas sampai bawah.
“Ini pedang latihan?”
“Benar.”
“Kenapa bukan pedang sungguhan?”
Aldren berjalan melewatinya.
“Karena aku belum mau membawamu ke tabib di hari pertama.”
Alistair terdiam.
“…Oh.”
Aldren menuju halaman belakang Guild. Alistair segera mengikutinya.
Begitu sampai di sana, Aldren berhenti.
“Mulai hari ini, pedangmu jangan digunakan untuk latihan.”
Alistair melihat pedang yang tergantung di pinggangnya.
“Kenapa?”
“Karena pedang itu milik ayahmu.”
Langkah Alistair berhenti.
Aldren melanjutkan dengan tenang.
“Aku tidak tahu seberapa penting benda itu bagimu. Tapi dari caramu memegangnya kemarin, aku bisa melihat kau terlalu berhati-hati.”
Alistair menunduk.
Tangannya menyentuh gagang pedang tersebut.
“Memang penting.”
“Kalau begitu jangan rusakkan hanya karena kau belum tahu cara menggunakannya.”
Alistair terdiam beberapa saat.
Kemudian mengangguk.
Aldren berdiri beberapa langkah di depannya.
“Latihan pertama.”
Alistair langsung mengangkat pedang kayunya.
“Menyerang?”
“Tidak.”
Aldren menunjuk kakinya.
“Berdiri.”
Alistair mengerutkan kening.
“Aku sudah berdiri.”
Aldren menahan senyum.
“Bukan begitu.”
Ia mendekati Alistair lalu memperbaiki posisi kedua kakinya.
“Kaki sedikit terbuka.”
Alistair mengikuti.
“Lutut jangan terlalu kaku.”
Alistair menekuk lutut.
“Sekarang berat badanmu jangan semuanya bertumpu di satu sisi.”
Alistair mencoba memperbaikinya.
“Begini?”
“Belum.”
Alistair menggeser kakinya.
“Kalau begini?”
“Masih belum.”
Alistair menghela napas.
“Kenapa susah sekali?”
“Karena kau baru mulai.”
Jawaban itu sederhana.
Namun Alistair tidak membantah.
Ia kembali mencoba.
Kali ini Aldren tidak langsung membetulkan posisinya.
Ia hanya mengamati.
Alistair berdiri beberapa detik.
Lalu tubuhnya mulai miring.
“Jangan bergerak.”
Alistair menahan posisi.
Kakinya mulai terasa pegal.
“Berapa lama?”
“Selama kau bisa.”
“Kalau jatuh?”
“Ya berdiri lagi.”
Alistair menatap Aldren dengan wajah sedikit kesal.
Namun ia tetap bertahan.
Beberapa saat kemudian, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Ia melangkah ke samping.
“Ah!”
Aldren hanya berkata,
“Ulangi.”
Alistair menghela napas.
Ia kembali mengambil posisi.
Kali ini ia lebih berhati-hati.
Setelah beberapa kali mencoba, Aldren akhirnya berkata,
“Sekarang berjalan.”
Alistair langsung mengangkat kepala.
“Jalan?”
“Ya.”
Alistair mulai melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
“Berhenti.”
Alistair berhenti.
“Apa lagi?”
“Tubuhmu terlalu kaku.”
Alistair melihat tubuhnya sendiri.
“Terus harus bagaimana?”
Aldren mengambil posisi.
Ia kemudian bergerak perlahan ke depan.
Langkahnya tidak cepat.
Tidak terlihat seperti gerakan seorang petarung yang sedang menyerang.
Namun setiap langkahnya stabil.
“Jangan berpikir bahwa setiap langkah adalah serangan.”
Alistair memperhatikan.
“Pertarungan bukan cuma soal menyerang.”
Aldren melangkah lagi.
“Kadang kau hanya perlu berada di posisi yang tepat.”
Alistair mengangguk kecil.
Ia mencoba menirukan gerakan Aldren.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga—
Bruk!
Alistair tersandung kakinya sendiri dan hampir jatuh.
Aldren segera memalingkan wajah.
Alistair berdiri kembali.
“Jangan ketawa.”
“Aku tidak tertawa.”
“Kau mau ketawa.”
“Sedikit.”
Alistair memasang wajah kesal.
Namun beberapa detik kemudian, ia sendiri ikut tersenyum kecil.
Latihan berlanjut.
Tidak ada pertarungan.
Tidak ada monster.
Tidak ada teknik hebat.
Hanya langkah kaki, posisi tubuh, cara memegang pedang, dan bagaimana menjaga keseimbangan.
Awalnya Alistair mengira latihan Hunter akan langsung berhubungan dengan pedang.
Ternyata bahkan untuk sekadar berdiri dengan benar saja ia masih sering salah.
Menjelang siang, Alistair akhirnya duduk di pinggir halaman.
Tangannya terasa pegal.
Kakinya juga.
Ia meletakkan pedang kayu di sampingnya dan menarik napas panjang.
“Cuma latihan dasar…”
Aldren yang berdiri tidak jauh darinya menoleh.
“Dan kau sudah lelah.”
Alistair mengangguk.
“Iya.”
“Bagus.”
Alistair mengerutkan kening.
“Bagus?”
“Sekarang kau tahu bahwa menjadi kuat tidak terjadi dalam satu hari.”
Alistair diam.
Ia memandang kedua tangannya.
Selama ini ia hanya tahu bahwa pedang adalah milik ayahnya. Ia tahu benda itu bisa digunakan untuk melawan sesuatu.
Namun hari ini ia baru mengerti bahwa menggunakan pedang bukan sesederhana mengayunkannya.
Ada banyak hal yang belum ia ketahui.
Dan mungkin masih banyak lagi yang harus ia pelajari.
Alistair kemudian mengambil pedang kayu itu.
Aldren memperhatikannya.
“Kenapa berdiri?”
“Aku mau coba sekali lagi.”
“Kau tidak capek?”
“Capek.”
“Lalu?”
Alistair berdiri dan mengambil posisi.
“Kalau aku berhenti karena capek, besok aku masih akan melakukan kesalahan yang sama.”
Aldren terdiam sejenak.
Kemudian tersenyum tipis.
“Baik.”
Alistair kembali mencoba.
Kakinya masih belum sempurna.
Posisinya masih sedikit kaku.
Namun kali ini ia tidak langsung kehilangan keseimbangan.
Satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Aldren tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya mengamati.
Karena untuk seseorang yang baru memulai perjalanan—
kemajuan kecil tetaplah kemajuan.