Chapter 46 of 46
Epilog — Sebelum Langit Berubah
803 words
Malam telah turun di Eldermere.
Kota yang biasanya dipenuhi suara langkah kaki dan percakapan para pedagang perlahan menjadi sunyi.
Di sebuah ruangan kecil di penginapan, seorang anak laki-laki duduk di dekat jendela.
Alistair.
Usianya masih sepuluh tahun.
Di sampingnya, Fen tertidur dengan tenang.
Di atas meja terdapat beberapa benda sederhana.
Beberapa keping uang.
Catatan pekerjaan.
Sebuah buku kecil berisi tulisan tangan yang mulai berantakan.
Dan sebuah lonceng kecil yang tergantung pada gagang pedang tua milik ayahnya.
Alistair menatap semuanya.
Beberapa bulan terakhir terasa panjang.
Ia datang ke Eldermere tanpa mengetahui apa yang akan dilakukan.
Ia hanya tahu satu hal.
Ia harus terus hidup.
Namun sekarang, hidupnya mulai memiliki bentuk.
Ia punya pekerjaan.
Ia punya tempat untuk pulang.
Ia punya seseorang yang menunggunya ketika kembali.
Alistair menunduk melihat Fen.
“Dulu aku pikir aku harus melakukan semuanya sendiri.”
Fen hanya menggerakkan telinganya dalam tidur.
Alistair tersenyum.
“Ternyata tidak.”
Tangannya menyentuh lonceng kecil di pedangnya.
Ting.
Suara itu begitu pelan.
Namun cukup untuk membuat dadanya terasa hangat.
“Aku baik-baik saja, Bu.”
Ia tidak lagi mengucapkannya karena ingin meyakinkan dirinya sendiri.
Kali ini—
ia benar-benar mulai mempercayainya.
---
Di tempat lain, jauh dari Eldermere—
sebuah lentera menyala di dalam ruangan gelap.
Seorang pria berdiri di depan meja.
Di atas meja terdapat sebuah peta.
Beberapa titik telah diberi tanda.
Jalur selatan.
Bellwood.
Eldermere.
Dan sebuah wilayah yang jauh lebih besar di sebelah barat.
Pria itu mengambil satu lembar laporan.
Ia membacanya perlahan.
Kemudian meletakkannya kembali.
“Anak itu masih terlalu muda.”
Seseorang di belakangnya bertanya,
“Lalu kenapa tidak dihentikan?”
Pria itu diam.
Kemudian menjawab,
“Karena dia belum tahu apa yang sedang dia cari.”
“Dan kalau dia mengetahuinya?”
Pria itu menatap peta.
“Kalau saat itu tiba... semuanya akan berbeda.”
Lentera di atas meja bergoyang tertiup angin.
Cahaya menyoroti sebuah simbol kecil pada sudut peta.
Tiga garis.
Namun kali ini—
di bawah tiga garis tersebut terdapat lambang lain.
Sebuah tanda yang belum pernah dilihat Alistair.
Pria itu menggulung peta.
“Biarkan dia tumbuh.”
---
Bertahun-tahun kemudian—
sebuah nama akan mulai terdengar di berbagai penjuru.
Bukan lagi nama seorang anak dari desa kecil.
Bukan lagi anak yang datang ke Eldermere dengan pedang tua dan sedikit uang.
Nama itu akan dikenal oleh para Hunter.
Para bangsawan.
Para prajurit.
Bahkan mereka yang tidak pernah bertemu dengannya.
Alistair Ashwood.
Namun sebelum nama itu menjadi terkenal—
ada seseorang yang berjalan bersamanya.
Seorang gadis dengan senjata berbentuk sabit.
Seorang gadis yang juga membawa luka yang tidak mudah diceritakan.
Namanya—
Seraphina.
Pertemuan mereka belum terjadi.
Belum.
Namun suatu hari nanti, jalan mereka akan bertemu.
Dan ketika itu terjadi—
Alistair akan menyadari bahwa ada pertemuan yang tidak datang untuk sekadar menemani perjalanan.
Ada orang-orang yang datang untuk mengubah arah hidup seseorang.
---
Di tempat yang jauh dari sana, seorang pemuda berjalan sendirian.
Langkahnya ringan.
Wajahnya tertutup.
Tidak ada seorang pun yang tahu siapa dirinya.
Ia berhenti di depan sebuah gerbang tua.
Tangannya menyentuh sebuah tanda yang hampir hilang dimakan waktu.
Tiga garis.
Pemuda itu diam cukup lama.
Kemudian berkata pelan,
“Sudah waktunya.”
Ia melangkah masuk.
Pintu tertutup.
Dan untuk beberapa saat—
dunia kembali sunyi.
---
Sementara itu, di Eldermere—
Alistair sudah tertidur.
Fen meringkuk di samping tempat tidurnya.
Pedang tua masih berada di dekat tangan Alistair.
Lonceng kecil menggantung di gagangnya.
Angin malam masuk melalui celah jendela.
Ting.
Alistair bergerak sedikit dalam tidurnya.
Namun tidak terbangun.
Karena untuk malam itu—
tidak ada yang perlu ia takutkan.
Belum.
Dunia di luar sana masih luas.
Masih banyak jalan yang belum ia tempuh.
Masih banyak orang yang belum ia kenal.
Masih banyak luka yang belum ia pahami.
Dan masih ada satu pertanyaan yang suatu hari nanti akan membawa dirinya kembali ke tempat semuanya bermula.
Minas.
Di sanalah perjalanan masa dewasanya akan dimulai.
Bukan sebagai anak yang hanya berusaha bertahan hidup.
Melainkan sebagai seseorang yang akhirnya memilih sendiri—
untuk apa ia hidup.
— Akhir Part 2 —
---
Sampai Jumpa di Bagian Berikutnya
Perjalanan Alistair belum berakhir.
Justru—
semuanya baru akan dimulai.
Masa kecil telah mengajarinya bagaimana bertahan.
Masa remaja mengajarinya bagaimana berjalan bersama orang lain.
Dan suatu hari nanti...
masa dewasa akan memaksanya memilih ke mana ia ingin berjalan.
Akan ada perjalanan baru.
Pertemuan baru.
Kehilangan baru.
Dan jawaban dari beberapa hal yang selama ini hanya menjadi pertanyaan.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Minas?
Siapa orang-orang di balik berbagai kejadian yang selama ini hanya terlihat sebagai potongan kecil?
Apa hubungan masa lalu Alistair dengan kekuatan yang selama ini ada di dalam dirinya?
Dan yang paling penting—
siapakah Alistair Ashwood ketika ia tidak lagi hanya berusaha bertahan hidup?
Jawabannya akan menunggu di perjalanan berikutnya.
Untuk sekarang...
biarkan pedang itu tetap berada di sarungnya.
Biarkan lonceng itu berhenti berbunyi.
Dan biarkan Alistair menikmati sedikit kedamaian yang masih tersisa.
Karena ketika perjalanan berikutnya dimulai—
dunia tidak akan lagi memperlakukannya seperti seorang anak.
Sampai jumpa di Bagian 3.
“Luka di Balik Tekad” akan kembali.
— Bersambung —