Chapter 41 of 46
Bab 41 — Tiga Garis
714 words
Aldren membawa Alistair masuk ke ruang belakang Guild.
Pintu ditutup.
Fen ikut masuk dan duduk di dekat kaki Alistair.
Aldren meletakkan kantong kecil tadi di atas meja.
Ia mengeluarkan lonceng kusam tersebut.
Tidak ada suara.
Alistair memperhatikannya.
“Bapak mengenalnya?”
Aldren tidak langsung menjawab.
Ia mengambil kain kecil lalu membersihkan permukaan lonceng.
Tiga garis terlihat semakin jelas.
Satu garis panjang.
Dua garis pendek di bawahnya.
Alistair menatap ukiran tersebut.
“Simbol?”
“Bukan.”
“Terus?”
Aldren membalik lonceng.
“Penanda.”
“Penanda apa?”
Aldren menghela napas.
“Dulu ada kelompok pemburu yang menggunakan tanda seperti ini.”
Alistair langsung tertarik.
“Kelompok Hunter?”
“Bukan Guild resmi.”
“Terus?”
“Kelompok kecil.”
Aldren menyimpan lonceng itu di telapak tangannya.
“Mereka bekerja di luar wilayah Guild. Biasanya mengambil pekerjaan yang terlalu kecil untuk menarik perhatian Guild, tapi terlalu berbahaya untuk dikerjakan penduduk biasa.”
Alistair mengangguk.
“Seperti Hunter?”
“Kurang lebih.”
“Kenapa aku belum pernah mendengarnya?”
“Karena kelompok itu sudah tidak ada.”
Alistair mengerutkan kening.
“Sudah tidak ada?”
“Bubar.”
“Kenapa?”
Aldren terdiam.
“Sekitar beberapa tahun lalu, mereka menghilang setelah sebuah pekerjaan.”
Alistair menunggu.
Aldren tidak melanjutkan.
“Pekerjaan apa?”
“Tidak penting.”
Alistair menatapnya.
“Kalau nggak penting, kenapa Bapak terlihat serius?”
Aldren terdiam.
Kemudian tersenyum tipis.
“Kau mulai terlalu pandai memperhatikan.”
Alistair tidak tersenyum.
“Aku cuma bertanya.”
“Aku tahu.”
Aldren memasukkan lonceng itu kembali ke kantong.
“Yang penting sekarang adalah kita belum tahu apakah benda ini benar-benar berhubungan dengan mereka.”
“Karena cuma ada tiga garis?”
“Benar.”
Alistair mengangguk.
“Berarti lagi-lagi belum cukup.”
“Bagus.”
---
Aldren kemudian mengambil peta.
Ia membentangkannya di atas meja.
“Lihat.”
Alistair mendekat.
Peta wilayah selatan Eldermere terbentang cukup luas.
Ada jalur utama.
Jalur hutan.
Beberapa desa.
Sungai.
Dan pegunungan kecil.
Aldren menunjuk beberapa titik.
“Laporan suara logam.”
Satu titik.
“Kereta hilang.”
Titik kedua.
“Rovan dan anaknya.”
Titik ketiga.
“Rumah kosong.”
Titik keempat.
Kemudian ia meletakkan lonceng tadi di dekat peta.
“Dan benda ini.”
Alistair melihat semuanya.
Ada pola.
Namun belum jelas.
Ia mengambil pensil.
“Kalau semua titik ini dihubungkan...”
Ia menarik garis perlahan.
Jalur tersebut membentuk lengkungan panjang.
“Semua mengarah ke sini.”
Jarinya menunjuk sebuah bagian hutan yang lebih dalam.
Aldren mengangguk.
“Benar.”
Alistair menelan ludah.
“Berarti tempat itu pusatnya?”
“Belum tentu.”
“Karena bisa saja kebetulan?”
“Ya.”
Alistair menghela napas.
“Kita benar-benar harus sering bilang ‘belum tentu’.”
Aldren tertawa kecil.
“Itu salah satu kata paling penting bagi seorang Hunter.”
---
Beberapa saat kemudian, Aldren melipat peta.
“Kau tidak ikut tim penyelidikan.”
Alistair langsung tahu apa yang akan dikatakan.
“Ya.”
“Tapi aku tetap boleh belajar dari laporan?”
“Selama kau tidak mengganggu pekerjaan mereka.”
“Baik.”
Aldren menatapnya.
“Dan satu hal lagi.”
“Apa?”
“Jangan mencari lonceng lain.”
Alistair mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena kau belum tahu apa yang sedang kau cari.”
Alistair mengangguk.
“Kalau aku menemukannya secara tidak sengaja?”
“Laporkan.”
“Jangan sentuh?”
“Jangan sentuh.”
Alistair tersenyum kecil.
“Baik.”
---
Malam tiba.
Alistair kembali ke penginapan.
Catatannya masih hilang.
Namun kali ini ia tidak merasa terlalu terganggu.
Ia duduk di meja dan menulis ulang apa yang ia ingat.
Tidak semuanya.
Hanya beberapa hal penting.
Jalur Selatan.
Suara logam.
Monster tiga cakar.
Jejak manusia.
Lonceng dengan tiga garis.
Ia berhenti.
Kemudian menambahkan:
Belum ada kesimpulan.
Ia tersenyum kecil.
“Kayaknya ini mulai jadi kebiasaan.”
Fen yang berbaring di lantai mengangkat kepala.
“Apa?”
Fen mengibaskan ekornya.
Alistair kembali menulis.
---
Tiba-tiba—
ting.
Alistair berhenti.
Ia menatap lonceng miliknya.
Lonceng kecil dari Elara.
Tidak bergerak.
Namun bunyinya terdengar jelas.
Alistair memegangnya.
“Angin?”
Jendela tertutup.
Fen bangkit.
Telinganya tegak.
Alistair ikut berdiri.
“Fen?”
Fen berjalan ke pintu.
Mengendus bagian bawahnya.
Kemudian menggeram pelan.
Alistair mendekat.
Tidak ada suara dari luar.
Ia membuka pintu sedikit.
Koridor kosong.
Lampu minyak di ujung lorong bergoyang pelan.
Tidak ada siapa-siapa.
Alistair menutup pintu kembali.
“Tidak ada.”
Fen masih menatap pintu.
Alistair duduk lagi.
Namun beberapa saat kemudian—
ting.
Loncengnya berbunyi lagi.
Kali ini Alistair langsung memegangnya.
Ia memperhatikan benda itu.
Tidak ada apa-apa.
Hanya lonceng kecil pemberian ibunya.
Namun Fen tiba-tiba mengendus udara.
Kemudian menatap jendela.
Alistair ikut melihat.
Jendela masih tertutup.
Ia perlahan mendekat.
Membuka tirainya.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun di ambang jendela—
terdapat sesuatu.
Alistair membukanya.
Sebuah potongan kain kecil.
Gelap.
Dengan tiga garis abu-abu keperakan yang dijahit di atasnya.
Alistair membeku.
Ia tidak menyentuhnya.
Fen menggeram.
Alistair mundur satu langkah.
Untuk pertama kalinya sejak semua kejadian itu dimulai—
sebuah tanda tidak ditemukan di hutan.
Tidak ditemukan di jalan.
Tidak ditemukan di jalur selatan.
Tanda itu telah datang mencarinya.