Chapter 38 of 46

Bab 38 — Satu Kesaksian

850 words

Pagi itu, Hunter Guild kembali dipenuhi aktivitas. Alistair baru saja masuk ketika suara seseorang memanggil dari ruang depan. “Alistair.” Ia menoleh. Aldren berdiri di dekat meja administrasi. “Ke sini.” Alistair berjalan mendekat bersama Fen. “Ada apa?” “Duduk.” Alistair duduk. Aldren meletakkan sebuah cangkir di meja. “Minum.” Alistair menatap cangkir itu. “Kenapa?” “Karena dari wajahmu, kau kelihatan seperti belum sarapan.” Alistair terdiam. “...Aku sudah.” “Berapa banyak?” “Roti.” “Berapa?” “Dua.” Aldren mengangguk. “Bagus.” Alistair mengambil cangkir. “Terus kenapa dipanggil?” Aldren tersenyum kecil. “Langsung ke masalah, ya?” Alistair mengangguk. Aldren mengeluarkan selembar kertas. “Rovan datang pagi ini.” Alistair langsung memperhatikan. “Dia ingat sesuatu.” --- Beberapa menit kemudian, Rovan masuk ke ruangan. Kondisinya terlihat lebih baik dibanding kemarin. Lukanya sudah dibalut. Ia duduk di depan Aldren. Kemudian menatap Alistair. “Kau anak yang kemarin.” Alistair mengangguk. “Iya.” Rovan tersenyum tipis. “Terima kasih sudah membantu kami.” “Sama-sama.” Fen duduk di samping kaki Alistair. Rovan sempat melihatnya. “Dan temanmu juga.” Fen mengibaskan ekornya. Alistair tersenyum. “Aku mau tanya sesuatu.” Rovan mengangguk. “Apa?” “Waktu di hutan... kau bilang ada sesuatu yang mengikuti kalian.” “Benar.” “Sekarang kau ingat apa pun?” Rovan terdiam. Ia menatap meja. “Aku ingat suaranya.” Alistair sedikit maju. “Suara?” “Bukan suara langkah.” “Lalu?” Rovan mengerutkan kening. “Suara logam.” Alistair bingung. “Logam?” “Seperti sesuatu yang bergesekan dengan batu.” Aldren ikut memperhatikan. “Berapa kali?” “Tidak tahu.” Rovan menggeleng. “Tapi ada satu hal lagi.” “Apa?” “Setelah suara itu terdengar... monster itu langsung pergi.” Alistair mengingat kejadian kemarin. Monster tersebut memang terlihat seperti berusaha menjauh. Bukan menyerang. Bukan mengejar. Melainkan melarikan diri. “Jadi monster itu juga takut?” Rovan mengangguk. “Kurasa begitu.” Aldren menyilangkan tangan. “Apakah kau melihat sesuatu?” Rovan diam cukup lama. Kemudian berkata, “Aku melihat bayangan.” “Seperti apa?” “Besar.” “Seberapa besar?” “Lebih besar dari manusia biasa.” Alistair menatap Aldren. Namun Rovan segera menambahkan, “Tapi aku tidak bisa memastikan.” “Kenapa?” “Karena saat itu gelap.” Ia memejamkan mata. “Yang kulihat hanya bayangan melewati pepohonan.” Alistair bertanya, “Apakah bentuknya seperti monster?” Rovan menggeleng. “Tidak.” “Manusia?” “Juga tidak yakin.” Alistair menghela napas. Lagi-lagi tidak ada jawaban pasti. Namun kali ini mereka mendapatkan sesuatu. Suara logam. --- Setelah Rovan pergi, Alistair masih duduk. Aldren menyimpan laporan tersebut. “Jangan terlalu dipikirkan.” “Tapi sekarang kita punya petunjuk.” “Ya.” “Berarti bisa dicari.” “Bisa.” Alistair langsung menatapnya. Aldren tersenyum. “Tapi bukan kau.” Alistair menghela napas. “Aku tahu.” “Bagus.” Aldren berdiri. “Kau mulai belajar.” “Belajar apa?” “Menahan diri.” Alistair mengerutkan kening. “Bukannya Hunter harus berani?” “Berani dan ceroboh itu dua hal berbeda.” Alistair terdiam. Aldren mengambil pedang kayu. “Sekarang ikut aku.” “Latihan?” “Latihan.” --- Lapangan belakang Guild cukup sepi. Aldren memberikan pedang kayu kepada Alistair. “Serang.” Alistair mengambil posisi. Ia maju. Tebasan pertama. Aldren menghindar. Tebasan kedua. Dihindari lagi. Alistair mencoba menyerang dari samping. Aldren menahan. Kemudian menyentuh bahu Alistair dengan ujung pedang kayu. “Lawanmu mati.” Alistair mundur. “Aku belum selesai.” “Dalam pertarungan, lawanmu tidak akan menunggu sampai kau selesai.” Alistair menggenggam pedangnya. Ia maju lagi. Kali ini lebih hati-hati. Langkah. Tebasan. Mundur. Aldren masih lebih cepat. Namun Alistair tidak langsung menyerang lagi. Ia memperhatikan kaki Aldren. Bahunya. Jarak. Aldren tersenyum tipis. “Bagus.” Alistair menunggu. Kemudian maju. Tebasan. Aldren menangkis. Alistair memutar tubuh dan mencoba menyerang dari arah berbeda. Kali ini ujung pedangnya hampir mengenai lengan Aldren. Hampir. Aldren mundur satu langkah. “Sudah lebih baik.” Alistair tersenyum. “Berarti kena?” “Belum.” “Yah.” Aldren tertawa kecil. “Tapi kau mulai berpikir sebelum bergerak.” Alistair melihat pedang kayunya. Mungkin itu memang perkembangan kecil. Namun ia mulai menyukainya. Bukan karena menang. Melainkan karena setiap latihan membuatnya sedikit lebih memahami apa yang sedang ia lakukan. --- Setelah latihan selesai, Alistair duduk di bawah pohon. Fen langsung mendekat. Alistair mengelus kepalanya. “Capek?” Fen menjilat tangannya. “Kayaknya kamu nggak pernah capek.” Fen berdiri. Kemudian berlari mengejar sesuatu di rumput. Alistair tertawa kecil. “Benar-benar beda sama aku.” Ia bersandar pada batang pohon. Kemudian melihat langit. Hari itu tidak ada monster. Tidak ada orang hilang. Tidak ada kain aneh. Tidak ada suara misterius. Hanya hari biasa. Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari— Alistair merasa lega. --- Namun sore itu, ketika mereka hendak pulang, seorang Hunter masuk ke Guild dengan tergesa-gesa. “Ketua!” Aldren langsung keluar. “Ada apa?” Hunter itu memberikan sebuah benda. Sebuah potongan logam kecil. “Ditemukan di jalur selatan.” Aldren mengambilnya. Alistair yang berada beberapa meter jauhnya ikut melihat. Benda itu kecil. Hitam. Bentuknya seperti bagian dari gesper atau pengait. Di salah satu sisinya terdapat goresan panjang. Aldren membaliknya. Wajahnya berubah. Alistair memperhatikan. “Bapak?” Aldren tidak menjawab. Ia hanya menatap benda tersebut. Kemudian berkata kepada Hunter, “Di mana kau menemukannya?” “Dekat bekas roda kereta.” “Dan jejak?” “Ada.” “Manusia?” Hunter menggeleng. “Dua jenis.” Alistair langsung menoleh. Aldren juga. “Jelaskan.” Hunter menarik napas. “Jejak sepatu.” “Dan?” “Jejak tiga cakar.” Ruangan mendadak sunyi. Alistair teringat monster yang mereka temui. Makhluk yang tidak menyerang. Makhluk yang justru melarikan diri. Aldren menggenggam benda logam itu. “Kalau begitu...” Ia berhenti. Tidak melanjutkan. Alistair menatapnya. “Apa?” Aldren menatap potongan logam di tangannya. “Belum ada kesimpulan.” Namun kali ini— nada suaranya terdengar berbeda. Karena mungkin, untuk pertama kalinya, mereka memiliki dua jejak yang mengarah ke tempat yang sama. Jejak manusia. Dan jejak monster. Dan entah bagaimana— keduanya tampaknya berada di sisi yang sama dalam kejadian ini.

End of Chapter 38

Chapter 38: Bab 38 — Satu Kesaksian - Luka di Balik Tekad (bagian 2) | Novel AI Studio