Chapter 3 of 46

Bab 3 — Hunter Guild

739 words

Setelah cukup lama berjalan menyusuri jalan utama Eldermere, Alistair mulai mengenali beberapa bagian kota. Ia tahu di mana pasar berada. Ia tahu penginapannya berada tidak terlalu jauh dari pusat kota. Dan sekarang ia mulai tahu bahwa harga roti di kota ternyata sama sekali tidak murah jika seseorang hanya memiliki beberapa keping tembaga. Namun Aldren masih belum selesai mengajaknya berkeliling. “Masih ada satu tempat yang perlu kau lihat.” Alistair yang sejak tadi memperhatikan toko-toko di sepanjang jalan menoleh. “Di mana?” Aldren menunjuk sebuah bangunan besar di ujung jalan. Bangunan itu berbeda dari tempat-tempat lain yang mereka lewati. Dinding batunya kokoh. Lambang pedang dan perisai terpampang di bagian depan, sementara beberapa orang keluar-masuk melalui pintu utama. Alistair memperlambat langkah. “Tempat apa itu?” Aldren tersenyum kecil. “Hunter Guild.” Alistair menatap bangunan tersebut. “Hunter... Guild?” “Ya.” Aldren berjalan menuju pintu masuk. Alistair mengikutinya. Begitu pintu terbuka, suara ramai langsung terdengar. Beberapa orang duduk di meja sambil berbicara. Ada yang sedang memeriksa senjata mereka, sementara yang lain membawa perlengkapan perjalanan. Di sisi ruangan terdapat papan besar yang dipenuhi lembaran kertas. Alistair berhenti beberapa langkah setelah masuk. Matanya bergerak ke seluruh ruangan. Berbeda dengan pasar yang ramai karena perdagangan, tempat ini terasa ramai karena alasan lain. Orang-orang di sini terlihat seperti sedang bersiap untuk pergi ke suatu tempat. “Apa semua orang di sini Hunter?” “Sebagian besar.” “Sebagian besar?” “Guild bukan hanya tempat untuk para Hunter.” Aldren berjalan melewati kerumunan. “Guild adalah tempat mereka mendapatkan informasi, menerima pekerjaan, menyerahkan hasil pekerjaan, dan mendapatkan bayaran.” Alistair menoleh ke papan besar. “Pekerjaan?” Aldren berhenti di depan papan tersebut. “Lihat sendiri.” Alistair mendekat. Ada banyak lembaran kertas yang ditempel di sana. Beberapa meminta seseorang mengawal perjalanan. Beberapa membutuhkan bantuan mencari sesuatu. Ada juga permintaan untuk menghadapi monster yang mengganggu wilayah tertentu. Alistair membaca salah satu kertas dengan perlahan. “Jadi... orang-orang datang ke sini untuk meminta bantuan?” “Benar.” “Dan Hunter yang mengambil pekerjaan itu?” “Jika mereka mampu melakukannya.” Alistair memandangi papan tersebut. “Kalau begitu Hunter bukan cuma membunuh monster.” Aldren menoleh kepadanya. “Bagus. Kau sudah mulai memahami.” Alistair kembali melihat papan. “Berarti mereka bisa mengerjakan banyak hal.” “Hunter adalah orang yang menerima pekerjaan dari Guild sesuai kemampuan mereka. Monster memang salah satunya, tetapi bukan satu-satunya.” Alistair mengangguk pelan. Ia kemudian memperhatikan seorang pria yang sedang menyerahkan sesuatu kepada petugas di balik meja. “Dia sedang apa?” “Menyerahkan hasil pekerjaannya.” “Lalu dia dibayar?” “Ya.” Alistair langsung teringat uang yang baru saja dipelajarinya. “Dibayar dengan uang?” “Sebagian besar.” Mata Alistair kembali tertuju pada papan. Lima tembaga untuk satu roti. Satu perak bernilai seratus tembaga. Dan pekerjaan-pekerjaan di papan itu mungkin membayar lebih banyak daripada yang pernah ia bayangkan. Aldren melihat perubahan ekspresi anak itu. “Jangan berpikir menjadi Hunter berarti uang mudah.” Alistair menoleh. “Aku belum bilang begitu.” “Wajahmu yang bilang.” Alistair terdiam. “...Aku cuma menghitung.” Aldren tertawa kecil. “Justru itu yang harus kau lakukan.” Ia kemudian berjalan menuju bagian dalam Guild. Alistair mengikutinya. “Setiap pekerjaan memiliki risiko. Semakin sulit pekerjaannya, semakin besar pula tanggung jawab yang harus kau tanggung.” Alistair mengangguk. “Kalau gagal?” “Bergantung pada pekerjaannya.” Aldren berhenti dan menatapnya. “Karena itu seorang Hunter harus tahu batas kemampuannya sendiri.” Alistair menatap mata Aldren. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah kenapa, Alistair merasa Aldren tidak sedang membicarakan pekerjaan saja. “Kalau begitu... semua orang di sini sudah kuat?” “Tidak.” Jawaban Aldren datang cepat. “Lalu kenapa mereka menjadi Hunter?” “Karena mereka ingin menjadi lebih kuat, mencari nafkah, membantu orang lain, atau memiliki alasan mereka sendiri.” Alistair terdiam. Ia melihat orang-orang di sekelilingnya sekali lagi. Ada yang tertawa. Ada yang sedang membersihkan senjata. Ada yang tampak lelah. Ada pula yang hanya duduk diam sambil membaca lembaran pekerjaan. Mereka semua berbeda. Tetapi mereka berada di tempat yang sama. Aldren akhirnya berjalan menuju sebuah pintu di bagian belakang. Alistair mengikutinya. Sebelum membuka pintu itu, Aldren berkata, “Dan satu hal lagi.” Alistair menatapnya. “Kalau suatu hari kau ingin menjadi Hunter, jangan lakukan hanya karena melihat uangnya.” Alistair mengerutkan kening. “Kenapa?” Aldren membuka pintu. “Karena monster tidak peduli berapa banyak uang yang ingin kau dapatkan.” Pintu terbuka. Di baliknya terdapat ruangan yang lebih tenang daripada aula utama. Aldren melangkah masuk. Alistair berdiri sesaat di ambang pintu. Untuk pertama kalinya, ia mulai melihat Hunter bukan sebagai orang-orang hebat yang hanya memburu monster. Mereka adalah orang-orang yang memilih pekerjaan berbahaya untuk mendapatkan sesuatu. Uang. Pengalaman. Tujuan. Atau mungkin... alasan lain yang bahkan belum ia pahami. Alistair akhirnya melangkah masuk. Dan tanpa disadarinya, langkah kecil itu menjadi awal dari perjalanan panjangnya sebagai seorang Hunter.

End of Chapter 3

Chapter 3: Bab 3 — Hunter Guild - Luka di Balik Tekad (bagian 2) | Novel AI Studio