Alistair tidak langsung melaporkan benda logam yang ia lihat di jalan.
Bukan karena ingin menyembunyikannya.
Ia hanya ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu.
Ia berjalan beberapa meter menjauh dari tempat itu, lalu berhenti.
“Fen.”
Fen menoleh.
“Menurutmu itu memang sengaja ditinggalkan?”
Fen tidak menjawab.
Ia hanya melihat ke belakang.
Alistair tersenyum tipis.
“Ya. Aku juga nggak tahu.”
Mereka kembali ke penginapan.
Sepanjang perjalanan, Alistair terus memikirkan satu hal.
Utara.
Pria bermantel cokelat itu menunjuk ke utara.
Serpihan logam ditemukan di tempat yang sama.
Tapi itu belum membuktikan apa-apa.
Bisa saja pria itu hanya menunjuk sembarangan.
Bisa saja serpihan itu tidak berhubungan.
Alistair sudah belajar.
Kemiripan bukan bukti.
---
Keesokan paginya, Alistair menemui Aldren.
Ia menceritakan semuanya.
Tentang pria bermantel cokelat.
Tentang arah utara.
Dan tentang serpihan logam.
Aldren mendengarkan sampai selesai.
“Kau menyentuhnya?”
“Tidak.”
“Bagus.”
“Aku cuma mengingat tempatnya.”
Aldren mengangguk.
“Di mana?”
Alistair menjelaskan lokasinya.
Aldren mengambil peta.
Ia mencari jalan yang dimaksud.
Kemudian menunjuk satu bagian.
“Kalau dari sana ke utara...”
Jarinya mengikuti jalan.
“...ada desa kecil.”
“Desa?”
“Desa Bellwood.”
Alistair mengangguk.
“Pernah dengar?”
“Belum.”
“Tidak banyak orang datang ke sana.”
“Kenapa?”
“Jalannya kurang bagus. Pedagang lebih sering menggunakan jalur utama.”
Alistair melihat peta.
Kemudian memperhatikan sesuatu.
“Bapak.”
“Hm?”
“Desa itu dekat dengan jalur selatan?”
“Cukup dekat.”
Alistair terdiam.
Aldren langsung berkata,
“Jangan menyimpulkan.”
Alistair menghela napas.
“Aku belum menyimpulkan.”
“Wajahmu sudah menyimpulkan.”
Alistair cemberut.
“Enggak.”
Aldren tertawa.
---
Aldren kemudian memeriksa arsip Guild.
Tidak lama kemudian ia menemukan laporan lama.
Bellwood.
Satu laporan.
Kemudian laporan lain.
Lalu satu lagi.
Tidak banyak.
Namun ada beberapa laporan tentang warga desa yang mendengar suara aneh dari arah hutan.
Alistair membaca.
“Suara logam?”
“Tidak disebutkan.”
“Terus suara apa?”
“Seperti sesuatu jatuh.”
Alistair membaca laporan berikutnya.
“Yang ini bilang ada hewan yang menghilang.”
Aldren mengangguk.
“Beberapa bulan lalu.”
“Monster?”
“Tidak diketahui.”
Alistair melihat laporan terakhir.
Tidak ada orang hilang.
Tidak ada serangan.
Tidak ada kain aneh.
Hanya laporan kecil.
Tidak cukup untuk menghubungkannya dengan kasus sekarang.
Alistair menutup kertas.
“Jadi Bellwood juga belum tentu berhubungan.”
“Benar.”
“Bapak.”
“Hm?”
“Kalau semua belum tentu, kapan kita boleh bilang sesuatu itu benar?”
Aldren menatapnya beberapa saat.
“Ketika bukti yang ada cukup kuat untuk menyingkirkan kemungkinan lain.”
Alistair mengangguk pelan.
“Berarti bukan soal menemukan satu bukti.”
“Benar.”
“Tapi mengumpulkan banyak bukti.”
Aldren tersenyum.
“Sekarang kau mengerti.”
---
Siang itu, Alistair mendapat tugas mengantarkan obat ke bagian utara kota.
Pekerjaan sederhana.
Namun setelah selesai, ia berdiri sebentar di persimpangan.
Salah satu jalan menuju utara.
Jalan lainnya menuju pusat kota.
Ia melihat jalan utara.
Kemudian melihat Fen.
“Kita nggak ke sana.”
Fen mengibaskan ekornya.
“Kita belum punya alasan.”
Ia berbalik.
Namun setelah beberapa langkah—
Fen berhenti.
Alistair menoleh.
Fen sedang melihat sesuatu di tanah.
Alistair kembali mendekat.
Ada jejak kaki.
Bukan jejak monster.
Jejak manusia.
Masih cukup jelas.
Namun ada sesuatu yang membuat Alistair berhenti.
Di samping jejak tersebut terdapat bekas kecil seperti sesuatu diseret.
Alistair tidak menyentuhnya.
Ia hanya mengamati.
Kemudian melihat arah jejak.
Utara.
Alistair berdiri.
“Sekarang ini mulai aneh.”
Fen mengendus tanah.
Kemudian mengangkat kepalanya.
Ia menatap utara.
Alistair menghela napas.
“Kita tetap pulang.”
---
Sore hari, mereka kembali ke Guild.
Alistair langsung melaporkan jejak tersebut.
Aldren mendengarkan.
Kemudian memeriksa lokasi pada peta.
“Ini masih di dalam kota?”
“Iya.”
Aldren mengangguk.
“Kalau begitu lebih mudah diperiksa.”
“Bapak mau mengeceknya?”
“Bukan aku.”
Aldren memanggil seorang Hunter.
“Ambil dua orang. Periksa lokasi ini.”
Hunter tersebut mengangguk.
“Baik.”
Alistair memperhatikan mereka pergi.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa informasi yang ia temukan benar-benar digunakan.
Ia tidak perlu ikut.
Ia cukup melaporkan.
Dan orang yang lebih berpengalaman akan memeriksanya.
Mungkin itulah maksud Aldren selama ini.
---
Menjelang malam, dua Hunter tersebut kembali.
Alistair sedang membersihkan peralatan ketika mereka masuk.
“Ada apa?”
Salah satu Hunter menjawab,
“Jejaknya benar.”
Alistair langsung menoleh.
“Terus?”
“Jejak manusia.”
“Dan bekas seretan?”
Hunter itu mengangguk.
“Ada.”
“Menemukan apa yang diseret?”
“Tidak.”
Alistair sedikit kecewa.
Namun Hunter itu melanjutkan.
“Tapi kami menemukan sesuatu yang lain.”
Ia mengeluarkan benda kecil dari kantong.
Sebuah serpihan logam.
Alistair mengenalinya.
Jenis yang sama seperti yang ia lihat pagi tadi.
Aldren mengambilnya.
Membandingkan dengan serpihan sebelumnya.
Keduanya hampir sama.
Namun Aldren tidak langsung berkata apa-apa.
Ia mengambil kaca pembesar.
Memeriksa ujungnya.
Kemudian membalik kedua benda tersebut.
“Berbeda.”
Alistair terkejut.
“Beda?”
“Yang ini patahannya lebih baru.”
“Berarti...”
“Berarti dua benda ini berasal dari benda yang berbeda, atau benda yang sama tapi patah di waktu berbeda.”
Alistair mengangguk.
Ia mulai terbiasa mendengar kemungkinan.
Namun ada satu hal yang kini lebih jelas.
Serpihan itu bukan sekadar kebetulan yang berdiri sendiri.
Karena mereka menemukan dua serpihan di dua tempat berbeda.
Aldren memasukkan keduanya ke kantong bukti.
“Besok kita periksa lebih jauh.”
Alistair mengangguk.
Kemudian ia melihat ke luar jendela Guild.
Langit mulai gelap.
Untuk sesaat ia kembali teringat pria bermantel cokelat.
Tatapan.
Tangan yang menunjuk ke utara.
Lalu pergi.
Alistair mengepalkan tangannya.
Ia tidak tahu siapa pria itu.
Tidak tahu apa yang ada di utara.
Namun sekarang ia tahu satu hal.
Arah yang ditunjukkan pria itu bukan sekadar arah kosong.
Ada sesuatu di sana.
Dan cepat atau lambat—
mereka akan menemukan apa itu.