Suasana di dalam Hunter Guild masih ramai.
Suara langkah kaki, percakapan para Hunter, dan bunyi peralatan yang saling beradu memenuhi ruangan. Alistair berdiri di samping Aldren, sesekali memperhatikan papan pekerjaan yang tadi dijelaskan kepadanya.
Matanya kembali tertuju pada beberapa lembar kertas yang tertempel di sana.
Ada pekerjaan mengawal pedagang.
Mencari barang yang hilang.
Bahkan beberapa permintaan untuk menghadapi monster.
Alistair terdiam sejenak.
“Kalau aku menjadi Hunter...” gumamnya pelan.
Aldren yang berdiri di sampingnya menoleh.
“Hmm?”
Alistair mengangkat wajah.
“Kalau aku jadi Hunter, aku bisa mendapatkan pekerjaan seperti itu?”
Aldren tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang Alistair beberapa saat.
“Bisa.”
Alistair kembali melihat papan pekerjaan.
“Berarti... aku bisa mendapatkan uang sendiri?”
“Ya.”
Jawaban itu membuat Alistair terdiam.
Ia menunduk, memandang tangannya sendiri.
Sejak meninggalkan desa, ia mulai menyadari satu hal.
Sekarang tidak ada lagi ibunya yang mengatur apa yang harus dibeli, berapa uang yang boleh digunakan, atau kapan ia harus kembali.
Semua keputusan itu sekarang berada di tangannya sendiri.
“Aku ingin menjadi Hunter.”
Aldren mengangkat alis.
“Kenapa?”
Alistair berpikir sebentar.
“Karena aku harus bisa hidup sendiri.”
Jawabannya sederhana.
Tidak ada ambisi besar.
Tidak ada keinginan menjadi terkenal.
Tidak ada keinginan menjadi pemburu monster terkuat.
Ia hanya ingin bisa mengurus dirinya sendiri.
Aldren menghela napas kecil.
“Alasan yang masuk akal.”
Ia kemudian berjalan menuju pintu belakang Guild.
“Kalau begitu, ikut aku.”
Alistair sedikit bingung.
“Mau ke mana?”
“Tempat yang lebih tenang.”
---
Mereka keluar dari ruangan utama dan menuju sebuah halaman kecil di belakang Guild.
Tempat itu jauh lebih sepi.
Tidak ada kerumunan Hunter.
Hanya tanah lapang, beberapa tiang kayu, serta beberapa bekas goresan di permukaannya.
Alistair memperhatikan sekeliling.
“Apa kita mau latihan?”
“Belum.”
Aldren berdiri beberapa langkah di depannya.
“Aku cuma ingin melihat sesuatu.”
“Apa?”
“Cara kau menggunakan pedang.”
Tatapan Alistair langsung berpindah ke pedang yang tergantung di pinggangnya.
Pedang tua milik ayahnya.
Ia memegang gagangnya.
Namun sebelum mencabutnya, Alistair berhenti.
“Aku belum terlalu bisa.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa harus dicoba?”
“Karena aku ingin melihat seberapa belum bisanya kau.”
Alistair menatap Aldren beberapa detik.
“...Itu terdengar menyebalkan.”
Aldren tertawa kecil.
“Bagus. Setidaknya kau masih bisa bercanda.”
Alistair akhirnya menarik pedangnya.
Ia berdiri dengan posisi yang menurutnya benar.
Aldren memperhatikan tanpa mengatakan apa-apa.
Beberapa detik berlalu.
“Serang aku.”
Alistair membeku.
“...Apa?”
“Coba serang.”
Alistair menatap Aldren.
Lalu melihat pedangnya.
Kemudian kembali melihat Aldren.
“Serius?”
“Serius.”
Alistair menggenggam pedangnya lebih erat.
Ia menarik napas.
Kemudian melangkah maju.
Satu ayunan.
Aldren menghindar dengan mudah.
Alistair berbalik dan mencoba menyerang lagi.
Kali ini lebih cepat.
Namun Aldren hanya menggeser tubuhnya sedikit.
Serangan itu kembali meleset.
Alistair mencoba menyerang untuk ketiga kalinya.
Gerakannya mulai kehilangan keseimbangan.
Aldren menangkap pergelangan tangannya sebelum pedang itu bergerak lebih jauh.
“Cukup.”
Alistair terengah.
Ia menatap tangannya.
“...Aku gagal?”
“Ya.”
Jawaban Aldren begitu cepat sampai Alistair terdiam.
Namun Aldren tidak mengejeknya.
“Kau tahu apa masalahmu?”
Alistair menggeleng.
“Kau memegang pedang seperti seseorang yang tahu pedang itu penting, tapi tidak tahu bagaimana menggunakannya.”
Alistair melihat pedang tua di tangannya.
Aldren melanjutkan.
“Kau punya keberanian. Itu bagus.”
“Tapi keberanian saja tidak cukup.”
Alistair diam.
“Kalau tadi aku adalah monster sungguhan, kau mungkin sudah terluka sebelum sempat melakukan serangan kedua.”
Alistair menunduk.
Ia tidak membantah.
Karena ia tahu Aldren benar.
Aldren kemudian berjalan mendekat.
“Menjadi Hunter bukan cuma soal berani menghadapi monster.”
Ia menunjuk pedang di tangan Alistair.
“Tubuhmu harus terbiasa bergerak.”
Kemudian menunjuk kakinya.
“Langkahmu harus benar.”
Lalu menatap mata Alistair.
“Dan yang paling penting, kau harus tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur.”
Alistair mengingat kata-kata itu.
Ia perlahan memasukkan pedangnya kembali ke sarung.
“Kalau begitu...”
Ia menatap Aldren.
“Aku harus belajar?”
Aldren tersenyum tipis.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Alistair terdiam sebentar.
Kemudian mengangguk.
“Aku mau belajar.”
Aldren tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang anak itu beberapa saat.
Lalu berbalik menuju pintu Guild.
“Kalau begitu, besok pagi datang ke sini.”
Alistair mengikuti dari belakang.
“Untuk latihan?”
“Untuk memulai dari dasar.”
“Dasar banget?”
“Dasar sekali.”
Alistair menghela napas kecil.
“Yah... tidak apa-apa.”
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Eldermere, ia merasa memiliki sesuatu yang harus ia lakukan besok.
Bukan sekadar mencari tempat tidur.
Bukan sekadar mencari makanan.
Dan bukan sekadar menghitung berapa banyak uang yang masih tersisa.
Ia akan belajar.
Pelan-pelan.
Dari awal.
Dan mungkin, dari sanalah langkah pertamanya sebagai seorang Hunter benar-benar dimulai.