Chapter 42 of 46
Bab 42 — Pesan Tanpa Kata
744 words
Alistair masih berdiri di depan jendela.
Potongan kain itu tergeletak di ambang.
Gelap.
Dengan tiga garis abu-abu keperakan.
Fen berdiri di sampingnya dengan telinga tegak.
Alistair tidak menyentuh kain tersebut.
Ia mengingat pesan Aldren.
Jangan sentuh.
Maka ia hanya mengamatinya.
“Kenapa diletakkan di sini?”
Tidak ada jawaban.
Tentu saja.
Alistair menghela napas.
Ia menutup jendela.
Kemudian mengambil kursi dan meletakkannya beberapa langkah dari kain itu.
Fen menatapnya.
“Kita nggak menyentuhnya.”
Fen duduk.
Alistair mengambil napas panjang.
“Besok kita kasih tahu Bapak.”
Namun malam itu, ia tidak bisa tidur nyenyak.
---
Pagi datang.
Alistair langsung menuju Guild.
Ia tidak membawa kain tersebut.
Tidak menyentuhnya.
Ia hanya mengingat lokasinya.
Begitu sampai, ia mencari Aldren.
“Bapak.”
Aldren yang sedang membaca laporan menoleh.
“Kenapa?”
“Semalam ada sesuatu di jendelaku.”
Aldren langsung meletakkan laporan.
“Apa?”
“Kain.”
“Seperti yang ditemukan di jalur selatan?”
Alistair mengangguk.
“Warnanya sama.”
“Simbol?”
“Tiga garis.”
Aldren terdiam.
“Jangan bilang kau menyentuhnya.”
“Tidak.”
Aldren menghela napas lega.
“Bagus.”
“Kainnya masih di sana.”
“Antarkan aku.”
---
Mereka kembali ke penginapan.
Fen berjalan di depan.
Ketika sampai di kamar, Alistair membuka pintu.
Kain itu masih berada di ambang jendela.
Aldren tidak langsung mendekat.
Ia mengamati dari jarak beberapa langkah.
Kemudian memeriksa jendela.
“Tidak ada bekas paksa.”
“Berarti orangnya bisa masuk tanpa membuka pintu?”
“Bisa.”
Alistair mengerutkan kening.
“Jadi dia masuk lewat jendela?”
Aldren menggeleng.
“Tidak tahu.”
Ia menunjuk ambang jendela.
“Tidak ada jejak lumpur.”
“Berarti?”
“Bisa saja orang itu tidak menggunakan jalan.”
Alistair menatapnya.
“Bapak.”
“Hm?”
“Kalau dia memang bisa masuk tanpa meninggalkan jejak...”
Aldren langsung memotong.
“Jangan membuat kemampuan dari sesuatu yang belum kita buktikan.”
Alistair terdiam.
“...Iya.”
Aldren mendekati kain tersebut.
Ia menggunakan penjepit kecil untuk mengambilnya.
Tidak menyentuh langsung.
Kemudian memasukkannya ke kantong bukti.
“Sekarang kita bawa ke Guild.”
---
Di Guild, kain itu diperiksa.
Tidak ada racun.
Tidak ada tulisan tersembunyi.
Tidak ada bahan khusus.
Hanya kain biasa.
Dan tiga garis abu-abu keperakan.
Alistair sedikit kecewa.
“Jadi cuma itu?”
Aldren mengangguk.
“Untuk sekarang.”
Alistair melihat kain tersebut.
“Kalau begitu kenapa ada yang meninggalkannya di kamarku?”
Aldren tidak menjawab.
Beberapa saat kemudian ia berkata,
“Mungkin pesan.”
“Pesan apa?”
“Itu yang harus kita cari tahu.”
Alistair menatap tiga garis tersebut.
Ia tiba-tiba teringat sesuatu.
“Bapak.”
“Hm?”
“Lonceng.”
Aldren menoleh.
“Lonceng yang ditemukan kemarin?”
“Iya.”
Alistair menunjuk kain.
“Simbolnya sama-sama tiga garis.”
Aldren terdiam.
Ia membuka kembali kantong berisi lonceng.
Keduanya diletakkan berdampingan.
Lonceng.
Kain.
Tiga garis.
Alistair memperhatikan.
Ada perbedaan kecil.
Pada lonceng, tiga garisnya tidak dijahit.
Garis tersebut diukir.
Sedangkan pada kain, garisnya dibuat dengan benang.
Aldren mengambil kaca pembesar.
Ia memperhatikan keduanya.
“Ini bukan simbol yang sama.”
Alistair terkejut.
“Beda?”
“Lihat.”
Aldren menunjuk.
“Pada lonceng, garis tengah lebih panjang.”
Alistair mendekat.
Benar.
Perbedaannya sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
“Berarti bukan kelompok yang sama?”
Aldren menggeleng.
“Belum tentu.”
Alistair menghela napas.
“Belum tentu lagi.”
Aldren tertawa kecil.
“Sekarang kau mulai terbiasa.”
---
Mereka menyimpan kedua benda itu.
Namun sebelum Alistair pergi, Aldren memanggilnya.
“Alistair.”
“Ya?”
“Mulai sekarang, kalau ada sesuatu yang mencurigakan di sekitar penginapan, jangan mendekatinya sendiri.”
Alistair mengangguk.
“Kalau melihat orang mencurigakan?”
“Jangan kejar.”
“Kalau dia masuk ke penginapan?”
“Cari pemilik penginapan atau panggil Hunter.”
“Kalau—”
Aldren menatapnya.
Alistair berhenti.
“Baik.”
Aldren tersenyum.
“Bagus.”
---
Siang itu, Alistair menjalani rutinitas seperti biasa.
Latihan.
Makan.
Pekerjaan kecil.
Fen ikut bersamanya.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Alistair mulai memperhatikan orang-orang di sekitarnya.
Bukan dengan rasa curiga.
Melainkan dengan lebih hati-hati.
Ia tidak mencari musuh.
Ia hanya belajar mengingat.
Wajah.
Pakaian.
Suara.
Arah.
Kebiasaan.
Sore hari, ketika hendak kembali ke penginapan, ia melihat seseorang berdiri di seberang jalan.
Mantel cokelat.
Orang yang sama seperti beberapa hari lalu.
Alistair berhenti.
Fen juga.
Pria itu menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Kali ini lebih lama.
Kemudian pria itu tersenyum kecil.
Ia mengangkat tangan.
Bukan untuk menyerang.
Bukan untuk memanggil.
Hanya menunjuk ke arah utara.
Kemudian pergi.
Alistair tidak mengejar.
Ia hanya berdiri.
Fen menggeram pelan.
Alistair menatap arah yang ditunjuk.
Utara.
Kemudian melihat kembali ke jalan.
Pria itu sudah hilang.
Alistair menarik napas.
“Bapak bilang jangan mengejar.”
Fen menatapnya.
“Ayo pulang.”
Mereka berbalik.
Namun sebelum berjalan, Alistair sempat melihat sesuatu di tanah.
Sebuah benda kecil.
Ia tidak menyentuhnya.
Hanya memperhatikan.
Sebuah serpihan logam hitam.
Sama seperti benda yang ditemukan di jalur selatan.
Alistair menatapnya cukup lama.
Kemudian berkata pelan,
“Sekarang aku tahu kenapa dia menunjuk ke utara.”
Ia tetap tidak mengambilnya.
Ia hanya mengingat tempatnya.
Lalu pergi.
Karena kali ini Alistair tidak ingin menjadi orang yang mengejar jawaban.
Ia ingin menjadi orang yang cukup sabar untuk membiarkan jawaban datang sendiri.w