Pagi itu, Alistair datang ke Hunter Guild lebih awal dari biasanya.
Fen berjalan di sampingnya.
Begitu masuk, Alistair langsung menuju meja tempat ia biasanya membantu pekerjaan kecil.
Namun langkahnya berhenti.
Catatan kecilnya tidak ada.
Alistair mengerutkan kening.
Ia membuka tas.
Tidak ada.
Ia memeriksa kantong.
Tidak ada.
“Bapak.”
Aldren yang sedang berbicara dengan seorang Hunter menoleh.
“Ada apa?”
“Catatanku hilang.”
Aldren mengangkat alis.
“Catatan apa?”
“Catatan tentang jalur selatan.”
Aldren langsung mendekat.
“Kapan terakhir kau melihatnya?”
“Semalam.”
“Di mana?”
“Di kamar.”
“Yakin?”
Alistair mengangguk.
“Aku menulis sebelum tidur.”
Aldren tidak langsung menjawab.
“Jangan panik.”
“Aku nggak panik.”
Aldren melihat wajahnya.
“Kau terlihat panik.”
Alistair terdiam.
“...Sedikit.”
Aldren hampir tertawa.
“Coba ingat lagi.”
Alistair menutup mata.
Ia mengingat malam sebelumnya.
Duduk di ranjang.
Fen di lantai.
Catatan di tangan.
Menulis tentang jalur selatan.
Kemudian—
jendela.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Setelah itu ia menutup jendela dan tidur.
“Setelah aku menutup jendela, aku tidak menyentuhnya lagi.”
Aldren mengangguk.
“Baik.”
Mereka kembali ke penginapan.
---
Kamar Alistair tidak berantakan.
Tempat tidur masih rapi.
Tas berada di tempatnya.
Pedang tua masih ada.
Tidak ada barang lain yang hilang.
Aldren memeriksa jendela.
Kemudian lantai.
Tidak ada bekas.
Fen berjalan mengelilingi kamar.
Mengendus beberapa tempat.
Alistair berdiri diam.
“Tidak ada jejak.”
Aldren mengangguk.
“Kalau seseorang mengambilnya, dia cukup hati-hati.”
Alistair menatapnya.
“Berarti ada yang mengambilnya?”
“Belum tentu.”
“Bisa hilang sendiri?”
“Catatan tidak punya kaki.”
Alistair hampir tersenyum.
Namun kemudian ia kembali serius.
“Kalau memang ada yang mengambil...”
Aldren menatapnya.
“Jangan mengejar.”
“Aku tahu.”
“Bagus.”
---
Mereka kembali ke Guild.
Aldren meminta Alistair menggambarkan isi catatan tersebut.
Alistair mengambil kertas kosong.
Ia menulis semua yang ia ingat.
Jalur Selatan.
Rovan dan anaknya.
Monster tiga cakar.
Suara logam.
Jejak manusia.
Jejak monster.
Kain gelap.
Rumah kosong.
Potongan logam.
Aldren membaca.
“Kau ingat semuanya?”
“Kurang lebih.”
“Bagus.”
Alistair menatap tulisan itu.
“Berarti sekarang catatanku tidak penting lagi.”
Aldren menggeleng.
“Justru sekarang kita tahu sesuatu.”
“Apa?”
“Kalau memang seseorang mengambil catatanmu, dia mungkin tidak ingin informasi itu berada di tanganmu.”
Alistair terdiam.
“Jadi... aku harus berhenti mencari?”
“Tidak.”
Aldren menunjuk kepalanya.
“Kau hanya perlu belajar menyimpan informasi di tempat yang tidak bisa dicuri.”
Alistair memahami maksudnya.
“Mengingat.”
“Benar.”
---
Siang hari, Aldren memberikan latihan baru.
Ia membawa Alistair ke ruang arsip Guild.
Ruangan itu penuh rak.
Banyak laporan lama tersusun di sana.
Aldren mengambil beberapa lembar.
“Cari semua laporan tentang jalur selatan dalam tiga bulan terakhir.”
Alistair melihat tumpukan kertas.
“Semua?”
“Semua yang bisa kau temukan.”
Alistair mulai bekerja.
Ia membaca satu demi satu.
Pedagang terlambat.
Kereta rusak.
Pemburu kehilangan arah.
Petani melaporkan suara aneh.
Beberapa laporan ternyata tidak berhubungan.
Namun setelah cukup lama—
Alistair menemukan sesuatu.
“Bapak.”
Aldren datang.
Alistair menunjuk satu laporan.
“Ini.”
Laporan itu sudah cukup lama.
Lebih dari sebulan sebelumnya.
Seorang pedagang melaporkan bahwa keretanya berhenti karena mendengar suara logam dari dalam hutan.
Tidak ada serangan.
Tidak ada orang hilang.
Tidak ada kerusakan.
Hanya suara.
Alistair membaca bagian akhirnya.
Tidak ditemukan sumber suara.
Ia menatap Aldren.
“Ini sama.”
“Belum tentu.”
“Tapi suaranya sama.”
“Ya.”
Aldren mengambil laporan itu.
Membacanya sekali lagi.
Kemudian berkata,
“Ini menarik.”
Alistair langsung memperhatikan.
Aldren tersenyum.
“Sekarang kita punya pola.”
---
Beberapa jam kemudian, mereka menemukan dua laporan lain.
Satu berasal dari seorang petani.
Ia mendengar suara logam tiga minggu lalu.
Satu lagi berasal dari Hunter yang kehilangan arah selama hampir satu jam.
Ia juga mendengar suara serupa.
Tidak ada yang melihat sumbernya.
Alistair menatap semua laporan.
“Berarti ini bukan kejadian baru.”
“Benar.”
“Sudah berlangsung setidaknya satu bulan.”
Aldren mengangguk.
Alistair berpikir.
“Kalau begitu orang hilang baru terjadi belakangan.”
“Ya.”
“Berarti sesuatu berubah.”
Aldren menatap Alistair.
Kali ini ia tidak membantah.
“Bisa jadi.”
Alistair melihat laporan tersebut.
“Dan mungkin monster itu sudah ada di sana sejak awal.”
“Bisa jadi.”
“Bapak.”
“Hm?”
“Kalau monster itu bukan pelaku...”
Alistair menunjuk laporan lama.
“...mungkin dia juga sudah mencoba menjauh dari sesuatu itu.”
Aldren terdiam.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Kemudian Aldren berkata,
“Itu kemungkinan.”
Bukan jawaban.
Namun cukup untuk membuat Alistair berpikir.
---
Sore menjelang.
Alistair keluar dari ruang arsip.
Fen langsung menyambutnya.
Alistair mengelus kepalanya.
“Catatan kita hilang.”
Fen memiringkan kepala.
“Tapi kita masih punya ingatan.”
Fen mengibaskan ekornya.
Alistair tersenyum.
“Aku juga nggak yakin itu jawaban yang bagus.”
Mereka berjalan menuju pintu Guild.
Namun sebelum keluar—
seorang Hunter datang membawa sebuah benda.
“Ketua.”
Aldren menoleh.
Hunter itu menyerahkan sebuah kantong kecil.
“Kami menemukan ini di dekat jalur selatan.”
Aldren membukanya.
Di dalamnya terdapat beberapa benda kecil.
Salah satunya membuat Alistair langsung berhenti.
Sebuah lonceng kecil.
Bukan milik Alistair.
Bentuknya sederhana.
Terbuat dari logam kusam.
Ada bekas goresan pada permukaannya.
Aldren mengangkatnya.
Tidak berbunyi.
“Kenapa diam?”
Hunter itu menjawab,
“Karena bagian dalamnya sudah hilang.”
Alistair mendekat.
Ia memperhatikan lonceng tersebut.
Ada sesuatu yang terasa aneh.
Bukan karena bentuknya.
Melainkan karena benda itu terasa seperti pernah digunakan seseorang.
Aldren membaliknya.
Di bagian belakang lonceng terdapat ukiran kecil.
Hanya tiga garis.
Alistair menatapnya.
“Bapak...”
Aldren melihat ukiran itu.
Wajahnya berubah.
“Kau kenal?”
Aldren tidak menjawab.
Ia memasukkan lonceng tersebut kembali ke kantong.
“Kita bicara di ruang belakang.”
Alistair mengangguk.
Untuk pertama kalinya—
Aldren terlihat seperti seseorang yang mengenali sesuatu yang seharusnya sudah lama hilang.