Chapter 44 of 46

Bab 44 — Desa Bellwood

886 words

Pagi itu, Alistair bangun lebih awal dari biasanya. Fen sudah berada di depan pintu penginapan ketika ia keluar. “Kau juga penasaran?” Fen mengibaskan ekornya. Alistair tersenyum kecil. “Aku juga.” Namun hari itu bukan hari untuk menyelidiki sendirian. Aldren sudah memutuskan bahwa mereka akan menuju Desa Bellwood bersama beberapa Hunter lain. Bukan karena mereka sudah yakin desa itu berhubungan dengan kejadian di jalur selatan. Mereka hanya ingin memeriksa laporan lama dan mencari tahu apakah ada sesuatu yang terlewat. Alistair berjalan di samping Aldren sepanjang perjalanan. “Bapak.” “Hm?” “Kalau ternyata tidak ada apa-apa di sana?” “Ya kita pulang.” “Sesederhana itu?” “Memangnya kau ingin bagaimana?” Alistair berpikir sebentar. “Entahlah.” Aldren tertawa kecil. “Itulah penyelidikan. Kadang-kadang kau berjalan jauh hanya untuk menemukan bahwa tidak ada apa-apa.” Alistair mengangguk. Ia mulai memahami bahwa menjadi Hunter bukan selalu tentang menemukan jawaban. Kadang-kadang, tugas mereka adalah memastikan bahwa sesuatu memang bukan jawaban. --- Desa Bellwood berada di balik bukit rendah. Tidak besar. Rumah-rumah kayu berdiri berdekatan, sebagian memiliki pagar kecil. Di belakang desa terbentang hutan yang cukup lebat. Begitu memasuki desa, seorang lelaki tua menghampiri mereka. “Kalian dari Guild?” Aldren mengangguk. “Kami ingin bertanya mengenai beberapa laporan lama.” Lelaki itu terlihat bingung. “Laporan?” “Suara aneh dari arah hutan.” Wajah lelaki itu berubah. Tidak takut. Lebih seperti mengingat sesuatu yang tidak ingin ia pikirkan. “Masih terdengar?” “Kadang.” Alistair langsung memperhatikan. “Seperti suara logam?” Lelaki itu menatapnya. “Ya.” Alistair dan Aldren saling pandang. Namun Aldren tidak menunjukkan keterkejutan. “Kapan terakhir kali?” “Dua malam lalu.” “Dari mana?” Lelaki itu menunjuk ke arah hutan. “Bagian utara.” Alistair melihat arah yang ditunjuk. Utara lagi. Namun kali ini ia tidak langsung menganggapnya sebagai jawaban. Aldren bertanya, “Apakah ada orang yang masuk ke sana?” “Penduduk kadang mengambil kayu.” “Orang asing?” Lelaki itu menggeleng. “Tidak ada yang aneh.” Alistair memperhatikan ekspresinya. Tidak terlihat seperti berbohong. Namun ia juga tidak bisa memastikan. --- Mereka berjalan menuju batas hutan. Fen bergerak lebih lambat. Hidungnya sesekali mendekati tanah. Alistair memperhatikan. “Ada sesuatu?” Fen berhenti. Ia mengendus udara. Kemudian berjalan beberapa langkah ke kanan. Alistair mengikutinya. Di bawah semak terdapat bekas roda. Tidak dalam. Seperti gerobak kecil. Aldren berjongkok. “Bekas ini baru.” “Dari kapan?” “Sulit dipastikan.” Aldren menyentuh tanah di samping bekas roda. “Paling tidak tidak terlalu lama.” Salah satu Hunter lain menunjuk ke arah depan. “Ada jejak kaki.” Mereka mengikuti jejak tersebut. Tidak jauh. Jejak itu berhenti di dekat sebuah pohon besar. Di sana ada bekas gesekan pada batang pohon. Seperti sesuatu yang berat pernah dibawa melewatinya. Alistair memandang tanah. Tidak ada darah. Tidak ada kain. Tidak ada tanda pertarungan. Hanya bekas roda dan jejak kaki. Aldren berdiri. “Kita tidak punya cukup bukti.” Alistair mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan. --- Menjelang siang, mereka menemukan sebuah tempat terbuka kecil. Ada bekas api. Masih terlihat baru. Aldren memeriksa abu. “Ini bukan api penduduk desa.” “Kenapa?” “Kayunya.” Alistair memperhatikan. Jenis kayu yang digunakan berbeda dengan kayu yang biasa digunakan penduduk Bellwood. Aldren mengambil potongan arang kecil. “Api ini dibuat oleh seseorang yang membawa kayunya sendiri.” Alistair melihat sekeliling. “Hunter?” “Mungkin.” “Pedagang?” “Mungkin.” “Orang yang berhubungan dengan kain itu?” Aldren menatapnya. “Masih mungkin.” Alistair mengangguk. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. --- Saat mereka hendak meninggalkan tempat itu— Ting. Suara kecil terdengar dari dalam hutan. Semua berhenti. Fen langsung mengangkat kepalanya. Alistair menggenggam gagang pedang. Ting... Kali ini lebih jelas. Seperti logam yang saling berbenturan. Aldren memberi isyarat agar semua diam. Mereka menunggu. Beberapa detik berlalu. Tidak ada suara. Kemudian Fen bergerak. Bukan maju. Ia justru mundur satu langkah. Alistair melihatnya. “Fen?” Fen menatap ke arah pepohonan. Bulu di tengkuknya sedikit berdiri. Aldren memperhatikan reaksi itu. “Jangan bergerak.” Mereka menunggu lagi. Lalu terdengar suara langkah. Krek. Satu. Krek. Dua. Dari balik pepohonan. Alistair bersiap. Sebuah bayangan muncul. Bukan monster. Bukan manusia. Seekor rusa keluar dari semak. Semua terdiam. Rusa itu menatap mereka sebentar lalu berlari menjauh. Alistair menurunkan tangannya. “...Cuma rusa.” Aldren mengangguk. “Dan itu pelajaran yang bagus.” Alistair mengerutkan kening. “Karena suara belum tentu ancaman?” “Benar.” Alistair tersenyum kecil. “Sepertinya aku pernah dengar kalimat itu.” Aldren tertawa. --- Mereka akhirnya kembali ke desa tanpa menemukan sesuatu yang benar-benar menghubungkan Bellwood dengan kasus jalur selatan. Namun sebelum pergi, Alistair kembali melihat ke arah hutan. Ia merasa ada sesuatu yang belum selesai. Bukan karena firasat. Bukan karena kekuatan aneh. Hanya karena ada terlalu banyak hal yang belum diketahui. Dan itu berbeda. Ia tidak boleh mengubah rasa penasaran menjadi kesimpulan. --- Malamnya, mereka kembali ke Eldermere. Alistair duduk di kamar penginapan. Fen tidur di lantai. Di atas meja terdapat catatan kecil miliknya. Ia menulis: Bellwood. Suara logam. Jejak roda. Api baru. Kemudian ia berhenti. Ia menatap tulisan itu cukup lama. Lalu menambahkan: Belum cukup bukti. Alistair menutup buku. Untuk pertama kalinya sejak semua kejadian itu dimulai, ia tidak merasa harus segera menemukan jawabannya. Ia sudah melakukan bagian yang bisa ia lakukan. Sisanya adalah pekerjaan orang yang lebih berpengalaman. Ia bangkit dan membuka jendela. Angin malam masuk. Ting. Bell milik Elara yang tergantung pada gagang pedangnya bergerak pelan. Alistair menyentuhnya. “Aku baik-baik saja, Bu.” Di bawah sana, Fen tiba-tiba membuka mata. Ia menatap jendela. Alistair mengikuti pandangannya. Tidak ada siapa-siapa. Hanya jalan kota yang sepi. Namun jauh di ujung jalan— seorang pria bermantel cokelat berdiri di bawah cahaya lampu. Ia menatap ke arah penginapan. Lalu berbalik. Kali ini— ia tidak menunjuk ke utara. Ia menunjuk ke arah Guild. Kemudian menghilang di antara bayangan.

End of Chapter 44