Chapter 39 of 46

Bab 39 — Dua Jejak

796 words

Ruangan Hunter Guild menjadi jauh lebih sunyi setelah potongan logam itu diletakkan di atas meja. Alistair berdiri beberapa langkah dari Aldren. Matanya masih tertuju pada benda kecil tersebut. Sederhana. Hanya potongan logam hitam dengan beberapa goresan. Namun entah kenapa, benda itu membuat suasana berubah. Aldren mengambilnya. “Semua yang menemukan jejak di jalur selatan, laporkan kepadaku.” Hunter yang membawa benda itu mengangguk. “Baik.” Ia kemudian keluar. Alistair masih berdiri. Aldren menoleh. “Kau ingin bertanya?” Alistair mengangguk. “Benda itu apa?” “Belum tahu.” “Seperti bagian dari senjata?” “Mungkin.” “Peralatan?” “Mungkin.” Alistair menghela napas. “Jawabannya selalu mungkin.” Aldren tertawa kecil. “Karena memang begitu.” Ia meletakkan benda tersebut di atas meja. “Kalau kita tidak tahu, jangan pura-pura tahu.” Alistair mengangguk. Kemudian ia melihat potongan logam itu sekali lagi. “Boleh aku lihat?” Aldren memberikan benda itu. Alistair menerimanya dengan hati-hati. Ringan. Permukaannya dingin. Ia membaliknya. Ada bekas goresan panjang di salah satu sisi. Namun tidak ada simbol. Tidak ada ukiran. Tidak ada tanda khusus. Alistair menyerahkannya kembali. “Tidak ada yang bisa dikenali.” “Belum.” Aldren menyimpannya. --- Sore itu, Alistair mendapatkan tugas sederhana. Mengantar beberapa bahan makanan ke penginapan lain. Fen ikut berjalan bersamanya. Jalanan cukup ramai. Orang-orang tampaknya mulai membicarakan penutupan jalur selatan. Alistair mendengar beberapa percakapan. “Katanya ada monster.” “Bukan monster.” “Terus apa?” “Tidak tahu.” “Kalau tidak tahu, kenapa jalurnya ditutup?” Alistair tidak ikut campur. Ia hanya terus berjalan. Namun satu kalimat membuatnya berhenti sebentar. “Katanya monster itu malah menyelamatkan orang.” Alistair menoleh. Orang yang berbicara sudah pergi. Ia menatap Fen. “Fen.” Fen melihatnya. “Monster yang kita temui...” Alistair tidak melanjutkan. Karena ia belum punya bukti. Mereka kembali berjalan. --- Setelah tugas selesai, Alistair pulang ke Guild. Namun ketika hampir sampai, Fen tiba-tiba berlari ke sebuah sudut jalan. “Fen!” Alistair mengejarnya. Fen berhenti di dekat sebuah tong kayu. Ia mengendus tanah. Alistair berjongkok. Ada bekas lumpur. Jejak sepatu. Satu jejak terlihat jelas. Kemudian ada jejak lain di sampingnya. Tiga cakar. Alistair langsung terdiam. “Ini...” Fen mengendus lebih dalam. Kemudian mengangkat kepala. Tidak ada suara. Tidak ada orang. Alistair melihat jejak itu. Keduanya berjalan berdampingan. Bukan saling mengejar. Bukan saling menyerang. Berdampingan. Alistair teringat kejadian di hutan. Monster itu tidak menyerang Rovan. Monster itu justru tampak ketakutan. Dan sekarang— jejaknya ditemukan berjalan di jalur yang sama dengan manusia. Alistair berdiri. “Aku harus kasih tahu Bapak.” --- Aldren langsung datang setelah mendengar laporan. Ia berjongkok di dekat jejak. Memeriksanya dengan teliti. Kemudian berdiri. “Bagus kau tidak menyentuhnya.” Alistair mengangguk. “Jejaknya sama?” “Sepertinya.” “Berarti monster itu mungkin bukan musuh?” Aldren menatapnya. “Pelan-pelan.” Alistair mengerutkan kening. “Kenapa?” “Karena sekarang kau mulai membuat kesimpulan lagi.” Alistair diam. Aldren menunjuk jejak. “Kita tahu dua jejak berada di tempat yang sama.” Ia menunjuk jejak sepatu. “Kita tahu satu berasal dari manusia.” Kemudian menunjuk jejak tiga cakar. “Dan yang satu lagi kemungkinan berasal dari makhluk yang kita lihat.” Alistair mengangguk. “Tapi kita tidak tahu apakah mereka bekerja sama.” “Benar.” “Mereka bisa saja kebetulan lewat.” “Benar.” “Atau manusia itu sedang mengejar monster.” “Benar.” Alistair menghela napas. “Jadi kita masih belum tahu.” Aldren tersenyum. “Sekarang kau mulai mengerti.” Alistair melihat jejak tersebut. Kemudian berkata, “Kalau begitu aku tidak akan menyimpulkan.” “Bagus.” “Tapi aku boleh penasaran?” Aldren tertawa. “Itu tidak bisa dilarang.” --- Malamnya, Alistair kembali ke kamar. Fen berbaring di lantai. Alistair duduk di ranjang. Ia membuka catatan kecilnya. Selama beberapa minggu terakhir, ia mulai menulis hal-hal penting yang ia temui. Ia menuliskan: Jalur selatan. Kemudian di bawahnya: Orang hilang. Rovan dan anaknya ditemukan. Monster tiga cakar. Suara logam. Jejak manusia. Jejak monster. Kain gelap dengan jahitan abu-abu keperakan. Rumah kosong. Potongan logam. Alistair menatap daftar tersebut. Terlalu banyak. Namun belum cukup untuk menjadi jawaban. Ia mengambil pensil. Di samping tulisan monster tiga cakar, ia menulis: Tidak menyerang. Kemudian di bawahnya: Kemungkinan bukan pelaku. Ia berhenti. Tidak mencoret. Tidak menambahkan apa pun. Untuk pertama kalinya, ia mencoba membedakan antara apa yang ia tahu dan apa yang hanya ia pikirkan. Fen tiba-tiba mengangkat kepala. Alistair menoleh. “Apa?” Fen melihat ke arah jendela. Alistair ikut melihat. Tidak ada apa-apa. Ia mendekati jendela. Membukanya sedikit. Angin malam masuk. Tidak ada suara. Alistair menutup kembali. “Cuma angin.” Fen kembali berbaring. Alistair tersenyum kecil. “Selamat malam.” Ia mematikan lampu. --- Namun di luar penginapan— seseorang berdiri di atap bangunan seberang. Sosok itu melihat jendela kamar Alistair. Kemudian melihat ke arah Hunter Guild. Di tangannya terdapat potongan kain gelap. Jari-jarinya menggenggam kain tersebut. “Anak itu mulai mencatat.” Seseorang di belakangnya bertanya, “Perlu dihentikan?” Sosok itu menggeleng. “Belum.” “Kenapa?” Ia menatap jendela kamar Alistair. “Karena dia belum tahu apa yang sedang dia cari.” Angin malam berembus. Sosok itu memasukkan kain ke dalam mantelnya. “Dan selama dia hanya melihat jejak...” Ia berbalik. “...biarkan dia melihat.” Dalam sekejap, keduanya menghilang dari atap. Sementara itu, di dalam kamar— Alistair tidur tanpa mengetahui bahwa untuk pertama kalinya, seseorang telah memperhatikan catatan kecilnya.

End of Chapter 39