Chapter 45 of 46

Bab 45 — Arah yang Berbeda

802 words

Pagi itu, Alistair datang ke Guild lebih awal. Namun suasana di dalam gedung berbeda dari biasanya. Beberapa Hunter berdiri mengelilingi meja utama. Ada peta yang terbuka, beberapa laporan berserakan, dan wajah-wajah yang terlihat serius. Alistair berhenti di pintu. “Terjadi sesuatu?” Tidak ada yang langsung menjawab. Kemudian Aldren menoleh. “Masuk.” Alistair mendekat. Di atas meja terdapat beberapa benda. Kain gelap dengan tiga garis abu-abu keperakan. Potongan logam. Sebuah lonceng tua. Dan peta jalur selatan. Namun kali ini ada satu hal yang berbeda. Sebuah garis merah telah ditarik dari jalur selatan menuju utara. Alistair menatapnya. “Bellwood?” Aldren mengangguk. “Kami mendapat laporan pagi ini.” “Apa?” “Seorang penduduk Bellwood menemukan gerobak kosong di dekat batas hutan.” Alistair langsung melihat peta. “Orangnya?” “Tidak ada.” Alistair terdiam. Fen yang berdiri di sampingnya mengeluarkan suara rendah. Aldren menatap Alistair. “Sekarang kita punya cukup alasan untuk menyelidiki.” Alistair mengangguk. Namun sebelum ia berkata apa-apa, salah seorang Hunter meletakkan sebuah benda kecil di atas meja. Ting. Alistair mengenal suara itu. Sebuah lonceng. Bukan lonceng Elara. Bukan lonceng yang ditemukan sebelumnya. Lonceng lain. Di bagian dalamnya terdapat ukiran tiga garis. Alistair menatapnya cukup lama. “Ditemukan di gerobak?” “Di bawah kursi pengemudi.” Aldren mengangguk. “Dan ada sesuatu yang lebih penting.” Ia menunjuk bagian belakang lonceng. Ada bekas goresan. Tiga garis yang sama. Namun salah satunya tampak seperti baru saja ditambahkan. Alistair mengerutkan kening. “Jadi mereka menggunakan tanda itu?” “Belum tentu.” Alistair menghela napas. “Bapak selalu bilang begitu.” “Karena memang begitu.” Aldren tersenyum tipis. “Kalau kau ingin menjadi Hunter yang baik, kau harus belajar hidup dengan kata belum.” Alistair terdiam. Kemudian ia mengangguk. “Baik.” --- Mereka berangkat beberapa saat kemudian. Kali ini Aldren membawa lebih banyak Hunter. Alistair tidak berada di barisan depan. Ia berjalan di tengah. Fen berada di sampingnya. Sama seperti biasanya. Namun sekarang Alistair mulai memahami kenapa Aldren selalu mengingatkannya tentang batas kemampuan. Di depan mereka ada beberapa Hunter yang jauh lebih berpengalaman. Mereka tidak perlu membuktikan apa pun. Mereka hanya perlu melakukan pekerjaan mereka. Ketika tiba di lokasi gerobak, semuanya langsung berpencar. Salah satu Hunter memeriksa roda. Yang lain mencari jejak. Aldren memeriksa bagian dalam gerobak. Alistair berjongkok di dekat tanah. Fen mengendus udara. Kemudian berjalan ke sisi kanan. Alistair mengikutinya. Ada bekas kaki. Satu. Dua. Tiga. Lalu berhenti. Alistair mengangkat wajah. “Jejaknya hilang.” Aldren datang mendekat. “Tidak hilang.” Alistair bingung. Aldren menunjuk tanah. “Lihat lebih teliti.” Alistair memperhatikan. Ada bekas daun yang berpindah. Tanah yang sedikit lebih gelap. Dan sebuah bagian rumput yang patah. “Dia berjalan ke sana.” Aldren mengangguk. “Tepat.” Alistair tersenyum kecil. Dulu ia mungkin akan langsung mengejar. Sekarang ia menunggu. Ia melihat sekeliling. “Bapak.” “Hm?” “Kalau orang itu sengaja meninggalkan jejak?” Aldren menatapnya. “Bagus.” “Bagus?” “Kau mulai mempertanyakan jejak, bukan hanya mengikutinya.” Alistair tersenyum. “Tapi kita tetap harus melihat ke sana, kan?” “Ya.” Mereka bergerak. Tidak terburu-buru. --- Jejak tersebut membawa mereka menuju sebuah bangunan tua. Bukan rumah. Lebih seperti gudang kecil yang sudah lama tidak digunakan. Pintunya terbuka. Di dalam hanya ada beberapa peti kosong. Tidak ada orang. Tidak ada monster. Tidak ada darah. Namun di lantai— terdapat beberapa potongan kain. Alistair langsung mengenal warnanya. Hitam. Dengan benang abu-abu keperakan. Salah satu Hunter hendak mengambilnya. “Jangan.” Suara Alistair keluar spontan. Semua menoleh. Alistair menunjuk kain itu. “Aldren bilang jangan menyentuh benda yang mencurigakan.” Aldren tersenyum. “Benar.” Hunter itu mengangkat kedua tangannya. “Baiklah.” Aldren memeriksa kain menggunakan alat sederhana. Tidak ada racun. Tidak ada jebakan. Tetapi di balik kain itu terdapat sesuatu. Sebuah tulisan kecil. Bukan nama. Bukan pesan. Hanya tiga kata. “Bukan di sini.” Alistair membaca tulisan itu. Ia diam. Kemudian melihat Aldren. “Berarti mereka sudah pergi?” “Mungkin.” “Kenapa meninggalkan pesan?” Aldren menatap tulisan tersebut. “Itulah yang harus kita cari tahu.” Alistair melihat ke luar jendela gudang. Tidak ada siapa-siapa. Namun entah kenapa— ia merasa bahwa mereka bukan sedang mencari seseorang. Mereka sedang diarahkan untuk mencari seseorang. Dan itu membuatnya tidak nyaman. --- Menjelang sore, mereka kembali ke Eldermere. Alistair berjalan di belakang Aldren. “Bapak.” “Hm?” “Pria bermantel cokelat itu.” Aldren berhenti. “Kau belum cerita semuanya.” Alistair mengangguk. “Semalam aku melihatnya lagi.” “Di mana?” “Di depan penginapan.” Aldren menatapnya serius. “Apa yang dia lakukan?” Alistair menjawab pelan. “Dia menunjuk ke Guild.” Aldren tidak mengatakan apa-apa. Untuk beberapa detik, hanya suara langkah orang-orang yang terdengar. Kemudian Aldren berkata, “Mulai sekarang, kalau kau melihatnya lagi, jangan ikuti.” Alistair mengangguk. “Laporkan.” “Iya.” “Dan jangan mencoba berbicara dengannya sendirian.” “Iya.” Aldren kembali berjalan. Namun setelah beberapa langkah, Alistair bertanya, “Bapak.” “Hm?” “Kalau dia memang ingin kita melihat sesuatu... kenapa?” Aldren berhenti. Ia menatap Alistair. “Karena mungkin dia ingin kita melihat apa yang dia inginkan.” Alistair terdiam. Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang sederhana. Selama ini ia berpikir dirinya sedang mencari petunjuk. Tetapi mungkin— sejak awal— ada seseorang yang sengaja memberikan petunjuk kepadanya. Dan kalau begitu... tidak semua petunjuk adalah jalan menuju kebenaran. Beberapa mungkin adalah jalan menuju jebakan.

End of Chapter 45